RSS

Monthly Archives: August 2011

Hair Dryer Treatment

Dalam literatur kepemimpinan disebutkan beberapa model dan gaya kepemimpinan, masing-masing dengan keunggulannya dan kelemahannya. Sir Alex Ferguson – pelatih klub sepakbola Manchester United yang selama 24 tahun melatih MU telah  berhasil membawa timnya antara lain menjadi juara 12 kali English Premier League, 10 kali  memenangkan Piala Community Shields, 5 kali menjuarai Piala FA, dan 2 kali memboyong Piala Champions  – memiliki gaya tersendiri yang dikenal dengan istilah hair-dryer treatment.

Istilah hair-dryer treatment pertama kali mencuat di era penyerang MU Mark Hughes. Dalam suatu kesempatan, setelah menunjukkan kinerja yang relatif buruk di sebuah pertandingan, Fergie (panggilan akrab Ferguson), “mendamprat” Mark Hughes. Hughes memang bukan orang pertama yang “didamprat” oleh Fergie, beberapa pemain MU sebelumnya juga sudah biasa didamprat oleh oleh Fergie.

Photo courtesy of Sir-Alex-Ferguson-guides.blogspot.com

Apakah yang dimaksud dengan hair-dryer treatment? Istilah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perawatan rambut dan tetek bengek peralatannya. Penjelasan tentang istilah ini antara lain dapat diperoleh dari www.answeryahoo.com sebagai berikut :

“Sir Alex Ferguson is famed for his hair-dryer treatment, an up-close lecture generously given to underperforming players.

The “hairdryer treatment” name came from Mark Hughes, nickname: Sparky. Mark Hughes, former United striker and now Wales manager, said: “He would stand nose-to-nose with you and just shout and bawl, and you would end up with your hair behind your head.” Mark Hughes gave the nickname to the fearsome decibel-busting rollickings dished out by the boss over his 20 years in charge at Manchester United.

Ferguson insisted: “There are a lot of myths. One of the papers once claimed that I used to go behind the stand at East Stirlingshire and practise screaming. But there’s an element of truth in it. The hairdryer thing was started by Sparky, he owned up to it after he left. I can understand that because of my policy in the dressing room.”

Giggs, Rooney, Nani dan pemain MU lainnya juga pernah didamprat Fergie. Pada umumnya para pemain MU masih bisa menerima gaya kepemimpinan Fergie yang agresif dan “blak-blakan”. Fergie baru “kena batu”nya ketika ia tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga tendangan sepatunya melesat mengenai pelipis David Beckham. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong Beckham hengkang ke klub Real Madrid. Ruud van Nistelrooy dan Roy Keane adalah pesepakbola yang tidak dapat menerima perlakuan hair-dryer treatment.

Agustus 2011 ini istilah hair-dryer treatment kembali mencuat setelah penampilan perdana David de Gea yang sangat mengecewakan di ajang Community Shields. Meskipun akhirnya MU mampu mengalahkan “the noisy neighbor” Manchester City, de Gea dianggap sebagai orang yang paling pantas bertanggung jawab atas dua gol yang bersarang di gawang MU.

Alih-alih menyalahkan de Gea, Ferguson justru membela dan melindungi kipernya yang dibandrol 18,9 juta Poundsterling dari klub Atletico Madrid (de Gea menjadi kiper nomor dua termahal setelah Gianlugi Buffon yang dibeli oleh klub Juventus seharga 32,6 juta poundsterling pada tahun 2001). Tetapi melihat kinerja de Gea yang belum sekelas dengan nilai transfernya, publik menduga bahwa penerapan hair-dryer treatment oleh Fergie hanya soal waktu saja.

Coaching, Mentoring, Training.

Apakah ada perbedaan arti istilah coaching, mentoring, dan training? Dalam khasanah ilmu manajemen sumber daya manusia, ketiga istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan tiga aktivitas yang berbeda dan masing-masing memiliki tujuan khusus. Sedangkan dalam praktek sehari-hari, ketiga istilah seringkali dianggap memiliki arti dan tujuan yang sama.

Untuk memudahkan penjelasan tentang perbedaan antara coaching, mentoring dan training, perlu memahami hubungan antara kinerja (performance), kemampuan (ability), motivasi dan lingkungan (environment). Formulanya adalah bahwa kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi individu dan linkungan di dalam organisasi. Artinya, untuk mencapai kinerja yang baik, maka seorang karyawan harus memilili kemampuan dan motivasi yang baik dan didukung oleh lingkungan internal organisasi yang baik pula.

Gambar 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Pertanyaannya : tindakan apa yang harus dilakukan jika kinerja seorang karyawan tidak memuaskan? Jawabannya tergantung dari penyebab kinerja yang buruk. Jika penyebabnya adalah kemampuan kerja yang kurang, maka organisasi harus mengadakan training and development (pelatihan dan pengembangan) terhadap karyawan yang bersangkutan. Kemudian jika penyebabnya adalah motivasi yang kurang, maka atasan harus memberikan coaching. Sedangkan jika penyebabnya adalah lingkungan internal organisasi, maka atasan harus melakukan mentoring untuk memberikan dukungan kepada karyawan yang bersangkutan.

Coaching, mentoring dan training memiliki tujuan yang sama, yaitu agar setiap karyawan dapat menunjukkan kinerja yang istimewa. Perbedaannya adalah “bidang garap”nya saja. Meskipun fokus pembinaan masing-masing berbeda, hasil akhirnya adalah meningkatkan kinerja karyawan.

Coaching.

The International Institute of Coaching mendefinisikan coaching sebagai berikut : “the definition of coaching is simply an interactive, results-orientated, enlightening process that brings about change.”

Ada beragam bentuk coaching, antara lain personal coaching, career coaching, parent coaching, retirement coaching dan sport coaching. Inti dari coaching adalah pembinaan sumber daya manusia yang fokus pada aspek sikap mental.

Mentoring.

The International Institute of Coaching mendefinisikan mentoring sebagai berikut : “the definition of mentoring is a person who gives another person help and advice over a period of time and often also teaches them how to do their job or role.”

Dalam proses mentoring terjadi proses transfer pengetahuan, keahlian dan pengalaman. Contoh “klasik” proses mentoring adalah hubungan antara almarhum Presiden Soeharto dengan para ajudannya. Meskipun tidak terjadi proses pengalihan pengetahuan, keahlian, dan pengalaman secara formal, para ajudan mendapat pelajaran yang sangat berharga dengan melihat kegiatan kepresidenan Pak Harto sehari-hari. Terbukti kemudian beberapa ajudannya menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat, Kepolisian, dan bahkan menjadi Panglima ABRI (Jenderal (Purn.) Try Sutrisno, Jend. (Purn) Wiranto, dan Jendral (Purn.) Pol. Dibyo Widodo).

Di dunia bisnis, Microsoft adalah salah satu perusahaan yang sukses menerapkan sistem mentoring. Setiap atasan memiliki dua tugas utama, yaitu pertama adalah mengerjakan tugas-tugas utama mereka, dan kedua membimbing yunior mereka untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Dengan sistem mentoring ini dipastikan setiap senior memiliki tandem sehingga proses alih pengetahuan, keterampilan, keahlian dan pengalaman dapat berjalan lancar.

Training and Development.

Istilah training seringkali digabungkan dengan development. Perbedaan pokok antara training dan development lebih pada jangka waktu pembinaan. Bohlander (2004) mendefinisikan training dan development sebagai berikut :

  •  Training :

– Effort initiated by an organization to foster learning among its members.

– Tends to be narrowly focused and oriented toward short-term performance concerns.

  •  Development

– Effort that is oriented more toward broadening an individual’s skills for the future responsibilities.

Pelatihan dan pengembangan cenderung bersifat formal dan fokus pada aspek peningkatan kemampuan (ability) sumber daya manusia. Dalam contoh pelatihan militer di Indonesia misalnya, jenjang pelatihan di mulai dari akademi militer, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Staf dan Komando di tingkat kesatuan masing-masing (misalnya Seskoad, Seskoal), Sekolah Staf dan Komando Gabungan (Seskogab), dan Lemhanas.

Hair Dryer Treatment = Coaching + Mentoring.

Hair-dryer treatment yang biasa dilakukan oleh Alex Ferguson kepada anak buahnya dapat disebut sebagai bentuk pembinaan coaching dan mentoring. Seorang manajer yang juga menjabat sebagai pelatih kepala dalam sebuah klub sepakbola memang tidak banyak berhubungan dengan urusan teknis (baca : ability) seorang pemain.

Persyaratan utama pesepakbola adalah teknis, stamina dan motivasi (sikap mental). Untuk teknis, masing-masing pemain sudah ada pelatih khusus (antara lain pelatih untuk penjaga gawang, pelatih untuk striker, dan lain sebagainya). Demikian pula dengan stamina, sudah ada pelatih fisik yang menangani. Jadi, manajer atau pelatih kepala “hanya” bertugas “memompa” semangat (baca : motivasi, sikap mental) para pemain, menyusun strategi permainan, dan memastikan pasukannya mampu mengimplementasikan strategi permainan.

Photo courtesy of Getty Image

Secara teknis, tidak ada yang meragukan kemampuan (ability) David de Gea. Dalam usia muda de Gea sudah menjadi penjaga gawang nomor 1 dan menunjukkan kinerja yang bagus di klub Atletico Madrid. De Gea adalah penjaga gawang utama timnas sepakbola Spanyol U-21 yang menjadi juara Euro 2011. Bahkan de Gea sudah memulai karir di tingkat senior di kejuaraan piala Champion yang sangat kompetitif tatkala masih berusia 18 tahun.

Dari segi stamina juga tidak ada yang perlu diragukan dari seorang David de Gea. Berusia relatif masih muda (lahir 7 November 1990), jarang cidera, dan selalu menjadi starter di tingkat klub maupun timnas Spanyol U-21.

Tetapi teknik dan stamina saja  bukan modal yang cukup untuk bertanding di English Premier League yang sangat kompetitif. Apalagi, tuntutan terhadap de Gea tidak hanya sekedar menjadi penjaga gawang MU, melainkan juga harus menyamai sukses pendahulunya, yaitu Peter Schmeichel dan Edwin van der Sar. Dalam konteks ini, tekanan mental jauh lebih besar ketimbang tekanan terhadap teknis dan staminal. Karena itu, jika Fergie memang bermaksud melakukan  hair-dryer treatment, lebih tepat membenahi mental de Gea yang “anjlok” setelah penampilan perdananya di Community Shields.

Meskipun cara-cara dan gaya pembinaan yang dilakukan oleh Ferguson kadang-kadang “menyakitkan”, tetapi harus diakui bahwa Ferguson berhasil membesarkan beberapa pesepakbola from zero to hero. Legenda MU seperti Beckham dan Christiano Ronaldo adalah contoh pesepakbola yang bersinar melalui “tangan dingin” Ferguson. Bahkan Ferguson berhasil “menjinakkan” pesepakbola yang terkenal temperamental seperti Eric Cantona dan Roy Keane sehingga keduanya mencapai puncak prestasi mereka semasa membela MU.

Tampak Siring, 21 Agustus 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2011 in Management

 

Last Tango in Argentina

Last tango in Argentina!. Tampaknya, hanya berbekal motto Julius Cesar “Vini Vidi Vici” ke Copa Amerika 2011 tak cukup bagi timnas sepakbola Argentina (selanjutnya dalam tulisan ini disebut “timnas Argentina”). Diharapkan mampu memecahkan rekor juara Copa Amerika 14 kali (jumlah yang sama dengan timnas Uruguay sampai dengan saat turnamen diselenggarakan), langkah timnas Argentina terhenti hanya sampai perdepalan final. Ironisnya, last tango itu dipertunjukkan di kandang sendiri dan di depan jutaan pendukungnya.

Barangkali, timnas sepakbola Argentina perlu belajar dan memahami inspiring word dari Henry Ford, yaitu  “Coming together is a beginning. Keeping together is progress. Working together is success. Datang, melihat, dan menang tidak lagi cukup di kompetisi sepakbola di tingkat level tertinggi. Sebuah tim harus datang bersama-sama, mengada (exist) bersama-sama, dan tentu saja bekerja sama untuk meraih prestasi.

Ada apa dengan timnas Argentina? Bertanding di fase Grup A Copa Amerika 2011, timnas Argentina hanya satu kali menang. Di laga pertama, mereka dihadang timnas Bolivia seri 1-1. Di laga kedua, kembali mereka ditahan timnas Kolumbia 0-0. Timnas Argentina kemudian memang lolos ke putaran perdelapan final setelah mengalahkan Kosta Rika dengan skor 3-0. Di perempat final, timnas Argentina takluk dari timnas Uruguay yang bermain dengan 10 orang dalam babak 90 menit.

Hasil itu, tentu saja tidak sebanding dengan prestasi dan kedigdayaan timnas Argentina yang bertaburan bintang. Memang Argentina tidak sendirian. Timnas Brazil lebih “konyol” lagi, 4 dari 5 “algojo” pertama yang bertugas dalam sesi adu penalti gagal total. Sehebat apapun kehebatan pesepakbola dari Argentina dan Brasil, mereka gagal mengalahkan lawan-lawan mereka yang notabene beda kelas. Timnas Chile yang diperkuat oleh the rising star Alexis Sanchez – yang digadang-gadang pantas “menggusur” David Villa dari tim FC Barcelona – juga tidak mampu mengantarkan timnya melaju ke putaran perempat final.

Memang timnas Argentina meraih Copa America terakhir kali 18 tahun yang lalu (1993). Tetapi Abiceleste (light blue and whites) – julukan lain timnas Argentina selain julukan Tim Tango – adalah pemegang rekor  14 kali sebagai juara Copa America (jumlah yang sama dengan timnas Uruguay). Timnas Argentina juga pernah menjuarai Piala Dunia 2 kali.

Timnas Argentina juga tidak pernah kehabisan bintang. Bintang lama belum pudar, sudah muncul bintang baru yang dianggap sama kualitasnya dengan pendahulunya. Satu-satunya kelemahan Argentina adalah di sektor penjaga gawang. Di sektor ini, hampir tidak ada penjaga gawang timnas Argentina yang dengan mudah dikenang namanya, apalagi prestasinya.

Pelajaran yang dapat diambil dari timnas Argentina (dan juga Brasil) antara lain adalah bahwa kompetensi dan talenta saja tidak cukup. Ada perbedaan yang sangat besar antara individu dan kelompok sosial. Sebuah kelompok sosial bukan sekedar penjumlahan dari individu-individu yang menjadi anggota kelompok. Dalam sebuah kelompok sosial, sinergi bukanlah harapan, tetapi merupakan keharusan.

Timnas Argentina yang bertanding di Copa Amerika 2011 (dan bahkan Piala Dunia 2010 yang lalu) masih merupakan kumpulan dari individu-individu yang datang bersama-sama ke sebuah turnamen. Mereka juga selalu bersama-sama selama turnamen berlangsung. Tetapi mereka belum tuntas melakukan metamorfosa dari individu menjadi sebuah kelompok sosial. Timnas Argentina tidak lebih dari kumpulan individu-individu (baca : pesepakbola) dengan kompetensi dan talenta di atas rata-rata. Timnas Argentina tidak lebih dari sekedar Messi, Tevez, Higuain, Aguero, Pastore, Di Maria, Mascherano dan beberapa pemain lain.

Selama individu masih menjadi individu, maka sinergi tidak menjadi “ruh” dari sebuah kelompok sosial. Betapapun hebatnya kompetensi dan talenta individu yang menjadi anggota kelompok sosial, selama tidak terbentuk sinergi, kehebatan masing-masing individu tidak berpengaruh banyak terhadap kinerja kelompok.

Sepakbola memang bukan sekedar teknis (baca : kompetensi dan talenta), melainkan juga stamina dan terutama mental. Sinergi bersumber dari mental individu yang menjadi anggota kelompok sosial. Selama sinergi tidak terwujud, sulit mengharapkan kinerja terbaik sebuah kelompok sosial.

Itulah perbedaan antara timnas Argentina dengan Barcelona FC. Dari segi kualitas pemain, timnas Argentina tidak kalah kelas dibandingkan Barcelona FC. Bahkan, secara sosiologis, timnas Argentina memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan tim Barcelona FC. Timnas Argentina terdiri dari manusia-manusia yang dipersatukan oleh kesamaan darah (gemeinschaft of blood), kesamaan daerah / negara (gemeinschaft of locality) dan kesamaan gagasan / pemikiran (gemeinschaft of mind).

Timnas Argentina cenderung berpotensi dan lebih mudah untuk menjadi sebuah kelompok sosial daripada sekedar kumpulan individu-individu. Secara teoritis, sinergi cenderung akan lebih mudah terbentuk dalam timnas Argentina. Sedangkan tim Barcelona FC, pada dasarnya adalah kumpulan para pesepakbola profesional yang menjadi anggota sebuah kelompok sosial karena pertimbangan bayaran. Meskipun uang bukan segala-galanya, bayaran tetap menjadi salah satu motivati terkuat para pesepakbola profesional.

Group Development

Pelajaran yang dapat dipetik dari timnas Argentina dan timnas Brasil adalah bahwa tidak mudah membangun sebuah kelompok yang menunjukkan kinerja prima. Tidak ada jaminan bahwa potensi, kompetensi, dan talenta individu-individu yang menjadi anggota kelompok sosial berkorelasi positif terhadap kinerja kelompok. George Tuckman menunjukkan proses atau tahap-tahap sebuah kelompok sosial untuk mampu menunjukkan kinerja terbaik, sebagaimana gambar sebagai berikut :

 

Pada awalnya individu-individu bebas dan tidak terikat. Selanjutnya, individu-individu bersepakat untuk membentuk sebuah kelompok sosial dengan misi, visi, nilai-nilai, dan tujuan bersama. Pada tahap awal, kondisi kelompok sosial masih “amburadul”. Aturan main dan pembagian kerja masih belum dirumuskan secara jelas. Dalam kondisi awal sebuah kelompok sosial, “storming” adalah keadaan yang “wajib” dilalui.

Konflik di antara anggota kelompok sosial, ketidakjelasan aturan main dan pembagian kerja menghambat kelompok sosial untuk menunjukkan kinerja terbaik. Karena itu, dalam tahap norming dilakukan berbagai penataan, antara lain mencakup aturan main, pembagian kerja, koordinasi, dan lain sebagainya. Menggunakan pesan dari Henry Ford, forming adalah adalah coming together. Tahap storming dan norming adalah keeping together. Sedangkan performing adalah working together.

Dibutuhkan proses dan waktu untuk menjadikan sebuah kelompok sosial berprestasi. Selama 25 tahun ditangani oleh Sir Alex Ferguson, klub sepakbola Manchester United memang berhasil meraih 25 kali juara Community Shields (Charity Shields). Sedangkan sejak dicanangkan era English Premier League tahun 1992, Fergie berhasil mengantarkan MU meraih 12 kali juara EPL. Tetapi prestasi MU dan Ferguson diraih setelah sebelumnya sempat berpuasa gelar selama beberapa tahun.

Tidak ada pelatih sepakbola yang mampu menerapkan moto vini, vidi, vici. Di tahun pertama melatih FC Barcelona, Josep “Pep” Guardiola memang sukses memberikan beberapa trofi sekaligus. Guardiola sungguh beruntung mewarisi tim yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Demikian juga, ketika melatih FC Chelsea dan FC Inter Milan, Jose Mourinho langsung mempersembahkan gelar juara liga primer bagi Chelsea dan Inter. Tetapi Mourinho sesungguhnya mewarisi tim Chelsea yang telah ditata oleh Claudio Rainieri dan Inter yang telah dibesut oleh Roberto Mancini. Singkat kata, dalam mewujudkan prestasi kelompok, tidak ada sentuhan Raja Midas.

Tampak Siring, 13 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2011 in Management

 

“Unggah-Ungguh” Dalam Fotografi

Memotret model di ruang terbuka (outdoor) sah-sah saja. Tetapi memotret model perempuan dengan pose dada terbuka tanpa mengenakan bra, mungkin bukan hal yang biasa. Setidak-tidaknya, hal itu tidak biasa bagi orang Indonesia dan jika sesi pemotretan itu dilakukan di Indonesia. Kecuali, sesi pemotretan di dalam ruangan atau studio.

Tetapi di Eropa, memotret model perempuan dengan penampilan “seronok” di tempat terbuka  bukan merupakan tindakan tabu. Paling tidak, secara tidak sengaja, saya pernah menyaksikan sesi pemotretan seperti itu. Ketika tinggal di Mannheim tahun 2009 yang lalu, sebuah kota kecil di Jerman barat daya yang pernah menjadi markas tentara Amerika Serikat pasca perang dunia kedua, saya dan teman-teman lain, pernah menyaksikan sesi pemotretan model perempuan dengan penampilan seronok di stasiun kereta api.

Tentu saja banyak orang yang “nonton” tayangan langsung tersbut. Meskipun hampir sebagian besar kami membawa kamera saku, entah terpana dan terkesima, tidak ada satupun di antara kami yang punya inisiatif untuk ikut-ikutan memotret. Kami juga tidak pernah diberitahu, dan juga tidak pernah tahu, apakah ikutan memotret model profesional itu boleh atau tidak. Singkat kata, sejatinya kami tidak pernah belajar etika fotografi, terutama etika memotret.

Salah satu ciri masyarakat moderen adalah keberadaan hukum. Masyarakat moderen memang cenderung lebih heterogen, terdiri dari berbagai kelompok sosial yang sangat beragam, sehingga tabu, norma-norma sosial, dan aturan-aturan kelompok tidak lagi dapat diandalkan menjadi medium untuk mewujudkan tertib sosial. Karena itu diadakan hukum lebih bersifat populis, berlaku untuk semua anggota masyarakat, dan equal before law.

Tetapi tidak semua hubungan antarmanusia dan semua aktivitas manusia diatur oleh hukum tertulis. Tidak semua harus diatur dan ditulis dalam hukum positif. Dalam kelompok-kelompok sosial, masyarakat, suku dan bangsa, selalu ada saja perbedaan tentang hal-hal yang dianggap benar dan salah, baik atau buruk, dan indah atau tidak indah. Selalu ada kepatutan yang berlaku spesifik dan boleh jadi tidak diketahui oleh sebagian besar orang. Ada berbagai nama atau sebutan untuk berbagai kepatutan sosial, untuk lebih mudahnya, saya sebut saja etika.

Sebagai contoh, penjualan minuman keras di negara-negara Barat. Meskipun pada dasarnya minum minuman keras halal bagi orang-orang Barat, toh menjual minuman keras kepada anak-anak yang masih di bawah umur dianggap sebagai tindakan yang tidak patut. Contoh lain, bagi orang-orang, kelompok sosial, dan organisasi yang “anti merokok”, mereka  merasa tidak etis kalau menerima bea siswa atau  sponsorship dari perusahaan-perusahaan rokok.

Etika Fotografi

Sepengetahuan saya, sampai saat ini tidak pernah ada – atau belum pernah ada – hukum-hukum formal yang mengatur sikap, perilaku, dan hubungan antarmanusia di dunia fotografi. Bahkan, saya belum pernah mengetahui ada etika fotografi yang disepakati, diterima, dan dipatuhi oleh semua orang yang berkecimpung di dunia fotografi. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa dunia fotografi adalah dunia yang bebas dan tanpa batasan. Fotografer kan juga manusia.

Perkumpulan atau asosiasi fotografer tentu saja memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang mengatur sikap, perilaku, dan hubungan antarmanusia di antara anggota-anggotanya, maupun ketika berhubungan dengan pihak ketiga. Situs-situs fotografi biasanya juga memiliki aturan main yang jelas. Meskipun demikian, semua aturan main itu berlaku khusus untuk lingkungan sosial tersebut.

Sejatinya, masih jauh lebih banyak aturan main yang tidak tertulis dalam fotografi. Meskipun tidak tertulis, aturan main, tata tertib, etika (dan sebutan-sebutan lainnya) tersebut diketahui, disepakati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh fotografer. Meskipun bukan orang Jawa, kadang-kadang fotografer dituntut untuk bisa menghayati dan mengamalkan falsafah ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tetapi ya jangan begitu). Tidak percaya?

Foto Omayra Sanchez, salah satu korban gempa bumi di Kolumbia Nopember 1985, merupakan foto yang memenuhi kriteria “catch the moment and remember the memory”. Tetapi foto ini juga dinilai sangat kontroversial, sebagian pihak berpendapat Frank Fournier – sang fotografer yang memotret – tidak punya etika.

Photo courtesy of Frank Fournier

Wikipedia menulis tentang foto mendiang Sanchez sebagai berikut :

Omayra Sánchez (sometimes spelled Omaira Sanchez) was a 13-year-old victim of the 1985 eruption of the Nevado del Ruiz volcano, which erupted on November 13, 1985, in Armero, Colombia causing massive lahars which killed nearly 25,000. Trapped for three days in water, concrete, and other debris before she died, Omayra captured the attention of the media as volunteer workers told of a girl they were unable to save. Videos of her communicating with workers, smiling and making gestures to video cameras circulated around the media. Her “courage and dignity” touched Frank Fournier and many other relief workers who gathered around her to pray and be with her.

After 60 hours of struggling, she died. Her death highlighted the failure of officials to respond promptly to the threat of the volcano and also the struggle for volunteer rescue workers to save trapped victims who would otherwise be quickly saved and treated.

Sánchez became famous for a photograph of her taken by photojournalist Frank Fournier shortly before she died. When published worldwide after the young girl’s death, the image caused controversy because of the photographer’s decision to take it and the Colombian government’s inaction in not working to prevent the Armero tragedy despite the forewarning that had been available.” (en.wikipedia.org).

Obyek versus Subyek

Menurut pendapat subyektif saya, kata kunci untuk memahami etika memotret adalah obyek dan subyek. Dalam konteks foto human interest misalnya, pertanyaan mendasar adalah : apakah model, talent, dan manusia pada umumnya yang ada dalam karya foto adalah obyek atau subyek?.

Istilah obyek foto dan subyek foto seringkali tidak dipahami dan digunakan secara sembarangan. Ada perbedaan mendasar antara istilah obyek foto dan subyek foto, demikian pula konsekuensinya.

Obyek foto berarti model, talent, manusia yang dipotret adalah makhluk hidup yang pasif dan tidak memiliki kehendak. Dalam hal ini, fotografer lah yang dianggap sebagai subyek dan pihak yang aktif melakukan perbuatan dan kehendak untuk menghasilkan sebuah karya foto. Mengakui bahwa model, talent dan manusia tidak lebih sekedar obyek foto berarti mengakui hubungan yang tidak setara antara fotografer dengan model, talent, dan manusia.

Subyek foto berarti model, talent, manusia yang dipotret adalah makhluk hidup yang aktif dan memiliki kehendak. Ada kesetaraan hubungan antara model, talent, manusia dengan fotografer. Kedua belah pihak bertindak sebagai subyek. Fotografer adalah subyek yang membuat konsep tentang sebuah karya foto dan mengeksekusinya dengan menggunakan media kamera. Sedangkan talent, model, dan manusia adalah subyek yang memerankan dan merealisasikan tokoh-tokoh dalam konsep karya foto sebagaimana dimaksud oleh fotografer.

Bagi saya, hubungan antara fotografer dengan model, talent dan manusia yang tampil dalam sebuah karya foto seperti hubungan antara sutradara dengan aktor dan aktris. Sutradara memiliki skenario, sedangkan aktor dan aktris adalah subyek yang merealisasikan skenario dan memberikan “ruh” kepada sebuah karya film sehingga menjadi hidup dan bermakna.

Demikian juga proses membuat sebuah karya foto. Fotografer memiliki konsep atau gagasan tentang sebuah karya foto, sedangkan model, talent dan manusia adalah subyek yang memerankan tokoh, pribadi dan karakter yang ada dalam konsep dan benak fotografer. Bagaimanapun, sebuah karya foto yang ada elemen manusia, bertujuan untuk menampilkan kepribadian dan karakter dari model, talent, maupun manusia. Tentu saja karakter, style, dan sentuhan dari fotografer juga akan memberikan makna terhadap sebuah karya foto.

Photo courtesy of Yousuf Karsh

Karena prinsip kesetaraan yang berlaku, maka kata kuncinya adalah komunikasi antara kedua subyek, bukan instruksi dari salah satu pihak. Karena setara, maka pada sesi pemotretan harus sudah ada konsep yang dikomunikasikan dan disepakati oleh para pihak. Intinya, memotret manusia adalah menghargai manusia. Karena itulah etika menjadi relevan dan dibutuhkan.

Tampak Siring, 13 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Photography

 

10 Ways to Go Green and Save Green

  1. Save energy to save money.
    • Set your thermostat a few degrees lower in the winter and a few degrees higher in the summer to save on heating and cooling costs.
    • Install compact fluorescent light bulbs (CFLs) when your older incandescent bulbs burn out.
    • Unplug appliances when you’re not using them. Or, use a “smart” power strip that senses when appliances are off and cuts “phantom” or “vampire” energy use.
    • Wash clothes in cold water whenever possible. As much as 85 percent of the energy used to machine-wash clothes goes to heating the water.
    • Use a drying rack or clothesline to save the energy otherwise used during machine drying.
  1. Save water to save money.
    • Take shorter showers to reduce water use. This will lower your water and heating bills too.
    • Install a low-flow showerhead. They don’t cost much, and the water and energy savings can quickly pay back your investment.
    • Make sure you have a faucet aerator on each faucet. These inexpensive appliances conserve heat and water, while keeping water pressure high.
    • Plant drought-tolerant native plants in your garden. Many plants need minimal watering. Find out which occur naturally in your area.
  1. Less gas = more money (and better health!).

Walk or bike to work. This saves on gas and parking costs while improving your cardiovascular health and reducing your risk of obesity.

    • Consider telecommuting if you live far from your work. Or move closer. Even if this means paying more rent, it could save you money in the long term.
    • Lobby your local government to increase spending on sidewalks and bike lanes. With little cost, these improvements can pay huge dividends in bettering your health and reducing traffic.
  1. Eat smart.
  1. Skip the bottled water.
  1. Think before you buy.
    • Go online to find new or gently used secondhand products. Whether you’ve just moved or are looking to redecorate, consider a service like craigslist or FreeSharing to track down furniture, appliances, and other items cheaply or for free.
    • Check out garage sales, thrift stores, and consignment shops for clothing and other everyday items.
    • When making purchases, make sure you know what’s “Good Stuff” and what isn’t.
    • Watch a video about what happens when you buy things. Your purchases have a real impact, for better or worse.
  1. Borrow instead of buying.
    • Borrow from libraries instead of buying personal books and movies. This saves money, not to mention the ink and paper that goes into printing new books.
    • Share power tools and other appliances. Get to know your neighbors while cutting down on the number of things cluttering your closet or garage.
  1. Buy smart.
    • Buy in bulk. Purchasing food from bulk bins can save money and packaging.
    • Wear clothes that don’t need to be dry-cleaned. This saves money and cuts down on toxic chemical use.
    • Invest in high-quality, long-lasting products. You might pay more now, but you’ll be happy when you don’t have to replace items as frequently (and this means less waste!).
  1. Keep electronics out of the trash.
  1. Make your own cleaning supplies.
    • The big secret: you can make very effective, non-toxic cleaning products whenever you need them. All you need are a few simple ingredients like baking soda, vinegar, lemon, and soap.
    • Making your own cleaning products saves money, time, and packaging-not to mention your indoor air quality.

Retrieved from http://www.worldwatch.org/node/3915 on August 11, 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Great Photograph

“Coba loe buka situs ‘Laskar Pewangi Photography’. Fotonya keren-keren. Hebat tuh fotografer mereka. Padahal mereka cuma pakai lensa produksi pabrikan pihak ketiga”. Demikian salah satu puja dan puji tentang foto “bagus” yang pernah saya dengar di komunitas fotografer. Sayang sekali, dalam diskusi seringkali  tidak ada penjelasan lebih lanjut yang dimaksud dengan “keren-keren”.

Parameter “great” harus jelas. Bahkan seorang Ken Rockwell yang suka menulis tentang teknik dan tips tentang fotografi, “berani” mengatakan bahwa tulisannya tentang “What Makes a Great Photo” sebagai tulisan paling penting dalam situsnya dibandingkan tulisannya yang lain. Masih menurut Rockwell, pengetahuan tentang elemen-elemen dan parameter sebuah karya foto berkualitas adalah sangat mendasar, dan karena itu wajib diketahui oleh semua orang yang mengaku dirinya fotografer.

Seperti dikatakan oleh Rockwell, pada saat berbicara tentang fotografi, intisarinya bukan pada medium yang digunakan, melainkan pesan yang disampaikan. “The message matters, not the medium”, demikian kata Rockwell. Setiap orang bisa saja memotret, tetapi mungkin saja foto yang dihasilkan tidak berisi pesan apapun. Sekedar to take a photograph memang belum tentu menghasilkan message. Bagi Ansel Adams, untuk mampu membuat pesan dalam karya foto, seorang fotografer harus memiliki kompetensi to make a photograph.

Saya setuju dengan pendapat para fotografer senior di Darwis Triadi School of Photograper, bahwa tidak ada salah atau benar dalam fotografi. Salah atau benar memang bahasa hukum dan filsafat. Sedangkan fotografi berkaitan dengan seni, tepatnya seni melukis dengan memanfaatkan cahaya. Dalam konteks budaya, fotografi lebih bertautan dengan indah dan tidak indah.

Tetapi saya kurang setuju kalau kemudian “bagus-bagus” tidak ada parameternya. Rambut memang hitam dan pendapat boleh saja berbeda. Tetapi ketika bicara tentang “bagus-bagus”, lebih tepat kalau tidak ada “floating parameter”. Lagipula,  penilaian dalam fotografi tidak bermakna dan tidak dalam konteks menghakimi, justru penghargaan. Karena itu parameter “bagus-bagus” perlu ada, dan selebihnya, serahkan saja pada subyektifitas masing-masing.

Parameter “Gold Standard”.

Tidak penting siapa yang menetapkan parameter untuk penilaian sebuah foto. Substansinya adalah parameter yang digunakan harus valid, reliable dan obyektif. Salah satu organisasi atau asosiasi yang telah menetapkan parameter penilaian foto adalah Professional Photographers of America (PPA). PPA adalah organisasi non profit beranggotakan para fotografer profesional dari 54 negara. PPA menggunakan 12 elemen sebagai “gold standard” untuk menilai karya foto.

Saya kutip 12 elemen penilaian foto tersebut dari situs www.digicamhelp.com dan penjelasannya secara singkat sebagai berikut :

•       Impact – the sense one gets upon viewing an image for the first time.

•       Creativity – original and unique expression of the imagination to convey your message.

•       Technical Excellence – the print quality of an image such as exposure, sharpness, mounting and correct color.

•       Composition – use of visual elements that prompt the viewer to look where the creator intends.

•       Lighting – the use and control of light, whether natural or artificial, to enhance an image.

•       Style – characteristics that impact an image in either a positive or negative manner.

•       Print Presentation – mats and borders should support and enhance an image, not distract from it.

•       Center of Interest – the point, or points, on an image where the maker wants the viewer to stop as they view it. The entire scene may also serve as the center of interest.

•       Center of Interest – the point, or points, on an image where the maker wants the viewer to stop as they view it. The entire scene may also serve as the center of interest.

•       Subject Matter – it should always be appropriate to the story being told in an image.

•       Color Balance – use of tones working together to enhance the emotional appeal of an image.

•       Technique – the approach used to create an image such as lighting and posing.

•       Story Telling – the ability of an image to evoke imagination.

3 Parameter Good

Tidak mudah untuk menghafal dan mengingat-ingat 12 elemen penilaian foto tersebut. Juga tidak mungkin setiap akan memotret setiap fotografer melaksanakan semua “rukun fotografi” tersebut. Fotografi akan lebih nyaman kalau dijalankan seperti air mengalir. Dalam bahasa fotografer senior Darwis Triadi, teknis dalam fotografi diibaratkan dengan teknis mengendari mobil. Pada saat mengendarai mobil, tidak mungkin mengingat-ingat dan menerapkan secara pasti kombinasi pijakan kopling, gas dan rem. Fotografi ada untuk dinikmati, bukan untuk sekedar menghafal “rukun-rukun dan fatwa-fatwa dalam fotografi”.

Ada parameter yang “lebih sederhana” tetapi masih dapat “mewakili” elemen-elemen tersebut. Masih dari situs www.digicamhelp.com, sebuah foto yang mampu “stand out from the crowd” pada umumnya memiliki 3 elemen yang sama, yaitu :

  • Good Subject,
  • Good Lighting, dan
  • Good Composition.

Subyek yang bagus tidak berarti harus peragawati yang cantik dan seksi, gedung-gedung mewah, atau benda-benda yang mahal. Sebab, peragawati yang cantik, gedung-gedung yang mewah, atau benda-benda yang mahal sekalipun, jika memotretnya tidak tepat, karya foto yang dihasilkan juga tidak akan bagus (misalnya kurang/lebih  pencahayaan, goyang, tidak fokus, dan lain sebagainya).

Bagi penganut “mazhab” fotografi makro misalnya, seekor kupu-kupu yang sedang “asyik” menghisap madu tetap dapat menjadi obyek menarik. Bahkan bayangan tiang-tiang jembatan yang membentuk pola dan simetri sudah bisa menjadi subyek foto yang menarik.

Pendapat subyektif saya, sebuah subyek foto baik mampu menjadikan sebuah karya foto bercerita sendiri. Sebuah karya foto harus memiliki story telling. Bukankah a picture is worth a thousand words? Sebuah karya foto dari Kevin Carter yang diambil tahun 1993 di negara Sudan sudah mampu bercerita sendiri tentang betapa dahsyat kemiskinan dan kelaparan yang diderita rakyat Sudan.

Image courtesy of Kevin Carter

Jika menggunakan “rukun dan fatwa-fatwa” di dunia fotografi, mungkin foto ini dapat diperdebatkan apakah dapat disebut sebagai great photograph. Tetapi sekali lagi ingat wejangan Rockwell ………“the message matters, not the medium”.

Good Lighting.

Fotografi adalah melukis dengan cahaya. Tanpa cahaya, maka tidak ada fotografi. Karena itu, pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan cahaya untuk membuat sebuah karya foto mutlak dikuasai oleh setiap orang yang sudah memproklamirkan dirinya sebagai fotografer.

Sumber cahaya secara umum adalah available light (misalnya cahaya matahari) dan artificial light (misalnya lampu studio). Ada hal-hal penting yang harus diketahui tentang cahaya, yaitu intensitas, warna, dan arah cahaya. Fotografi bukan sekedar mengatur cahaya yang cukup untuk memotret. Sebab, sebuah karya foto yang kelebihan cahaya dan kekurangan cahaya tidak selalu jelek. Bahkan, sebuah karya foto silhouette, justru diambil dengan cara kekurangan cahaya sehingga subyek menjadi hitam legam membentuk silhouette.

Bahwa cahaya penting sekali di dunia fotografi, saya kutipkan pendapat dari fotografer senior Andreas Darwis Triadi sebagai berikut :

“Membuat foto yang baik tidak terlepas dari metode pencahayaan. Dengan tata letak cahaya yang baik meski dengan satu sumber cahaya, foto bisa memberikan sebuah nuansa dan rasa yang baik serta bermakna. Oleh sebab itu menurut pandangan saya, seorang fotografer bila tidak mendalami dan menguasai teknik cahaya secara tepat dan peka, tentunya akan selalu berpikir bahwa, banyak menggunakan lampu lebih bagus dari pada satu lampu.” (www.darwistriadi.blogspot.com)

Mengapa cahaya menjadi penting? Menurut Ken Messamore, “light can have tone, dark or light’ (ii.) light can be hard or soft, blurred or sharp; (iii.) light can have color, muted or saturated; and (iv) light can have contrast, dark tones very near to light tones”.

Image courtesy of Stefan Mendelsohn

Good Composition.

Mengapa komposisi penting dalam fotografi?. Paul Strand mengatakan bahwa komposisi adalah “…..how you build a picture, what a picture consists of, how shapes are related to each other, how spaces are filled, how the whole thing must have a kind of unity”.

Image courtesy of Telmo32

Sebuah foto yang bagus juga memiliki komposisi yang menarik. Dalam buku-buku maupun situs fotografi disebutkan tentang beberapa prinsip komposisi yang menarik. Secara umum, garis, bentuk dan warna merupakan dasar-dasar pembentuk komposisi yang menarik.

Boleh-boleh saja memasukkan beberapa prinsip komposisi dalam sebuah karya foto. Meskipun demikian, hal penting yang harus dipahami adalah, bahwa komposisi pada dasarnya bukan sebuah aturan kaku yang harus “mati-matian” diikuti. Sebuah moment terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja. Catch the moments jauh lebih penting dan kadang-kadang melanggar aturan dasar komposisi tidak terhindarkan.

Tampak Siring, 7 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Photography

 

What is Photography?

Tanyakan kepada sembarang orang yang mengaku sebagai fotografer tentang fotografi, mungkin anda akan menemukan jawaban “standar” seperti ini : “fotografi adalah seni melukis dengan cahaya”. Jawaban “minimalis” ini relatif lebih baik ketimbang tidak mengerti sama sekali tentang fotografi.

Disebut jawaban standar karena memang berasal dari kata photos yang berarti cahaya atau light dan graphos yang berarti melukis. Jika pelukis menggunakan cat untuk melukis, maka seorang fotografer melukis dengan memanfaatkan cahaya. Tanpa cahaya tidak ada fotografi. Sedangkan istilah fotografi digunakan pertama kali tahun 1839 oleh seorang ilmuwan bernama Sir John F.W. Herschel.

Definisi lebih “serius” tentang fotografi diberikan oleh Ansel Adams,  “dedengkot” fotografi landscape. “You don’t take a photograph, you make it”, demikian kata Adams. Take a photograph adalah memotret tanpa konsep, asal “jepret”, hasilnya adalah sebuah foto yang tidak jelas story dan message yang disampaikan. Make a photograph adalah memotret dengan konsep, mengandung estetika (misalnya kombinasi cahaya, warna, komposisi), dan memiliki cerita dan pesan yang jelas. Singkat kata, fotografi adalah persis seperti yang dikatakan oleh Ken Rockwell, yaitu “the message matters, not the medium”.

Di sekolah-sekolah fotografi, take dan make membedakan “kasta” seorang fotografer. Mereka yang hanya memiliki kompetensi take a photograph harus rela masuk kelas dasar. Sedangkan mereka yang memiliki kompetensi make a photograph mengantongi “wild card” untuk masuk kelas intermediate. Mereka yang berada di “kasta” intermediate juga memiliki kemampuan membaca sebuah foto, menganalisisnya, dan “berani” menilai sebuah karya foto adalah baik atau abal-abal.

Definisi lebih “filosofis” tentang fotografi diberikan oleh Ken Rockwell. Dalam situs www.kenrockwell.com, Rockwell mengutarakan pendapatnya tentang fotografi sebagai berikut :

The more decades I do this, the more I realize everything in photography comes down to one word: vision.

Call it vision, imagination, or seeing; it all comes down to the same thing: the ability to envision a final result in your mind’s eye, and then to make it so with your tools at hand.

It’s never been about the gear. It’s always been about seeing something, knowing how you want it to look, and making it so. Making it so is the easy part; seeing it in the first place is what makes a photographer. Powers of observation are everything. Snapping a camera is trivial.”

Agar lebih mudah memahami pendapat para pakar di bidang fotografi, saya akan menjelaskan tentang fotografi melalui beberapa kata kunci sebagai berikut : fotografi adalah bukan kamera, (ii.) fotografi adalah bukan lensa, (iii.) fotografi adalah prestasi, bukan prestise sosial.

Fotografi Bukan Kamera.

Prinsip bahwa yang penting adalah the man behind the gun juga berlaku di dunia fotografi. Tidak pernah ada dalil di dunia fotografi bahwa sebuah karya foto berkualitas hanya akan dihasilkan dari sebuah kamera berharga mahal.

Benar bahwa kamera juga mengenal kasta-kastanya sendiri. Ada kamera entry level di tingkat paling dasar, kamera semi profesional di tingkat menengah, dan kamera profesional di tingkat tertinggi. Spesifikasi teknis dan tingkat kecanggihan teknologi masing-masing kamera berbeda-beda. Ada kualitas ada harga, karena itu kamera pro juga memiliki harga premium.

Meskipun demikian, tidak benar bahwa untuk membuat sebuah karya foto yang berkualitas, harus menggunakan kamera yang digunakan oleh para profesional. Dalam berbagai kesempatan seminar tentang fotografi,  kadang-kadang pemrasaran menunjukkan beberapa karya foto berkualitas yang diambil dengan “hanya” menggunakan kamera saku 12 MP atau bahkan 8 MP, tetapi hasilnya seperti karya foto dari kamera sekelas DSLR sehingga membuat para peserta seminar tidak percaya.

Dalam artikelnya berjudul “How to make a great Photograph” yang dimuat di situs http://www.kenrockwell.com, Rockwell mengatakan beberapa hal penting sebagai berikut :

  • your camera has nothing to do with making a great photos”.  
  • “All cameras, especially digital ones, offer about the same image quality in real use. The real difference is how easy or possible it is to make the needed adjustments to get decent photos in each different kind of real-world condition.

Fotografi Bukan Lensa.

Setali tiga uang, tidak pernah ada “fatwa” di dunia fotografi bahwa sebuah karya foto yang berkualitas hanya akan dihasilkan melalui lensa premium yang berkualitas. Meskipun demikian, bagi sebagian fotografer “tanggung”, dunia terasa  seolah-olah kiamat jika tidak memiliki dan menggunakan lensa premium.

Kadang-kadang, atau mungkin seringkali, komunitas fotografer lebih suka menghabiskan waktu untuk membicarakan lensa premium ketimbang karya foto berkualitas premium. Saya tidak tahu apakah ini memang “ciri khas” fotografer Indonesia.

Mentor saya di Jerman yang juga memiliki hobby fotografi lebih senang memperlihatkan kepada saya  karya foto traveling ke beberapa negara ketimbang “ngrumpi” tentang kamera dan lensa. Apapun hasilnya, saya tetap respek. Sebab, ia telah mencoba to take or to make photographs, jauh lebih “mulia” ketimbang memperdebatkan kualitas kamera dan lensa. Toh fotografi bukan sekedar review tentang kamera dan lensa.

 

Fotografi adalah Prestasi, Bukan Prestise.

Sekurang-kurangnya, ada tiga hal yang membuat seorang fotografer “tanggung” tidak percaya diri, yaitu : kamera, lensa, dan karya foto. Ada sebagian fotografer yang merasa kalah segala-galanya dibandingkan fotografer lainnya hanya gara-gara angka digit yang tertera di body sebuah kamera. Ada juga fotografer yang merasa “dhuafa” setelah membandingkan dengan fotografer lain yang menggunakan lensa premium yang ditandai lingkaran warna merah.

Sesungguhnya masih dapat diterima akal sehat jika ketidakpercayaan diri bersumber dari karya foto. Sebab, “kasta” fotografer memang lebih ditentukan oleh karya-karya foto yang dihasilkan. Wajar jika para fotografer cenderung mempraktekkan “ilmu padi” ketimbang menyombongkan diri telah menghasilkan karya-karya foto lebih berkualitas dibandingkan dengan karya foto fotografer lain.

Bagi saya pribadi, fotografi memang lebih berurusan dengan prestasi ketimbang prestise. Yang saya maksud dengan prestise sosial adalah berkaitan dengan peralatan kamera, lensa, dan peralatan pendukung lainnya yang berharga mahal. Harga-harga mahal kamera, lensa dan peralatan pendukung lainnya tidak sepatutnya menjadi kriteria prestise sosial seorang fotografer.

Kalaupun seorang fotografer masih fokus pada prestise sosial, sepatutnya prestise sosial itu diraih melalui prestasi (baca : karya-karya foto berkualitas) yang dibukukan fotografer yang bersangkutan. Prestasi seorang fotografer kiranya lebih pantas untuk mengukur kompetensi seorang fotografer. Kriteria  lain seperti kamera, lensa, umur fotografer, pengalaman dalam hitungan tahun, dan bahkan tarif bayaran, mungkin tidak relevan untuk menempatkan seorang fotografer sebagai suhu di bidangnya.

Prestise sosial adalah konsekuensi dari prestasi fotografer. Sejatinya, prestasi seorang fotografer, tidak akan pernah diraih melalui prestise sosial. Tidak ada “darah biru” di dunia fotografi. Semua fotografer harus “merangkak” dari bawah dan jujur menunjukkan prestasi yang diakui oleh komunitas fotografer yang akuntabel sehingga layak untuk mendapat prestise sosial lebih dibandingkan fotografer lain.

Saya pribadi lebih memiliki harapan mampu menghasilkan karya foto berkualitas dari kamera dan lensa yang biasa-biasa saja. Bagi saya, tidak ada yang lebih memalukan, menghasilkan karya foto yang teramat buruk dari kamera terbaik dan lensa premium. Bagaimana dengan Anda?

Tampak Siring, 31 Juli 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 2, 2011 in Photography