RSS

“Liem Smash Block”

11 Jul

Seorang sahabat mengajak saya diskusi tentang permainan volleyball. Fokus diskusi kami adalah peran seorang tosser dalam sebuah tim bola voli. Orang sering salah duga, tosser hanya sebagai “tukang umpan”. Padahal, tosser adalah pengatur permainan dan serangan. Meminjam istilah sosiologi, social status dan social roles seorang tosser dalam cabang olah raga bola volley sulit dipandang sebelah mata. Di dunia sepakbola, posisi itu diperankan oleh seorang playmaker.

Sejatinya, tosser lebih penting daripada playmaker dalam permainan sepakbola. Garis besar tugas dan tanggung jawab playmaker dan tosser kurang lebih sama : memberikan assist. Hanya saja, dalam permainan sepakbola, penyerang dapat pasokan bola tidak hanya dan tidak mutlak dari playmaker. Jika serangan yang dibangun dari tengah menemui jalan buntu, peran gelandang menyerang dan wing back untuk pasokan bola sangat penting, terutama memberikan umpan silang (track ball).

Dalam permainan bola voli, tosser adalah jantung sebuah tim. Para “tukang smash” (baca : spiker) sangat tergantung hanya kepada tosser. Strategi dan eksekusi penyerangan diatur oleh tosser. Untuk penempatan bola, tosser harus mampu membaca kondisi internal tim dan kondisi eksternal (pihak lawan). Ke mana bola akan diarahkan / ditempatkan dan siapa yang harus siap sebagai tukang smash, sepenuhnya keputusan dari tosser yang didasarkan dari hasil analisa kondisi permainan saat itu.

Sayang sekali, meskipun peran seorang tosser sangat penting, saya tidak tahu satupun pebola voli nasional yang pernah “ngetop” sebagai tosser. Beberapa “tukang smash” (spiker) yang hebat saya masih ingat, antara lain Gugi Gustaman, Imam Agus Faisal (Fafa), Liem Siauw Bok, dan Loudry Maspaitela. Bahkan, saking hebatnya smash Siauw Bok, saya masih ingat julukannya : “Liem Smash Block”.

Mirip dengan situasi tersebut, di dunia sepak bola juga ada pemain yang bertugas mengatur serangan (playmaker) dan satu orang gelandang yang bertugas menghentikan serangan lawan. Pada umumnya, fans, penonton, dan pemerhati sepakbola memang lebih terkesima dengan ketenaran penyerang daripada seorang pengatur serangan dan gelandang bertahan yang menjadi orang pertama dan paling bertanggung jawab untuk memutuskan aliran bola kesebelasan lawan. Demikianlah, orang lebih mengenal sosok Didier Drogba daripada Claude Makalele. Padahal, keberhasilan Mourinho mengantarkan FC Chelsea sebagai juara Liga Inggris dan merebut piala FA, salah satunya karena faktor Makalele. Bahkan diyakini bahwa kemerosotan prestasi Real Madrid beberapa tahun yang silam salah satunya adalah melakukan “dosa besar” menjual Makalele ke Chelsea. Orang juga lebih mengenal sosok Thiery Henry ketimbang Gilberto Silva. Padahal, sukses FC Arsenal merebut juara liga Inggris musim kompetisi 2003/2004 tanpa kekalahan satu kalipun, salah satunya adalah berkat kontribusi Gilberto yang begitu trengginas memutuskan aliran bola kesebelasan lawan.

Selain bertugas memotong aliran bola kesebelasan lawan, seorang gelandang bertahan juga memiliki keahlian tambahan sebagai seorang “destroyer”. Tidak banyak memang pesepakbola yang mampu memerankan sebagai seorang “destroyer”. Salah satu yang cukup baik memerankan diri sebagai “destroyer” adalah Edgar Davis – pemain timnas sepakbola Belanda – terutama pada saat ia bermain di klub Juventus.

Permainan sepakbola juga berhutang budi kepada playmaker dan “destroyer”. Dalam permainan catur, playmaker dan “destroyer” mungkin bisa disamakan dengan kuda. Pemain catur cenderung “takut” kepada kuda daripada perdana menteri yang cuma bisa “jalan” lurus kiri-kanan atau diagonal, dan karena itu sangat berambisi untuk mematikan kuda. Demikian juga di sepakbola, seorang playmaker harus dijaga dan “dimatikan”, kalau tidak siap-siap saja untuk menderita.

Playmaker lebih “beruntung” dibandingkan dengan “destroyer”. Karena bertugas mengatur serangan, perannya lebih kentara ketimbang “destroyer”. Playmaker juga relatif lebih terkenal dibandingkan dengan destroyer, sebut saja nama-nama Franz Beckenbauer, Ricardo Kaka, Cecs Fabregas, dan Oezut Mezil.

Model Value Chain.

Adalah Michael E. Porter yang pertama kali memperkenalkan gagasan tentang model value chain. Menurut Porter, semua aktivitas dalam suatu organisasi (bisnis) dapat dikelompokkan menjadi Main Activities dan Support Activities, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut :

Di organisasi bisnis, departemen-departemen atau bagian-bagian organisasi yang menjalankan fungsi primary activities cenderung merasa lebih penting dibandingkan dengan departemen-departemen atau bagian-bagian yang menjalankan fungsi support activities. Arogansi tersebut bisa bersumber dari manusia-manusia yang menjadi anggota dari departemen / bagian yang termasuk dalam main activities, juga bisa karena kebijakan diskriminasi yang diterapkan oleh manajemen perusahaan.

Di dunia sepakbola juga terdapat kasta-kasta. Gaji dan nilai transfer seorang penyerang cenderung relatif lebih mahal dibandingkan dengan seorang gelandang. Demikian juga gaji dan nilai transfer seorang pemain gelandang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pemain bertahan. Penjaga gawang cenderung mendapat bayaran relatif paling rendah dan nilai transfer di pasaran pada umumnya relatif lebih rendah dibandingkan pemain di posisi lain. Hal ini disebabkan karena kemenangan sebuah tim sepakbola hanya dapat dicapai melalui penyerangan yang berbuah gol. Peran seorang penyerang menjadi sangat penting dalam sebuah tim sepakbola. Seorang penjaga gawang baru diingat dan menjadi pahlawan jika berhasil menggagalkan tendangan penalti dan menjaga gawangnya kebobolan lebih sedikit daripada gol yang dilesakkan oleh penyerang.

Perasaan dan arogansi lebih penting dari departemen atau bagian lain memang umum terdapat ditemukan di organisasi bisnis. Sesungguhnya, untuk mengetahui apakah departemen atau bagian yang satu lebih penting dan terhormat daripada departemen atau bagian lain, tidak terlalu sulit. Dalam tulisan saya tentang Musyawarah Organ Tubuh dalam blog ini, saya menjelaskan bagaimana anus yang dianggap sebagai bagian tubuh yang paling tidak penting, berusaha meyakinkan bahwa ia memiliki fungsi dan “kompetensi” langka yang tidak dapat dikerjakan oleh anggota tubuh lainnya.

Belajar dari sejarah.

Masih ingat bagaimana Sultan Agung kalah perang melawan Belanda? Dua kali mengangkat senjata melawan Belanda, dua kali pula kalah dengan cara yang sama : logistik  kubu Sultan Agung “dikerjain” oleh Belanda.  Pertempuran menjadi cepat selesai karena pasukan Mataram tidak dapat bertahan untuk jangka waktu relatif lama tanpa dukungan pangan yang cukup.

Di dunia militer juga dikenal main activities dan support activities. Pasukan infantri adalah ujung tombak dari militer dan melaksanakan segala sesuatu yang berkaitan dengan main activities militer. Sementara kesatuan kavaleri (pasukan berkuda), artileri (persenjataan), zeni infantri, pendidikan dan latihan, kesehatan militer, adalah bagian dari support activities dalam dunia militer.

Kegagalan Sultan Agung menunjukkan bahwa peran pasukan yang tidak bertempur langsung sama pentingnya dengan pasukan yang bertempur langsung. Dalam peperangan jangka panjang, logistik yang berkaitan dengan pasokan pangan untuk pasukan menjadi sangat vital. Sebuah kapal induk yang berkekuatan pasukan sejumlah 20.000 orang, selalu bergerak dan siap tempur, sejatinya tidak mampu bertahan dalam jangka waktu relatif lama tanpa dukungan logistik.

Tampak Siring, 9 Juli 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 11, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: