RSS

Your Players Make Money

05 Sep

Melihat penampilan pasukan Manchester City – atau biasa dijuluki the citizens – membantai Tottenham Hotspur dengan skor telak 5-1 di English Premier League, Sabtu 27 Agustus 2011 yang lalu, pelatih Roberto Mancini tampak sumringah dan puas. Harapan bahwa the Citizens akan mampu bersaing dengan klub-klub papan atas langganan the big four di EPL bukan sekedar impian, bahkan untuk menjadi juara adalah mungkin. Pertanyaannya : apakah dengan pesepakbola berkelas “bintang lima”,  the citizens akan mampu menjadi juara di EPL, atau tingkat yang lebih tinggi liga Champions Eropa?

Terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Lagipula, intensitas dan tingkat persaingan di antara klub-klub sepakbola profesional tidak sesederhana yang dibayangkan. Bagi saya pribadi, penampilan super Man. City yang diperkuat pesepakbola yang memiliki harga transfer relatif mahal dan digaji tinggi, sama sekali tidak memberikan sinyal dan makna apapun.

Apa yang terjadi di Manchester City dan apa yang telah diperlihatkan, tidak lebih dari sekedar bahwa uang telah berkuasa. Dengan uang, apa saja dapat dilakukan, dan siapa saja dapat dibeli. Dana yang melimpah yang digelontorkan oleh milyader Qatar Seikh Mansour memungkinkan Man. City membeli pesepakbola dengan harga berapapun dan membayar gaji relatif lebih tinggi dari klub-klub lain.

Tentu saja uang tidak dapat membeli juara, apalagi membangun sejarah. Sejauh ini, hasilnya the Citizens baru meraih 1 Piala FA. Perjalanan masih panjang dan perlu waktu yang lama bagi the Citizens untuk menurunkan “spanduk penghinaan” yang selama ini dipajang oleh para pendukung klub Manchester United.

Photo courtesy of http://www.google.com

Pemain Bintang Bukan Segalanya.

Kurang apa timnas Argentina di ajang Piala Dunia 2010 dan Copa Amerika 2011? Di ajang PD 2010, timnas Argentina dibesut oleh maha bintang Diego Armando Maradona dan diperkuat oleh pesepakbola hebat  bermain di klub-klub papan atas Eropa, antara lain FC Barcelona dan FC Real Madrid. Di Copa Amerika 2011 yang baru saja usai, timnas Argentina juga dibesut oleh Sergio Batista, pemain yang turut memperkuat timnas Argentina dan merebut Piala Dunia 1986 di Mexico. Di kedua ajang tersebut, timnas Argentina harus segera angkat koper sebelum semi final.

Padahal, timnas Argentina diperkuat oleh sederetan bintang. Sebut saja Lionel Messi, Higuain Gonzales, Javier Mascherano, Angel Di Maria, Sergio “Kun” Aguero, Diego Milito, Javier Pastore, dan lain-lain. Dari segi teknis tidak ada yang meragukan kemampuan mereka. Apalagi Maradona turun tangan langsung menangani bintang-bintang tersebut, sehingga menjadi juara adalah persembahan yang pantas bagi rakyat Argentina.

Kurang apa Real Madrid? Madrid adalah salah satu klub yang “rajin” memecahkan rekor membeli pesepakbola dengan harga transfer “gila-gilaan”. Sampai saat ini, hanya Real Madrid yang mampu menciptakan rekor dan sekaligus memecahkan rekor nilai transfer pesepakbola, mulai dari transfer Zinedine Zidan, Ricardo Kaka, dan terakhir Christiano Ronaldo.

Dengan modal dua pesepakbola yang ditransfer dengan nilai termahal di dunia, sederetan pesepakbola lain yang juga dibeli dengan harga mahal dan digaji relatif tinggi, tidak ada alasan bagi Real Madrid hanya mampu meraih 1 piala (Copa de Rey) dalam 2 tahun musim kompetisi. Apalagi, Real Madrid dilatih oleh pelatih yang memproklamirkan dirinya sebagai the special one dan pelatih terbaik di dunia. Meraih juara liga Spanyol dan liga Champions Eropa adalah harga mati bagi Real Madrid.

Fakta dan data menunjukkan bahwa uang  belum tentu mampu membuat sejarah. Demikian juga pesepakbola hebat yang didatangkan dengan nilai transfer “selangit” dan gaji relatif tinggi, tidak merupakan jaminan akan mempersembahkan piala. Timnas Uruguay yang diperkuat oleh pesepakbola dengan reputasi, nilai transfer, dan gaji relatif lebih rendah dibandingkan dengan pesepakbola timnas Argentina dan timnas Brasil, justru lebih berhasil menorehkan sejarah sebagai negara terbanyak yang menjuarai Copa Amerika sebanyak 15 kali.

Photo courtesy of Manchester United

Trisula : Teknik, Stamina, dan Mental.

Kinerja seorang pesepakbola dan sebuah tim menuntut kesiapan teknik, stamina dan mental. Keputusan seorang pelatih untuk memainkan seorang pesepakbola dalam sebuah pertandingan, antara lain ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor strategi dan tingkat kesiapan pesepakbola. Idealnya, ketiga faktor tersebut dalam tingkat kesiapan tinggi, sehingga kinerja individual dan tim dapat optimal.

Ketiga faktor tersebut sangat penting. Selama bola masih bundar, tidak ada yang dapat memastikan bahwa salah satu faktor lebih penting dibandingkan faktor yang lain. Selama bola bundar, keunggulan teknis seringkali tidak bermakna apapun. Meskipun demikian, jika secara individual maupun kelompok sebuah tim memiliki tingkat kesiapan teknis dan stamina  relatif seimbang, faktor mental dapat menjadi pembeda yang sangat signifikan. Ini bukan sekedar pernyataan janji, melainkan bukti sejarah telah mencatat memang demikianlah yang terjadi.

Faktor Mental.

Sejak tahun 1930, telah diselenggarakan kejuaraan dunia sepakbola sebanyak 19 kali. Sejarah mencatat, hanya ada 8 negara yang berhasil menjadi juara (yaitu Brasil, Italia, Jerman, Uruguay, Argentina, Inggris, Perancis, dan Spanyol) dan hanya ada 5 negara yang menjadi juara lebih dari 1 kali. Rekor juara dunia masih dipegang oleh timnas Brasil sebanyak 5 kali, timnas Italia sebanyak 4 kali, dan timnas Jerman sebanyak 3 kali.

Photo courtesy of http://www.en.wikipedia.org

Sejarah juga mencatat, bahwa hanya ada 9 negara yang berhasil menjadi runners-up, yaitu : Argentina (2), Cekoslovakia (2), Hungaria (2), Swedia (1) Jerman Barat (atau Jerman setelah reunifikasi) sebanyak 4 kali, Brasil (2), Perancis (1), Italia (2), dan Belanda (3).  Artinya, sepanjang sejarah penyelenggaraan piala dunia sepakbola, hanya ada 12 negara yang mampu finish sampai ke final. Brasil menjadi satu-satunya negara yang selalu bertanding di 19 kejuaraan piala dunia.

Sampai dengan Juli 2011, ada 193 negara yang menjadi anggota PBB. Sedangkan negara-negara yang menjadi anggota FIFA dan berhak mengikuti kualifikasi PD 2010 adalah sebanyak 204. Kesimpulannya, tidak lebih dari 5 % negara-negara yang menjadi anggota FIFA, yang berhasil mengukir prestasi emas di ajang piala dunia.

Mengapa hasilnya seperti itu? Faktor apa yang menyebabkan hanya segelintir negara yang mampu menjadi juara piala dunia sepak bola atau menjadi runners-up? Rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda. Apapun perbedaan pendapat atas pertanyaan tersebut, “umat sepakbola sedunia” sepakat bahwa  mental juara adalah faktor yang sangat menentukan.

Timnas Jerman dan timnas Brasil adalah pemegang rekor 7 kali bertanding di final. Brasil lebih banyak menjadi juara dunia (5 kali vs Jerman 3 kali), sebaliknya Jerman lebih banyak menjadi runners-up (4 kali vs Brasil 2 kali). Tetapi jika “total finish in top four” dihitung, Jerman 12 kali masuk the big four, sedangkan Brasil “hanya” 10 kali. Perbedaan lain, timnas Brasil selalu bertaburan bintang dengan talenta kelas superior, sedangkan timnas Jerman tidak memiliki talenta sehebat timnas Brasil. Itulah sebabnya, julukan mental juara lebih sering dialamatkan kepada timnas Jerman yang dijuluki der Panzer.

Apakah faktor sikap mental sangat penting dan menentukan keberhasilan individu, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara? Kemerdekaan Indonesia diraih dengan modal sikap mental pantang menyerah para pahlawan dan darah para syuhada. People Power tidak membutuhkan senjata apapun untuk menjungkalkan Ferdinand Marcos dan begundal-begundalnya. Rezim orde baru yang dikomandani oleh the smiling general Soeharto juga tumbang oleh kekuatan mahasiswa tanpa senjata.

Di tingkat global, Amerika Serikat pernah merasakan sakitnya kalah telak di Pearl Harbour yang dihajar oleh para pilot pesawat tempur Jepang yang gagah berani dan mengedepankan altruistic suicide. Lagi-lagi kekuatan ekonomi dan persenjataan Amerika Serikat bertekuk lutut menghadapi tentara dan rakyat Vietnam. Dengan modal persenjataan canggih Uni Soviet juga terpaksa hengkang dari Afghanistan.

Faktor mental memang sangat penting. Passion, enthusiasm dan patience adalah di antara faktor mental yang sangat penting, terutama jika kompetisi “berdarah-darah”. Tentu saja, talenta juga penting untuk bersaing, bertahan, dan beprestasi di kompetisi tingkat tinggi.

Tampak Siring, 2 September 2011

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: