RSS

Filosofi Sepakbola Johann Cruyff

01 Dec


Ada sebuah peribahasa dalam bahasa Jawa yang sering menjadi bahan “olok-olok” orang, yaitu ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu tetapi ya jangan begitu). Bagi sebagian orang, peribahasa ini lebih dipandang “lucu” daripada sarat makna.

Padahal, peribahasa ini menegaskan sebuah filosofi kehidupan, bahwa cara sama pentingnya dengan substansi. Dalam peribahasa ini bahkan substansi diwakili oleh dua ngono (yang pertama dan kedua disebut), dan cara hanya diwakili oleh satu ngono (yang disebutkan terakhir).

Apapun hasil yang diraih, tetapi kalau tidak disertai dengan niat yang bersih dan proses yang akuntable, tetap saja tidak baik. Hakikinya, filosofi yang mendasari good corporate governance, corporate social responsibility, dan corporate sustainability management adalah cara-cara (baca : proses bisnis) apapun yang digunakan untuk mencapai hasil (baca : value), cara-cara tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) dan Tuhan Yang Mahakuasa.

Kasun Enron dan Arthur Andersen yang “kongkalikong” dan Lehman Brothers sudah cukup menjelaskan bahwa cara-cara untuk menjalankan sebuah bisnis harus dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu, dibutuhkan sebuah filosofi, kultur perusahaan, nilai-nilai perusahaan,  atau apalah namanya, yang dapat menjadi pedoman manusia bersikap dan berperilaku dalam menjalankan bisnis.

Apakah sebuah kemenangan dalam pertandingan sepakbola penting? Apakah prediket sebagai juara penting? Jika pertanyaan seperti ini disampaikan kepada Jose Mourinho, sudah pasti jawabannya adalah “ya”. Mourinho adalah pelatih “hebat” yang selalu mempersembahkan gelar juara, di mana pun ia melatih. Tetapi jika pertanyaan itu ditujukan kepada Arsene Wenger, Joseph “Pep” Guardiola, dan Johan Cruyff, jawabannya bisa “ya” dan bisa “tidak”.

Mourinho adalah pelatih yang memiliki orientasi pada hasil, cerdas memformulasikan strategi, trengginas dan tuntas mengimplementasikan strategi. Setiap melatih klub sepakbola profesional di negara manapun, Mourinho selalu berhasil mempersembahkan juara liga (kecuali di Real Madrid ia belum berhasil memberikan gelar juara liga Spanyol). Sayang sekali Mourinho tidak memiliki filosofi dan gaya bermain sepakbola. Meskipun Real Madrid telah “inflasi” bintang, terutama di sektor gelandang, Mourinho masih juga “manja” minta dibelikan pemain.

Mourinho hanya mau menggunakan pemain yang siap pakai, sesuai dengan strateginya, dan terutama sesuai dengan “selera”nya. Seorang pemain hebat (tolok ukurnya adalah nilai transfer yang harus dibayar Real Madrid ketika memboyong pemain yang bersangkutan) tetap saja “berlumuran dosa” atau minimal “cacat” menurut sudut pandang Mourinho. Itulah sebabnya Mourinho kurang respek terhadap beberapa pemain seperti Karim Benzema, Lassana Diara, Rafael van der Vaart.

Kalau ada pelatih yang luar biasa sibuk pada saat musim transfer, pasti Mourinho orangnya. Kalau ada orang yang “menghalang-halangi” kemauannya untuk membeli pemain, Mourinho tidak segan-segan untuk “bertengkar” dengan orang tersebut. Itulah sebabnya, seorang Jorge Valdano yang cukup berjasa kepada Real Madrid pun harus dieliminasi agar semua kemauan Mourinho terpenuhi.

Di “kubu” lain, ada pelatih sepakbola yang berusaha “mengawinkan” antara hasil dan proses. Wenger, Guardiola, dan Cruyff tentu saja menginginkan gelar juara.  Bukankah (salah satu) key performance indicator seorang pelatih adalah keberhasilan mengantarkan kesebelasannya menjadi juara di kompetisi liga negara yang bersangkutan maupun di tingkat Eropa. Tidak semua sukses, kecuali Guardiola yang berhasil “mengawinkan” antara filosofi permainan sepakbola, gaya bermain indah, dan juara.

Tetapi seberapa penting sebenarnya fisolofi sepakbola bagi sebuah klub sepakbola, pemilik klub, pelatih, pesepakbola, dan “bobotoh” (baca :  pendukung) sebuah klub? Tidak banyak yang mampu menjelaskan betapa pentingnya sebuah filosofi bagi sepakbola. Salah satu di antara mereka adalah legenda timnas sepakbola Belanda, Johann Cruyff. FC Barcelona yang menganggap dirinya lebih dari sekedar klub, seakan-akan menemukan “jodoh” dengan Cruyff yang berprinsip bahwa filosofi sepakbola adalah penting. Bagaimanakah filosofi sepakbola yang dimaksud oleh Cruyff?  Kutipan berikut menjelaskan apa yang dimaksud dengan filosofi sepakbola oleh Cruyff (www.bola.kompas.com, 29 Mei 2011) :

“Kalah atau menang bukan hal serius dalam filosofi sepak bola Barcelona. Apa pun hasil partai final Liga Champions—menang atau kalah—di Wembley, Minggu (29/5) dini hari WIB tadi, Barcelona merasa sukses jika gaya permainan mereka terus dikenang hingga 15 tahun ke depan.”

”Jika 5, 10, dan 15 tahun ke depan orang masih ingat pada gaya permainan yang kami peragakan saat ini, itu sukses yang sangat besar bagi kami,” kata Pep Guardiola, Pelatih Barcelona, seperti dikutip situs UEFA dalam jumpa pers, Jumat (27/5).

”Cara bermain kami tahun ini telah membuat orang gembira. Saya tidak berpikir hal itu akan berubah, baik apakah kami menang maupun kalah melawan United,” tutur Guardiola, sosok sentral bagi kesuksesan Barcelona dalam dua dekade terakhir.”

 

Guru spiritual Cruyff

“Semangat untuk tidak terpaku pada hasil kalah-menang itu tak lepas dari mahaguru spiritual Barcelona, Johan Cruyff. Seperti dikutip Times, legenda sepak bola Belanda itu menyebutkan, kesuksesan merebut trofi juara merupakan hal yang fantastis. Akan tetapi, jika sukses tersebut tidak tercapai, itu bukan sesuatu yang harus diratapi.

”Juara adalah salah satu hal, hal yang penting. Namun, tampil dengan gaya Anda sendiri membuat orang meniru dan mengagumi Anda. Itu anugerah yang paling besar,” tutur Cruyff.

Photo courtesy of M.J. Kim / Getty Image

Ia memaparkan pengalamannya sendiri. Cruyff mengungkapkan, sampai hari ini banyak orang masih memberi selamat kepada dirinya atas gaya permainan yang diperagakan timnya, Belanda, meski kalah di final Piala Dunia 1974. ”Kami kalah di final dan itu promosi terbesar yang kami peroleh,” ujar Cruyff.

”Menjadi juara itu hanya satu hari. Sebuah reputasi dapat dikenang sepanjang hidup. Anda saksikan, nama Barcelona telah menyebar di seluruh dunia,” ucapnya. Cruyff ingin mendidik masyarakat lewat sepak bola, seperti dilakukan di Barcelona.”

Apakah Filosofi Sepakbola Perlu?

Olahraga adalah olahraga, dan sepak bola adalah sepakbola. Bagi sebagian orang, menghubung-hubungkan olahraga dengan hal-hal di luar olahraga adalah “ngawur”.  Tetapi, suka atau tidak suka, olahraga dan sepakbola memang selalu dihubung-hubungkan dengan segala sesuatu di luar olahraga dan sepakbola.

Mengaitkan antara olahraga dengan politik misalnya, bukan hal yang tabu dan baru. Konstelasi politik saat ini memang sudah sangat berbeda dibandingkan saat dunia masih ditandai oleh permusuhan antara dua negara superpower. Saat itu, boikot terhadap penyelenggaraan olimpiade adalah hal yang lumrah.

Meskipun saat ini sudah jauh berubah, tetapi mencampuradukkan politik dan olahraga tetap saja tidak hilang. Itulah sebabnya, pesepakbola Yosef Shai “Yossi” Benayoun yang berasal dari Israel menjadi “bulan-bulanan” oleh penonton Malaysia ketika tampil dalam pertandingan persahabatan timnas Malaysia dan Chelsea.

Sejatinya, di dunia yang sudah kepalang basah dikuasai oleh ideologi kapitalisme, olahraga pada umumnya dan sepakbola pada khususnya sudah tidak merdeka lagi. FC Chelsea dan FC Manchester City, uang lebih berkuasa daripada nilai-nilai sepakbola. Manchester United sungguh beruntung memiliki pelatih seperti Sir Alex Ferguson. Meskipun saham-saham MU mayorita dimiliki oleh keluarga Glazer, tetapi si pemilik tidak dapat semena-mena mengelola MU semata-mata dari aspek bisnis.

Ketika David Beckham pindah dari Man. United ke klub Real Madrid, persoalan transfer pesepakbola yang pada umumnya hal yang sangat mudah dan sederhana diselesaikan, menjadi rumit karena urusan sponsor. Saat itu, Nike adalah sponsor Man. United, sedangkan kubu Real Madrid mendapat sponsor dari Adidas. David Beckham sendiri telah menjadi “global sport icon” adalah salah seorang “pelopor” pesepakbola yang memiliki personal sponsorship.

Barangkali, hanya FC Barcelona yang seratus persen mengatur pemilik dana. FCB adalah satu-satunya klub sepakbola yang bersedia menerima sumbangan dana, tetapi tidak bersedia mencantumkan nama atau logo sponsor di kaos tim. Barcelona justru memasang logo dan nama Unicef yang justru tidak memberikan sumbangan dana kepada Barcelona.

“Idealisme” FC Barcelona pun akhirnya tumbang. Setelah bertahan 111 tidak bersedia memasang logo sponsor di bagian depan kostum, akhirnya di musim kompetisi 2011/2012 FC Barcelona “terpaksa” memasang logo Qatar Foundation. There is no free lunch. Kebutuhan dana yang relatif besar untuk selalu bertahan dan bersaing di level tertinggi kompetisi sepakbola profesional, mampu “menjebol” keyakinan diri FC Barcelona untuk mempertahankan nilai-nilai yang selama ini dipertahankannya.

Tampak Siring, 29 Agustus 2011

 
Leave a comment

Posted by on December 1, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: