RSS

Monthly Archives: December 2011

Kacang, Pisang dan Monyet

Dunia sepakbola adalah salah satu pelopor equal employee opportunity. Siapa saja boleh menjadi pesepakbola, amatir maupun profesional. Siapapun boleh bermain di negara manapun dan di klub sepakbola manapun. Tidak ada diskriminasi.

Singkat kata, sebelum ideologi, ekonomi, politik, pertahanan, keamanan, dan kebudayaan mengenal istilah borderless country, glassnost (keterbukaan) dan perestroika (perubahan) mengemuka, dunia sepakbola sudah membebaskan diri terhadap faktor apa saja yang mengganggu fairness dan fairplay.

Ironisnya, kemajuan yang sangat pesat di dunia sepakbola, sikap dan perilaku rasialis masih saja sulit dibabat habis. Sepp Blatter – Presiden FIFA – pun  “salah ngomong”, sebagaimana dikutip sebagai berikut :

FIFA president Sepp Blatter has said football does not have a problem with racism on the field and any incidents should be settled by a handshake.”

“There is no racism [on the field], but maybe there is a word or gesture that is not correct,” Blatter told CNN. “The one affected by this should say this is a game and shake hands.” (www.news.bbc.co.uk, 16 November 2011)

Di dunia sepakbola, barangkali tidak ada kasus yang lebih “hot” daripada rasialisme. Luis Suarez, pesepakbola asal Uruguay yang kini “merumput” di klub sepakbola Liverpool, merasakan bahwa dalam urusan rasialisme, siapapun tidak boleh main-main.

Suarez dituduh bersikap rasialis terhadap wing back Manchester United, Patrick Evra. Oleh Football Association, “PSSI”nya sepakbola Inggris, Suarez sudah dinyatakan bersalah. Tidak tanggung-tanggung, Suarez dihukum tidak boleh bertanding selama 8 kali di English Premier League, ditambah denda sejumlah 40 ribu poundsterling, atau sekitar Rp. 559,8 juta. (www.bola.net; 24/12/2011)

Photo courtesy of http://www.sport.yahoo.com

Dalam urusan rasialisme, berlaku “dalil” you will never walk alone. Siapa saja dapat menjadi korban dan pelaku. Di antara korban sebut saja nama Roberto Carlos dan Samuel Eto’o.  Kasus yang masih “hangat” adalah tuduhan sikap rasialis yang dilakukan oleh kapten timnas sepakbola Inggris, John Terry kepada Anton Ferdinand.

Anton Ferdinand adalah adik kandung dari Rio Ferdinand, center back timnas sepakbola Inggris yang menjadi tandem John Terry. Agak aneh juga Terry yang selama ini akur-akur saja dengan Rio yang berkulit “gelap”, tiba-tiba bersikap rasialis. Memang kasus John Terry masih dalam pemeriksaan, belum tentu juga Terry tebukti bersalah.

Sikap rasialis memang bukan hal yang baru di dunia sepakbola. Sudah banyak pesepakbola yang merasakan sikap dan perilaku rasialis yang ditunjukkan oleh penonton dan supporter – terutama pihak lawan – dan bahkan oleh para pesepakbola itu sendiri.

Tidak jelas motivasi sikap rasialis. Boleh jadi karena pertandingan sepakbola yang sangat kompetitif membuat pesepakbola menjadi gampang stress dan emosional. Sikap rasialis boleh jadi karena faktor stress dan emosional, ketimbang sebagai ideologi sebagaimana Nazi.

Kemungkinan lain adalah bermaksud merusak konsentrasi lawan bertanding, atau menjatuhkan mental lawan. Dalam hal efektivitas “teror”, penghinaan dalam bentuk rasialisme termasuk ampuh untuk mengacaukan konsentrasi lawan, bahkan menjatuhkan mental lawan.

Itulah sebabnya, di negara-negara yang kompetisi dan peraturan sepakbolanya sudah sangat maju, masih ada saja sikap dan perilaku rasialis yang ditunjukkan oleh penonton, supporter, dan bahkan pesepakbola sendiri. Spanyol yang sepakbolanya menganut filosofi sepakbola indah dan menyerang, termasuk negara yang penonton dan supporternya  “garang” dalam hal rasialis.

Berbagai “modus operandi” dilakukan untuk melancarkan teror mental yang berujung pada sikap dan perilaku rasialis. Di antaranya melalui mulut, melempar buah pisang dan kacang, dan menirukan suara dan gerakan tubuh monyet.

Mulut

Tampaknya, mulut adalah medium yang paling efektif untuk menunjukkan sikap dan perilaku rasialis. Penonton, supporter, dan pesepakbola pernah menggunakan mulut sebagai medium untuk menteror pemain lawan.

Biasanya, teror penonton dan supporter melalui mulut tidak terlalu mempan untuk menjatuhkan mental pemain lawan. Tetapi jika pesepakbola yang melakukan sendiri, maka pihak lawan yang “diteror” akan kewalahan juga.

Dalam kasus Suarez dan Evra, tensi persaingan dan permusuhan  memang berpotensi tinggi dan “meledak”. Suarez sebagai penyerang dan Evra sebagai back yang menjaga Suarez, akan “menguntit” kemanapun Suarez berlari. Intinya, Suarez tidak mau dibikin repot oleh Evra agar ia dapat mencetak gol, sebaliknya Evra tidak mau dibikin repot oleh Suarez agar probabilitas gawang bobol semakin kecil.

Kedua belah pihak akan berusaha menunjukkan teknis yang tinggi untuk saling mengalahkan. Tetapi dalam keadaan teknis dan stamina yang seimbang, cara-cara yang santun seringkali tidak membuahkan hasil. Karena itu, tinggal ketahanan mental yang berperan.

Siapapun bisa tahan mental, tetapi tidak ketika dihina martabatnya. Mulut adalah medium teror yang sangat ampuh untuk menjatuhkan mental lawan. Ini berlaku di semua segi kehidupan. Mulut, bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan, tetapi juga bisa menjadi bumerang menjatuhkan diri sendiri.

Buah Pisang dan Kacang

Roberto Carlos – salah satu wing back terbaik yang pernah dimiliki timnas sepakbola Brasil – adalah jagoan “tendangan pisang”. Melalui kaki kirinya, Carlos seringkali menciptakan gol. Bola-bola mati yang ditendang oleh Carlos seringkali berjalan melayang seperti lengkungan pisang.

Tetapi Carlos – yang saat ini bermain di klub sepakbola Anzhi Makachkala, Rusia – tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan diberi pisang oleh para supporter Krylia Sovetov.  Buah pisang yang dilemparkan atau sekedar ditunjukkan kepada seorang pesepakbola adalah perlambang penghinaan, terutama menunjukkan sikap rasialis.

Buah pisang dan kacang adalah “buah haram” di dunia sepakbola. Melemparkan buah pisang atau kacang kepada pesepakbola, baik pada saat pertandingan sedang berlangsung atau sudah berakhir, merepresentasikan penghinaan. Menurut statuta FIFA, tindakan itu melukai rasa keadilan.

Mengapa pisang dan kacang dianggap sebagai penghinaan dan menunjukkan sikap dan perilaku rasialis?. Pisang dan kacang adalah makanan “favorit” monyet. Mengejek pesepakbola dengan pisang dan kacang sama saja menghina pesepakbola yang bersangkutan tidak lebih dari monyet.

Photo courtesy of http://www.sport812.ru

Suara dan Gerakan Tubuh Monyet

Salah seorang pesepakbola yang seringkali diejek oleh penonton dan supporter dengan gerakan tubuh monyet adalah pesepakbola asal Kamerun, Samuel Eto’o. Sosok Eto’o sendiri rada-rada kontroversial. Eto’o adalah sedikit di antara pesepakbola yang pindah ke klub sepakbola yang menjadi musuh bebuyutan, dari FC Real Madrid ke FC Barcelona (hal yang juga dilakukan oleh Ronaldo dan Luis Figo, dari FC Barcelona ke FC Real Madrid).

Tetapi Eto’o dihina lebih disebabkan oleh wana kulitnya. Berbagai cara dilakukan oleh penonton dan supporter lawan untuk menghina Eto’o, baik dengan mulut, melempar buah pisang dan kacang, menirukan suara dan gerakan tubuh monyet.

Sadar bahwa dirinya adalah public figure yang menjadi sasaran rasialis, Eto’o justru membalasnya dengan sikap yang sama kepada penonton dan supporter lawan. Salah satunya adalah ia tunjukkan ketika FC Barcelona melawan Real Zaragoza sebagai berikut :

Cameroon striker Samuel Eto’o Fils danced like a monkey to celebrate his goal in response to racist abuse he received in Barcelona’s 4-1 win over Zaragoza on Saturday.

Eto’o, who notched his 17th goal of the season, was greeted by monkey chants when he touched the ball at Zaragoza’s Romareda stadium.

Peanuts were also thrown on to the pitch after he scored. “I danced like a monkey because they treated me like a monkey,” said the Barcelona striker. (www.news.bbc.co.uk, 6 May 2005).

Penerapan EEO di Perusahaan

Secara legal formal, Equal Employment Opportunity sudah selesai. Para pekerja, dan bahkan para pencari kerja, dari negara-negara yang telah meratifikasi konvensi ILO tentang EEO boleh tersenyum. Artinya, tidak ada lagi diskriminasi dalam bentuk apapun di negara-negara yang telah meratifikasi EEO.

Di Indonesia, ketentuan tentang EEO dimuat dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, Pasal 5 dan Pasal 6,  yang berbunyi sebagai berikut :

•   Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (Pasal 5).

•   Setiap pekerja / buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. (Pasal 6).

Bagaimana praktek sesungguhnya? Secara umum baik, artinya sebagian besar perusahaan berusaha memberikan kesempatan yang sama dan perlakuan yang sama kepada para pekerja dan angkatan kerja. Tetapi, sebagaimana umumnya penegakan hukum di Indonesia, kelemahan mendasar adalah pada konsistensi dan law enforcement. Harap maklum.

Negeri Paman Sam yang memposisikan diri sebagai “kiblat” dan “guru besar” di bidang demokrasi, sejatinya bukan teladan yang baik dalam hal penghapusan diskriminasi. Butuh waktu lebih dari 200 tahun agar orang seperti Obama dapat menjadi seorang presiden. Tentu saja, keberhasilan Obama menjadi presiden AS, tidak serta merta berarti tidak ada lagi diskriminasi di negeri Paman Sam.

Dr. Martin Luther King, Jr. sampai harus mengorbankan nyawanya demi demokrasi di negeri yang mengaku cinta demokrasi. Nelson Mandela harus mendekam di penjara selama kurang lebih 27 tahun untuk memperjuangkan penghapusan apartheid di Afrika Selatan. Perjuangan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dan perlakuan yang sama memang tidak semudah membalik tangan.

Tampak Siring, 25 Desember 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Selasar

 

“You’ve got to find what you love” Job’s say

This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it’s likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down – that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.

This was the closest I’ve been to facing death, and I hope it’s the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960’s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: “Stay Hungry. Stay Foolish.” It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

Source : Stanford Report, June 14, 2005 (www.news.stanford.edu)

 

Manajemen Talenta di Klub Sepakbola

Dengan menggunakan sudut pandang manajemen talenta, saya respek terhadap  tiga klub sepakbola profesional di Eropa, yaitu Ajax Amsterdam, FC Arsenal (Inggris) yang menjadi klub kebanggaan keluarga kerajaan Inggris, dan FC Barcelona yang menjadi kebanggaan masyarakat Catalan.

Dalam konteks manajemen talenta, saya tidak pernah hormat kepada beberapa klub sepakbola yang tidak membangun tradisi dan proses yang benar dalam menjalankan manajemen talenta, antara lain FC Manchester City dan FC Real Madrid. Pendapat subyektif saya, pelatih seperti Roberto Mancini dan Jose Mourinho adalah orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan dan rasa hormat kepada proses dan hasil manajemen talenta. Mancini dan Mourinho adalah orang yang lebih percaya kepada kekuasaan uang daripada “sustainable achievement” yang dicapai melalui fondasi bernama manajemen talenta.

Secara umum, manajemen talenta dapat didefinisikan sebagai proses “identification, development, engagement/retention, deployment of ‘talent’ within a specific organizational context.”(CIPD, 2006 : 2). Ketiga klub tersebut memiliki tradisi yang kuat dan proses yang konsisten menjalankan manajemen talenta.


Manajemen Talenta di Klub-Klub Sepakbola Profesional.

Di era tahun 2000-an sampai saat ini, prestasi Ajax Amsterdam memang sedang “melempem”. Meskipun pernah menjadi juara Piala Champion tiga kali berturut-turut 1971-1973 dan terakhir tahun 1995, di era sepakbola profesional yang sudah dikuasai oleh para kapitalis dan menjadikan uang menjadi raja, Ajax kalah bersaing dengan klub lain di tingkat Eropa.

Tetapi di tingkat lokal, Ajax – bersama-sama dengan Feyenoord dan PSV Eindhoven – secara bergantian menjadi “raja” Eredivisie (liga sepakbola divisi utama di Belanda). Bahkan, secara tradisi, para pesepakbola nasional Belanda adalah alumni dari Ajax. Sebut saja nama-nama Johann Cruyff, Edwin van der Sar, Marco van Basten, Dennis Bergkamp dan Wesley Schneider.

Sejatinya, para pesepakbola profesional yang saat ini “merumput” di berbagai klub sepakbola profesional di berbagai negara Eropa, mereka adalah juga alumni dari Ajax. Sebut saja nama-nama seperti Luiz Suarez (saat ini bermain di FC Liverpool), Nigel de Jong (saat ini bermain di FC Manchester City). Bahkan, tiga di antara 4 back yang saat ini memperkuat kesebelasan nasional Belgia adalah dididikan akademi sepakbola Ajax (Thomas Vermeulen, Jan Vertonghen, dan Toby Alderweireld).

FC Arsenal adalah juga salah satu klub sepakbola memiliki tradisi dan proses manajemen talenta yang akuntabel. Meskipun tidak pernah menjadi juara liga Champion, Arsenal (bersama dengan FC Real Madrid dan FC Manchester United) adalah klub yang selama 15 tahun terakhir selalu bermain di level liga Champion. Prestasi yang tidak mampu diraih oleh FC Barcelona sekalipun. Prestasi tersebut menjadi fenomenal karena “tulang punggung” yang membela Arsenal di Liga Champion berusia relatif muda (22-24 tahun), termuda dalam sejarah penyelenggaraan kejuaraan liga Champion.

Photo courtesy of http://www.arsenalpics.com

Di tingkat lokal Inggris, sudah 6 tahun terakhir Arsenal tidak mampu merebut gelar apapun. Tetapi kalau ada klub yang konsisten “bertengger” di the big four, Arsenal adalah salah satunya. Meskipun sudah 6 tahun pelatih Arsene Wenger tidak mempersembahkan gelar, kinerja dan prestasi Wenger tetap diakui dan dihormati oleh para pelatih dan pesepakbola.

“Tangan dingin” Wenger telah mengubah Arsenal menjadi klub sepakbola Inggris yang layak menjadi tuntunan dan tontonan permainan sepakbola yang indah dan menyerang, menggantikan gaya bermain kick and rush yang “bikin mual” dan dimainkan oleh klub-klub sepakbola Inggris pada umumnya. Kepercayaan Wenger pada para pesepakbola muda, kesabaran dan ketekunannya membina mereka menjadi pesepakbola yang sangat kompeten, seakan “menampar” Roberto Manchini dan Manchester City yang lebih suka membeli pemain yang sudah jadi.

Duet antara pelatih Arsene Wenger dan Steve Rowley (kepala pemandu bakat Arsenal) terbukti berhasil membuahkan beberapa pesepakbola yang kompeten. Wenger dan Rowley adalah “arsitek” yang “membidani” kelahiran beberapa pesepakbola seperti Cecs Fabregas, Samir Nasri, Emmanuel Adebayor, Gael Clichy. Tidak heran kalau kemudian Arsenal menjadi benchmark bagi pembinaan pesepakbola. Tidak heran juga kalau kemudian Arsene Wenger “didapuk” (baca : ditunjuk) menjadi pelatih kepala dari The Champs, yaitu program pembinaan pesepakbola usia muda dari negara-negara di Asia dan Afrika.

Bagaimana dengan akademi sepakbola milik FC Barcelona?. La Masia saat ini menjadi salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia. Hampir semua pesepakbola yang saat ini menjadi tim inti FC Barcelona dan timnas Spanyol, mereka adalah hasil dididikan akademi sepakbola La Masia, seperti yang dikatakan oleh Rosell sebagai berikut :

Barcelona president Sandro Rosell believes the Catalans develop the best players in the world at their youth academy. Players such as Xavi, Andres Iniesta, Sergio Busquets and Carles Puyol all came through the ranks of La Masia, and Rosell has made it clear that the Camp Nou club have made a deliberate choice to invest in the development of home-grown talent.”

Photo courtesy of Pat Crerand

Secara umum, tidak ada perbedaan signifikan antara La Masia dengan akademi sepakbola yang dikelola oleh klub-klub sepakbola profesional. Dana yang dibutuhkan untuk membina talenta muda juga tidak terlalu mahal, paling tidak jika dibandingkan dengan harga transfer Fernando Torres dari  Liverpool ke Chelsea.

Pertanyaannya : Lalu mengapa klub-klub besar Eropa lain tidak meniru model La Masia, yang hanya memakan biaya sekitar seperlima dari uang transfer £50 juta bagi Fernando Torres yang dibayar Chelsea ke Liverpool? Albert Puig (Koordinator Akadami Sepakbola La Masia) menjelaskan sebagai berikut :

“Klub lain seperti Real Madrid memiliki satu sistem akademi yang bagus juga, bedanya mereka tidak mempergunakan pemain lulusan akademinya,” tambah Puig. “Jadi sebenarnya pendidikan para pemain itu belum selesai. Sedangkan kami menyatukan para pemain berbakat kami ke tim inti secara rutin. Jadi itu sama dengan membuat satu Ferrari tetapi tidak pernah dipakai.” (www.bbc.co.uk)

Manajemen Talenta di Perusahaan Swasta.

Dibandingkan dengan tradisi dan proses manajemen talenta di klub-klub sepakbola profesional, boleh di bilang perusahaan-perusahaan swasta di dunia, apalagi di Indonesia, telat menjalankan manajemen talenta.

Istilah manajemen talenta baru mengemuka setelah McKinsey mencetuskan gagasan “the war for talent” pada tahun 1997. Sebelumnya, para akademisi dan praktisi di bidang sumber daya manusia lebih suka “mengobok-obok” manajemen sumber daya manusia melalui pendekatan psikologi dan kemudian berbasis kompetensi.

Kecuali “telat”, mungkin juga tidak semua perusahaan swasta di Indonesia menjalankan manajemen talenta. Kalaupun ada perusahaan-perusahaan swasta nasional besar yang menjalankan manajemen talenta, mereka yang masuk dalam kategori “best practices” bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan.

Bagi sebagian besar perusahaan, manajemen talenta lebih dipandang sebagai cost center daripada investasi. Meskipun semua pemimpin perusahaan yakin dan (terlalu gampang) berikrar bahwa karyawan adalah asset yang sangat penting bagi perusahaan, tidak mudah menemukan perusahaan-perusahaan yang menjalankan manajemen talenta.

Pendanaan mungkin merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan untuk melaksanakan manajemen talenta. Tetapi sejatinya, pendanaan bukan menjadi faktor yang menjadi penghambat manajemen talenta. Keadaan yang sesungguhnya terjadi adalah para pimpinan perusahaan tidak memiliki passion, kesabaran dan ketekunan untuk menjalankan manajemen talenta.

Saya masih ingat bagaimana sebagian pimpinan perusahaan malah bersikap sinis terhadap program management trainee yang digagas oleh pemegang saham. Para pimpinan perusahaan lebih percaya kepada tenaga kerja yang siap pakai dan berasal dari sumber eksternal perusahaan. Meskipun sempat mengalami “pasang surut”, pada akhirnya terbukti bahwa para karyawan yang dibina sendiri jauh lebih dapat dipercaya untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan.

Mengingat bahwa proses manajemen talenta tidak segera membuahkan hasil, maka diperlukan daya tahan dalam jangka waktu relatif lama. Daya tahan yang diperlukan tidak hanya dalam pendanaan, melainkan terutama dalam hal passion, kesabaran dan ketekunan menjalankan manajemen talenta.

“Passion”, Sabar dan Tekun.

Sebagaimana klub sepakbola profesional lainnya, FC Real Madrid juga memiliki akademi sepakbola. Dengan brandname yang sangat kuat dan didukung oleh prestasi yang telah diraih, tidak terlalu sulit bagi Real Madrid untuk mengumpulkan dana dari para sponsor. Jadi, sejatinya pendanaan bukan problem utama bagi Real Madrid untuk menjalankan manajemen talenta.

Masalahnya, Florentino Perez (presiden Real Madrid) dan pelatih Jose Mourinho adalah orang-orang yang lebih memuja dan mendahulukan pendekatan hasil ketimbang pendekatan proses. Di era kepemimpinannya, Perez adalah orang yang “berhasil” mendatangkan pesepakbola “papan atas” seperti Zinedine Zidane, Ronaldo Luis Nazario De Lima, Roberto Carlos, Luis Figo, David Beckham, Kaka, dan Christiano Ronaldo.

Sembari “membuang” beberapa pesepakbola yang telah dibeli Real Madrid dengan harga mahal, Mourinho “dimanjakan” dengan pembelian beberapa pesepakbola yang dibeli dengan harga transfer relatif mahal, antara lain Angel Di Maria, Mezut Oezil, Shami Khedira, Fabio Coentrao. Praktis – setelah menjual Icon Real Madrid Raul Gonzales – tinggal kiper Iker Casilas saja yang asli didikan akademi sepakbola Madrid yang saat ini memperkuat tim utama.

Meskipun sudah memiliki penyerang dan winger hebat (Higuain, Benzema, Maria dan C. Ronaldo), Perez dan Mourinho masih “kepincut” bintang muda timnas Brasil, yaitu Neymar. Setelah kalah dalam duel el clasico melawan FC Barcelona tanggal 10 Desember 2011 yang lalu, Real Madrid tertarik untuk mendatangkan Edison Cavani (pesepakbola asal Uruguay yang saat ini “bersinar” di klub Napoli, Italia) untuk menambah “daya gedor” Real Madrid.

Photo courtesy of http://www.telegraph.co.uk

Perez dan Mourinho tidak hanya “serakah” memburu pesepakbola yang sudah jadi demi gelar juara di liga Spanyol maupun liga Champion. Perez dan Mourinho bukan hanya tidak memiliki passion, kesabaran dan ketekunan untuk melaksanakan manajemen talenta, tetapi memang tidak percaya kepada proses dan hasil dari manajemen talenta.

Perez dan Mourinho tidak hanya tidak percaya kepada para pesepakbola muda hasil didikan akademi sepakbola Real Madrid, melainkan menutup kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang di tim utama Real Madrid. Seperti kata Puig, Perez dan Mourinho terlalu sering “membuat atau membeli Ferrari, tetapi kemudian tidak memakainya”.

Tampak Siring,  11 Desember 2011

 
Comments Off on Manajemen Talenta di Klub Sepakbola

Posted by on December 21, 2011 in Human Capital

 

Photographer or Photosopher?

Kemajuan teknologi kamera, lensa, dan piranti lunak (software) olah digital karya foto relatif sangat pesat. Khusus software pengolah foto, kemajuannya telah mencapai tingkat “tidak terduga-duga dan tidak terbayangkan”. Jika dulu ada foto seorang aktris bugil, dalam sekejap dapat dipastikan memang aktris yang bersangkutan memang tampil bugil. Saat ini, jika ada foto seorang aktris bugil, perlu bantuan seorang yang “ahli membaca foto” untuk memastikan apakah karya foto tersebut asli atau rekayasa.

Melalui berbagai software pengolah foto, apa yang dahulu mustahil dilakukan, saat ini menjadi serba mungkin dilakukan. Dalam sebuah foto produk komersial kosmetik misalnya, wajah bisa saja milik seorang model A, tetapi jari-jari tangan boleh-boleh saja milik model B. Kini juga dimungkinkan seorang model dengan wajah “berantakan” tetapi memiliki tangan halus dengan jari-jari lentik, cukup “menyewakan” tangannya saja untuk dipotret.

Tampaknya, pemanfaatan software pengolah foto tidak dapat dicegah. Sebagian tertentu fotografer “mengharamkan” pemanfaatan software pengolah foto. Bukankah fotografi adalah aktivitas to make a photograph? Dengan dalil tersebut – menurut sebagian fotografer – fotografi bukanlah teknik mengolah foto. Meminjam istilah Riza Marlon – seorang wildlife photographer – mereka yang “anti” terhadap software pengolah foto memiliki prinsip “lo bisa bayar gue, tapi lo nggak bisa beli gue”.

Photo courtesy of Afif Farisi / http://www.af-photoart.net

Di sisi lain, bidang foto fashion dan komersial yang sangat dekat dengan industri kosmetik dan kehidupan yang glamour, mengharamkan pemanfaatan software pengolah foto hampir tidak mungkin. Di dunia fotografi fashion dan komersial, penguasa sejati adalah art director. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebuah foto untuk tujuan beauty shot disebut “keren” mungkin lebih menjadi “hak veto” art director ketimbang fotografer.

Menurut pendapat subyektif saya, boleh tidaknya pemanfaatan software pengolah foto, serahkan saja kepada masing-masing fotografer. Sebab, bidang fotografi relatif sangat luas, demikian pula tujuan pemotretan sangat berbeda. Prinsip dasar yang diakui di dunia fotografi adalah tidak ada yang benar atau salah. Fotografi juga tidak mengenal halal dan haram, karena fotografi memang bukan agama. Juga tidak ada paksaan di dunia fotografi. Segala sesuatu dilihat dari konteksnya.

Meskipun demikian, ada baiknya ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu tetapi “mbok ya” jangan begitu). Jika tidak, maka siap-siaplah menghadapi kasus seperti yang dihadapi oleh perusahaan kosmetika yang memproduksi Lancome, sebagaimana dikutip di bawah ini :

Advertising Standards Authority, the ad industry watchdog in the UK, has banned an advertisement by Lancome featuring Julia Roberts for being misleading, stating that the flawless skin seen in the photo was too good to be true. Parliament member Jo Swinson first brought the ads to the authority’s attention, and later told the BBC:

‘This ruling demonstrates that the advertising regulator is acknowledging the dishonest andmisleading nature of excessive retouching. Pictures of flawless skin and super-slim bodies are all around, but they don’t reflect reality.’

This comes about a month after the American Medical Association called upon ad agencies to stop the ‘altering of photographs in a manner that could promote unrealistic expectations of appropriate body image’.” (www.petapixel.com. Jul 27, 2011)

Photo courtesy of http://www.petapixel.com

Untuk memahami mengapa software pengolah foto dimanfaatkan, perlu dipahami tiga jenis kegiatan yang umum di dunia fotografi, yaitu memotret, menyempurnakan, dan memanipulasi.

Memotret.

Konsep adalah kata kunci dalam kegiatan memotret. Dalam fotografi, konsep sebuah foto sangat penting dibandingkan hal-hal teknis peralatan fotografi dan proses pemotretan.  Sebuah karya foto yang secara teknis “berantakan”, masih bisa “dimaafkan” jika memang konsepnya lebih kuat.

Konsep juga yang membuat sebuah karya foto “sudah jadi” sebelum pemotretan dilakukan. Dengan dasar konsep yang kuat, kegiatan pemotretan seolah-olah menjadi kegiatan formal dan prosedural. Kamera, lensa dan semua alat pendukung fotografi benar-benar hanya menjadi “pelengkap penderita”  dari konsep seorang fotografer.

Secara umum, kegiatan memotret terdiri dari pra, proses memotret, dan pasca. Kegiatan pra atau persiapan merupakan kegiatan yang sangat penting sebelum pemotretan dilakukan, antara lain mencakup studi literatur dan peninjauan lapangan untuk mengetahui situasi dan kondisi aktual dari obyek pemotretan dan lingkungannya.

Seorang fotografer profesional seperti Deniek Sukarya, biasa menghabiskan waktu 1-2 hari “hanya” untuk meninjau lokasi obyek pemotretan. Dalam survey lapangan tersebut ia akan melihat segala sesuatu yang berada di lokasi tersebut, antara lain cahaya, angle, dan waktu yang terbaik untuk sesi pemotretan. Konsep divalidasi dengan situasi dan kondisi obyek pemotretan.

Dengan persiapan yang lengkap seperti itu, maka sesi pemotretan menjadi tahap eksekusi konsep. Sebuah karya foto adalah visualisasi dari konsep dan imajinasi seorang fotografer. Sebuah karya foto yang dibuat berdasarkan konsep, idealnya tidak lagi membutuhkan proses editing pasca proses pemotretan. Sebuah karya foto yang “sudah jadi” sebelum sesi pemotretan, pasca pemotretan hanya tinggal pencetakan (printing). Karena “sudah jadi”, maka sebuah karya foto tidak lagi membutuhkan editing (penyempurnaan dan manipulasi).

Menyempurnakan.

Proses menyempurnakan sebuah karya foto hampir dilakukan oleh sebagian besar fotografer, meskipun ada juga fotografer yang “mengharamkan” kegiatan menyempurnakan sebuah karya foto. Bagi fotografer yang menerima dan melakukan proses penyempurnaan sebuah karya foto, kegiatan menyempurnakan adalah kegiatan mengubah sebuah karya foto, baik “minimalis” maupun “maksimalis”. Hal-hal yang dapat disempurnakan dari sebuah karya foto antara lain warna (terang, kontras), cahaya (lebih, cukup, kurang), bingkai, crop, dan lain sebagainya.

Tentu saja ada pro dan kontra terhadap proses menyempurnakan sebuah karya foto. Menurut pendapat subyektif saya, proses menyempurnakan sebuah karya foto secara umum dapat diterima oleh sebagian besar fotografer, meskipun mungkin ada juga mereka yang mengharamkannya. Tetapi karena hasil dari proses penyempurnaan sebuah karya foto kadang-kadang membuat “terkaget-kaget”, baik klien, fotografer, maupun penikmat foto yang “membaca foto” masih bisa akur.

Memanipulasi.

Proses menanipulasi bukan sekedar mengubah eksposur, warna dan karakteristik lainnya dari sebuah foto. Dalam proses memanipulasi sebuah foto sudah ada kegiatan mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau sebaliknya, dari menghilangkan sesuatu yang ada menjadi tidak ada.

Di era olah digital, sangat terbuka kesempatan dan kemungkinan untuk  mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau sebaliknya, menghilangkan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Sebuah foto yang diambil di luar ruangan pada malam hari tanpa keberadaan bulan di langit, dengan sangat mudah dapat “disulap” menjadi sebuah foto dengan latar belakang bulan purnama. Seolah-olah, software olah digital menawarkan “palugada” : apa yang lo mau gue ada.

Dalam foto beautyshot yang fokus menampilkan wajah dari seorang model, foto yang dihasilkan harus mampu menampilkan “hidung mancung, dagu lancip, dan tulang pipi yang menonjol”. Meskipun hasil yang dituntut relatif sederhana, foto-foto beautyshot seringkali “terpaksa” tidak lagi sekedar disempurnakan, melainkan dimanipulasi. Sebagaimana sudah saya sebutkan di atas, dalam foto-foto beautyshot, pemilik wajah dan tangan tidak selalu orang yang sama.

Bagaimana Menyikapinya?.

Di dunia fotografi, kita akan sering mendengar fotografer mengatakan bahwa “di dunia fotografi tidak ada yang salah atau benar, semua tergantung dari konsepnya”. Benar atau salah, etis atau tidak etis, memang sulit untuk diperdebatkan. Perdebatan benar atau salah, etis atau tidak etis terhadap proses olah digital tidak akan pernah selesai. Selalu ada yang pro dan kontra, tergantung sudut pandang, kepentingan, dan bidang fotografi yang ditekuni setiap fotografer.

Saya pribadi tidak terlalu mau dipusingkan dengan urusan tetek bengek olah digital. Ada dua alasan, pertama bagi saya sebuah karya foto “sudah jadi” sebelum pemotretan dilakukan; kedua, proses olah digital seringkali menyita waktu dan “menyandera” orang yang melakukan olah digital.

Saya juga tidak memiliki kepentingan yang mendesak terhadap olah digital. Minat dan bidang fotografi yang saya tekuni memang tidak “mewajibkan” penggunaan olah digital. Meskipun saya fokus pada people portrait – mulai dari baby portraits, children portraits, senior / teenager portraits, couple portrait, family portraits, dan seterusnya – dan komersial, tetapi tuntutan untuk menggunakan olah digital tidak sekuat jika dibandingkan commercial photography (terutama untuk iklan, fashion, dan lain sebagainya).

Sikap dan pendapat saya tentang karya foto yang telah mengalami olah digital adalah “no comment” atau “abstain”. Saya tidak memiliki keinginan dan kepentingan untuk mengomentari karya foto yang telah mengalami proses olah digital. Adalah kebebasan setiap orang untuk  memilih menjadi photographer atau photosopher. Setiap orang punya selera, setiap orang punya pasar sendiri.

Tampak Siring, 30 November 2011

 
1 Comment

Posted by on December 16, 2011 in Photography

 

Renewable Competency

Illustration courtesy of Daniel H. Pink

It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”  – Charles Darwin.

Orang Indonesia memang  lucu-lucu, paling tidak punya bakat humor yang sangat besar. Pada saat saya mengikuti seminar tentang energi terbarukan, semua agenda yang sudah dijadualkan tidak ada yang tepat waktu.  Waktu adalah salah satu sumberdaya yang sangat penting dan tentu saja merupakan sumber daya yang tidak terbarukan. A man who dares to waste one hour of time has not discovered the value of life”, demikian kata Charles Darwin

Lucu juga orang berlomba-lomba teriak bahwa kini saatnya  kita meninggalkan energi tidak terbarukan yang semakin menipis persediaannya – dan karena itu harus bergegas beralih ke energi yang terbarukan – pada saat yang sama, orang tanpa perasaan bersalah, membuang-buang waktu yang tidak mungkin berulang.

Istilah terbarukan lazimnya memang digunakan untuk energi, tetapi saya tertarik menggunakan istilah terbarukan untuk kompetensi. Faktanya, memang ada juga kompetensi terbarukan dan kompetensi tidak terbarukan. Istilah kompetensi terbarukan dan kompetensi tidak terbarukan tidak  ditemukan dalam buku-buku tentang Manajemen Sumber Daya Manusia berbasis kompetensi. Istilah yang baku adalah soft competency, hard competency, treshold competency, differentiating competency, dan lain sebagainya.

Apa yang dimaksud dengan kompetensi? Menurut DR Parlan, “a competency can be defined as an underlying characteristic of an individual that is casually related to criterion referenced effective and/or superior performance in a job or situation”.

Ketimbang bertele-tele mengkaji definisi dan jenis-jenis kompetensi, lebih baik memahami dan menyadari bahwa kompetensi dapat menjadi usang. Mengetahui kompetensi apa saja yang dapat menjadi usang dan kapan kompetensi menjadi usang menjadi sebuah “kompetensi” yang harus dimiliki oleh setiap orang.

Dalam tulisan saya tentang employee obsolescence saya telah menjelaskan bahwa perubahan-perubahan teknologi dan proses dapat berdampak pada kompetensi SDM. Sejatinya memang bukan manusia yang usang, melainkan kompetensinya. Ada kompetensi yang bisa usang dan tidak usang, meskipun terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi proses dan pekerjaan. Kompetensi yang usang juga ada yang masih mungkin terbarukan atau tidak terbarukan.

Kompetensi bahasa Inggris misalnya, adalah kompetensi yang tidak akan pernah usang dan selalu dibutuhkan (paling tidak, selama bahasa Inggris masih menjadi bahasa komunikasi internasional). Bahkan jika kemudian bahasa Mandarin dan bahasa Jepang “naik daun” menjadi persyaratan jabatan, kompetensi bahasa Inggris tetap dibutuhkan. Kompetensi bahasa asing tidak akan hilang, meskipun tentu saja harus selalu dipraktekkan dan diperbarui.

Perkembangan teori dan best practices  di bidang ilmu manajemen (strategic, marketing, human resources, operation, finance) juga dapat membuat kompetensi di bidang manajemen harus diperbarui, meskipun kompetensi lama tidak hilang dan masih dapat diterapkan. Sebab, teori baru di bidang manajemen tidak selalu menggugurkan teori lama, melainkan untuk melengkapi berbagai teori dan pendekatan di bidang manajemen yang sudah ada.

Kompetensi yang berkaitan dengan teknologi cenderung lebih mudah usang, ada yang masih mungkin terbarukan dan ada yang tidak mungkin lagi terbarukan. Contoh klasik kompetensi usang yang tidak terbarukan adalah keterampilan teknis di bidang radio panggil yang menjadi usang dan tidak diperlukan lagi. Teknologi GSM dan CDMA telah membuat keterampilan teknis di bidang radio panggil tidak bermanfaat sama sekali  karena tidak ada lagi pabrikan yang memproduksi radio panggil. Sedangkan keterampilan teknis di bidang handy talky justru masih bertahan, meskipun teknologinya lebih “kuno” dibandingkan dengan teknologi radio panggil.

Karena keberadaan teknologi pada dasarnya adalah mendukung proses agar berjalan lebih efisien dan efektif, kehadiran teknologi baru tidak selalu menjadikan kompetensi menjadi usang. Keterampilan dasar mengetik sepuluh jari tetap dibutuhkan dan tidak akan usang, meskipun teknologi yang digunakan sudah berubah. Dalam kasus seperti ini, seorang juru ketik  dengan kemampuan mengetik sepuluh jari harus melengkapi kompetensi pengoperasian program-program aplikasi komputer.

Bahkan, kehadiran teknologi baru belum tentu membuat suatu kompetensi menjadi usang. Kompetensi di bidang fotografi misalnya, meskipun teknologi fotografi sudah berkembang pesat dan menyediakan berbagai kemungkinan yang lebih mudah, tidak dapat menggantikan kompetensi seorang fotografer handal yang mengandalkan kamera manual. Dalam hal ini, fungsi teknologi fotografi benar-benar hanya sebagai alat bantu yang jika tidak digunakan pun tidak ada pengaruh apapun terhadap kualitas foto. Seorang fotografer handal yang telah berpengalaman dapat membuat foto yang berkualitas dibandingkan dengan seorang fotografer yang menguasai teknologi fotografi terkini.

Demikian juga di bidang kuliner, meskipun teknologi memasak telah berkembang pesat, tidak bisa menghasilkan rasa yang lebih unggul dibandingkan teknologi memasak “kuno”. Orang lebih suka makan bakmi godhog yang dimasak dengan menggunakan anglo dan arang dari pada dengan kompor gas atau elektrik.

Adalah penting untuk mengetahui kompetensi  terbarukan dan tidak terbarukan. Perubahan yang semakin cepat dan kompleks mampu membuat kompetensi yang dibangga-banggakan menjadi usang. Tidak ada yang pasti, perubahan-perubahan juga mungkin membawa dampak yang tidak pernah terpikirkan dan terduga. Sebuah kompetensi yang saat ini disebut sebagai kompetensi terbarukan  boleh jadi menjadi kompetensi tidak terbarukan di masa yang akan datang.

Tampak Siring,  1 Desember 2011

 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2011 in Human Capital

 

Uang dan Prestasi

Apakah ada korelasi dan pengaruh antara uang dengan prestasi sebuah klub sepakbola profesional? Apakah ada korelasi dan pengaruh antara uang dengan prestasi seorang pesepakbola profesional? Apakah ada korelasi dan pengaruh antara keberhasilan sebuah klub sepakbola profesional untuk merekrut dan mempertahankan pesepakbola profesional terbaik?

Secara umum, tidak terlalu sulit “ya” untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Juga tidak terlalu sulit untuk “menggelontorkan” bukti-bukti bahwa uang memang memiliki korelasi dan pengaruh terhadap prestasi sebuah klub sepakbola profesional, prestasi seorang pesepakbola profesional, dan kemampuan dan keberhasilan sebuah klub sepakbola profesional untuk merekrut dan mempertahankan pesepakbola profesonal terbaik.

Uang dan Prestasi Klub Sepakbola Profesional.

Sebut saja dua klub sepakbola profesional di Spanyol yang selalu menjadi “musuh bebuyutan” dan terlibat dalam “el clasico”, yaitu Real Madrid Club de Futbol yang menjadi kebanggaan penduduk ibukota negara Spanyol dan klub kebanggaan masyarakat Calatan FC Barcelona. Inilah dua klub yang selalu menjadi “raja” La Liga, Copa del Rey dan Copa De La Liga. Kedua klub tersebut adalah peraih terbanyak untuk ketiga kategori juara tersebut.  Prestasi kedua klub “papan atas” tersebut sangat berbeda dengan klub-klub sepakbola yang menjadi langganan “papan-bawah” dan  berkali-kali tergradasi ke tingkat kompetisi yang lebih rendah, sebagaimana data tersebut di bawah ini :

Sumber : http://www.en.wikipedia.org (diolah)

Bagaimana Real Madrid dan Barca mampu menunjukkan prestasi yang tidak dapat ditandingi oleh klub-klub lain? Tentu saja modal mereka bukan hanya mimpi dan ora et labora. Pembinaan para pemain muda dalam akademi sepakbola tentu saja menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan Real Madrid dan Barcelona. Demikian juga dengan manajemen klub yang dikelola secara profesional, turut menjadi katalisator keberhasilan Real Madrid dan Barcelona untuk menjadi yang terbaik, tidak hanya di tingkat Spanyol, melainkan di Eropa, bahkan di dunia.

Tetapi uang tidak dapat dikesampingkan dari keberhasilan Real Madrid dan Barcelona menjadi klub yang sarat prestasi di tingkat Spanyol dan Eropa sehingga disegani oleh lawan-lawan mereka. Musim kompetisi 2011/2012 Real Madrid memiliki anggaran belanja sejumlah 500 juta Euro atau setara dengan Rp. 6,155 triliun. Ironisnya, Levante yang sampai dengan tulisan ini dibuat menduduki urutan ke dua Liga BBVA Spanyol, memiliki anggaran sejumlah 21 juta Euro atau setara dengan Rp. 258,48 milyar. Anggaran belanja Levante adalah anggaran belanja paling minim dibandingkan dengan klub-klub sepakbola profesional lainnya di Spanyol. Bila dibandingkan dengan harga pembelian Cecs Fabregas sejumlah 29 juta Euro, anggaran belanja Levante jelas tidak ada seberapa.

Bagaimana dengan FC Barcelona? Musim kompetisi 2011/2012, anggaran belanja Barcelona adalah 461 juta Euro dan hanya kalah dari Real Madrid. Tetapi dengan uang yang melimpah – disertai Brandname yang kuat – Barcelona mampu merekrut Alexis Sanchez dan memaksa Cecs Fabregas untuk “pulang ke rumah”.

Untuk dapat bertahan, bersaing, dan tumbuh di era sepakbola profesional, klub-klub sepakbola profesional memang membutuhkan dana yang relatif sangat besar. Sumber pendapat konvensional seperti penjualan tiket dan merchandise tidak cukup untuk menutup biaya operasional. Itulah sebabnya, sumber pendanaan melalui sponsorship “wajib” ditelan mentah-mentah, bahkan dengan konsekuensi apapun.

Setelah 111 tahun bertahan pada prinsip tidak mau  memasang logo sponsor di kostum resmi, mulai musim kompetisi 2011/2012, untuk pertama kalinya Barcelona “takluk” dengan kemauan sponsor. Kini, di kostum resmi FC Barcelona, tidak ada lagi perbedaan dengan klub-klub sepakbola profesional lainnya. Jika sebelumnya Logo Unicef terpampang jelas di bagian depan kostum, maka kini Qatar Foundation yang mendanai Barcelona sejumlah 150 juta Euro untuk lima tahun ke depan.

Photo courtesy of David Ramos – Getty Image Europe

Uang dan Prestasi Pesepakbola Profesional.

Prestasi memang tidak selalu berkorelasi dengan uang. Kalaupun berkorelasi dengan prestasi, uang juga tidak menjadi satu-satu faktor yang mempengaruhi prestasi individual dan klub sepakbola profesional. Klub sepakbola Levante yang memiliki anggaran belanja sangat minim dan membayar gaji pemain relatif murah, toh sampai dengan pekan ke-8 klasemen Liga BBVA, mampu bertengger di atas Real Madrid dan Barcelona. Total gaji 25 pemain Levante adalah 6,25 juta Euro / pertahun. Sedangkan gaji per minggu yang diterima oleh Lionel Messi dan Christiano “CR7” Ronaldo, masing-masing adalah dua kali lipat dari pendapatan 25 pemain Levante.

Kompetesi belum berakhir, bahkan belum mencapai setengah babak kompetisi, sehingga belum dapat diketahui daya tahan Levante sampai babak akhir kompetisi. Mungkin juga tidak terlalu gegabah untuk menyimpulkan sementara bahwa pencapaian Levante adalah sebuah pengecualian atau “kelainan” di era sepakbola profesional yang membutuhkan dana operasional yang relatif sangat besar.

Secara individual, seorang pesepakbola menjadi mahal dalam hal harga transfer dan gaji, justru setelah menunjukkan kinerja luar biasa secara berkesinambungan. Sebut saja misalnya CR7 yang diboyong dari Manchester United oleh Real Madrid dengan rekor harga transfer termahal (80 juta poundsterling atau 93 juta euro atau Rp. 1,3 triliun) dan menerima gaji pada musim kompetisi 2010/2011 sejumlah 12 juta Euro per tahun, atau sekitar Rp. 230 milyar per pekan.

Meskipun menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan, seorang pesepakbola tetap dibayar mahal. Fernando Torres yang bermain untuk FC Chelsea tetap menerima gaji sebesar 10 juta Euro per tahun atau sekitar 192 milyar per pekan. Padahal, sebagai penyerang, produktivitas gol Torres boleh dibilang “mandul”, bahkan jika dibanding dengan Frank Lampard yang bermain di posisi gelandang. Jadi, dalam konteks pesepakbola secara individual, harga transfer dan gaji tidak selalu berkorelasi positif terhadap kinerja. Gaji pesepakbola asal Jerman yang bermain di klub-klub sepakbola profesional Jerman juga tergolong di bawah rata-rata gaji pesepakbola yang bermain di Liga Inggris dan Liga Spanyol. Meskipun demikian, prestasi mereka saat membela negara, bisa jadi melebihi prestasi pesepakbola yang dibayar jauh lebih mahal.

Uang, Recruitment dan Engagement.

Uang sudah pasti berkorelasi dengan kemampuan sebuah klub sepakbola untuk merekrut pemain bintang. Demikian juga uang adalah faktor yang sangat penting bagi sebuah klub untuk mempertahankan para pemain bintang mereka agar tidak dibajak oleh klub-klub lain yang berminat.

Tidak ada yang menyangkal bahwa keberhasilan FC Manchester City (“The Citizens”) merekrut pemain bintang (antara lain David Silva, Edin Dzeko, Sergio “Kun” Aguero, Samir Nasri, dlsb) 100 % karena faktor uang. Dengan dana yang melimpah yang digelontorkan oleh Seikh Mansour, The Citizens mampu membeli pemain dengan harga transfer jauh melebih klub manapun. The Citizens juga tidak pernah kekurangan dana untuk membayar pemain dengan bayaran gaji relatif tinggi dibandingkan klub lainnya. Bahkan, The Citizens juga mampu membayar gaji pesepakbola yang “duduk manis” di bangku cadangan (Carlos Teves yang bergaji Rp.  250 ribu poundsterling per minggu), atau bahkan pesepakbola yang dipinjamkan ke klub lain (Adebayor yang dipinjamkan ke Tottenham Hotspur, bergaji Rp. 160 ribu poundsterling  per minggu).

Singkat kata, dengan menfaatkan dana yang melimpah, The Citizens mampu “merusak” tatanan harga transfer dan gaji pesepakbola. Sebagian pesepakbola tertentu,  lebih silau dan tertarik kepada uang daripada brandname klub. Kini, tidak ada lagi yang melirik “sebelah mata” The Citizens. Kini, tidak ada lagi pesepakbola yang “malu” bermain untuk The Citizens. Itulah sebabnya, “kiblat” sepakbola di Inggris tidak lagi Manchester United, melainkan perlahan tetapi pasti beralih ke Manchester City, sungguhpun prestasi kedua klub tersebut seperti langit dan bumi.

Bagaimana dengan kemampuan keuangan sebuah klub dengan kemampuannya mempertahankan pemain bintang?. Pengalaman klub Arsenal Inggris yang musim panas lalu terpaksa melego sang kapten Cecs Fabregas dan gelandang serang Samir Nasri semakin menegaskan kekuasaan uang terhadap engagement. Fabregas pindah klub memang bukan faktor uang, tetapi  “kembali ke rumah” Barcelona yang telah mendidiknya di akademi sepakbola milik Barcelona La Masia. Tetapi Nasri yang “hanya” digaji 60 ribu poundsterling per minggu di Arsenal dan pindah ke The Citizens menerima 180 ribu poundsterling, sulit untuk tidak disebut karena faktor uang.

Pernyataan Arsene Wenger  berikut ini menjelaskan secara gamblang bagaimana hubungan dan pengaruh uang terhadap “engagement” :

“Jika Anda membandingkan apa yang telah dimenangi oleh City dan Arsenal, mereka tidak pergi ke City untuk gelar juara. Mereka pindah karena City membayar lebih besar daripada Arsenal,” ujar Wenger pada stasiun radio Prancis RTL yang dikutip Guardian.

“Mereka memiliki dukungan finansial yang kuat. Apa yang telah mereka lakukan di bursa transfer tidaklah mengherankan,” sambung sang “Profesor”.

“Selalu ada logika finansial di balik kesuksesan sebuah klub di liga manapun. Paris Saint-Germain contohnya. Mereka punya uang lebih banyak dibanding klub-klub lain di Prancis dan mereka berada di puncak klasemen.”

“Kalau Barcelona atau Real Madrid membayar tiga kali lebih rendah daripada Malaga, pemain-pemain akan pergi ke Malaga. Selalu begitu. Sesederhana itulah logikanya. Ketika pemain dihadapkan pada pilihan di antara dua klub yang punya ambisi sama, jika dia bisa mendapat bayaran tiga kali lebih besar, dia akan pindah ke klub itu. Ini hal yang wajar,” simpul Wenger.

Tentu saja, tidak semua pesepakbola berterus terang alasan pindah klub. Kalaupun uang bukan faktor utama, di era sepakbola profesional dan klub-klub sepakbola profesional sudah menjadi rebutan para investor, sulit menemukan pesepakbola yang setia kepada satu klub untuk jangka waktu relatif lama (lebih dari 15 tahun), antara lain Zavier Zanetti yang bermain di Inter Milan, Paolo Maldini yang bermain AC Milan, dan Alexandro Del Piero yang mengabdi untuk Juventus.

Gaji dan Employee Engagement.

Bagaimana dengan hubungan dan pengaruh uang (baca : gaji dan fasilitas) dengan kemampuan perusahaan untuk menarik, mempekerjakan dan mempertahankan pekerja bertalenta super? Tentu saja ada hubungan dan pengaruh antara gaji dan fasilitas terhadap kemampuan sebuah perusahaan untuk menarik, mempekerjakan,  mempertahankan karyawan bertalenta super.

Meskipun demikian, hubungan dan pengaruh uang terhadap talent management tidak sesederhana dan se “vulgar” di klub-klub sepakbola profesional. Ada banyak faktor-faktor non-finansial yang mampu membuat betah karyawan bertalenta super memiliki engagement yang kuat terhadap perusahaan.

Tampak Siring, 30 Oktober 2011.

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2011 in Human Capital

 

Filosofi Sepakbola Johann Cruyff


Ada sebuah peribahasa dalam bahasa Jawa yang sering menjadi bahan “olok-olok” orang, yaitu ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu tetapi ya jangan begitu). Bagi sebagian orang, peribahasa ini lebih dipandang “lucu” daripada sarat makna.

Padahal, peribahasa ini menegaskan sebuah filosofi kehidupan, bahwa cara sama pentingnya dengan substansi. Dalam peribahasa ini bahkan substansi diwakili oleh dua ngono (yang pertama dan kedua disebut), dan cara hanya diwakili oleh satu ngono (yang disebutkan terakhir).

Apapun hasil yang diraih, tetapi kalau tidak disertai dengan niat yang bersih dan proses yang akuntable, tetap saja tidak baik. Hakikinya, filosofi yang mendasari good corporate governance, corporate social responsibility, dan corporate sustainability management adalah cara-cara (baca : proses bisnis) apapun yang digunakan untuk mencapai hasil (baca : value), cara-cara tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) dan Tuhan Yang Mahakuasa.

Kasun Enron dan Arthur Andersen yang “kongkalikong” dan Lehman Brothers sudah cukup menjelaskan bahwa cara-cara untuk menjalankan sebuah bisnis harus dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu, dibutuhkan sebuah filosofi, kultur perusahaan, nilai-nilai perusahaan,  atau apalah namanya, yang dapat menjadi pedoman manusia bersikap dan berperilaku dalam menjalankan bisnis.

Apakah sebuah kemenangan dalam pertandingan sepakbola penting? Apakah prediket sebagai juara penting? Jika pertanyaan seperti ini disampaikan kepada Jose Mourinho, sudah pasti jawabannya adalah “ya”. Mourinho adalah pelatih “hebat” yang selalu mempersembahkan gelar juara, di mana pun ia melatih. Tetapi jika pertanyaan itu ditujukan kepada Arsene Wenger, Joseph “Pep” Guardiola, dan Johan Cruyff, jawabannya bisa “ya” dan bisa “tidak”.

Mourinho adalah pelatih yang memiliki orientasi pada hasil, cerdas memformulasikan strategi, trengginas dan tuntas mengimplementasikan strategi. Setiap melatih klub sepakbola profesional di negara manapun, Mourinho selalu berhasil mempersembahkan juara liga (kecuali di Real Madrid ia belum berhasil memberikan gelar juara liga Spanyol). Sayang sekali Mourinho tidak memiliki filosofi dan gaya bermain sepakbola. Meskipun Real Madrid telah “inflasi” bintang, terutama di sektor gelandang, Mourinho masih juga “manja” minta dibelikan pemain.

Mourinho hanya mau menggunakan pemain yang siap pakai, sesuai dengan strateginya, dan terutama sesuai dengan “selera”nya. Seorang pemain hebat (tolok ukurnya adalah nilai transfer yang harus dibayar Real Madrid ketika memboyong pemain yang bersangkutan) tetap saja “berlumuran dosa” atau minimal “cacat” menurut sudut pandang Mourinho. Itulah sebabnya Mourinho kurang respek terhadap beberapa pemain seperti Karim Benzema, Lassana Diara, Rafael van der Vaart.

Kalau ada pelatih yang luar biasa sibuk pada saat musim transfer, pasti Mourinho orangnya. Kalau ada orang yang “menghalang-halangi” kemauannya untuk membeli pemain, Mourinho tidak segan-segan untuk “bertengkar” dengan orang tersebut. Itulah sebabnya, seorang Jorge Valdano yang cukup berjasa kepada Real Madrid pun harus dieliminasi agar semua kemauan Mourinho terpenuhi.

Di “kubu” lain, ada pelatih sepakbola yang berusaha “mengawinkan” antara hasil dan proses. Wenger, Guardiola, dan Cruyff tentu saja menginginkan gelar juara.  Bukankah (salah satu) key performance indicator seorang pelatih adalah keberhasilan mengantarkan kesebelasannya menjadi juara di kompetisi liga negara yang bersangkutan maupun di tingkat Eropa. Tidak semua sukses, kecuali Guardiola yang berhasil “mengawinkan” antara filosofi permainan sepakbola, gaya bermain indah, dan juara.

Tetapi seberapa penting sebenarnya fisolofi sepakbola bagi sebuah klub sepakbola, pemilik klub, pelatih, pesepakbola, dan “bobotoh” (baca :  pendukung) sebuah klub? Tidak banyak yang mampu menjelaskan betapa pentingnya sebuah filosofi bagi sepakbola. Salah satu di antara mereka adalah legenda timnas sepakbola Belanda, Johann Cruyff. FC Barcelona yang menganggap dirinya lebih dari sekedar klub, seakan-akan menemukan “jodoh” dengan Cruyff yang berprinsip bahwa filosofi sepakbola adalah penting. Bagaimanakah filosofi sepakbola yang dimaksud oleh Cruyff?  Kutipan berikut menjelaskan apa yang dimaksud dengan filosofi sepakbola oleh Cruyff (www.bola.kompas.com, 29 Mei 2011) :

“Kalah atau menang bukan hal serius dalam filosofi sepak bola Barcelona. Apa pun hasil partai final Liga Champions—menang atau kalah—di Wembley, Minggu (29/5) dini hari WIB tadi, Barcelona merasa sukses jika gaya permainan mereka terus dikenang hingga 15 tahun ke depan.”

”Jika 5, 10, dan 15 tahun ke depan orang masih ingat pada gaya permainan yang kami peragakan saat ini, itu sukses yang sangat besar bagi kami,” kata Pep Guardiola, Pelatih Barcelona, seperti dikutip situs UEFA dalam jumpa pers, Jumat (27/5).

”Cara bermain kami tahun ini telah membuat orang gembira. Saya tidak berpikir hal itu akan berubah, baik apakah kami menang maupun kalah melawan United,” tutur Guardiola, sosok sentral bagi kesuksesan Barcelona dalam dua dekade terakhir.”

 

Guru spiritual Cruyff

“Semangat untuk tidak terpaku pada hasil kalah-menang itu tak lepas dari mahaguru spiritual Barcelona, Johan Cruyff. Seperti dikutip Times, legenda sepak bola Belanda itu menyebutkan, kesuksesan merebut trofi juara merupakan hal yang fantastis. Akan tetapi, jika sukses tersebut tidak tercapai, itu bukan sesuatu yang harus diratapi.

”Juara adalah salah satu hal, hal yang penting. Namun, tampil dengan gaya Anda sendiri membuat orang meniru dan mengagumi Anda. Itu anugerah yang paling besar,” tutur Cruyff.

Photo courtesy of M.J. Kim / Getty Image

Ia memaparkan pengalamannya sendiri. Cruyff mengungkapkan, sampai hari ini banyak orang masih memberi selamat kepada dirinya atas gaya permainan yang diperagakan timnya, Belanda, meski kalah di final Piala Dunia 1974. ”Kami kalah di final dan itu promosi terbesar yang kami peroleh,” ujar Cruyff.

”Menjadi juara itu hanya satu hari. Sebuah reputasi dapat dikenang sepanjang hidup. Anda saksikan, nama Barcelona telah menyebar di seluruh dunia,” ucapnya. Cruyff ingin mendidik masyarakat lewat sepak bola, seperti dilakukan di Barcelona.”

Apakah Filosofi Sepakbola Perlu?

Olahraga adalah olahraga, dan sepak bola adalah sepakbola. Bagi sebagian orang, menghubung-hubungkan olahraga dengan hal-hal di luar olahraga adalah “ngawur”.  Tetapi, suka atau tidak suka, olahraga dan sepakbola memang selalu dihubung-hubungkan dengan segala sesuatu di luar olahraga dan sepakbola.

Mengaitkan antara olahraga dengan politik misalnya, bukan hal yang tabu dan baru. Konstelasi politik saat ini memang sudah sangat berbeda dibandingkan saat dunia masih ditandai oleh permusuhan antara dua negara superpower. Saat itu, boikot terhadap penyelenggaraan olimpiade adalah hal yang lumrah.

Meskipun saat ini sudah jauh berubah, tetapi mencampuradukkan politik dan olahraga tetap saja tidak hilang. Itulah sebabnya, pesepakbola Yosef Shai “Yossi” Benayoun yang berasal dari Israel menjadi “bulan-bulanan” oleh penonton Malaysia ketika tampil dalam pertandingan persahabatan timnas Malaysia dan Chelsea.

Sejatinya, di dunia yang sudah kepalang basah dikuasai oleh ideologi kapitalisme, olahraga pada umumnya dan sepakbola pada khususnya sudah tidak merdeka lagi. FC Chelsea dan FC Manchester City, uang lebih berkuasa daripada nilai-nilai sepakbola. Manchester United sungguh beruntung memiliki pelatih seperti Sir Alex Ferguson. Meskipun saham-saham MU mayorita dimiliki oleh keluarga Glazer, tetapi si pemilik tidak dapat semena-mena mengelola MU semata-mata dari aspek bisnis.

Ketika David Beckham pindah dari Man. United ke klub Real Madrid, persoalan transfer pesepakbola yang pada umumnya hal yang sangat mudah dan sederhana diselesaikan, menjadi rumit karena urusan sponsor. Saat itu, Nike adalah sponsor Man. United, sedangkan kubu Real Madrid mendapat sponsor dari Adidas. David Beckham sendiri telah menjadi “global sport icon” adalah salah seorang “pelopor” pesepakbola yang memiliki personal sponsorship.

Barangkali, hanya FC Barcelona yang seratus persen mengatur pemilik dana. FCB adalah satu-satunya klub sepakbola yang bersedia menerima sumbangan dana, tetapi tidak bersedia mencantumkan nama atau logo sponsor di kaos tim. Barcelona justru memasang logo dan nama Unicef yang justru tidak memberikan sumbangan dana kepada Barcelona.

“Idealisme” FC Barcelona pun akhirnya tumbang. Setelah bertahan 111 tidak bersedia memasang logo sponsor di bagian depan kostum, akhirnya di musim kompetisi 2011/2012 FC Barcelona “terpaksa” memasang logo Qatar Foundation. There is no free lunch. Kebutuhan dana yang relatif besar untuk selalu bertahan dan bersaing di level tertinggi kompetisi sepakbola profesional, mampu “menjebol” keyakinan diri FC Barcelona untuk mempertahankan nilai-nilai yang selama ini dipertahankannya.

Tampak Siring, 29 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on December 1, 2011 in Management