RSS

“Unggah-Ungguh” Dalam Fotografi

16 Aug

Memotret model di ruang terbuka (outdoor) sah-sah saja. Tetapi memotret model perempuan dengan pose dada terbuka tanpa mengenakan bra, mungkin bukan hal yang biasa. Setidak-tidaknya, hal itu tidak biasa bagi orang Indonesia dan jika sesi pemotretan itu dilakukan di Indonesia. Kecuali, sesi pemotretan di dalam ruangan atau studio.

Tetapi di Eropa, memotret model perempuan dengan penampilan “seronok” di tempat terbuka  bukan merupakan tindakan tabu. Paling tidak, secara tidak sengaja, saya pernah menyaksikan sesi pemotretan seperti itu. Ketika tinggal di Mannheim tahun 2009 yang lalu, sebuah kota kecil di Jerman barat daya yang pernah menjadi markas tentara Amerika Serikat pasca perang dunia kedua, saya dan teman-teman lain, pernah menyaksikan sesi pemotretan model perempuan dengan penampilan seronok di stasiun kereta api.

Tentu saja banyak orang yang “nonton” tayangan langsung tersbut. Meskipun hampir sebagian besar kami membawa kamera saku, entah terpana dan terkesima, tidak ada satupun di antara kami yang punya inisiatif untuk ikut-ikutan memotret. Kami juga tidak pernah diberitahu, dan juga tidak pernah tahu, apakah ikutan memotret model profesional itu boleh atau tidak. Singkat kata, sejatinya kami tidak pernah belajar etika fotografi, terutama etika memotret.

Salah satu ciri masyarakat moderen adalah keberadaan hukum. Masyarakat moderen memang cenderung lebih heterogen, terdiri dari berbagai kelompok sosial yang sangat beragam, sehingga tabu, norma-norma sosial, dan aturan-aturan kelompok tidak lagi dapat diandalkan menjadi medium untuk mewujudkan tertib sosial. Karena itu diadakan hukum lebih bersifat populis, berlaku untuk semua anggota masyarakat, dan equal before law.

Tetapi tidak semua hubungan antarmanusia dan semua aktivitas manusia diatur oleh hukum tertulis. Tidak semua harus diatur dan ditulis dalam hukum positif. Dalam kelompok-kelompok sosial, masyarakat, suku dan bangsa, selalu ada saja perbedaan tentang hal-hal yang dianggap benar dan salah, baik atau buruk, dan indah atau tidak indah. Selalu ada kepatutan yang berlaku spesifik dan boleh jadi tidak diketahui oleh sebagian besar orang. Ada berbagai nama atau sebutan untuk berbagai kepatutan sosial, untuk lebih mudahnya, saya sebut saja etika.

Sebagai contoh, penjualan minuman keras di negara-negara Barat. Meskipun pada dasarnya minum minuman keras halal bagi orang-orang Barat, toh menjual minuman keras kepada anak-anak yang masih di bawah umur dianggap sebagai tindakan yang tidak patut. Contoh lain, bagi orang-orang, kelompok sosial, dan organisasi yang “anti merokok”, mereka  merasa tidak etis kalau menerima bea siswa atau  sponsorship dari perusahaan-perusahaan rokok.

Etika Fotografi

Sepengetahuan saya, sampai saat ini tidak pernah ada – atau belum pernah ada – hukum-hukum formal yang mengatur sikap, perilaku, dan hubungan antarmanusia di dunia fotografi. Bahkan, saya belum pernah mengetahui ada etika fotografi yang disepakati, diterima, dan dipatuhi oleh semua orang yang berkecimpung di dunia fotografi. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa dunia fotografi adalah dunia yang bebas dan tanpa batasan. Fotografer kan juga manusia.

Perkumpulan atau asosiasi fotografer tentu saja memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang mengatur sikap, perilaku, dan hubungan antarmanusia di antara anggota-anggotanya, maupun ketika berhubungan dengan pihak ketiga. Situs-situs fotografi biasanya juga memiliki aturan main yang jelas. Meskipun demikian, semua aturan main itu berlaku khusus untuk lingkungan sosial tersebut.

Sejatinya, masih jauh lebih banyak aturan main yang tidak tertulis dalam fotografi. Meskipun tidak tertulis, aturan main, tata tertib, etika (dan sebutan-sebutan lainnya) tersebut diketahui, disepakati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh fotografer. Meskipun bukan orang Jawa, kadang-kadang fotografer dituntut untuk bisa menghayati dan mengamalkan falsafah ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tetapi ya jangan begitu). Tidak percaya?

Foto Omayra Sanchez, salah satu korban gempa bumi di Kolumbia Nopember 1985, merupakan foto yang memenuhi kriteria “catch the moment and remember the memory”. Tetapi foto ini juga dinilai sangat kontroversial, sebagian pihak berpendapat Frank Fournier – sang fotografer yang memotret – tidak punya etika.

Photo courtesy of Frank Fournier

Wikipedia menulis tentang foto mendiang Sanchez sebagai berikut :

Omayra Sánchez (sometimes spelled Omaira Sanchez) was a 13-year-old victim of the 1985 eruption of the Nevado del Ruiz volcano, which erupted on November 13, 1985, in Armero, Colombia causing massive lahars which killed nearly 25,000. Trapped for three days in water, concrete, and other debris before she died, Omayra captured the attention of the media as volunteer workers told of a girl they were unable to save. Videos of her communicating with workers, smiling and making gestures to video cameras circulated around the media. Her “courage and dignity” touched Frank Fournier and many other relief workers who gathered around her to pray and be with her.

After 60 hours of struggling, she died. Her death highlighted the failure of officials to respond promptly to the threat of the volcano and also the struggle for volunteer rescue workers to save trapped victims who would otherwise be quickly saved and treated.

Sánchez became famous for a photograph of her taken by photojournalist Frank Fournier shortly before she died. When published worldwide after the young girl’s death, the image caused controversy because of the photographer’s decision to take it and the Colombian government’s inaction in not working to prevent the Armero tragedy despite the forewarning that had been available.” (en.wikipedia.org).

Obyek versus Subyek

Menurut pendapat subyektif saya, kata kunci untuk memahami etika memotret adalah obyek dan subyek. Dalam konteks foto human interest misalnya, pertanyaan mendasar adalah : apakah model, talent, dan manusia pada umumnya yang ada dalam karya foto adalah obyek atau subyek?.

Istilah obyek foto dan subyek foto seringkali tidak dipahami dan digunakan secara sembarangan. Ada perbedaan mendasar antara istilah obyek foto dan subyek foto, demikian pula konsekuensinya.

Obyek foto berarti model, talent, manusia yang dipotret adalah makhluk hidup yang pasif dan tidak memiliki kehendak. Dalam hal ini, fotografer lah yang dianggap sebagai subyek dan pihak yang aktif melakukan perbuatan dan kehendak untuk menghasilkan sebuah karya foto. Mengakui bahwa model, talent dan manusia tidak lebih sekedar obyek foto berarti mengakui hubungan yang tidak setara antara fotografer dengan model, talent, dan manusia.

Subyek foto berarti model, talent, manusia yang dipotret adalah makhluk hidup yang aktif dan memiliki kehendak. Ada kesetaraan hubungan antara model, talent, manusia dengan fotografer. Kedua belah pihak bertindak sebagai subyek. Fotografer adalah subyek yang membuat konsep tentang sebuah karya foto dan mengeksekusinya dengan menggunakan media kamera. Sedangkan talent, model, dan manusia adalah subyek yang memerankan dan merealisasikan tokoh-tokoh dalam konsep karya foto sebagaimana dimaksud oleh fotografer.

Bagi saya, hubungan antara fotografer dengan model, talent dan manusia yang tampil dalam sebuah karya foto seperti hubungan antara sutradara dengan aktor dan aktris. Sutradara memiliki skenario, sedangkan aktor dan aktris adalah subyek yang merealisasikan skenario dan memberikan “ruh” kepada sebuah karya film sehingga menjadi hidup dan bermakna.

Demikian juga proses membuat sebuah karya foto. Fotografer memiliki konsep atau gagasan tentang sebuah karya foto, sedangkan model, talent dan manusia adalah subyek yang memerankan tokoh, pribadi dan karakter yang ada dalam konsep dan benak fotografer. Bagaimanapun, sebuah karya foto yang ada elemen manusia, bertujuan untuk menampilkan kepribadian dan karakter dari model, talent, maupun manusia. Tentu saja karakter, style, dan sentuhan dari fotografer juga akan memberikan makna terhadap sebuah karya foto.

Photo courtesy of Yousuf Karsh

Karena prinsip kesetaraan yang berlaku, maka kata kuncinya adalah komunikasi antara kedua subyek, bukan instruksi dari salah satu pihak. Karena setara, maka pada sesi pemotretan harus sudah ada konsep yang dikomunikasikan dan disepakati oleh para pihak. Intinya, memotret manusia adalah menghargai manusia. Karena itulah etika menjadi relevan dan dibutuhkan.

Tampak Siring, 13 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: