RSS

Eksekusi Strategi (Bagian Kedua)

03 Oct

Seorang sahabat mengirim inspirational qoute dari “FDR” (Franklin Delano Roosevelt) melalui BBM sebagai berikut : “Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people.” Secara tidak langsung teman saya seolah-olah ingin mengatakan bahwa “ngrumpi” adalah pekerjaan yang tidak baik, entah “ngrumpi” tentang kelemahan rekan kerja maupun “keanehan-keanehan” atasan.

Tidak mau kalah, saya mencoba meng-“utak-atik” kata-kata inspirasional tersebut. Hasilnya adalah kata-kata inspirasional juga – setidak-tidaknya menurut pendapat subyektif saya – sebagai berikut : “Great leader execute strategy. Average leader only discuss strategy. Small leader has no strategy.”

Sebuah pertanyaan dalam artikel berjudul “SAP Strategic Entreprise Management, Translating Strategey Into Action : The Balanced Scorecard” yang ditulis bersama oleh David P. Norton (The Balanced Scorecard Collaborative, Inc.)  dan SEM Product Management SAP AG, sangat tepat mempertanyakan apa yang dikerjakan dan apa yang sudah dihasilkan oleh para eksekutif. Pertanyaannya : “If our job isn’t executing strategy, what is it?”.

Adalah tugas dan tanggung jawab para eksekutif puncak untuk merumuskan misi, visi, sasaran stratejik perusahaan dan sekaligus strategi untuk mencapainya. Adalah juga sudah menjadi tanggung jawab setiap eksekutif puncak untuk memastikan bahwa strategi yang telah diformulasikan dapat dan berhasil dieksekusi.

Kepemimpinan adalah kata kunci memastikan bahwa strategi yang telah diformulasikan dapat dan berhasil dieksekusi. Seorang eksekutif puncak tentu saja bukan sekedar seorang yang memiliki jabatan tertinggi di sebuah perusahaan yang pintar merumuskan misi, visi, sasaran stratejik, dan strategi untuk mencapainya. Untuk mencapai “maqam” Enlightened Leadership (istilah ini dari Ed Oakley dan Doug Krug) pemimpin yang visioner  adalah pemimpin yang mampu membuat para pengikutnya memiliki visinya.

Das Sollen (apa yang seharusnya) memang selalu sama dengan das Sein (apa fakta). Di Indonesia, segala sesuatu yang dianggap dapat “mendongkrak” prestise sosial, akan  “dipelintir” menjadi simbol status. Di dalam organisasi, istilah strategi dan stratejik dianggap mampu menjadi “differentiator”. Orang-orang yang masuk “think tank” dan bertugas untuk memformulasikan strategi sudah merasa berbeda dibandingkan dengan orang-orang yang mengurus operasional sehari-hari perusahaan.

Kegiatan organisasi memang dibedakan menjadi kegiatan operasional dan kegiatan stratejik. Kegiatan operasional adalah kegiatan mengubah input menjadi output. Sedangkan kegiatan stratejik adalah upaya organisasi untuk beradaptasi dan antisipasi terhadap perubahan lingkungan eksternal organisasi. Kegiatan operasional fokus pada jangka pendek (di bawah 1 tahun) dan harian, sedangkan kegiatan stratejik fokus pada jangka panjang (paling tidak 3 sampai dengan 5 tahun ke depan).

Sejatinya, perbedaan dalam hal konten dan fokus antara kegiatan operasional dan kegiatan stratejik tidak menjadikan kegiatan yang satu lebih penting dibandingkan kegiatan yang lain. Adalah manusia yang suka “lebay”, dan kemudian berbekal  “segambreng” alasan, menjadikan kegiatan stratejik lebih penting dibandingkan dengan kegiatan operasional.

Eisenhower menjelaskan bahwa suatu kegiatan tidak hanya dinilai dari variabel penting, melainkan juga kemendesakan (urgency), sebagaimana diperlihatkan gambar berikut :

Menyelesaikan masalah sehari-hari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) wanita di luar negeri adalah penting dan sangat mendesak dan karena itu harus dilakukan saat ini juga. Jika pemerintah belum memiliki strategi perlindungan TKI yang bekerja di luar negeri (dan di dalam negeri), memformulasikan strategi perlindungan adalah penting, tetapi urgensinya untuk saat ini sangat rendah. Pemerintah, DPR dan segenap komponen masyarakat dapat menjadualkan formulasi stategi perlindungan terhadap TKI. Jauh lebih penting dan mendesak adalah menyelesaikan berbagai masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri, terutama mereka yang sudah “antri” menunggu hukuman mati.

Merumuskan Strategi

Secara umum, proses perencanaan stratejik adalah sebagai berikut :

Merumuskan strategi organisasi untuk jangka panjang memang tidak mudah. Di era globalisasi dan perubahan lingkungan eksternal yang berlangsung relatif cepat, membuat strategi jangka panjang jauh lebih sulit dibandingkan masa sebelumnya. Suatu strategi organisasi yang telah selesai dirumuskan kadang-kadang dalam waktu 1 tahun harus sudah direvisi.

Mengeksekusi Strategi

Tetapi masalah sesungguhnya adalah bukan dalam proses merumuskan strategi, melainkan bagaimana mengeksekusi strategi. Kemampuan mengeksekusi strategi inilah yang membedakan antara satu pemimpin dengan pemimpin yang lainnya, yaitu “great leader execute strategy, average leader only discuss strategy, small leader has no strategy.”

Seorang pemimpin tidak pantas disebut sebagai pemimpin sejati jika ia tidak memiliki strategi. Bagaimana ia akan mengeksekusi strategi jika tidak pernah merumuskan strategi. Pemimpin yang “sedang-sedang” saja adalah orang yang “hebat” dalam merumuskan strategi, tetapi ia tidak tahu dan tidak mampu bagaimana mengeksekusi strategi. Derajat terhormat yang harus dicapai seorang pemimpin adalah tahu dan mampu merumuskan strategi, kemudian ia juga tahu dan mampu mengeksekusi strategi.

Ironisnya, mengeksekusi strategi ternyata bukan pekerjaan mudah. Sebuah artikel di majalah Fortune (1999) menyebutkan bahwa 70 % kegagalan CEO bukan disebabkan oleh formulasi strategi, melainkan oleh implementasi yang buruk atas strategi yang telah dirumuskan.

Qin Shi Huang, si Perumus dan Eksekutor Strategi

Sabtu malam 6 Agustus 2011 yang lalu saya menyaksikan tayangan sebuah film dokumenter tentang “The First China’s Emperor” di Metro TV. Pada awalnya, wilayah Republik Rakyat China saat ini sebelum dipersatukan terdiri dari 6 (enam) negara, yaitu : Han, Zhao, Yan, Wei, Chu dan Qin. Penggagas unifikasi China di  bawah satu kerajaan adalah Qin Shi Huang, raja dari negara Qin.

Sejak pertama kali menggagas unifinikasi China di bawah satu kerajaan, Shi Huang berhasil merumuskan dan mengeksekusi strategi unifikasi dalam waktu relatif sangat cepat 9 tahun saja. Pada tahun 221 sebelum Masehi, Shi Huang berhasil mempersatukan 6 negara menjadi kerajaan China dan sekaligus memproklamirkan diri sebagai raja pertama China (www.en.wikipedia.org). Mengingat wilayah China yang relatif sangat luas dan perlawanan dari masing-masing negara, Shi Huang boleh menjadi salah satu “icon” bagaimana mengeksekusi strategi.

Shi Huang memang tidak lama menjadi raja pertama China (berhenti pada tanggal 10 September 210 sebelum Masehi, dokumen lain mencatat s.d. 206 sebelum Masehi). Tetapi prestasi Shi Huang dicatat dalam sejarah bahwa kerajaan China mampu bertahan sampai 2000 tahun kemudian :

During the Qin (Ch’in) Dynasty (221 B.C. – 206 B.C.), the emperor connected and extended the old fortification walls along the north of China that originated about 700 B.C. (over 2500 years ago), forming the Great Wall of China to stop invading barbarians from the north.

The Emperor standardized Chinese writing, bureaucracy, scholarship, law, currency, weights and measures. He expanded the Chinese empire, built a capital in Xian, a system of roads, and massive fortifications and palaces.

Shi Huangdi (259-210 B.C.) was a cruel ruler who readily killed or banished those who opposed him or his ideas. He is notorious for burning virtually all the books that remained from previous regimes. He even banned scholarly discussions of the past.

The Qin dynasty ended soon after his death, but a unified China remained for over 2,000 years. China’s name is derived from his short but seminal dynasty, Qin (pronounced Chin).

In 1974, thousands of life-sized terra cotta warriors and horses from the Emperor’s extravagant tomb were unearthed in Xian.” (www.enchantedlearning.com).

Tampak Siring, 14 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: