RSS

Great Photograph

09 Aug

“Coba loe buka situs ‘Laskar Pewangi Photography’. Fotonya keren-keren. Hebat tuh fotografer mereka. Padahal mereka cuma pakai lensa produksi pabrikan pihak ketiga”. Demikian salah satu puja dan puji tentang foto “bagus” yang pernah saya dengar di komunitas fotografer. Sayang sekali, dalam diskusi seringkali  tidak ada penjelasan lebih lanjut yang dimaksud dengan “keren-keren”.

Parameter “great” harus jelas. Bahkan seorang Ken Rockwell yang suka menulis tentang teknik dan tips tentang fotografi, “berani” mengatakan bahwa tulisannya tentang “What Makes a Great Photo” sebagai tulisan paling penting dalam situsnya dibandingkan tulisannya yang lain. Masih menurut Rockwell, pengetahuan tentang elemen-elemen dan parameter sebuah karya foto berkualitas adalah sangat mendasar, dan karena itu wajib diketahui oleh semua orang yang mengaku dirinya fotografer.

Seperti dikatakan oleh Rockwell, pada saat berbicara tentang fotografi, intisarinya bukan pada medium yang digunakan, melainkan pesan yang disampaikan. “The message matters, not the medium”, demikian kata Rockwell. Setiap orang bisa saja memotret, tetapi mungkin saja foto yang dihasilkan tidak berisi pesan apapun. Sekedar to take a photograph memang belum tentu menghasilkan message. Bagi Ansel Adams, untuk mampu membuat pesan dalam karya foto, seorang fotografer harus memiliki kompetensi to make a photograph.

Saya setuju dengan pendapat para fotografer senior di Darwis Triadi School of Photograper, bahwa tidak ada salah atau benar dalam fotografi. Salah atau benar memang bahasa hukum dan filsafat. Sedangkan fotografi berkaitan dengan seni, tepatnya seni melukis dengan memanfaatkan cahaya. Dalam konteks budaya, fotografi lebih bertautan dengan indah dan tidak indah.

Tetapi saya kurang setuju kalau kemudian “bagus-bagus” tidak ada parameternya. Rambut memang hitam dan pendapat boleh saja berbeda. Tetapi ketika bicara tentang “bagus-bagus”, lebih tepat kalau tidak ada “floating parameter”. Lagipula,  penilaian dalam fotografi tidak bermakna dan tidak dalam konteks menghakimi, justru penghargaan. Karena itu parameter “bagus-bagus” perlu ada, dan selebihnya, serahkan saja pada subyektifitas masing-masing.

Parameter “Gold Standard”.

Tidak penting siapa yang menetapkan parameter untuk penilaian sebuah foto. Substansinya adalah parameter yang digunakan harus valid, reliable dan obyektif. Salah satu organisasi atau asosiasi yang telah menetapkan parameter penilaian foto adalah Professional Photographers of America (PPA). PPA adalah organisasi non profit beranggotakan para fotografer profesional dari 54 negara. PPA menggunakan 12 elemen sebagai “gold standard” untuk menilai karya foto.

Saya kutip 12 elemen penilaian foto tersebut dari situs www.digicamhelp.com dan penjelasannya secara singkat sebagai berikut :

•       Impact – the sense one gets upon viewing an image for the first time.

•       Creativity – original and unique expression of the imagination to convey your message.

•       Technical Excellence – the print quality of an image such as exposure, sharpness, mounting and correct color.

•       Composition – use of visual elements that prompt the viewer to look where the creator intends.

•       Lighting – the use and control of light, whether natural or artificial, to enhance an image.

•       Style – characteristics that impact an image in either a positive or negative manner.

•       Print Presentation – mats and borders should support and enhance an image, not distract from it.

•       Center of Interest – the point, or points, on an image where the maker wants the viewer to stop as they view it. The entire scene may also serve as the center of interest.

•       Center of Interest – the point, or points, on an image where the maker wants the viewer to stop as they view it. The entire scene may also serve as the center of interest.

•       Subject Matter – it should always be appropriate to the story being told in an image.

•       Color Balance – use of tones working together to enhance the emotional appeal of an image.

•       Technique – the approach used to create an image such as lighting and posing.

•       Story Telling – the ability of an image to evoke imagination.

3 Parameter Good

Tidak mudah untuk menghafal dan mengingat-ingat 12 elemen penilaian foto tersebut. Juga tidak mungkin setiap akan memotret setiap fotografer melaksanakan semua “rukun fotografi” tersebut. Fotografi akan lebih nyaman kalau dijalankan seperti air mengalir. Dalam bahasa fotografer senior Darwis Triadi, teknis dalam fotografi diibaratkan dengan teknis mengendari mobil. Pada saat mengendarai mobil, tidak mungkin mengingat-ingat dan menerapkan secara pasti kombinasi pijakan kopling, gas dan rem. Fotografi ada untuk dinikmati, bukan untuk sekedar menghafal “rukun-rukun dan fatwa-fatwa dalam fotografi”.

Ada parameter yang “lebih sederhana” tetapi masih dapat “mewakili” elemen-elemen tersebut. Masih dari situs www.digicamhelp.com, sebuah foto yang mampu “stand out from the crowd” pada umumnya memiliki 3 elemen yang sama, yaitu :

  • Good Subject,
  • Good Lighting, dan
  • Good Composition.

Subyek yang bagus tidak berarti harus peragawati yang cantik dan seksi, gedung-gedung mewah, atau benda-benda yang mahal. Sebab, peragawati yang cantik, gedung-gedung yang mewah, atau benda-benda yang mahal sekalipun, jika memotretnya tidak tepat, karya foto yang dihasilkan juga tidak akan bagus (misalnya kurang/lebih  pencahayaan, goyang, tidak fokus, dan lain sebagainya).

Bagi penganut “mazhab” fotografi makro misalnya, seekor kupu-kupu yang sedang “asyik” menghisap madu tetap dapat menjadi obyek menarik. Bahkan bayangan tiang-tiang jembatan yang membentuk pola dan simetri sudah bisa menjadi subyek foto yang menarik.

Pendapat subyektif saya, sebuah subyek foto baik mampu menjadikan sebuah karya foto bercerita sendiri. Sebuah karya foto harus memiliki story telling. Bukankah a picture is worth a thousand words? Sebuah karya foto dari Kevin Carter yang diambil tahun 1993 di negara Sudan sudah mampu bercerita sendiri tentang betapa dahsyat kemiskinan dan kelaparan yang diderita rakyat Sudan.

Image courtesy of Kevin Carter

Jika menggunakan “rukun dan fatwa-fatwa” di dunia fotografi, mungkin foto ini dapat diperdebatkan apakah dapat disebut sebagai great photograph. Tetapi sekali lagi ingat wejangan Rockwell ………“the message matters, not the medium”.

Good Lighting.

Fotografi adalah melukis dengan cahaya. Tanpa cahaya, maka tidak ada fotografi. Karena itu, pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan cahaya untuk membuat sebuah karya foto mutlak dikuasai oleh setiap orang yang sudah memproklamirkan dirinya sebagai fotografer.

Sumber cahaya secara umum adalah available light (misalnya cahaya matahari) dan artificial light (misalnya lampu studio). Ada hal-hal penting yang harus diketahui tentang cahaya, yaitu intensitas, warna, dan arah cahaya. Fotografi bukan sekedar mengatur cahaya yang cukup untuk memotret. Sebab, sebuah karya foto yang kelebihan cahaya dan kekurangan cahaya tidak selalu jelek. Bahkan, sebuah karya foto silhouette, justru diambil dengan cara kekurangan cahaya sehingga subyek menjadi hitam legam membentuk silhouette.

Bahwa cahaya penting sekali di dunia fotografi, saya kutipkan pendapat dari fotografer senior Andreas Darwis Triadi sebagai berikut :

“Membuat foto yang baik tidak terlepas dari metode pencahayaan. Dengan tata letak cahaya yang baik meski dengan satu sumber cahaya, foto bisa memberikan sebuah nuansa dan rasa yang baik serta bermakna. Oleh sebab itu menurut pandangan saya, seorang fotografer bila tidak mendalami dan menguasai teknik cahaya secara tepat dan peka, tentunya akan selalu berpikir bahwa, banyak menggunakan lampu lebih bagus dari pada satu lampu.” (www.darwistriadi.blogspot.com)

Mengapa cahaya menjadi penting? Menurut Ken Messamore, “light can have tone, dark or light’ (ii.) light can be hard or soft, blurred or sharp; (iii.) light can have color, muted or saturated; and (iv) light can have contrast, dark tones very near to light tones”.

Image courtesy of Stefan Mendelsohn

Good Composition.

Mengapa komposisi penting dalam fotografi?. Paul Strand mengatakan bahwa komposisi adalah “…..how you build a picture, what a picture consists of, how shapes are related to each other, how spaces are filled, how the whole thing must have a kind of unity”.

Image courtesy of Telmo32

Sebuah foto yang bagus juga memiliki komposisi yang menarik. Dalam buku-buku maupun situs fotografi disebutkan tentang beberapa prinsip komposisi yang menarik. Secara umum, garis, bentuk dan warna merupakan dasar-dasar pembentuk komposisi yang menarik.

Boleh-boleh saja memasukkan beberapa prinsip komposisi dalam sebuah karya foto. Meskipun demikian, hal penting yang harus dipahami adalah, bahwa komposisi pada dasarnya bukan sebuah aturan kaku yang harus “mati-matian” diikuti. Sebuah moment terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja. Catch the moments jauh lebih penting dan kadang-kadang melanggar aturan dasar komposisi tidak terhindarkan.

Tampak Siring, 7 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: