RSS

What is Photography?

02 Aug

Tanyakan kepada sembarang orang yang mengaku sebagai fotografer tentang fotografi, mungkin anda akan menemukan jawaban “standar” seperti ini : “fotografi adalah seni melukis dengan cahaya”. Jawaban “minimalis” ini relatif lebih baik ketimbang tidak mengerti sama sekali tentang fotografi.

Disebut jawaban standar karena memang berasal dari kata photos yang berarti cahaya atau light dan graphos yang berarti melukis. Jika pelukis menggunakan cat untuk melukis, maka seorang fotografer melukis dengan memanfaatkan cahaya. Tanpa cahaya tidak ada fotografi. Sedangkan istilah fotografi digunakan pertama kali tahun 1839 oleh seorang ilmuwan bernama Sir John F.W. Herschel.

Definisi lebih “serius” tentang fotografi diberikan oleh Ansel Adams,  “dedengkot” fotografi landscape. “You don’t take a photograph, you make it”, demikian kata Adams. Take a photograph adalah memotret tanpa konsep, asal “jepret”, hasilnya adalah sebuah foto yang tidak jelas story dan message yang disampaikan. Make a photograph adalah memotret dengan konsep, mengandung estetika (misalnya kombinasi cahaya, warna, komposisi), dan memiliki cerita dan pesan yang jelas. Singkat kata, fotografi adalah persis seperti yang dikatakan oleh Ken Rockwell, yaitu “the message matters, not the medium”.

Di sekolah-sekolah fotografi, take dan make membedakan “kasta” seorang fotografer. Mereka yang hanya memiliki kompetensi take a photograph harus rela masuk kelas dasar. Sedangkan mereka yang memiliki kompetensi make a photograph mengantongi “wild card” untuk masuk kelas intermediate. Mereka yang berada di “kasta” intermediate juga memiliki kemampuan membaca sebuah foto, menganalisisnya, dan “berani” menilai sebuah karya foto adalah baik atau abal-abal.

Definisi lebih “filosofis” tentang fotografi diberikan oleh Ken Rockwell. Dalam situs www.kenrockwell.com, Rockwell mengutarakan pendapatnya tentang fotografi sebagai berikut :

The more decades I do this, the more I realize everything in photography comes down to one word: vision.

Call it vision, imagination, or seeing; it all comes down to the same thing: the ability to envision a final result in your mind’s eye, and then to make it so with your tools at hand.

It’s never been about the gear. It’s always been about seeing something, knowing how you want it to look, and making it so. Making it so is the easy part; seeing it in the first place is what makes a photographer. Powers of observation are everything. Snapping a camera is trivial.”

Agar lebih mudah memahami pendapat para pakar di bidang fotografi, saya akan menjelaskan tentang fotografi melalui beberapa kata kunci sebagai berikut : fotografi adalah bukan kamera, (ii.) fotografi adalah bukan lensa, (iii.) fotografi adalah prestasi, bukan prestise sosial.

Fotografi Bukan Kamera.

Prinsip bahwa yang penting adalah the man behind the gun juga berlaku di dunia fotografi. Tidak pernah ada dalil di dunia fotografi bahwa sebuah karya foto berkualitas hanya akan dihasilkan dari sebuah kamera berharga mahal.

Benar bahwa kamera juga mengenal kasta-kastanya sendiri. Ada kamera entry level di tingkat paling dasar, kamera semi profesional di tingkat menengah, dan kamera profesional di tingkat tertinggi. Spesifikasi teknis dan tingkat kecanggihan teknologi masing-masing kamera berbeda-beda. Ada kualitas ada harga, karena itu kamera pro juga memiliki harga premium.

Meskipun demikian, tidak benar bahwa untuk membuat sebuah karya foto yang berkualitas, harus menggunakan kamera yang digunakan oleh para profesional. Dalam berbagai kesempatan seminar tentang fotografi,  kadang-kadang pemrasaran menunjukkan beberapa karya foto berkualitas yang diambil dengan “hanya” menggunakan kamera saku 12 MP atau bahkan 8 MP, tetapi hasilnya seperti karya foto dari kamera sekelas DSLR sehingga membuat para peserta seminar tidak percaya.

Dalam artikelnya berjudul “How to make a great Photograph” yang dimuat di situs http://www.kenrockwell.com, Rockwell mengatakan beberapa hal penting sebagai berikut :

  • your camera has nothing to do with making a great photos”.  
  • “All cameras, especially digital ones, offer about the same image quality in real use. The real difference is how easy or possible it is to make the needed adjustments to get decent photos in each different kind of real-world condition.

Fotografi Bukan Lensa.

Setali tiga uang, tidak pernah ada “fatwa” di dunia fotografi bahwa sebuah karya foto yang berkualitas hanya akan dihasilkan melalui lensa premium yang berkualitas. Meskipun demikian, bagi sebagian fotografer “tanggung”, dunia terasa  seolah-olah kiamat jika tidak memiliki dan menggunakan lensa premium.

Kadang-kadang, atau mungkin seringkali, komunitas fotografer lebih suka menghabiskan waktu untuk membicarakan lensa premium ketimbang karya foto berkualitas premium. Saya tidak tahu apakah ini memang “ciri khas” fotografer Indonesia.

Mentor saya di Jerman yang juga memiliki hobby fotografi lebih senang memperlihatkan kepada saya  karya foto traveling ke beberapa negara ketimbang “ngrumpi” tentang kamera dan lensa. Apapun hasilnya, saya tetap respek. Sebab, ia telah mencoba to take or to make photographs, jauh lebih “mulia” ketimbang memperdebatkan kualitas kamera dan lensa. Toh fotografi bukan sekedar review tentang kamera dan lensa.

 

Fotografi adalah Prestasi, Bukan Prestise.

Sekurang-kurangnya, ada tiga hal yang membuat seorang fotografer “tanggung” tidak percaya diri, yaitu : kamera, lensa, dan karya foto. Ada sebagian fotografer yang merasa kalah segala-galanya dibandingkan fotografer lainnya hanya gara-gara angka digit yang tertera di body sebuah kamera. Ada juga fotografer yang merasa “dhuafa” setelah membandingkan dengan fotografer lain yang menggunakan lensa premium yang ditandai lingkaran warna merah.

Sesungguhnya masih dapat diterima akal sehat jika ketidakpercayaan diri bersumber dari karya foto. Sebab, “kasta” fotografer memang lebih ditentukan oleh karya-karya foto yang dihasilkan. Wajar jika para fotografer cenderung mempraktekkan “ilmu padi” ketimbang menyombongkan diri telah menghasilkan karya-karya foto lebih berkualitas dibandingkan dengan karya foto fotografer lain.

Bagi saya pribadi, fotografi memang lebih berurusan dengan prestasi ketimbang prestise. Yang saya maksud dengan prestise sosial adalah berkaitan dengan peralatan kamera, lensa, dan peralatan pendukung lainnya yang berharga mahal. Harga-harga mahal kamera, lensa dan peralatan pendukung lainnya tidak sepatutnya menjadi kriteria prestise sosial seorang fotografer.

Kalaupun seorang fotografer masih fokus pada prestise sosial, sepatutnya prestise sosial itu diraih melalui prestasi (baca : karya-karya foto berkualitas) yang dibukukan fotografer yang bersangkutan. Prestasi seorang fotografer kiranya lebih pantas untuk mengukur kompetensi seorang fotografer. Kriteria  lain seperti kamera, lensa, umur fotografer, pengalaman dalam hitungan tahun, dan bahkan tarif bayaran, mungkin tidak relevan untuk menempatkan seorang fotografer sebagai suhu di bidangnya.

Prestise sosial adalah konsekuensi dari prestasi fotografer. Sejatinya, prestasi seorang fotografer, tidak akan pernah diraih melalui prestise sosial. Tidak ada “darah biru” di dunia fotografi. Semua fotografer harus “merangkak” dari bawah dan jujur menunjukkan prestasi yang diakui oleh komunitas fotografer yang akuntabel sehingga layak untuk mendapat prestise sosial lebih dibandingkan fotografer lain.

Saya pribadi lebih memiliki harapan mampu menghasilkan karya foto berkualitas dari kamera dan lensa yang biasa-biasa saja. Bagi saya, tidak ada yang lebih memalukan, menghasilkan karya foto yang teramat buruk dari kamera terbaik dan lensa premium. Bagaimana dengan Anda?

Tampak Siring, 31 Juli 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 2, 2011 in Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: