RSS

Process Oriented vs Result Oriented (Bagian Kedua)

02 Sep

Idealnya, key performance indicators mampu mengukur kinerja berbasis proses (process oriented) dan hasil (result oriented). Tentu saja tidak mudah mewujudkan KPI yang ideal seperti itu. Sebab, sebuah proses dan perbaikan berkelanjutan sebuah proses, boleh jadi akan “berdarah-darah” dan butuh kesabaran. Kecenderungannya – apalagi jika money, money dan money yang menjadi kriteria utama – result oriented cenderung lebih dominan daripada process oriented.

Setidak-tidaknya, itulah yang terjadi di dunia sepakbola. The noisy neighbor – julukan yang diberikan oleh Alex Ferguson kepada klub sepakbola Machester City – adalah salah satu contoh yang paling kentara dan vulgar mempertontonkan result oriented. Uang dalam jumlah berapapun akan digelontorkan, berapa pun harga pemain akan dibeli. Nasib Man. City tidak lebih baik dari klub Real Madrid, bintang-bintang sepakbola yang mereka datangkan tidak mampu mempersembahkan piala kompetisi reguler di negara masing-masing.

Tidak heran kalau kemudian para pendukung klub Mancheter United cenderung sinis terhadap klub Manchester City. Dalam setiap pertandingan MU melawan M. City, selalu ada spanduk yang menggambarkan MU dengan “segambreng” piala yang pernah diraih, sedangkan Man. City disimbolkan dengan “segepok” uang.

Sepakbola memang bukan sulap. Tidak ada satupun pelatih sepakbola yang mampu menyamai raja midas. Semua hasil selalu diperoleh dari kesabaran dan ketekunan menjalankan proses yang baik dan berkesinambungan. Kadang-kadang memang ada pengecualian, tetapi jarang terjadi. Otto Rehhagel – pelatih sepakbola yang pernah mengantarkan timnas Yunani menjadi juara Eropa 2004 – pernah melatih tim promosi FC Kaiserlautern langsung menjadi juara Bundesliga Jerman pada tahun perdana klub tersebut bertanding di level Bundesliga.

Demikian pula sukses yang diraih Josep “Pep” Guardiola mempersembahkan 11 Piala untuk FC Barcelona dalam waktu “hanya” 3 tahun. Jika dilihat dari pengalaman Guardiola yang belum pernah melatih tim senior sebuah klub, pencapaian Guardiola sangat fantastis. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa Guardiola adalah pelatih tim yunior FC Barcelona sehingga ia tidak sepenuhnya dapat dikatakan “baru”. Filosofi dan strategi sepakbola FC Barcelona sudah mendarah daging dalam tubuh Guardiola, demikian pula sebagian besar pemain sudah dikenalnya. Bahkan, Guardiola sukses melakukan regenerasi pemain dengan memasukkan beberapa pemain binaannya di tim yunior (antara lain Pedro, Picque, Busquets) menjadi starter dalam tim senior.

Photo courtesy of Reuters

Tulisan ini akan mencoba menunjukkan beberapa pelatih sepakbola yang berhasil “mengawinkan” pendekatan proses dan hasil, pelatih yang cenderung result oriented, dan pelatih yang selama bertahun-tahun harus puas dengan process oriented.

Process dan result oriented.

Di tingkat klub sepakbola, mungkin tidak ada satupun sepakbola yang mampu menyamai – bahkan “mendekati” – pencapaian Sir. Alex Ferguson. Dalam waktu yang relatif lama, Fergie adalah pelatih yang berhasil memadukan process oriented dan result oriented secara sempurna.

Prestasi Fergie mungkin sulit disamai (atau bahkan “didekati”) oleh pelatih sepakbola manapun dalam waktu dekat, atau bahkan 10 sampai 20 tahun yang akan datang. Inilah catatan tentang persembahan Fergie kepada klub dan pendukung MU (www.en.wikipedia.org) :

  • Premier League (12): 1992–93, 1993–94, 1995–96, 1996–97, 1998–99, 1999–2000, 2000–01, 2002–03, 2006–07, 2007–08, 2008–09, 2010–11
  • FA Cup (5): 1989–90, 1993–94, 1995–96, 1998–99, 2003–04
  • League Cup (4): 1991–92, 2005–06, 2008–09, 2009–10
  • FA Charity/Community Shield (10): 1990 (shared), 1993, 1994, 1996, 1997, 2003, 2007, 2008, 2010, 2011
  • UEFA Champions League (2): 1998–99, 2007–08
  • UEFA Cup Winners’ Cup (1): 1990–91
  • UEFA Super Cup (1): 1991
  • Intercontinental Cup (1): 1999
  • FIFA Club World Cup (1): 2008

Photo courtesy of Getty Image

Dari segi pembinaan, sudah tidak terhitung pesepakbola yang “dihijrahkan” oleh Fergie “from zero to hero”. Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan adalah anak didik Ferguson angkatan David Beckham (Paul dan Gary Neville, Paul Scholes, David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs). Ferguson sangat mahir memadukan para pemain muda tersebut dengan dua jenderal lapangan tengah Eric Cantona dan Roy Keane untuk merajai English Premier League.

Boleh dibilang Ferguson selalu berhasil “memoles” pesepakbola menjadi pemain bintang di posisinya masing-masing. Ferguson juga sangat jeli memilih pemain, salah satu contoh adalah duet Ferdinand dan Vidic yang didukung oleh van der Sar. Sampai saat ini, keberhasilan Ferguson memoles pesepakbola muda masih berlanjut, antara lain munculnya Chicharito, Welbeck, dan Rafael.

Photo courtesy of http://www.incentivefarm.com

Result Oriented.

Jose Mourinho adalah pelatih cenderung result oriented ketimbang process oriented, kecuali ketika ia masih melatih FC Porto. Mantan penterjemah dan asisten pelatih Bobby Robson di FC Barcelona dan FC Porto ini memang relatif cepat dan sukses dalam karir sebagai pelatih sepakbola. Memulai karir pelatih kepala di FC Porto dan berbekal pemain yang bukan tergolong bintang, Mourinho berhasil mengantarkan FC Porto juara kompetisi liga dan piala champion.

Pendapat subyektif saya tentang Mourinho adalah ia tipikal pelatih sepakbola yang “malas” membina pemain dan lebih suka membeli pemain yang sudah jadi. Hampir di setiap klub yang dilatihnya, Mourinho selalu mensyaratkan anggaran pembelian pemain mahal yang mampu membuat klub bertindak “lebih besar pasak daripada tiang”.

Photo courtesy of http://www.realmadridok.blogspot.com

Mourinho juga bukan pelatih yang siap melatih sebuah tim yang sedang berantakan. Di Chelsea, Mourinho mendapatkan keuntungan besar dari kesiapan tim yang sudah dibesut oleh Claudio Ranieri. Sedangkan di Inter Milan, Mourinho mewarisi tim yang sudah menjadi juara kompetisi Liga Itali tiga tahun berturut turut. Tidak ada yang salah dan tidak beres di Inter Milan, kecuali “dosa” Mancini yang gagal mempersembahkan Piala Champions.

Tidak ada yang meragukan “kehebatan” Mourinho memimpin timnya untuk meraih juara. Faktanya, Mourinho memang selalu mempersembahkan juara kepada setiap klub yang dilatihnya, termasuk “juara hiburan” Copa del Rey 2011 untuk Real Madrid. Ironisnya, Mourinho adalah orang yang tidak siap (dan mungkin tidak mampu) menerima kekalahan secara legowo.

Mulai “orang luar” seperti Johann Cruyff yang tidak ada sangkut pautnya dengan klub Real Madrid sampai dengan “orang dalam” seperti Ramon Calderon – mantan presiden klub Real Madrid – menyayangkan sikap dan perilaku Mourinho. Dalam suatu kesempatan, Calderon sempat berujar sebagai berikut (www.bbc.co.uk, 4 Mei 2011) :

”Klub besar tidak seharusnya menyalahkan wasit untuk kesalahan mereka sendiri dan kekalahan,” kata Calderon.

”Kami menanamkan uang US$400 juta dalam dua tahun terakhir untuk membentuk satu tim yang kuat, jadi jangan menyalahkan cedera, nasib buruk, wasit atau pun yang lain. Kalau Anda kalah, Anda harus memberi selamat lawan. Itu saja.”

Process Oriented.

Kegagalan Arsene Wenger mempersembahkan sebuah piala kepada FC Arsenal dalam 7 tahun terakhir semakin mengukuhkan Wenger sebagai pelatih yang paling sesuai untuk “mewakili” mereka yang hanya berhasil dalam process oriented.

Barangkali, Wenger juga satu-satunya pelatih yang tidak pernah merasakan situasi “telor diujung tanduk”. Harga mati bagi pelatih sepakbola papan atas adalah menjadi juara. Jika tidak menjadi juara, maka pemecatan dan uang pesangon adalah “hadiah” yang layak diterima. Mengapa Wenger aman-aman saja?

Kegagalan Wenger adalah mengantar pasukannya menjadi juara. Tetapi Wenger lebih banyak memberikan “susu” ketimbang “nila”. Artinya, kalaupun kegagalan Wenger itu merupakan “nila setitik”, Wenger memberikan susu dalam jumlah puluhan (atau mungkin malah ratusan) belanga.

Apakah “susu” yang diberikan Wenger kepada FC Arsenal pada khususnya dan dunia sepakbola pada umumnya? Melalui FC Arsenal, Wenger berhasil “meracuni” filosofi sepakbola klub-klub Inggris yang semula monoton mempertontonkan gaya sepakbola kich and rush menjadi menyerang dan indah. Ketika klub-klub sepakbola Inggris melawan FC Arsenal, mereka belajar dari sang maestro bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan : indah dan menyerang.

Photo courtesy of http://www.arsene-wenger.blogspot.com

“Susu” lain yang dipersembahkan Wenger adalah menjadikan seseorang menjadi pesepakbola kelas wahid. Sebut saja misalnya nama-nama Adebayor, Fabregas, Samir Nasri, Robert Pires, Ashley Cole. Bahkan “tangan dingin” Wenger mampu “menyulap” beberapa pesepakbola yang terbuang dari klub mereka sebelumnya menjadi bersinar, antara lain Thierry Henry, Patrick Viera, dan Dennis Bergkamp.

Apakah “susu” yang diberikan oleh Wenger berharga? Biarlah untuk pertanyaan ini, orang yang kompeten yang menjawab. Kata Ferguson “pekerjaan yang telah dilakukannya selama 15 tahun terakhir ini adalah yang terbaik dalam sejarah Arsenal. Betul, ia tak memberikan trofi dalam enam musim terakhir. Namun, apa artinya itu? Kualitas timnya tak berkurang,” tambahnya. (www.bola.kompas.com, 27 Agustus 2011).

Sayang sekali ketekunan dan kesabaran Wenger menekuni proses tidak atau belum membuahkan hasil yang sepadan. Bagi Arsenal, kegagalan tidak menjadi juara tidak selalu berarti kiamat. Dari sisi finansial, proses yang dilakukan oleh Wenger memberikan blessing in disguise. Arsenal selalu mendapat untung yang lebih dari cukup dari setiap penjualan pemain hasil binaannya ke klub lain. Menghadapi penerapan aturan financial fair play di musim kompetisi 2010/2011, seluruh stakeholder Arsenal paling tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Salah satu hal yang positif dari Wenger adalah sikapnya yang “easy going” kehilangan pemain bintang yang dibesarkannya. Ketika Henry dan Viera merasa sudah tidak ada tantangan lagi, Wenger dengan sikap legowo mempersilakan mereka untuk pindah ke klub lain. Meskipun tidak siap ditinggalkan oleh Fabregas dan Samir Nasri, Wenger pada akhirnya siap menanggung risiko yang mungkin akan timbul dan mempersilakan mereka masing-masing ke FC Barcelona dan FC Manchester City.

The Rising Star Guardiola

Bagaimana dengan Guardiola? 11 Piala dalam hanya dalam waktu 3 tahun (termasuk 2 Piala Champion yang sangat bergengsi di tingkat Eropa) sudah bercerita sendiri tentang kehebatan dan keberhasilan Guardiola.

Saya pribadi tidak buru-buru memuji dan memuja Guardiola. Bagaimanapun, Guardiola sangat diuntungkan dengan warisan tim yang sudah dibangun oleh Frank Rikarjd. Di sisi lain, Guardiola seolah-olah seperti mendapat durian runtuh. Pada saat yang  tepat, beberapa pemain pelapis dari tim B sudah siap masuk ke tim senior.

Saya lebih salut dengan konsistensi Guardiola untuk mempertahankan filosofi permainan sepakbola FC Barcelona yang fondasinya telah diletakkan oleh Johann Cruyff. Meskipun sejatinya Guardiola adalah gelandang bertahan (dan karena itu memiliki naluri bertahan lebih baik daripada menyerang), Guardiola berhasil meracik tim yang bermain dengan gaya menyerang dan indah. Guardiola berhasil mempertahankan tradisi FC Barcelona, bahwa menang adalah penting, tetapi jauh lebih penting adalah bermain menyerang, indah, dan bergembira.

Tampak Siring, 27 Agustus 2011.

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: