RSS

Monthly Archives: September 2011

Corporate Culture (2)

Ada beberapa metode untuk mengklasifikasikan budaya perusahaan, antara lain klasifikasi yang dibuat oleh Hofstede, Charles Handy, Edgar Schein, Robert A. Cooke dan Cameron dan Quinn. Secara umum, kesan saya tentang berbagai teori dan pendekatan tentang budaya perusahaan cenderung sulit dipahami. Pendekatan Competing Values Framework yang digagas oleh Cameron dan Quin  yang relatif mudah dipahami dan praktis untuk diterapkan.

Inti dari manfaat budaya organisasi adalah pertama, mendukung proses dan hasil kinerja organisasi menjadi lebih baik; kedua, mampu mendukung keunggulan kompetitif organisasi; dan ketiga, mampu mendukung organisasi bertahan, tumbuh dan berkelanjutan. Agar ketiga manfaat budaya organisasi dapat tercapai, Handy berpendapat bahwa setiap organisasi dan bahkan setiap proses membutuhkan organisasi yang berbeda-beda.

Konsep dan teori memang tidak selalu “tune in” dengan fakta dalam masyarakat dari berbagai negara yang memiliki sistem nilai budaya yang berbeda. Mungkin saja “konsep dan teori yang memfatwakan bahwa setiap organisasi dan bahkan setiap proses membutuhkan organisasi yang berbeda-beda” dapat diterapkan di suatu organisasi tertentu, tetapi tidak di organisasi lain.

Contoh konkrit adalah budaya perusahaan-perusahaan dan budaya masyarakat Jepang yang relatif homogen. Beberapa nilai penting dalam budaya masyarakat Jepang – antara lain harmoni, tanggung jawab, penghargaan kepada senioritas – pada dasarnya juga menjadi budaya perusahaan-perusahaan Jepang. Perusahaan-perusahaan di Jepang tidak membutuhkan berbagai jenis budaya yang berbeda sebagaimana direkomendasikan oleh Cameron dan Quinn. Faktanya, meskipun perusahaan-perusahaan Jepang diorganisir dengan mengedepan kestabilan, keteraturan dan kontrol yang relatif kuat, hal tersebut sama sekali tidak menjadikan perusahaan-perusahaan Jepang menjadi tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat yang mengandalkan budaya compete.

Klasifikasi budaya organisasi lebih ditujukan untuk kemudahan analisis dan kepraktisan. Pada dasarnya tidak ada organisasi yang mutlak memiliki salah satu tipe budaya organisasi. Budaya organisasi selalu mengandung beberapa karakteristik dari semua jenis budaya organisasi, meskipun ada karakteristik yang lebih dominan. Kecuali itu, pada dasarnya tidak ada budaya organisasi yang salah dan jelek.

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang klasifikasi budaya organisasi menurut Cameron dan Quinn, khususnya The Competing Values Framework. Konteks pendekatan Cameron dan Quinn adalah budaya organisasi untuk mendukung efekfifitas pengelolaan organisasi dan perubahan-perubahan. Dalam buku mereka “Diagnosing and Changing Organisational Culture”, Cameron dan Quinn (2006) menggunakan dimensi fokus organisasi dan Dimensi Fleksibilitas dan Kontrol sebagaimana gambar sebagai berikut :

Sumber : http://www.ocai-online.org

Berdasarkan kedua dimensi tersebut maka budaya organisasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Budaya organisasi yang ditandai oleh proses-proses yang mengutamakan kestabilan, keteraturan, dan kontrol,  di sisi lain fokus orientasi pada faktor eksternal organisasi, diferensiasi dan persaingan.
  2. Budaya organisasi yang ditandai oleh proses-proses yang mengutamakan  fleksibilitas, pertimbangan atau kebijaksanaan, dan kedinamisan, di sisi lain fokus orientasi  pada aspek eksternal organisasi, diferensiasi dan persaingan.
  3. Budaya organisasi yang ditandai oleh proses-proses yang mengutamakan kestabilan, keteraturan dan kontrol, di sisi lain fokus orientasi pada faktor internal organisasi, integrasi dan kesatuan.
  4. Budaya organisasi yang ditandai oleh proses-proses yang mengutamakan fleksibilitas, pertimbangan atau kebijaksanaan, dan dinamis, di sisi lain fokus orientasi pada faktor internal organisasi, integrasi dan kesatuan.

Budaya Kontrol (Hierarki)

Organisasi yang hirarkis biasanya ditandai oleh birokrasi. Budaya hirarki mengutamakan stabilitas dan kontrol serta fokus pada proses internal dan integrasi. Organisasi dengan budaya hirarki mementingkan standarsiasi, kontrol, dan struktur yang baku dan tegas mengatur kewenangan dan pengambilan keputusan. Salah satu contoh dari budaya hirarki adalah  McDonald’s  yang sangat mengutamakan standarisasi dan efisiensi.

Lingkungan kerja diorganisasikan sangat terstruktur dan formal. Peraturan-peraturan dan prosedur mengatur sikap dan perilaku anggota organisasi. Pemimpin dituntut untuk menjadi koordinator dan pengelola dengan pola pikir dan pendekatan efisiensi. Memelihara organisasi agar berjalan lancar adalah tugas terpenting. Kebijakan formal menjadi pedoman yang harus dipahami, ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh anggota organisasi. Orientasi jangka panjang menekankan pada stabilitas, operasi dan kinerja yang efisien. Keberhasilan diartikan sebagai kemampuan penyerahan produk dan jasa yang berkualitas pada jadual yang tepat dengan biaya rendah. Manaje­men menghendaki segala sesuatu dapat diprediksi dan berjalan aman.

Budaya Compete (Market)

Budaya Compete (Market) memiliki kesamaan dengan budaya hirarki, terutama dalam hal mengutamakan stabilitas dan kontrol. Perbedaannya, budaya compete (market) fokus pada aspek eksternal dan diferensiasi. Budaya compete (market) fokus pada hubungan-hubungan dan transaksi-transaksi dengan pemasok, pelanggan, kontraktor, pembuat undang-undang, konsultan dan regulator. Fokus pada aspek eksternal organisasi diyakini akan membawa organisasi mencapai kesuksesan. Di sisi lain, hirarki dan kontrol dilakukan melalui peraturan-peraturan,  standard operating procedures, dan pekerjaan-pekerjaan yang sangat spesialis.

Salah satu contoh organisasi dengan budaya compete (market) adalah General Electric (GE) selama dipimpin oleh  CEO Jack Welch. Welch menegaskan bahwa semua bisnis GE harus menjadi nomor satu atau nomor dua di industrinya, jika tidak maka bisnis tersebut akan ditutup atau dijual. Budaya GE sangat menghargai kemampuan kompetitif di mana hasil lebih ditekankan daripada proses.

Pengelolaan sumber daya manusia berorientasi pada hasil dan kompetisi. Pemimpin adalah orang yang menuntut, dan pendorong, dan produktif.  Penekanan pada kemenangan menjadi tujuan yang mempersatukan anggota organisasi. Fokus perhatian pada sukses dan reputasi. Orientasi jangka panjang adalah pada tindakan-tindakan kompetitif, dan pencapaian sasaran dan target organisasi. Sukses diartikan dengan penguasaan pangsa pasar dan penetrasi, mementingkan harga yang kompetitif dan kepemimpinan pasar.

Budaya Kolaborasi (CLAN Culture)

Dalam matriks, budaya clan memiliki persamaan dengan budaya hirarki, terutama dalam hal fokus pada proses internal dan integrasi. Perbedaannya, budaya clan menekankan pada fleksibilitas dan kebijaksanaan daripada stabilitas dan integrasi.

Budaya clan lebih banyak ditemukan di perusahaan-perusahaan Jepang, di mana mereka lebih menekankan pada kerjasama tim. Dalam budaya clan, perusahaan-perusahaan Jepang mengorganisasi perusahaan sebagaimana layaknya sebuah keluarga dan karena itu sangat menekankan pada kohesivitas kelompok, lingkungan kerja yang manusiawi, komitmen tim, dan kepatuhan.

Lingkungan kerja bersifat terbuka dan ramah yang memungkinkan setiap orang saling berinteraksi dan berbagi. Organisasi dikelola sebagaimana layaknya sebuah keluarga luas (extended family). Pemimpin dianggap sebagai mentor dan bahkan sebagai orang tua. Kepatuhan terhadap organisasi dan tradisi relatif sangat kuat.  Menekankan pada pembinaan SDM jangka panjang dan kohesivitas kelompok.  Fokus perhatian adalah pada manusia dan sangat menghargai kerjasama tim, partisipasi dan konsensus.

 

Budaya Create (Adhocracy)

Dalam matriks, budaya adhocracy memiliki persamaan dengan budaya clan dalam hal penekanan pada fleksibilitas dan kebijaksanaan. Perbedaannya, budaya adhocracy fokus pada eksternal organisasi dan diferensiasi.

Pada era informasi, diperlukan pendekatan baru untuk mengelola organisasi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang relatif cepat dan berdampak luas. Perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan teknologi membuat strategi dan taktik lama yang digunakan menjadi tidak relevan lagi. Organisasi yang mampu bertahan, bersaing, tumbuh dan berkelanjutan adalah organisasi yang mampu kreatif dan inovatif. Google adalah salah satu contoh organisasi yang menerapkan budaya adhocracy.

Lingkungan kerja dikelola dengan mengedepankan karakter dinamis, wirausaha dan kreativitas. Setiap anggota organisasi ditantang untuk melakukan inovasi dan keberanian pengambilan risiko. Komitmen pada percobaan dan berpikir berbeda adalah nilai-nilai yang mempersatukan anggota organisasi.  Orientasi jangka panjang menekankan pada pertumbuhan dan akusisi sumberdaya baru. Sukses diartikan sebagai keberhasilan memberikan produk dan jasa yang unik.  Menjadi pemimpin di industrinya adalah sangat penting. Kebebasan dan inisiatif individual sangat dihargai.

Tampak Siring, 3 September 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2011 in Management

 

A New Mandate for Human Resources

Should we do away with HR? In recent years,  a number of people who study and write about business – along with many who run business – have been debating that question. The debate arises out of serious and widespread doubts about HR’s contribution to organizational performance. And as much as I like HR people – I have been working in the field as a researcher, professor, and consultant for 20 years – I must agree that there is good reason for HR’s beleaguered reputation. It is often ineffective, incompetent, and costly; in a phrase, it is value sapping. Indeed, if HR were to remain configured as it is today in many companies, I would have to answer the question above with resounding “Yes – abolish the thing!”

But the truth is, HR has never been more necessary. The competitive forces that managers face today and will continue to confront in the future demand organizational excellence. To efforts to achieve such excellent – through a focus on learning, quality, teamwork, and reengineering – are driven by the way organizations get things done and how they threat their people. Those are fundamental HR issues. To state it plainly : achieving organizational excellence must be the work or HR.

The question for senior managers, then, is not Should we do away with HR? But What should we do with HR? The answer is : create an entirely new role and agenda for the field that focuses it not on traditional HR activities, such as staffing and compensation, but on outcomes. HR should not be defined by what it does but by what it delivers – results that enrich organization’s value to customers, investors, and employees.

Dave Ulrich, “A New Mandate for Human Resources”, Harvard Business Review, copyright (c) by the President and Fellows of Harvard College. All right reserved.

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2011 in Human Capital

 

Financial Rewards vs Non-Financial Rewards

Emmanuel Frimpong memang “hanya” seorang pesepakbola profesional. Tetapi Frimpong boleh jadi tidak kalah bijak dibandingkan seorang filsuf ketika ia berkata, bahwa “uang adalah akar semua kejahatan”. Sebagai pesepakbola klub FC Arsenal, wajar kalau Frimpong sampai gusar, atau bahkan “sewot”, terhadap kepindahan Samir Nasri ke klub Manchester City. Masih kata Frimpong, semua ini karena uang.

Tidak ada yang menyalahkan Cecs Fabregas yang juga pindah ke FC Barcelona. Tidak ada yang mempermasalahkan berapa harga transfer dan gaji yang diterima Cecs, lha wong ia cuma mudik ke “rumah” dan ingin bermain bersama-sama dengan teman-teman seangkatannya di akademi sepakbola La Masia (antara lain Messi dan Picque). Kepindahan Alexis Sanchez dari klub Udinese (Italy) ke FC Barcelona juga dianggap lumrah. Karena kualitasnya, pantas Sanchez menjajal kemampuannya bermain sebuah klub yang selalu bermain di level tertinggi. Ada kualitas ada harga, karena kualitasnya pantas Sanchez digaji tinggi.

Apakah salah jika seorang pesepakbola pindah ke klub lain karena motivasi uang? Bukankah istilah profesional sendiri sudah menggambarkan bahwa uang adalah salah satu tujuan utama? Problem utama sebuah klub sepakbola (dan organisasi lain apapun namanya, termasuk partai politik) adalah pendanaan. Saat ini, mungkin hanya tinggal romantisme membayangkan sebuah klub sepakbola profesional dimiliki oleh pemilik yang menempatkan sepakbola lebih sebagai seni ketimbang industri.

Investor hanya mengenal satu kata, yaitu return. Investor hanya mampu menanamkan uangnya jika yakin tingkat pengembalian sepadan dengan risiko yang harus ditanggung. Itulah sebabnya, investor hanya mau membeli dan mendanai sebuah klub yang mampu menjanjikan return lebih baik. Ujung-ujungnya, faktor  utama return adalah jika sebuah klub mampu menjadi juara dari kompetisi liga di tingkat negara maupun benua.

Cash is the King. Saat ini, hampir semua klub dikelola dengan menempatkan pendanaan sebagai salah satu fokus utama selain masalah pembinaan pemain-pemain muda. Terserah masing-masing pesepakbola, apakah akan memanfaatkan “aji mumpung” dari kondisi ini. Ada pesepakbola yang “mata duitan”, meskipun tidak pernah mengaku. Ada juga pesepakbola yang tidak menjadikan uang sebagai motivasi utama.

Seperti diberitakan oleh Sport edisi 30 Juni 2011, the Citizens (julukan klub Man. City) siap menggelontorkan dana 60 juta poundsterling kepada Arsenal untuk memboyong Cecs Fabregas. The Citizens juga siap menggaji Cecs 12 juta poundsterling per tahun(dua kali yang ditawarkan FC Barcelona). Last but not least, Cecs juga ditawari sebuah jet pribadi yang dapat mengantarkannya ke manapun ia pergi. Tetapi bagi Cecs, FC Barcelona adalah sebuah “rumah” dan kembali ke rumah lebih penting daripada sekedar uang.

Lead, Match dan Lag.

Dalam konteks strategi manajemen penggajian sebuah organisasi dan perusahaan yang profit-oriented, dikenal tiga strategi dasar, yaitu lead, match dan lag. Intinya, sebuah organisasi / perusahaan yang bermaksud menarik orang-orang yang kompeten untuk mau bergabung, bekerja, dan bertahan di organisasi / perusahaan, harus memperhatikan strategi manajemen penggajian organisasi / perusahaan lain. Jika tidak, siap-siap saja sebuah organisasi atau perusahaan tidak mampu menarik dan mempertahankan orang-orang yang kompeten.

Lead menunjukkan bahwa sebuah organisasi atau perusahaan memberikan paket penggajian dan fasilitas lebih baik dibandingkan pesaingnya. Match berarti bahwa sebuah organisasi atau perusahaan memberikan gaji yang seimbang atau setara dengan organisasi atau perusahaan pesaingnya. Sedangkan lag berarti sebuah organisasi dan perusahaan memberikan paket penggajian dan fasilitas di bawah standar yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan pesaingnya.

Dalam kondisi industri sedang tumbuh dan organisasi / perusahaan sedang dalam tahap  tumbuh dan berkembang, dibutuhkan tenaga-tenaga yang kompeten untuk mengisi beberapa formasi jabatan dalam organisasi / perusahaan. Konsekuensinya adalah tenaga-tenaga yang kompeten tersebut langka di pasar tenaga kerja. Karena itu, idealnya, strategi manajemen penggajian organisasi atau perusahaan adalah lead.

Itulah yang dilakukan oleh klub Manchester City. Setelah bertahun-tahun harus puas dengan julukan the noisy neighbor (julukan Sir Alex Ferguson – pelatih Manchester United – kepada klub satu kota di Manchester), si pemilik baru klub berambisi menjadikan Man. City “tajir” di English Premier League dan tingkat Eropa. Keberhasilan Man. City finish di urutan ketiga EPL musim kompetisi 2010/2011 memberikan kesempatan untuk bertanding di tingkat liga Champion Eropa.

Bagi pemilik Man. City, tidak ada cara lain kecuali “memborong” pemain bintang. Berapapun biaya transfer yang harus dikeluarkan dan gaji yang harus ditanggung, klub harus mendapatkan pemain bintang. Setelah tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya mendatangkan Edin Dzeko, Yaya Toure, Carlos Tevez, musim kompetisi 2011/2012 ini Man. City mendatangkan antara lain Sergio “Kun” Aguero dan Samir Nasri. Sudah pasti Man. City menawarkan gaji yang berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan klub lain.

Motivasi.

Saya tidak mengerti motivasi yang mendorong pesepakbola bergabung dengan klub Manchester City. Kalau ada pesepakbola yang mendambakan bergabung dengan klub Real Madrid, FC Barcelona, Manchester United, motivasinya sudah jelas : prestise. Tetapi tidak hanya itu, prestasi juga menjadi faktor utama. Sebab, klub-klub papan atas di Eropa pada umumnya menjadi langganan tampil di liga Champion. Artinya, dengan bermain di klub-klub besar dan ternama, kesempatan untuk mencapai puncak prestasi menjadi lebih terbuka.

Reputasi Man. City dibandingkan Man. United bagaikan bumi dan langit.  Itulah sebabnya, dalam setiap pertandingan Man. United melawan Man. City di Old Trafford, selalu ada spanduk yang membandingkan perbedaan antara kedua klub sekota tersebut. Man. United disimbolkan dengan berbagai piala yang dijejer, sedangkan Man. City disimbolkan dengan “segepok” uang. Maksudnya tentu saja untuk “menghina” Man. City, tetapi juga bisa menyampaikan pesan bahwa uang tidak dapat membeli semuanya. Sejarah klub memang tidak ditulis dengan uang, melainkan dengan prestasi.

Man. City mendadak sontak berlimpah dana setelah Seikh Mansour bin Zayed Sultan Ali, milyader asal Qatar, membeli klub ini. Sejak itu, siapa pun pelatih kepala Man. City, sang milyader akan memberikan “Palugali” (baca : lu mau siapa gua bisa beli). Ambisi pemilik baru klub untuk menjadikan Man. City sejajar dengan klub-klub papan atas di Eropa dan Inggris, terutama ambisi meraih juara kompetisi liga Inggris secepat mungkin, menjadikannya “kalap” menggelontorkan uang.

Mungkin pernyataan Frimpong tidak salah, bahwa Samir Nasri mau bergabung dengan Man. City lebih disebabkan faktor uang. Man. City mampu membayar gaji Nasri dua kali lipat daripada yang didapat di Arsenal (Man. City mampu menggaji Nasri 175.000 poundsterling per pekan, sedangkan Arsenal “hanya” mampu menggaji Nasri 80.000 poundsterling per pekan) Tidak hanya Nasri, tetapi juga pesepakbola lain yang direkrut Man. City selalu ditawarkan gaji yang berlipat-lipat daripada gaji mereka di klub mereka.

Photo courtesy of Getty Image

Jika uang menjadi motivasi utama, barangkali pesepakbola tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Seorang pembaca di social blog berkomentar “kalau bukan uang, apalagi?”. Menjadi pesepakbola profesional sangat berisiko dan golden agenya relatif pendek. Dalam kondisi seperti itu, apakah masih ada ruang untuk memperdebatkan loyalitas dan dedikasi?

Paling tidak, ada tiga musuh seorang pesepakbola, yaitu cedera, usia bertambah tua, dan kinerja pesepakbola lain di posisi yang sama lebih baik dari kinerja dirinya. Cedera yang berkepanjangan dapat memupuskan harapan seorang pesepakbola menunjukkan kinerja terbaik, bahkan Marco van Basten harus pensiun dini pada usia 28 tahun. Usia yang semakin tua juga mempengaruhi kinerjanya, kecuali penjaga gawang yang masih bisa bermain sampai dengan usia 40 tahun. Sedangkan kinerja pesepakbola lain yang lebih baik dapat menyebabkan dirinya hanya “di parkir” di bangku cadangan.

Karena itu, adalah “wajar” jika setiap pesepakbola selalu mempertimbangkan faktor uang. Pengecualian mungkin hanya terjadi dalam kondisi khusus, misalkan Lionel Messi yang “mustahil” pindah ke klub lain karena faktor uang. Karena faktor “hutang budi” terhadap FC Barcelona yang telah membiayai penyakitnya sejak ia masih di usia belia, hampir tidak mungkin Messi membalasnya dengan “air tuba” (baca : pindah ke klub lain).

Masih ada Loyalitas dan Dedikasi.

Il Capitano Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, dan Gianluigi Bufon barangkali adalah pesepakbola yang termasuk “langka”. Di era kejayaan mereka, masing-masing adalah salah satu yang terbaik di dunia di posisi playmaker, gelandang serang, dan penjaga gawang. Kecuali Del Piero, mereka juga bukan pesepakbola yang dididik oleh Juventus.

Del Piero, Nedved, dan Bufon tetap bertahan di Juventus ketika klub ini terkena hukuman terdegradasi di divisi dua. Pesepakbola lain, antara lain Zlatan Ibrahimovic “malu” bertanding di divisi dua dan memilih pindah ke klub rival Inter Milan. Mereka bertiga tetap menunjukkan loyalitas dan dedikasi untuk Juventus dan mengantarkan kembali Juventus promosi ke divisi utama.

Meskipun kualitas Del Piero, Nedved dan Bufon tidak kalah dibandingkan pesepakbola pro lainnya, mungkin saja gaji mereka tidak setinggi pesepakbola yang bermain di klub-klub yang “jor-joran” membeli pemain bintang dan memberikan gaji tinggi. Saat itu, tentu ada faktor lain di luar uang yang memotivasi mereka tetap bertahan di Juventus.

Sikap dan perilaku manusia memang tidak dapat dikalkulasi seperti matematika. Itulah sebabnya, dalam konteks manajemen sumber daya manusia, penghargaan tidak selalu dalam bentuk uang. Berapapun jumlahnya, uang belum tentu mampu menggoyahkan pendirian seseorang. Di lingkungan penerbang misalnya, wing penerbang adalah simbol prestasi dan prestise yang tidak dapat dinilai dengan uang. Para abdi dalem di lingkungan kasultanan Yogyakarta dan Surakarta misalnya, mendapatkan penghargaan finansial yang relatif kurang memadai. Meskipun demikian, loyalitas dan dedikasi mereka mengabdi kepada raja tidak diragukan lagi.

Jadi, kecuali financial rewards, non-financial rewards adalah bentuk penghargaan yang juga penting. Masalahnya, bagaimana mengkombinasikan kedua bentuk penghargaan tersebut sehingga mampu mempengaruhi sikap dan perilaku manusia ke arah yang positif?

Tampak Siring, 28 Agustus 2011.

 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2011 in Human Capital

 

Keep the Spirit of Ramadhan Alive All Year

As we enter upon the month of Shawaal, let us not leave off the many acts of worship we performed during the blessed month of Ramadhaan. Ramadhaan, for most of us, was a time of renewal and reestablishment of our commitment to Allaah and His religion.

We fasted, gave charity, read the Quran and performed the night prayer. We avoided gossip, slander and every evil that would invalidate our fasting. But now that Ramadhaan is over, the majority of us, unfortunately, will put the Quran back on the shelves, will suspend fasting until next year and will abandon the night prayer. This is not the way it should be, because all of these acts of worship carry rewards and are of benefit to us throughout the year, in addition to the fact that there is no divine prescription limiting them to Ramadhaan.

The Quran

It’s sad, but true, that many of us have fallen into the bad habit of only reciting the Quran during the month of Ramadhaan. By doing this, we cheat ourselves out of the abundant blessings that come from reading the words of Allaah. Reading the Quran is the best way to remember Allaah, it is a protection from the Satan and in it are cures for what ails us. For Allaah says (what means): “O mankind, there has come to you a protection from your Lord and a healing for what is in your hearts and for those who believe, a guidance and a mercy.” [Quran; 10:57]

The Messenger of Allaah said: “Whoever reads a letter of the Book of Allaah (Quran) shall have a good deed (recorded for him or her) and every good deed is increased a ten-fold (reward). I do not say that Alif Laam Meem is one letter, but rather Alif is a letter, Laam is a letter and Meem is a letter.” [At-Tirmithi]

The Quran is also the best way for a servant to draw closer to his or her Lord. Khabbaab Ibn Al-Arat said to a man: “Draw closer to Allaah as much as you can, and remember that you can do so by no means more pleasing to Him than by His own Words (i.e. the Quran).

The Night Prayer

Many of us passed the nights of the month of Ramadhaan, especially the last ten, standing in prayer before Allaah. Just because Ramadhaan is over, does not mean that Allaah does not see us now if we stand in the night prayer. Allaah Says (what means): “Surely your Lord knows (O Muhammad) that you stand (in prayer) two thirds of the night, or half of it, or a third of it…” [Quran; 73:20]

The Messenger of Allaah said: “The best prayer, after the obligatory prayer, is the night prayer.” [Muslim]

The night prayer carries with it many blessings. For example, Al-Hassan was asked: “How is it that those who stay up at night have the most attractive faces?” He replied, “Because they are on intimate terms with The Merciful, and He adorns them with some of His light.”

And for those of us who feel that standing in the night prayer will leave us tired and unable to go about our daily tasks in the morning, we should consider the following words of Allaah’s Prophet. He said: “When any of you sleeps, Satan ties three knots at the back of his head. On each knot he repeats and exhales the following words, ‘The night is long, so stay asleep.’ If you wake up and remember Allaah, one knot is undone and if you perform ablution the second knot is undone and if you pray, the third knot is undone, and you get up in the morning full of energy and with a clear heart. Otherwise, you will get up feeling lazy and with a muddled heart.” [Al-Bukhaari]

Fasting

The Prophet said: “Whoever fasts a day in the way of Allaah, Allaah will place between him and the Fire a trench like that between the heavens and the earth.” [At-Tirmithi]

Likewise, fasting wipes away the evils that arise out of person’s wealth, family or neighbor. Huthayfah Ibn Al-Yamaan narrated that the Messenger of Allaah said: “The evils caused for a man through his family, wealth and neighbor are expiated by prayer, fasting and charity.” [Al-Bukhaari]

The Prophet explained to us that fasting protects us from our unlawful desires, shields us from the hell fire and draws us closer to Allaah and His Paradise. He also encouraged us to fast at least three days each month. The best days for this optional fasting are Mondays and Thursdays, or the fourteenth, fifteenth and sixteenth days of the lunar month.

Charity

Allaah has blessed most of us to live relatively comfortable lives. But there are Muslims all over the world that find great difficulty in attaining the most basic necessities of life. During Ramadhaan most of us give in charity, but we forget to do so for the rest of the year. Giving charity is of greater benefit to the one who gives it, than to the one who receives it. It is a means of purifying our wealth, increasing our faith and attaining righteousness. Allaah Says (what means): “It is not righteousness that you turn your faces towards the East or West, but it is righteousness to believe in Allaah, and the Last Day, and the angels, and the Books, and the prophets and gives wealth, in spite of love for it, to the kinsfolk, the orphans, the needy, and to the wayfarer …” [Quran; 2:177]

Giving in charity also allows us to express our faith. To truly taste the sweetness of faith, we must want for our brothers and sisters what we want for ourselves. For the Prophet said: “None of you will have faith until he likes for his (Muslim) brother what he likes for himself.” [Al-Bukhaari]

Clearly, fasting, praying during the night, reading the Book of Allaah and giving charity should not be relegated to Ramadhaan alone. These good deeds, and others like staying away from gossip and slander, are all things we should do all the time. By keeping the spirit of Ramadhaan alive throughout the year, we can safeguard our religion and will be able to seize many opportunities to earn the mercy and blessings of Allaah.

Source : http://www.islamweb.net; dated 15 August 2008

 
Leave a comment

Posted by on September 9, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Think Green

Be mindful and sensitive to the natural environment in your daily life.

We are advocating the 3 R’s of environmental protection. Reduce, Reuse, Recycle.

REDUCE

YOUR CONSUMPTION   The first step to reducing your impact on the environment, is reducing the amounts of resources you consume and use. Think twice before you buy or use anything. Do you really need it? By reducing your consumption you will also decrease the amount of waste you produce.

… YOUR WASTE   There are also many other ways to reduce your waste. The opportunities are nearly endless. Here are just a few ideas.

Think before you print or photocopy! Print and copy as little as possible.
Edit on screen, not on paper.
Use e-mail to minimize paper use.
Send and store documents like necessary papers and business proposals electronically instead of on paper.
When you must print or copy, do it double-sided.
Circulate documents instead of making an individual copy for everyone.
Change the margins on your Word documents. The default margins on the documents you print are 1.25 inches on all sides. Simply changing the margins to 0.75 inches will reduce the amount of paper you use by almost 5 percent.

… YOUR ENERGY CONSUMPTION

There are so many ways of optimizing your energy consumption

Turn off unused or unneeded lights.
Use natural lighting instead of electric lighting whenever possible.
If you have a desk lamp, make sure it uses fluorescent bulbs (instead of incandescent bulbs).
Dress appropriate to the season
Select cold water for washing clothes
Keep windows and doors closed in heated and air-conditioned areas.
Turn off computers when they are not in use.
Turn off printers, especially laser printers, unless printing.
Don’t use power strips to turn on all computers and desk equipment at once.
When purchasing computers and peripherals, buy low wattage equipment
Minimize use of screen savers and instead enable power management features
Purchase only energy-efficient products
Move your refrigerator. Leaving space between your refrigerator and the wall increases air circulation around the condenser coils, allowing the fridge to operate more efficiently.

… YOUR OIL CONSUMPTION AND POLLUTION

Drive Efficiently –  If you must drive, buck the trend toward more wasteful vehicles and drive a fuel efficient car, i.e. one which gets more miles per gallon, and don’t drive it more than you really need to!
Park your car in the shade. Gas evaporates from your fuel tank more quickly when you park in the sun. Parking in the shade lowers the temperature in your gas tank by up to 7 degrees, significantly reducing fuel evaporation.

REUSE

Plastic containers can become food storage, paper can become wrapping paper. The ways in which to reuse things are unlimited. All you need is to be creative. If being creative is not your thing, here are some other ideas:

Reuse envelopes by placing a new label over the old address.
Designate a box for scrap paper and use it for printing all drafts or unofficial documents.
Reuse plastic bags or better get a reusable canvas bags.

RECYCLE

When buying any type of product, see if it is available with post consumer recycled content.

Wrap presents in gift bags. Once you tear the wrapping paper off a holiday gift it ends up in the recycle bin, but gift bags can be used over and over again.
Production of recycled paper uses only half the water and 3/4 of the energy than new paper
Every ton of recycled paper saves almost 400 gallons of oil, three cubic yards of landfill space and seventeen trees.
If you recycle soda cans, the energy used and air pollution created, is 95 percent less than if the cans were produced from raw materials.
You could operate a TV set for an estimated three hours with the energy saved by recycling just one aluminum can

Thinking green means being aware of our interconnectedness with the world and reflecting on the unintended damage we cause nature in the daily course of our lives. Thinking green leads to acting green – taking corrective action to make environmental responsibility a reality.

“Every person is the right person to act. Every moment is the right moment to begin”. THE Time to Act is Now!

Retrieved from http://www.go-green.ae/thinkgreen.php on August 11, 2011

 
Leave a comment

Posted by on September 7, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Your Players Make Money

Melihat penampilan pasukan Manchester City – atau biasa dijuluki the citizens – membantai Tottenham Hotspur dengan skor telak 5-1 di English Premier League, Sabtu 27 Agustus 2011 yang lalu, pelatih Roberto Mancini tampak sumringah dan puas. Harapan bahwa the Citizens akan mampu bersaing dengan klub-klub papan atas langganan the big four di EPL bukan sekedar impian, bahkan untuk menjadi juara adalah mungkin. Pertanyaannya : apakah dengan pesepakbola berkelas “bintang lima”,  the citizens akan mampu menjadi juara di EPL, atau tingkat yang lebih tinggi liga Champions Eropa?

Terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Lagipula, intensitas dan tingkat persaingan di antara klub-klub sepakbola profesional tidak sesederhana yang dibayangkan. Bagi saya pribadi, penampilan super Man. City yang diperkuat pesepakbola yang memiliki harga transfer relatif mahal dan digaji tinggi, sama sekali tidak memberikan sinyal dan makna apapun.

Apa yang terjadi di Manchester City dan apa yang telah diperlihatkan, tidak lebih dari sekedar bahwa uang telah berkuasa. Dengan uang, apa saja dapat dilakukan, dan siapa saja dapat dibeli. Dana yang melimpah yang digelontorkan oleh milyader Qatar Seikh Mansour memungkinkan Man. City membeli pesepakbola dengan harga berapapun dan membayar gaji relatif lebih tinggi dari klub-klub lain.

Tentu saja uang tidak dapat membeli juara, apalagi membangun sejarah. Sejauh ini, hasilnya the Citizens baru meraih 1 Piala FA. Perjalanan masih panjang dan perlu waktu yang lama bagi the Citizens untuk menurunkan “spanduk penghinaan” yang selama ini dipajang oleh para pendukung klub Manchester United.

Photo courtesy of http://www.google.com

Pemain Bintang Bukan Segalanya.

Kurang apa timnas Argentina di ajang Piala Dunia 2010 dan Copa Amerika 2011? Di ajang PD 2010, timnas Argentina dibesut oleh maha bintang Diego Armando Maradona dan diperkuat oleh pesepakbola hebat  bermain di klub-klub papan atas Eropa, antara lain FC Barcelona dan FC Real Madrid. Di Copa Amerika 2011 yang baru saja usai, timnas Argentina juga dibesut oleh Sergio Batista, pemain yang turut memperkuat timnas Argentina dan merebut Piala Dunia 1986 di Mexico. Di kedua ajang tersebut, timnas Argentina harus segera angkat koper sebelum semi final.

Padahal, timnas Argentina diperkuat oleh sederetan bintang. Sebut saja Lionel Messi, Higuain Gonzales, Javier Mascherano, Angel Di Maria, Sergio “Kun” Aguero, Diego Milito, Javier Pastore, dan lain-lain. Dari segi teknis tidak ada yang meragukan kemampuan mereka. Apalagi Maradona turun tangan langsung menangani bintang-bintang tersebut, sehingga menjadi juara adalah persembahan yang pantas bagi rakyat Argentina.

Kurang apa Real Madrid? Madrid adalah salah satu klub yang “rajin” memecahkan rekor membeli pesepakbola dengan harga transfer “gila-gilaan”. Sampai saat ini, hanya Real Madrid yang mampu menciptakan rekor dan sekaligus memecahkan rekor nilai transfer pesepakbola, mulai dari transfer Zinedine Zidan, Ricardo Kaka, dan terakhir Christiano Ronaldo.

Dengan modal dua pesepakbola yang ditransfer dengan nilai termahal di dunia, sederetan pesepakbola lain yang juga dibeli dengan harga mahal dan digaji relatif tinggi, tidak ada alasan bagi Real Madrid hanya mampu meraih 1 piala (Copa de Rey) dalam 2 tahun musim kompetisi. Apalagi, Real Madrid dilatih oleh pelatih yang memproklamirkan dirinya sebagai the special one dan pelatih terbaik di dunia. Meraih juara liga Spanyol dan liga Champions Eropa adalah harga mati bagi Real Madrid.

Fakta dan data menunjukkan bahwa uang  belum tentu mampu membuat sejarah. Demikian juga pesepakbola hebat yang didatangkan dengan nilai transfer “selangit” dan gaji relatif tinggi, tidak merupakan jaminan akan mempersembahkan piala. Timnas Uruguay yang diperkuat oleh pesepakbola dengan reputasi, nilai transfer, dan gaji relatif lebih rendah dibandingkan dengan pesepakbola timnas Argentina dan timnas Brasil, justru lebih berhasil menorehkan sejarah sebagai negara terbanyak yang menjuarai Copa Amerika sebanyak 15 kali.

Photo courtesy of Manchester United

Trisula : Teknik, Stamina, dan Mental.

Kinerja seorang pesepakbola dan sebuah tim menuntut kesiapan teknik, stamina dan mental. Keputusan seorang pelatih untuk memainkan seorang pesepakbola dalam sebuah pertandingan, antara lain ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor strategi dan tingkat kesiapan pesepakbola. Idealnya, ketiga faktor tersebut dalam tingkat kesiapan tinggi, sehingga kinerja individual dan tim dapat optimal.

Ketiga faktor tersebut sangat penting. Selama bola masih bundar, tidak ada yang dapat memastikan bahwa salah satu faktor lebih penting dibandingkan faktor yang lain. Selama bola bundar, keunggulan teknis seringkali tidak bermakna apapun. Meskipun demikian, jika secara individual maupun kelompok sebuah tim memiliki tingkat kesiapan teknis dan stamina  relatif seimbang, faktor mental dapat menjadi pembeda yang sangat signifikan. Ini bukan sekedar pernyataan janji, melainkan bukti sejarah telah mencatat memang demikianlah yang terjadi.

Faktor Mental.

Sejak tahun 1930, telah diselenggarakan kejuaraan dunia sepakbola sebanyak 19 kali. Sejarah mencatat, hanya ada 8 negara yang berhasil menjadi juara (yaitu Brasil, Italia, Jerman, Uruguay, Argentina, Inggris, Perancis, dan Spanyol) dan hanya ada 5 negara yang menjadi juara lebih dari 1 kali. Rekor juara dunia masih dipegang oleh timnas Brasil sebanyak 5 kali, timnas Italia sebanyak 4 kali, dan timnas Jerman sebanyak 3 kali.

Photo courtesy of http://www.en.wikipedia.org

Sejarah juga mencatat, bahwa hanya ada 9 negara yang berhasil menjadi runners-up, yaitu : Argentina (2), Cekoslovakia (2), Hungaria (2), Swedia (1) Jerman Barat (atau Jerman setelah reunifikasi) sebanyak 4 kali, Brasil (2), Perancis (1), Italia (2), dan Belanda (3).  Artinya, sepanjang sejarah penyelenggaraan piala dunia sepakbola, hanya ada 12 negara yang mampu finish sampai ke final. Brasil menjadi satu-satunya negara yang selalu bertanding di 19 kejuaraan piala dunia.

Sampai dengan Juli 2011, ada 193 negara yang menjadi anggota PBB. Sedangkan negara-negara yang menjadi anggota FIFA dan berhak mengikuti kualifikasi PD 2010 adalah sebanyak 204. Kesimpulannya, tidak lebih dari 5 % negara-negara yang menjadi anggota FIFA, yang berhasil mengukir prestasi emas di ajang piala dunia.

Mengapa hasilnya seperti itu? Faktor apa yang menyebabkan hanya segelintir negara yang mampu menjadi juara piala dunia sepak bola atau menjadi runners-up? Rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda. Apapun perbedaan pendapat atas pertanyaan tersebut, “umat sepakbola sedunia” sepakat bahwa  mental juara adalah faktor yang sangat menentukan.

Timnas Jerman dan timnas Brasil adalah pemegang rekor 7 kali bertanding di final. Brasil lebih banyak menjadi juara dunia (5 kali vs Jerman 3 kali), sebaliknya Jerman lebih banyak menjadi runners-up (4 kali vs Brasil 2 kali). Tetapi jika “total finish in top four” dihitung, Jerman 12 kali masuk the big four, sedangkan Brasil “hanya” 10 kali. Perbedaan lain, timnas Brasil selalu bertaburan bintang dengan talenta kelas superior, sedangkan timnas Jerman tidak memiliki talenta sehebat timnas Brasil. Itulah sebabnya, julukan mental juara lebih sering dialamatkan kepada timnas Jerman yang dijuluki der Panzer.

Apakah faktor sikap mental sangat penting dan menentukan keberhasilan individu, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara? Kemerdekaan Indonesia diraih dengan modal sikap mental pantang menyerah para pahlawan dan darah para syuhada. People Power tidak membutuhkan senjata apapun untuk menjungkalkan Ferdinand Marcos dan begundal-begundalnya. Rezim orde baru yang dikomandani oleh the smiling general Soeharto juga tumbang oleh kekuatan mahasiswa tanpa senjata.

Di tingkat global, Amerika Serikat pernah merasakan sakitnya kalah telak di Pearl Harbour yang dihajar oleh para pilot pesawat tempur Jepang yang gagah berani dan mengedepankan altruistic suicide. Lagi-lagi kekuatan ekonomi dan persenjataan Amerika Serikat bertekuk lutut menghadapi tentara dan rakyat Vietnam. Dengan modal persenjataan canggih Uni Soviet juga terpaksa hengkang dari Afghanistan.

Faktor mental memang sangat penting. Passion, enthusiasm dan patience adalah di antara faktor mental yang sangat penting, terutama jika kompetisi “berdarah-darah”. Tentu saja, talenta juga penting untuk bersaing, bertahan, dan beprestasi di kompetisi tingkat tinggi.

Tampak Siring, 2 September 2011

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Human Capital

 

Process Oriented vs Result Oriented (Bagian Kedua)

Idealnya, key performance indicators mampu mengukur kinerja berbasis proses (process oriented) dan hasil (result oriented). Tentu saja tidak mudah mewujudkan KPI yang ideal seperti itu. Sebab, sebuah proses dan perbaikan berkelanjutan sebuah proses, boleh jadi akan “berdarah-darah” dan butuh kesabaran. Kecenderungannya – apalagi jika money, money dan money yang menjadi kriteria utama – result oriented cenderung lebih dominan daripada process oriented.

Setidak-tidaknya, itulah yang terjadi di dunia sepakbola. The noisy neighbor – julukan yang diberikan oleh Alex Ferguson kepada klub sepakbola Machester City – adalah salah satu contoh yang paling kentara dan vulgar mempertontonkan result oriented. Uang dalam jumlah berapapun akan digelontorkan, berapa pun harga pemain akan dibeli. Nasib Man. City tidak lebih baik dari klub Real Madrid, bintang-bintang sepakbola yang mereka datangkan tidak mampu mempersembahkan piala kompetisi reguler di negara masing-masing.

Tidak heran kalau kemudian para pendukung klub Mancheter United cenderung sinis terhadap klub Manchester City. Dalam setiap pertandingan MU melawan M. City, selalu ada spanduk yang menggambarkan MU dengan “segambreng” piala yang pernah diraih, sedangkan Man. City disimbolkan dengan “segepok” uang.

Sepakbola memang bukan sulap. Tidak ada satupun pelatih sepakbola yang mampu menyamai raja midas. Semua hasil selalu diperoleh dari kesabaran dan ketekunan menjalankan proses yang baik dan berkesinambungan. Kadang-kadang memang ada pengecualian, tetapi jarang terjadi. Otto Rehhagel – pelatih sepakbola yang pernah mengantarkan timnas Yunani menjadi juara Eropa 2004 – pernah melatih tim promosi FC Kaiserlautern langsung menjadi juara Bundesliga Jerman pada tahun perdana klub tersebut bertanding di level Bundesliga.

Demikian pula sukses yang diraih Josep “Pep” Guardiola mempersembahkan 11 Piala untuk FC Barcelona dalam waktu “hanya” 3 tahun. Jika dilihat dari pengalaman Guardiola yang belum pernah melatih tim senior sebuah klub, pencapaian Guardiola sangat fantastis. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa Guardiola adalah pelatih tim yunior FC Barcelona sehingga ia tidak sepenuhnya dapat dikatakan “baru”. Filosofi dan strategi sepakbola FC Barcelona sudah mendarah daging dalam tubuh Guardiola, demikian pula sebagian besar pemain sudah dikenalnya. Bahkan, Guardiola sukses melakukan regenerasi pemain dengan memasukkan beberapa pemain binaannya di tim yunior (antara lain Pedro, Picque, Busquets) menjadi starter dalam tim senior.

Photo courtesy of Reuters

Tulisan ini akan mencoba menunjukkan beberapa pelatih sepakbola yang berhasil “mengawinkan” pendekatan proses dan hasil, pelatih yang cenderung result oriented, dan pelatih yang selama bertahun-tahun harus puas dengan process oriented.

Process dan result oriented.

Di tingkat klub sepakbola, mungkin tidak ada satupun sepakbola yang mampu menyamai – bahkan “mendekati” – pencapaian Sir. Alex Ferguson. Dalam waktu yang relatif lama, Fergie adalah pelatih yang berhasil memadukan process oriented dan result oriented secara sempurna.

Prestasi Fergie mungkin sulit disamai (atau bahkan “didekati”) oleh pelatih sepakbola manapun dalam waktu dekat, atau bahkan 10 sampai 20 tahun yang akan datang. Inilah catatan tentang persembahan Fergie kepada klub dan pendukung MU (www.en.wikipedia.org) :

  • Premier League (12): 1992–93, 1993–94, 1995–96, 1996–97, 1998–99, 1999–2000, 2000–01, 2002–03, 2006–07, 2007–08, 2008–09, 2010–11
  • FA Cup (5): 1989–90, 1993–94, 1995–96, 1998–99, 2003–04
  • League Cup (4): 1991–92, 2005–06, 2008–09, 2009–10
  • FA Charity/Community Shield (10): 1990 (shared), 1993, 1994, 1996, 1997, 2003, 2007, 2008, 2010, 2011
  • UEFA Champions League (2): 1998–99, 2007–08
  • UEFA Cup Winners’ Cup (1): 1990–91
  • UEFA Super Cup (1): 1991
  • Intercontinental Cup (1): 1999
  • FIFA Club World Cup (1): 2008

Photo courtesy of Getty Image

Dari segi pembinaan, sudah tidak terhitung pesepakbola yang “dihijrahkan” oleh Fergie “from zero to hero”. Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan adalah anak didik Ferguson angkatan David Beckham (Paul dan Gary Neville, Paul Scholes, David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs). Ferguson sangat mahir memadukan para pemain muda tersebut dengan dua jenderal lapangan tengah Eric Cantona dan Roy Keane untuk merajai English Premier League.

Boleh dibilang Ferguson selalu berhasil “memoles” pesepakbola menjadi pemain bintang di posisinya masing-masing. Ferguson juga sangat jeli memilih pemain, salah satu contoh adalah duet Ferdinand dan Vidic yang didukung oleh van der Sar. Sampai saat ini, keberhasilan Ferguson memoles pesepakbola muda masih berlanjut, antara lain munculnya Chicharito, Welbeck, dan Rafael.

Photo courtesy of http://www.incentivefarm.com

Result Oriented.

Jose Mourinho adalah pelatih cenderung result oriented ketimbang process oriented, kecuali ketika ia masih melatih FC Porto. Mantan penterjemah dan asisten pelatih Bobby Robson di FC Barcelona dan FC Porto ini memang relatif cepat dan sukses dalam karir sebagai pelatih sepakbola. Memulai karir pelatih kepala di FC Porto dan berbekal pemain yang bukan tergolong bintang, Mourinho berhasil mengantarkan FC Porto juara kompetisi liga dan piala champion.

Pendapat subyektif saya tentang Mourinho adalah ia tipikal pelatih sepakbola yang “malas” membina pemain dan lebih suka membeli pemain yang sudah jadi. Hampir di setiap klub yang dilatihnya, Mourinho selalu mensyaratkan anggaran pembelian pemain mahal yang mampu membuat klub bertindak “lebih besar pasak daripada tiang”.

Photo courtesy of http://www.realmadridok.blogspot.com

Mourinho juga bukan pelatih yang siap melatih sebuah tim yang sedang berantakan. Di Chelsea, Mourinho mendapatkan keuntungan besar dari kesiapan tim yang sudah dibesut oleh Claudio Ranieri. Sedangkan di Inter Milan, Mourinho mewarisi tim yang sudah menjadi juara kompetisi Liga Itali tiga tahun berturut turut. Tidak ada yang salah dan tidak beres di Inter Milan, kecuali “dosa” Mancini yang gagal mempersembahkan Piala Champions.

Tidak ada yang meragukan “kehebatan” Mourinho memimpin timnya untuk meraih juara. Faktanya, Mourinho memang selalu mempersembahkan juara kepada setiap klub yang dilatihnya, termasuk “juara hiburan” Copa del Rey 2011 untuk Real Madrid. Ironisnya, Mourinho adalah orang yang tidak siap (dan mungkin tidak mampu) menerima kekalahan secara legowo.

Mulai “orang luar” seperti Johann Cruyff yang tidak ada sangkut pautnya dengan klub Real Madrid sampai dengan “orang dalam” seperti Ramon Calderon – mantan presiden klub Real Madrid – menyayangkan sikap dan perilaku Mourinho. Dalam suatu kesempatan, Calderon sempat berujar sebagai berikut (www.bbc.co.uk, 4 Mei 2011) :

”Klub besar tidak seharusnya menyalahkan wasit untuk kesalahan mereka sendiri dan kekalahan,” kata Calderon.

”Kami menanamkan uang US$400 juta dalam dua tahun terakhir untuk membentuk satu tim yang kuat, jadi jangan menyalahkan cedera, nasib buruk, wasit atau pun yang lain. Kalau Anda kalah, Anda harus memberi selamat lawan. Itu saja.”

Process Oriented.

Kegagalan Arsene Wenger mempersembahkan sebuah piala kepada FC Arsenal dalam 7 tahun terakhir semakin mengukuhkan Wenger sebagai pelatih yang paling sesuai untuk “mewakili” mereka yang hanya berhasil dalam process oriented.

Barangkali, Wenger juga satu-satunya pelatih yang tidak pernah merasakan situasi “telor diujung tanduk”. Harga mati bagi pelatih sepakbola papan atas adalah menjadi juara. Jika tidak menjadi juara, maka pemecatan dan uang pesangon adalah “hadiah” yang layak diterima. Mengapa Wenger aman-aman saja?

Kegagalan Wenger adalah mengantar pasukannya menjadi juara. Tetapi Wenger lebih banyak memberikan “susu” ketimbang “nila”. Artinya, kalaupun kegagalan Wenger itu merupakan “nila setitik”, Wenger memberikan susu dalam jumlah puluhan (atau mungkin malah ratusan) belanga.

Apakah “susu” yang diberikan Wenger kepada FC Arsenal pada khususnya dan dunia sepakbola pada umumnya? Melalui FC Arsenal, Wenger berhasil “meracuni” filosofi sepakbola klub-klub Inggris yang semula monoton mempertontonkan gaya sepakbola kich and rush menjadi menyerang dan indah. Ketika klub-klub sepakbola Inggris melawan FC Arsenal, mereka belajar dari sang maestro bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan : indah dan menyerang.

Photo courtesy of http://www.arsene-wenger.blogspot.com

“Susu” lain yang dipersembahkan Wenger adalah menjadikan seseorang menjadi pesepakbola kelas wahid. Sebut saja misalnya nama-nama Adebayor, Fabregas, Samir Nasri, Robert Pires, Ashley Cole. Bahkan “tangan dingin” Wenger mampu “menyulap” beberapa pesepakbola yang terbuang dari klub mereka sebelumnya menjadi bersinar, antara lain Thierry Henry, Patrick Viera, dan Dennis Bergkamp.

Apakah “susu” yang diberikan oleh Wenger berharga? Biarlah untuk pertanyaan ini, orang yang kompeten yang menjawab. Kata Ferguson “pekerjaan yang telah dilakukannya selama 15 tahun terakhir ini adalah yang terbaik dalam sejarah Arsenal. Betul, ia tak memberikan trofi dalam enam musim terakhir. Namun, apa artinya itu? Kualitas timnya tak berkurang,” tambahnya. (www.bola.kompas.com, 27 Agustus 2011).

Sayang sekali ketekunan dan kesabaran Wenger menekuni proses tidak atau belum membuahkan hasil yang sepadan. Bagi Arsenal, kegagalan tidak menjadi juara tidak selalu berarti kiamat. Dari sisi finansial, proses yang dilakukan oleh Wenger memberikan blessing in disguise. Arsenal selalu mendapat untung yang lebih dari cukup dari setiap penjualan pemain hasil binaannya ke klub lain. Menghadapi penerapan aturan financial fair play di musim kompetisi 2010/2011, seluruh stakeholder Arsenal paling tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Salah satu hal yang positif dari Wenger adalah sikapnya yang “easy going” kehilangan pemain bintang yang dibesarkannya. Ketika Henry dan Viera merasa sudah tidak ada tantangan lagi, Wenger dengan sikap legowo mempersilakan mereka untuk pindah ke klub lain. Meskipun tidak siap ditinggalkan oleh Fabregas dan Samir Nasri, Wenger pada akhirnya siap menanggung risiko yang mungkin akan timbul dan mempersilakan mereka masing-masing ke FC Barcelona dan FC Manchester City.

The Rising Star Guardiola

Bagaimana dengan Guardiola? 11 Piala dalam hanya dalam waktu 3 tahun (termasuk 2 Piala Champion yang sangat bergengsi di tingkat Eropa) sudah bercerita sendiri tentang kehebatan dan keberhasilan Guardiola.

Saya pribadi tidak buru-buru memuji dan memuja Guardiola. Bagaimanapun, Guardiola sangat diuntungkan dengan warisan tim yang sudah dibangun oleh Frank Rikarjd. Di sisi lain, Guardiola seolah-olah seperti mendapat durian runtuh. Pada saat yang  tepat, beberapa pemain pelapis dari tim B sudah siap masuk ke tim senior.

Saya lebih salut dengan konsistensi Guardiola untuk mempertahankan filosofi permainan sepakbola FC Barcelona yang fondasinya telah diletakkan oleh Johann Cruyff. Meskipun sejatinya Guardiola adalah gelandang bertahan (dan karena itu memiliki naluri bertahan lebih baik daripada menyerang), Guardiola berhasil meracik tim yang bermain dengan gaya menyerang dan indah. Guardiola berhasil mempertahankan tradisi FC Barcelona, bahwa menang adalah penting, tetapi jauh lebih penting adalah bermain menyerang, indah, dan bergembira.

Tampak Siring, 27 Agustus 2011.

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2011 in Human Capital