RSS

Dislike for Unpunctuality

13 Jul

Jantung saya seringkali “dak-dik-duk”, kepala “senut-senut”, dan gigi “cekot-cekot”, terutama pada saat mendapat tugas untuk mengatur sebuah pertemuan. Pada hari “H”, semakin mendekati waktu pertemuan, “dak-dik-duk”, “senut-senut”, dan “cekot-cekot” semakin menjadi-jadi. Hal itu dipicu terutama jika pihak yang diundang sudah datang, tetapi tuan rumah yang mengundang justru belum kelihatan “batang hidung”nya.

Debar-debar jantung, senut-senut kepala, dan cekot-cekot gigi semakin meng”gila” jika tepat pada waktunya, tuan rumah yang mengundang belum juga hadir. Anehnya, rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot otomatis hilang seiring dengan keterlambatan tuan rumah bertambah seperti deret ukur. Rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot dikalahkan oleh perasaan bersalah dan malu. Masih segar dalam ingatan saya pesan almarhum/ah bapak dan ibu saya “jangan sekali-kali membuat malu orang lain”.

Sungguh saya bersyukur karena masih memiliki rasa bersalah dan rasa malu. Rasa bersalah dan rasa malu itu seperti  – meminjam istilah yang digunakan oleh almarhum Basuki untuk mempromosikan iklan sebuah obat –  “wes ewes ewes”  yang ajaib  meluluhlantakkan rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot.

Meskipun dibesarkan di lingkungan budaya bangsa Indonesia yang lebih cenderung shame culture ketimbang guilt culture, saya bersyukur masih memiliki perasaan bersalah dan malu telah “melecehkan” tamu yang diundang. Sungguh tidak mudah untuk menyampaikan permintaan maaf, sebab memang tidak sepantasnya kesalahan berupa tidak tepat waktu dilakukan, kecuali karena keadaan kahar atau force majeure. Urusan “sangat penting” memang tidak serta merta dapat didefinisikan sebagai force majeure.

Bagaimana saya tidak malu? Bagaimana mungkin saya tidak merasa bersalah? Saya yang menghubungi mitra kerja yang diundang untuk hadir pada sebuah pertemuan. Saya pula yang mengatur tempat dan waktu pertemuan. Meskipun saya bukan tuan rumah, toh yang menyambut dan menemani tamu kan saya juga. Jadi, meskipun saya cuma tuan rumah “abal-abal”, saya yang berhadapan langsung dengan tamu. Karena saya tidak pintar bersandiwara dan berpura-pura, sungguh merupakan kesulitan yang luar biasa bagi saya untuk menjawab pertanyaan mengapa tuan rumah belum juga hadir.

Apakah waktu dan tepat waktu penting? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang Indonesia, maka jawaban yang “benar” akan mengikuti peribahasa “rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda”.

Bagi sebagian orang, waktu adalah penting, tetapi tepat waktu tidak terlalu penting. Ada orang yang tidak memiliki perasaan bersalah meskipun sudah mengadakan janji, tetapi pada waktu yang telah disepakati ia tidak hadir tepat waktu. Sementara ada juga yang beranggapan bahwa waktu dan tepat waktu adalah penting, dan berusaha menghormati kesepakatan untuk bertemu pada waktu yang telah ditetapkan.

Kutipan tentang makna waktu yang saya kutip dari blog fotografer Andreas Darwis Triadi (www.darwistriadi.blogspot.com) berikut ini mungkin dapat menjelaskan apa arti waktu bagi orang yang berbeda-beda, yaitu :

“Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas. Makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature. Makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan. Makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan gaji harian. Makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.  Kemudian, makna 1 menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta. Bila kau ingin tahu apa artinya watu sedetik, tanyakan pada atlet lari 100 meter.”

Meskipun setiap individu, kelompok sosial, masyarakat dan bangsa memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang makna waktu, pada prinsipnya tidak ada yang berpendapat bahwa waktu tidak penting. Hanya saja, apa yang diyakini sebagai baik, dalam praktek seringkali tidak dilaksanakan.

Itulah sebabnya kita seringkali diingatkan untuk mengingat lima perkara, yaitu : masa muda sebelum datang masa tua, masa luang sebelum datang masa sibuk,  masa sehat sebelum datang masa sakit, masa kaya sebelum datang masa miskin,  masa  hidup  sebelum datang  mati. Esensi dari mengingat lima perkara sebelum lima perkara datang adalah waktu. Cepat atau lambat, perubahan pasti akan terjadi seiring berjalannya waktu.

Studi anthropologi seperti yang pernah dilakukan oleh anthropolog Clyde J. Klukckhohn  juga menunjukkan bahwa dimensi waktu merupakan dimensi yang penting dan selalu ditemukan di berbagai budaya di masyarakat yang berbeda.

Bahkan, seorang sosiolog bernama Alex Inkeles menggunakan sikap dan perilaku manusia terhadap waktu sebagai salah satu parameter untuk mengukur modernitas manusia dan masyarakat. Menurut Inkeles, karakteristik manusia moderen adalah sebagai berikut :

  • Opennes to new experiences with people and technologies.
  • Independence from traditional authorities (parents, priests).
  • Belief in science and medicine and a general abandonment of passivity and fatalism.
  • Ambition to achieve high educational and occupational goals.
  • Strict time planning (dislike for unpunctuality).
  • Political interest and participation.

Tentu saja setiap orang boleh-boleh saja memperdebatkan karakteristik manusia moderen yang digagas oleh Alex Inkeles. Tetapi tanpa kemampuan menghargai waktu, kiranya sulit untuk disebut sebagai manusia “moderen”, “profesional”, “kosmopolitan”, dan berbagai istilah lainnya. Manusia yang tidak mampu menghargai waktu pada dasarnya manusia yang tidak bertanggung jawab.

Setiap orang dapat sembarangan mengaku profesional. Di sebuah sekolah fotografi diajarkan bagaimana menjadi seorang fotografer profesional. Ada “segambreng” kode etik yang mengajarkan tidak boleh begitu dan tidak boleh begini. Tetapi saya sungguh tidak mengerti di mana orang dididik untuk menjadi seorang fotografer profesional, tetapi kursus selalu dimulai tidak tepat waktu. Apakah untuk menjadi seorang profesional tidak ada hubungannnya dengan tepat waktu?

Dalam kesempatan seminar tentang energi terbarukan saya juga sempat dibuat terheran-heran. Semua pakar dan peserta begitu antusias menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia beralih dari penggunaan energi tidak terbarukan (minyak, gas bumi, dan batubara berasal dari fosil dan merupakan energi tidak terbarukan) ke penggunaan energi terbarukan (antara lain angin, tenaga surya, dlsb).

Ironisnya, seminar tentang energi terbarukan dimulai terlambat dari jadual waktu yang telah ditetapkan. Padahal, waktu juga merupakan sumber daya penting dan tidak terbarukan.

Tempora mutantur, nos et mutamur in illis, “Times change, and we change with them”, atau “The times are changed and we too are changed in them (or during them)”.

Tampak Siring, 2 Juli 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 13, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: