RSS

Financial Rewards vs Non-Financial Rewards

12 Sep

Emmanuel Frimpong memang “hanya” seorang pesepakbola profesional. Tetapi Frimpong boleh jadi tidak kalah bijak dibandingkan seorang filsuf ketika ia berkata, bahwa “uang adalah akar semua kejahatan”. Sebagai pesepakbola klub FC Arsenal, wajar kalau Frimpong sampai gusar, atau bahkan “sewot”, terhadap kepindahan Samir Nasri ke klub Manchester City. Masih kata Frimpong, semua ini karena uang.

Tidak ada yang menyalahkan Cecs Fabregas yang juga pindah ke FC Barcelona. Tidak ada yang mempermasalahkan berapa harga transfer dan gaji yang diterima Cecs, lha wong ia cuma mudik ke “rumah” dan ingin bermain bersama-sama dengan teman-teman seangkatannya di akademi sepakbola La Masia (antara lain Messi dan Picque). Kepindahan Alexis Sanchez dari klub Udinese (Italy) ke FC Barcelona juga dianggap lumrah. Karena kualitasnya, pantas Sanchez menjajal kemampuannya bermain sebuah klub yang selalu bermain di level tertinggi. Ada kualitas ada harga, karena kualitasnya pantas Sanchez digaji tinggi.

Apakah salah jika seorang pesepakbola pindah ke klub lain karena motivasi uang? Bukankah istilah profesional sendiri sudah menggambarkan bahwa uang adalah salah satu tujuan utama? Problem utama sebuah klub sepakbola (dan organisasi lain apapun namanya, termasuk partai politik) adalah pendanaan. Saat ini, mungkin hanya tinggal romantisme membayangkan sebuah klub sepakbola profesional dimiliki oleh pemilik yang menempatkan sepakbola lebih sebagai seni ketimbang industri.

Investor hanya mengenal satu kata, yaitu return. Investor hanya mampu menanamkan uangnya jika yakin tingkat pengembalian sepadan dengan risiko yang harus ditanggung. Itulah sebabnya, investor hanya mau membeli dan mendanai sebuah klub yang mampu menjanjikan return lebih baik. Ujung-ujungnya, faktor  utama return adalah jika sebuah klub mampu menjadi juara dari kompetisi liga di tingkat negara maupun benua.

Cash is the King. Saat ini, hampir semua klub dikelola dengan menempatkan pendanaan sebagai salah satu fokus utama selain masalah pembinaan pemain-pemain muda. Terserah masing-masing pesepakbola, apakah akan memanfaatkan “aji mumpung” dari kondisi ini. Ada pesepakbola yang “mata duitan”, meskipun tidak pernah mengaku. Ada juga pesepakbola yang tidak menjadikan uang sebagai motivasi utama.

Seperti diberitakan oleh Sport edisi 30 Juni 2011, the Citizens (julukan klub Man. City) siap menggelontorkan dana 60 juta poundsterling kepada Arsenal untuk memboyong Cecs Fabregas. The Citizens juga siap menggaji Cecs 12 juta poundsterling per tahun(dua kali yang ditawarkan FC Barcelona). Last but not least, Cecs juga ditawari sebuah jet pribadi yang dapat mengantarkannya ke manapun ia pergi. Tetapi bagi Cecs, FC Barcelona adalah sebuah “rumah” dan kembali ke rumah lebih penting daripada sekedar uang.

Lead, Match dan Lag.

Dalam konteks strategi manajemen penggajian sebuah organisasi dan perusahaan yang profit-oriented, dikenal tiga strategi dasar, yaitu lead, match dan lag. Intinya, sebuah organisasi / perusahaan yang bermaksud menarik orang-orang yang kompeten untuk mau bergabung, bekerja, dan bertahan di organisasi / perusahaan, harus memperhatikan strategi manajemen penggajian organisasi / perusahaan lain. Jika tidak, siap-siap saja sebuah organisasi atau perusahaan tidak mampu menarik dan mempertahankan orang-orang yang kompeten.

Lead menunjukkan bahwa sebuah organisasi atau perusahaan memberikan paket penggajian dan fasilitas lebih baik dibandingkan pesaingnya. Match berarti bahwa sebuah organisasi atau perusahaan memberikan gaji yang seimbang atau setara dengan organisasi atau perusahaan pesaingnya. Sedangkan lag berarti sebuah organisasi dan perusahaan memberikan paket penggajian dan fasilitas di bawah standar yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan pesaingnya.

Dalam kondisi industri sedang tumbuh dan organisasi / perusahaan sedang dalam tahap  tumbuh dan berkembang, dibutuhkan tenaga-tenaga yang kompeten untuk mengisi beberapa formasi jabatan dalam organisasi / perusahaan. Konsekuensinya adalah tenaga-tenaga yang kompeten tersebut langka di pasar tenaga kerja. Karena itu, idealnya, strategi manajemen penggajian organisasi atau perusahaan adalah lead.

Itulah yang dilakukan oleh klub Manchester City. Setelah bertahun-tahun harus puas dengan julukan the noisy neighbor (julukan Sir Alex Ferguson – pelatih Manchester United – kepada klub satu kota di Manchester), si pemilik baru klub berambisi menjadikan Man. City “tajir” di English Premier League dan tingkat Eropa. Keberhasilan Man. City finish di urutan ketiga EPL musim kompetisi 2010/2011 memberikan kesempatan untuk bertanding di tingkat liga Champion Eropa.

Bagi pemilik Man. City, tidak ada cara lain kecuali “memborong” pemain bintang. Berapapun biaya transfer yang harus dikeluarkan dan gaji yang harus ditanggung, klub harus mendapatkan pemain bintang. Setelah tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya mendatangkan Edin Dzeko, Yaya Toure, Carlos Tevez, musim kompetisi 2011/2012 ini Man. City mendatangkan antara lain Sergio “Kun” Aguero dan Samir Nasri. Sudah pasti Man. City menawarkan gaji yang berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan klub lain.

Motivasi.

Saya tidak mengerti motivasi yang mendorong pesepakbola bergabung dengan klub Manchester City. Kalau ada pesepakbola yang mendambakan bergabung dengan klub Real Madrid, FC Barcelona, Manchester United, motivasinya sudah jelas : prestise. Tetapi tidak hanya itu, prestasi juga menjadi faktor utama. Sebab, klub-klub papan atas di Eropa pada umumnya menjadi langganan tampil di liga Champion. Artinya, dengan bermain di klub-klub besar dan ternama, kesempatan untuk mencapai puncak prestasi menjadi lebih terbuka.

Reputasi Man. City dibandingkan Man. United bagaikan bumi dan langit.  Itulah sebabnya, dalam setiap pertandingan Man. United melawan Man. City di Old Trafford, selalu ada spanduk yang membandingkan perbedaan antara kedua klub sekota tersebut. Man. United disimbolkan dengan berbagai piala yang dijejer, sedangkan Man. City disimbolkan dengan “segepok” uang. Maksudnya tentu saja untuk “menghina” Man. City, tetapi juga bisa menyampaikan pesan bahwa uang tidak dapat membeli semuanya. Sejarah klub memang tidak ditulis dengan uang, melainkan dengan prestasi.

Man. City mendadak sontak berlimpah dana setelah Seikh Mansour bin Zayed Sultan Ali, milyader asal Qatar, membeli klub ini. Sejak itu, siapa pun pelatih kepala Man. City, sang milyader akan memberikan “Palugali” (baca : lu mau siapa gua bisa beli). Ambisi pemilik baru klub untuk menjadikan Man. City sejajar dengan klub-klub papan atas di Eropa dan Inggris, terutama ambisi meraih juara kompetisi liga Inggris secepat mungkin, menjadikannya “kalap” menggelontorkan uang.

Mungkin pernyataan Frimpong tidak salah, bahwa Samir Nasri mau bergabung dengan Man. City lebih disebabkan faktor uang. Man. City mampu membayar gaji Nasri dua kali lipat daripada yang didapat di Arsenal (Man. City mampu menggaji Nasri 175.000 poundsterling per pekan, sedangkan Arsenal “hanya” mampu menggaji Nasri 80.000 poundsterling per pekan) Tidak hanya Nasri, tetapi juga pesepakbola lain yang direkrut Man. City selalu ditawarkan gaji yang berlipat-lipat daripada gaji mereka di klub mereka.

Photo courtesy of Getty Image

Jika uang menjadi motivasi utama, barangkali pesepakbola tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Seorang pembaca di social blog berkomentar “kalau bukan uang, apalagi?”. Menjadi pesepakbola profesional sangat berisiko dan golden agenya relatif pendek. Dalam kondisi seperti itu, apakah masih ada ruang untuk memperdebatkan loyalitas dan dedikasi?

Paling tidak, ada tiga musuh seorang pesepakbola, yaitu cedera, usia bertambah tua, dan kinerja pesepakbola lain di posisi yang sama lebih baik dari kinerja dirinya. Cedera yang berkepanjangan dapat memupuskan harapan seorang pesepakbola menunjukkan kinerja terbaik, bahkan Marco van Basten harus pensiun dini pada usia 28 tahun. Usia yang semakin tua juga mempengaruhi kinerjanya, kecuali penjaga gawang yang masih bisa bermain sampai dengan usia 40 tahun. Sedangkan kinerja pesepakbola lain yang lebih baik dapat menyebabkan dirinya hanya “di parkir” di bangku cadangan.

Karena itu, adalah “wajar” jika setiap pesepakbola selalu mempertimbangkan faktor uang. Pengecualian mungkin hanya terjadi dalam kondisi khusus, misalkan Lionel Messi yang “mustahil” pindah ke klub lain karena faktor uang. Karena faktor “hutang budi” terhadap FC Barcelona yang telah membiayai penyakitnya sejak ia masih di usia belia, hampir tidak mungkin Messi membalasnya dengan “air tuba” (baca : pindah ke klub lain).

Masih ada Loyalitas dan Dedikasi.

Il Capitano Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, dan Gianluigi Bufon barangkali adalah pesepakbola yang termasuk “langka”. Di era kejayaan mereka, masing-masing adalah salah satu yang terbaik di dunia di posisi playmaker, gelandang serang, dan penjaga gawang. Kecuali Del Piero, mereka juga bukan pesepakbola yang dididik oleh Juventus.

Del Piero, Nedved, dan Bufon tetap bertahan di Juventus ketika klub ini terkena hukuman terdegradasi di divisi dua. Pesepakbola lain, antara lain Zlatan Ibrahimovic “malu” bertanding di divisi dua dan memilih pindah ke klub rival Inter Milan. Mereka bertiga tetap menunjukkan loyalitas dan dedikasi untuk Juventus dan mengantarkan kembali Juventus promosi ke divisi utama.

Meskipun kualitas Del Piero, Nedved dan Bufon tidak kalah dibandingkan pesepakbola pro lainnya, mungkin saja gaji mereka tidak setinggi pesepakbola yang bermain di klub-klub yang “jor-joran” membeli pemain bintang dan memberikan gaji tinggi. Saat itu, tentu ada faktor lain di luar uang yang memotivasi mereka tetap bertahan di Juventus.

Sikap dan perilaku manusia memang tidak dapat dikalkulasi seperti matematika. Itulah sebabnya, dalam konteks manajemen sumber daya manusia, penghargaan tidak selalu dalam bentuk uang. Berapapun jumlahnya, uang belum tentu mampu menggoyahkan pendirian seseorang. Di lingkungan penerbang misalnya, wing penerbang adalah simbol prestasi dan prestise yang tidak dapat dinilai dengan uang. Para abdi dalem di lingkungan kasultanan Yogyakarta dan Surakarta misalnya, mendapatkan penghargaan finansial yang relatif kurang memadai. Meskipun demikian, loyalitas dan dedikasi mereka mengabdi kepada raja tidak diragukan lagi.

Jadi, kecuali financial rewards, non-financial rewards adalah bentuk penghargaan yang juga penting. Masalahnya, bagaimana mengkombinasikan kedua bentuk penghargaan tersebut sehingga mampu mempengaruhi sikap dan perilaku manusia ke arah yang positif?

Tampak Siring, 28 Agustus 2011.

 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: