RSS

Hair Dryer Treatment

24 Aug

Dalam literatur kepemimpinan disebutkan beberapa model dan gaya kepemimpinan, masing-masing dengan keunggulannya dan kelemahannya. Sir Alex Ferguson – pelatih klub sepakbola Manchester United yang selama 24 tahun melatih MU telah  berhasil membawa timnya antara lain menjadi juara 12 kali English Premier League, 10 kali  memenangkan Piala Community Shields, 5 kali menjuarai Piala FA, dan 2 kali memboyong Piala Champions  – memiliki gaya tersendiri yang dikenal dengan istilah hair-dryer treatment.

Istilah hair-dryer treatment pertama kali mencuat di era penyerang MU Mark Hughes. Dalam suatu kesempatan, setelah menunjukkan kinerja yang relatif buruk di sebuah pertandingan, Fergie (panggilan akrab Ferguson), “mendamprat” Mark Hughes. Hughes memang bukan orang pertama yang “didamprat” oleh Fergie, beberapa pemain MU sebelumnya juga sudah biasa didamprat oleh oleh Fergie.

Photo courtesy of Sir-Alex-Ferguson-guides.blogspot.com

Apakah yang dimaksud dengan hair-dryer treatment? Istilah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perawatan rambut dan tetek bengek peralatannya. Penjelasan tentang istilah ini antara lain dapat diperoleh dari www.answeryahoo.com sebagai berikut :

“Sir Alex Ferguson is famed for his hair-dryer treatment, an up-close lecture generously given to underperforming players.

The “hairdryer treatment” name came from Mark Hughes, nickname: Sparky. Mark Hughes, former United striker and now Wales manager, said: “He would stand nose-to-nose with you and just shout and bawl, and you would end up with your hair behind your head.” Mark Hughes gave the nickname to the fearsome decibel-busting rollickings dished out by the boss over his 20 years in charge at Manchester United.

Ferguson insisted: “There are a lot of myths. One of the papers once claimed that I used to go behind the stand at East Stirlingshire and practise screaming. But there’s an element of truth in it. The hairdryer thing was started by Sparky, he owned up to it after he left. I can understand that because of my policy in the dressing room.”

Giggs, Rooney, Nani dan pemain MU lainnya juga pernah didamprat Fergie. Pada umumnya para pemain MU masih bisa menerima gaya kepemimpinan Fergie yang agresif dan “blak-blakan”. Fergie baru “kena batu”nya ketika ia tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga tendangan sepatunya melesat mengenai pelipis David Beckham. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong Beckham hengkang ke klub Real Madrid. Ruud van Nistelrooy dan Roy Keane adalah pesepakbola yang tidak dapat menerima perlakuan hair-dryer treatment.

Agustus 2011 ini istilah hair-dryer treatment kembali mencuat setelah penampilan perdana David de Gea yang sangat mengecewakan di ajang Community Shields. Meskipun akhirnya MU mampu mengalahkan “the noisy neighbor” Manchester City, de Gea dianggap sebagai orang yang paling pantas bertanggung jawab atas dua gol yang bersarang di gawang MU.

Alih-alih menyalahkan de Gea, Ferguson justru membela dan melindungi kipernya yang dibandrol 18,9 juta Poundsterling dari klub Atletico Madrid (de Gea menjadi kiper nomor dua termahal setelah Gianlugi Buffon yang dibeli oleh klub Juventus seharga 32,6 juta poundsterling pada tahun 2001). Tetapi melihat kinerja de Gea yang belum sekelas dengan nilai transfernya, publik menduga bahwa penerapan hair-dryer treatment oleh Fergie hanya soal waktu saja.

Coaching, Mentoring, Training.

Apakah ada perbedaan arti istilah coaching, mentoring, dan training? Dalam khasanah ilmu manajemen sumber daya manusia, ketiga istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan tiga aktivitas yang berbeda dan masing-masing memiliki tujuan khusus. Sedangkan dalam praktek sehari-hari, ketiga istilah seringkali dianggap memiliki arti dan tujuan yang sama.

Untuk memudahkan penjelasan tentang perbedaan antara coaching, mentoring dan training, perlu memahami hubungan antara kinerja (performance), kemampuan (ability), motivasi dan lingkungan (environment). Formulanya adalah bahwa kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi individu dan linkungan di dalam organisasi. Artinya, untuk mencapai kinerja yang baik, maka seorang karyawan harus memilili kemampuan dan motivasi yang baik dan didukung oleh lingkungan internal organisasi yang baik pula.

Gambar 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Pertanyaannya : tindakan apa yang harus dilakukan jika kinerja seorang karyawan tidak memuaskan? Jawabannya tergantung dari penyebab kinerja yang buruk. Jika penyebabnya adalah kemampuan kerja yang kurang, maka organisasi harus mengadakan training and development (pelatihan dan pengembangan) terhadap karyawan yang bersangkutan. Kemudian jika penyebabnya adalah motivasi yang kurang, maka atasan harus memberikan coaching. Sedangkan jika penyebabnya adalah lingkungan internal organisasi, maka atasan harus melakukan mentoring untuk memberikan dukungan kepada karyawan yang bersangkutan.

Coaching, mentoring dan training memiliki tujuan yang sama, yaitu agar setiap karyawan dapat menunjukkan kinerja yang istimewa. Perbedaannya adalah “bidang garap”nya saja. Meskipun fokus pembinaan masing-masing berbeda, hasil akhirnya adalah meningkatkan kinerja karyawan.

Coaching.

The International Institute of Coaching mendefinisikan coaching sebagai berikut : “the definition of coaching is simply an interactive, results-orientated, enlightening process that brings about change.”

Ada beragam bentuk coaching, antara lain personal coaching, career coaching, parent coaching, retirement coaching dan sport coaching. Inti dari coaching adalah pembinaan sumber daya manusia yang fokus pada aspek sikap mental.

Mentoring.

The International Institute of Coaching mendefinisikan mentoring sebagai berikut : “the definition of mentoring is a person who gives another person help and advice over a period of time and often also teaches them how to do their job or role.”

Dalam proses mentoring terjadi proses transfer pengetahuan, keahlian dan pengalaman. Contoh “klasik” proses mentoring adalah hubungan antara almarhum Presiden Soeharto dengan para ajudannya. Meskipun tidak terjadi proses pengalihan pengetahuan, keahlian, dan pengalaman secara formal, para ajudan mendapat pelajaran yang sangat berharga dengan melihat kegiatan kepresidenan Pak Harto sehari-hari. Terbukti kemudian beberapa ajudannya menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat, Kepolisian, dan bahkan menjadi Panglima ABRI (Jenderal (Purn.) Try Sutrisno, Jend. (Purn) Wiranto, dan Jendral (Purn.) Pol. Dibyo Widodo).

Di dunia bisnis, Microsoft adalah salah satu perusahaan yang sukses menerapkan sistem mentoring. Setiap atasan memiliki dua tugas utama, yaitu pertama adalah mengerjakan tugas-tugas utama mereka, dan kedua membimbing yunior mereka untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Dengan sistem mentoring ini dipastikan setiap senior memiliki tandem sehingga proses alih pengetahuan, keterampilan, keahlian dan pengalaman dapat berjalan lancar.

Training and Development.

Istilah training seringkali digabungkan dengan development. Perbedaan pokok antara training dan development lebih pada jangka waktu pembinaan. Bohlander (2004) mendefinisikan training dan development sebagai berikut :

  •  Training :

– Effort initiated by an organization to foster learning among its members.

– Tends to be narrowly focused and oriented toward short-term performance concerns.

  •  Development

– Effort that is oriented more toward broadening an individual’s skills for the future responsibilities.

Pelatihan dan pengembangan cenderung bersifat formal dan fokus pada aspek peningkatan kemampuan (ability) sumber daya manusia. Dalam contoh pelatihan militer di Indonesia misalnya, jenjang pelatihan di mulai dari akademi militer, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Staf dan Komando di tingkat kesatuan masing-masing (misalnya Seskoad, Seskoal), Sekolah Staf dan Komando Gabungan (Seskogab), dan Lemhanas.

Hair Dryer Treatment = Coaching + Mentoring.

Hair-dryer treatment yang biasa dilakukan oleh Alex Ferguson kepada anak buahnya dapat disebut sebagai bentuk pembinaan coaching dan mentoring. Seorang manajer yang juga menjabat sebagai pelatih kepala dalam sebuah klub sepakbola memang tidak banyak berhubungan dengan urusan teknis (baca : ability) seorang pemain.

Persyaratan utama pesepakbola adalah teknis, stamina dan motivasi (sikap mental). Untuk teknis, masing-masing pemain sudah ada pelatih khusus (antara lain pelatih untuk penjaga gawang, pelatih untuk striker, dan lain sebagainya). Demikian pula dengan stamina, sudah ada pelatih fisik yang menangani. Jadi, manajer atau pelatih kepala “hanya” bertugas “memompa” semangat (baca : motivasi, sikap mental) para pemain, menyusun strategi permainan, dan memastikan pasukannya mampu mengimplementasikan strategi permainan.

Photo courtesy of Getty Image

Secara teknis, tidak ada yang meragukan kemampuan (ability) David de Gea. Dalam usia muda de Gea sudah menjadi penjaga gawang nomor 1 dan menunjukkan kinerja yang bagus di klub Atletico Madrid. De Gea adalah penjaga gawang utama timnas sepakbola Spanyol U-21 yang menjadi juara Euro 2011. Bahkan de Gea sudah memulai karir di tingkat senior di kejuaraan piala Champion yang sangat kompetitif tatkala masih berusia 18 tahun.

Dari segi stamina juga tidak ada yang perlu diragukan dari seorang David de Gea. Berusia relatif masih muda (lahir 7 November 1990), jarang cidera, dan selalu menjadi starter di tingkat klub maupun timnas Spanyol U-21.

Tetapi teknik dan stamina saja  bukan modal yang cukup untuk bertanding di English Premier League yang sangat kompetitif. Apalagi, tuntutan terhadap de Gea tidak hanya sekedar menjadi penjaga gawang MU, melainkan juga harus menyamai sukses pendahulunya, yaitu Peter Schmeichel dan Edwin van der Sar. Dalam konteks ini, tekanan mental jauh lebih besar ketimbang tekanan terhadap teknis dan staminal. Karena itu, jika Fergie memang bermaksud melakukan  hair-dryer treatment, lebih tepat membenahi mental de Gea yang “anjlok” setelah penampilan perdananya di Community Shields.

Meskipun cara-cara dan gaya pembinaan yang dilakukan oleh Ferguson kadang-kadang “menyakitkan”, tetapi harus diakui bahwa Ferguson berhasil membesarkan beberapa pesepakbola from zero to hero. Legenda MU seperti Beckham dan Christiano Ronaldo adalah contoh pesepakbola yang bersinar melalui “tangan dingin” Ferguson. Bahkan Ferguson berhasil “menjinakkan” pesepakbola yang terkenal temperamental seperti Eric Cantona dan Roy Keane sehingga keduanya mencapai puncak prestasi mereka semasa membela MU.

Tampak Siring, 21 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: