RSS

Lensa Kamera

27 Jul

“Daripada lu beli lensa Canon 17-40mm f/4.0 L USM, mendingan lu beli lensa Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM. Harga kurang lebih sama, tapi kalo lu beli 15-85mm, widenya dapet, normalnya dapet, dan telenya pun masih dapet.” Itulah salah satu nasehat yang sering diberikan oleh sebagian orang yang merasa sudah banyak makan “asam garam” fotografi.

Bagi para pemula di bidang fotografi, kebingungan memilih lensa yang “baik” untuk dirinya adalah lumrah. Bahkan mereka yang tidak lagi “bau kencur” di dunia fotografi, tetapi tidak memiliki tujuan yang jelas mengapa menekuni fotografi, masalah lensa tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak semua orang yang berkecimpung di dunia fotografi memiliki pengetahuan yang mendalam tentang lensa. Karena itu, kebimbangan seputar lensa seringkali merupakan penyakit dasar yang diderita atau pernah diderita oleh orang-orang yang menekuni fotografi (selanjutnya saya sebut saja fotografer).

Gambar tersebut di bawah ini mungkin dapat menunjukkan keragu-raguan seseorang ketiga hendak mengambil keputusan menggunakan lensa atau membeli lensa (photo courtesy of Amar Ramesh) :

Ironisnya, pertanyaan-pertanyaan seputar lensa seringkali diajukan kepada sembarang orang. Ya, saya sebut sembarang orang. Bukan berarti orang-orang yang berada di komunitas fotografer adalah orang mengerti dunia fotografi dan mampu memberikan penjelasan tentang lensa.  Bukan berarti kalau seseorang sering bawa kamera kemanapun pergi dan “rajin” jepret sana dan jepret sini,  pasti mengetahui tentang lensa.

Saran yang disampaikan oleh “senior” di bidang fotografi seperti ditunjukkan di awal tulisan ini sebenarnya tidak salah dan juga tidak benar. Fotografi adalah seni melukis dengan cahaya. Benar atau salah, baik atau buruk, adalah bahasa hukum. Bahasa fotografi adalah indah atau tidak indah. Dalam fotografi, benar atau salah selalu harus ditempatkan dan dilihat sesuai konteksnya.

Ada berbagai konteks, berkaitan dengan lensa saya membatasi konteks menjadi tiga saja, yaitu fungsi, konsep pemotretan, dan minat fotografer itu sendiri. Biaya tentu saja merupakan faktor yang cukup menentukan, mengingat harga-harga lensa premium, terutama dengan diafragma 2.8 atau lebih besar, mampu “menjebol” tabungan. Tetapi karena – meminjam istilah undang-undang – sudah cukup jelas, faktor biaya tidak akan dibahas di tulisan ini.

Fungsi

Setiap alat memiliki fungsi tertentu, demikian juga lensa. Setiap alat akan memberikan manfaat optimal atau terbaik dalam kondisi tertentu dan tujuan tertentu. Meskipun sama-sama memiliki kemampuan membelah sesuatu menjadi dua (atau lebih), kemampuan pisau, cutter, gunting, gergaji, kampak, dan lain sebagainya tentu saja berbeda-beda. Untuk membagi dua kertas A4 misalnya, akan lebih tepat menggunakan cutter atau gunting, daripada menggunakan gergaji dan kampak.

Sungguhpun sebagian besar lensa dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, memotret acara kejuaraan sepakbola maupun F1 tidak tepat kalau menggunakan lensa makro (dalam hal ini lebih tepat menggunakan lensa tele). Demikian juga penggunaan lensa tele untuk memotret landscape, meskipun secara teknis bisa-bisa saja, tetapi akan lebih tepat menggunakan lensa lebar, kecuali fotografer bermaksud menampilkan detail dari arsitektur bangunan.

Tabel berikut di bawah ini menjelaskan secara singkat tentang perbandingan fungsi setiap lensa :

Gambar berikut di bawah ini menunjukkan perbandingan penggunaan berbagai lensa dengan focal length yang berbeda untuk tujuan sama (pemotretan landscape) :

Konsep

“You don’t take a photograph, you make it” begitu wanti-wanti dari Ansel Adams. Kamera, lensa, lampu studio, dan berbagai alat dan aksesori lainnya, adalah alat untuk membuat karya foto. Konsep diperlukan untuk mengisi sebuah karya foto agar dapat bercerita dengan sendirinya. Seorang fotografer akan memilih dan menggunakan kamera, lensa dan kawan-kawan,  yang mampu mendukung realiasi konsep.

Beauty shot untuk kepentingan komersial atau promosi produk kosmetika misalnya, obyek foto adalah wajah dari model. Apapun studio lighting yang digunakan, pada akhirnya bertujuan untuk menghasilkan hidung tampak mancung, pipi tampak naik / menonjol, dan dagu tampak runcing.

Untuk beauty shot, lensa lebar, lensa normal / medium dan lensa tele semuanya dapat digunakan. Tetapi menggunakan lensa tele akan lebih optimal, tidak banyak space yang harus dicrop. Alasan yang lebih tepat adalah dalam sesi beauty shot biasanya menggunakan lampu studio relatif banyak dan dari berbagai arah. Jarak antara kamera dan lensa yang terlalu dekat dengan model dapat mengakibatkan flare.

Minat

“Idealnya”, seorang fotografer memiliki tiga jenis lensa, yaitu lensa lebar, lensa normal, dan lensa tele. Dengan ketiga lensa tersebut, seorang fotografer dapat memotret obyek foto yang sangat bervariasi, mulai dari landscape, interior, arsitektur, model / beautyshot sampai dengan kegiatan olah raga. Bahkan, seorang fotografer boleh-boleh saja memiliki satu lensa “sapu jagat”, yaitu lensa 18-200mm. Lensa ini merupakan lensa “three in one” di mana lensa lebar, lensa normal, dan lensa tele menjadi satu. Tetapi kelemahan lensa jenis ini adalah kualitas foto, mengingat bahwa focal length yang ideal adalah maksimum tiga kali dari angka terkecil (dalam hal ini 18mm dikalikan tiga).

Minat seorang fotografer menjadi faktor yang sangat menentukan dalam pembelian lensa. Jika minat seorang fotografer bukan memotret obyek-obyek foto relatif kecil (misalnya serangga), dan ekstrimnya tidak akan pernah memotret obyek-obyek kecil, maka membeli lensa makro adalah tindakan mubazir. Demikian juga dengan fotografer yang lebih menyukai memotret landscape, interior dan arsitektur, akan lebih tepat memiliki lensa lebar dan lensa tele daripada lensa makro.

Jadi, tidak ada urusan benar atau salah, baik atau buruk dalam pembelian sebuah lensa. Fungsi, konsep pemotretan, dan minat seorang fotografer lebih tepat menjadi pertimbangan dalam pembelian lensa. Kriteria tersebut berlaku spesifik untuk setiap orang, karena setiap orang mempunyai minat dan konsep yang berbeda-beda tentang fotografi dan pemotretan.

Pengalaman saya pribadi, pengalaman memotret berbagai obyek foto yang berbeda akan memberikan wawasan yang fresh tentang fungsi, kelebihan dan kelemahan masing-masing lensa. Sebelumnya, saya banyak bertanya dan mendengarkan saran-saran yang berbeda-beda dari banyak teman-teman fotografer. Setelah mempertimbangkan minat dan kebutuhan pemotretan, saya memilih lensa 24-105mm dan 70-200mm sebagai lensa yang “wajib” saya miliki. Bagaimana dengan anda?

Tampak Siring, 24 Juli 2011

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2011 in Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: