RSS

Last Tango in Argentina

22 Aug

Last tango in Argentina!. Tampaknya, hanya berbekal motto Julius Cesar “Vini Vidi Vici” ke Copa Amerika 2011 tak cukup bagi timnas sepakbola Argentina (selanjutnya dalam tulisan ini disebut “timnas Argentina”). Diharapkan mampu memecahkan rekor juara Copa Amerika 14 kali (jumlah yang sama dengan timnas Uruguay sampai dengan saat turnamen diselenggarakan), langkah timnas Argentina terhenti hanya sampai perdepalan final. Ironisnya, last tango itu dipertunjukkan di kandang sendiri dan di depan jutaan pendukungnya.

Barangkali, timnas sepakbola Argentina perlu belajar dan memahami inspiring word dari Henry Ford, yaitu  “Coming together is a beginning. Keeping together is progress. Working together is success. Datang, melihat, dan menang tidak lagi cukup di kompetisi sepakbola di tingkat level tertinggi. Sebuah tim harus datang bersama-sama, mengada (exist) bersama-sama, dan tentu saja bekerja sama untuk meraih prestasi.

Ada apa dengan timnas Argentina? Bertanding di fase Grup A Copa Amerika 2011, timnas Argentina hanya satu kali menang. Di laga pertama, mereka dihadang timnas Bolivia seri 1-1. Di laga kedua, kembali mereka ditahan timnas Kolumbia 0-0. Timnas Argentina kemudian memang lolos ke putaran perdelapan final setelah mengalahkan Kosta Rika dengan skor 3-0. Di perempat final, timnas Argentina takluk dari timnas Uruguay yang bermain dengan 10 orang dalam babak 90 menit.

Hasil itu, tentu saja tidak sebanding dengan prestasi dan kedigdayaan timnas Argentina yang bertaburan bintang. Memang Argentina tidak sendirian. Timnas Brazil lebih “konyol” lagi, 4 dari 5 “algojo” pertama yang bertugas dalam sesi adu penalti gagal total. Sehebat apapun kehebatan pesepakbola dari Argentina dan Brasil, mereka gagal mengalahkan lawan-lawan mereka yang notabene beda kelas. Timnas Chile yang diperkuat oleh the rising star Alexis Sanchez – yang digadang-gadang pantas “menggusur” David Villa dari tim FC Barcelona – juga tidak mampu mengantarkan timnya melaju ke putaran perempat final.

Memang timnas Argentina meraih Copa America terakhir kali 18 tahun yang lalu (1993). Tetapi Abiceleste (light blue and whites) – julukan lain timnas Argentina selain julukan Tim Tango – adalah pemegang rekor  14 kali sebagai juara Copa America (jumlah yang sama dengan timnas Uruguay). Timnas Argentina juga pernah menjuarai Piala Dunia 2 kali.

Timnas Argentina juga tidak pernah kehabisan bintang. Bintang lama belum pudar, sudah muncul bintang baru yang dianggap sama kualitasnya dengan pendahulunya. Satu-satunya kelemahan Argentina adalah di sektor penjaga gawang. Di sektor ini, hampir tidak ada penjaga gawang timnas Argentina yang dengan mudah dikenang namanya, apalagi prestasinya.

Pelajaran yang dapat diambil dari timnas Argentina (dan juga Brasil) antara lain adalah bahwa kompetensi dan talenta saja tidak cukup. Ada perbedaan yang sangat besar antara individu dan kelompok sosial. Sebuah kelompok sosial bukan sekedar penjumlahan dari individu-individu yang menjadi anggota kelompok. Dalam sebuah kelompok sosial, sinergi bukanlah harapan, tetapi merupakan keharusan.

Timnas Argentina yang bertanding di Copa Amerika 2011 (dan bahkan Piala Dunia 2010 yang lalu) masih merupakan kumpulan dari individu-individu yang datang bersama-sama ke sebuah turnamen. Mereka juga selalu bersama-sama selama turnamen berlangsung. Tetapi mereka belum tuntas melakukan metamorfosa dari individu menjadi sebuah kelompok sosial. Timnas Argentina tidak lebih dari kumpulan individu-individu (baca : pesepakbola) dengan kompetensi dan talenta di atas rata-rata. Timnas Argentina tidak lebih dari sekedar Messi, Tevez, Higuain, Aguero, Pastore, Di Maria, Mascherano dan beberapa pemain lain.

Selama individu masih menjadi individu, maka sinergi tidak menjadi “ruh” dari sebuah kelompok sosial. Betapapun hebatnya kompetensi dan talenta individu yang menjadi anggota kelompok sosial, selama tidak terbentuk sinergi, kehebatan masing-masing individu tidak berpengaruh banyak terhadap kinerja kelompok.

Sepakbola memang bukan sekedar teknis (baca : kompetensi dan talenta), melainkan juga stamina dan terutama mental. Sinergi bersumber dari mental individu yang menjadi anggota kelompok sosial. Selama sinergi tidak terwujud, sulit mengharapkan kinerja terbaik sebuah kelompok sosial.

Itulah perbedaan antara timnas Argentina dengan Barcelona FC. Dari segi kualitas pemain, timnas Argentina tidak kalah kelas dibandingkan Barcelona FC. Bahkan, secara sosiologis, timnas Argentina memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan tim Barcelona FC. Timnas Argentina terdiri dari manusia-manusia yang dipersatukan oleh kesamaan darah (gemeinschaft of blood), kesamaan daerah / negara (gemeinschaft of locality) dan kesamaan gagasan / pemikiran (gemeinschaft of mind).

Timnas Argentina cenderung berpotensi dan lebih mudah untuk menjadi sebuah kelompok sosial daripada sekedar kumpulan individu-individu. Secara teoritis, sinergi cenderung akan lebih mudah terbentuk dalam timnas Argentina. Sedangkan tim Barcelona FC, pada dasarnya adalah kumpulan para pesepakbola profesional yang menjadi anggota sebuah kelompok sosial karena pertimbangan bayaran. Meskipun uang bukan segala-galanya, bayaran tetap menjadi salah satu motivati terkuat para pesepakbola profesional.

Group Development

Pelajaran yang dapat dipetik dari timnas Argentina dan timnas Brasil adalah bahwa tidak mudah membangun sebuah kelompok yang menunjukkan kinerja prima. Tidak ada jaminan bahwa potensi, kompetensi, dan talenta individu-individu yang menjadi anggota kelompok sosial berkorelasi positif terhadap kinerja kelompok. George Tuckman menunjukkan proses atau tahap-tahap sebuah kelompok sosial untuk mampu menunjukkan kinerja terbaik, sebagaimana gambar sebagai berikut :

 

Pada awalnya individu-individu bebas dan tidak terikat. Selanjutnya, individu-individu bersepakat untuk membentuk sebuah kelompok sosial dengan misi, visi, nilai-nilai, dan tujuan bersama. Pada tahap awal, kondisi kelompok sosial masih “amburadul”. Aturan main dan pembagian kerja masih belum dirumuskan secara jelas. Dalam kondisi awal sebuah kelompok sosial, “storming” adalah keadaan yang “wajib” dilalui.

Konflik di antara anggota kelompok sosial, ketidakjelasan aturan main dan pembagian kerja menghambat kelompok sosial untuk menunjukkan kinerja terbaik. Karena itu, dalam tahap norming dilakukan berbagai penataan, antara lain mencakup aturan main, pembagian kerja, koordinasi, dan lain sebagainya. Menggunakan pesan dari Henry Ford, forming adalah adalah coming together. Tahap storming dan norming adalah keeping together. Sedangkan performing adalah working together.

Dibutuhkan proses dan waktu untuk menjadikan sebuah kelompok sosial berprestasi. Selama 25 tahun ditangani oleh Sir Alex Ferguson, klub sepakbola Manchester United memang berhasil meraih 25 kali juara Community Shields (Charity Shields). Sedangkan sejak dicanangkan era English Premier League tahun 1992, Fergie berhasil mengantarkan MU meraih 12 kali juara EPL. Tetapi prestasi MU dan Ferguson diraih setelah sebelumnya sempat berpuasa gelar selama beberapa tahun.

Tidak ada pelatih sepakbola yang mampu menerapkan moto vini, vidi, vici. Di tahun pertama melatih FC Barcelona, Josep “Pep” Guardiola memang sukses memberikan beberapa trofi sekaligus. Guardiola sungguh beruntung mewarisi tim yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Demikian juga, ketika melatih FC Chelsea dan FC Inter Milan, Jose Mourinho langsung mempersembahkan gelar juara liga primer bagi Chelsea dan Inter. Tetapi Mourinho sesungguhnya mewarisi tim Chelsea yang telah ditata oleh Claudio Rainieri dan Inter yang telah dibesut oleh Roberto Mancini. Singkat kata, dalam mewujudkan prestasi kelompok, tidak ada sentuhan Raja Midas.

Tampak Siring, 13 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: