RSS

Uang dan Prestasi

02 Dec

Apakah ada korelasi dan pengaruh antara uang dengan prestasi sebuah klub sepakbola profesional? Apakah ada korelasi dan pengaruh antara uang dengan prestasi seorang pesepakbola profesional? Apakah ada korelasi dan pengaruh antara keberhasilan sebuah klub sepakbola profesional untuk merekrut dan mempertahankan pesepakbola profesional terbaik?

Secara umum, tidak terlalu sulit “ya” untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Juga tidak terlalu sulit untuk “menggelontorkan” bukti-bukti bahwa uang memang memiliki korelasi dan pengaruh terhadap prestasi sebuah klub sepakbola profesional, prestasi seorang pesepakbola profesional, dan kemampuan dan keberhasilan sebuah klub sepakbola profesional untuk merekrut dan mempertahankan pesepakbola profesonal terbaik.

Uang dan Prestasi Klub Sepakbola Profesional.

Sebut saja dua klub sepakbola profesional di Spanyol yang selalu menjadi “musuh bebuyutan” dan terlibat dalam “el clasico”, yaitu Real Madrid Club de Futbol yang menjadi kebanggaan penduduk ibukota negara Spanyol dan klub kebanggaan masyarakat Calatan FC Barcelona. Inilah dua klub yang selalu menjadi “raja” La Liga, Copa del Rey dan Copa De La Liga. Kedua klub tersebut adalah peraih terbanyak untuk ketiga kategori juara tersebut.  Prestasi kedua klub “papan atas” tersebut sangat berbeda dengan klub-klub sepakbola yang menjadi langganan “papan-bawah” dan  berkali-kali tergradasi ke tingkat kompetisi yang lebih rendah, sebagaimana data tersebut di bawah ini :

Sumber : http://www.en.wikipedia.org (diolah)

Bagaimana Real Madrid dan Barca mampu menunjukkan prestasi yang tidak dapat ditandingi oleh klub-klub lain? Tentu saja modal mereka bukan hanya mimpi dan ora et labora. Pembinaan para pemain muda dalam akademi sepakbola tentu saja menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan Real Madrid dan Barcelona. Demikian juga dengan manajemen klub yang dikelola secara profesional, turut menjadi katalisator keberhasilan Real Madrid dan Barcelona untuk menjadi yang terbaik, tidak hanya di tingkat Spanyol, melainkan di Eropa, bahkan di dunia.

Tetapi uang tidak dapat dikesampingkan dari keberhasilan Real Madrid dan Barcelona menjadi klub yang sarat prestasi di tingkat Spanyol dan Eropa sehingga disegani oleh lawan-lawan mereka. Musim kompetisi 2011/2012 Real Madrid memiliki anggaran belanja sejumlah 500 juta Euro atau setara dengan Rp. 6,155 triliun. Ironisnya, Levante yang sampai dengan tulisan ini dibuat menduduki urutan ke dua Liga BBVA Spanyol, memiliki anggaran sejumlah 21 juta Euro atau setara dengan Rp. 258,48 milyar. Anggaran belanja Levante adalah anggaran belanja paling minim dibandingkan dengan klub-klub sepakbola profesional lainnya di Spanyol. Bila dibandingkan dengan harga pembelian Cecs Fabregas sejumlah 29 juta Euro, anggaran belanja Levante jelas tidak ada seberapa.

Bagaimana dengan FC Barcelona? Musim kompetisi 2011/2012, anggaran belanja Barcelona adalah 461 juta Euro dan hanya kalah dari Real Madrid. Tetapi dengan uang yang melimpah – disertai Brandname yang kuat – Barcelona mampu merekrut Alexis Sanchez dan memaksa Cecs Fabregas untuk “pulang ke rumah”.

Untuk dapat bertahan, bersaing, dan tumbuh di era sepakbola profesional, klub-klub sepakbola profesional memang membutuhkan dana yang relatif sangat besar. Sumber pendapat konvensional seperti penjualan tiket dan merchandise tidak cukup untuk menutup biaya operasional. Itulah sebabnya, sumber pendanaan melalui sponsorship “wajib” ditelan mentah-mentah, bahkan dengan konsekuensi apapun.

Setelah 111 tahun bertahan pada prinsip tidak mau  memasang logo sponsor di kostum resmi, mulai musim kompetisi 2011/2012, untuk pertama kalinya Barcelona “takluk” dengan kemauan sponsor. Kini, di kostum resmi FC Barcelona, tidak ada lagi perbedaan dengan klub-klub sepakbola profesional lainnya. Jika sebelumnya Logo Unicef terpampang jelas di bagian depan kostum, maka kini Qatar Foundation yang mendanai Barcelona sejumlah 150 juta Euro untuk lima tahun ke depan.

Photo courtesy of David Ramos – Getty Image Europe

Uang dan Prestasi Pesepakbola Profesional.

Prestasi memang tidak selalu berkorelasi dengan uang. Kalaupun berkorelasi dengan prestasi, uang juga tidak menjadi satu-satu faktor yang mempengaruhi prestasi individual dan klub sepakbola profesional. Klub sepakbola Levante yang memiliki anggaran belanja sangat minim dan membayar gaji pemain relatif murah, toh sampai dengan pekan ke-8 klasemen Liga BBVA, mampu bertengger di atas Real Madrid dan Barcelona. Total gaji 25 pemain Levante adalah 6,25 juta Euro / pertahun. Sedangkan gaji per minggu yang diterima oleh Lionel Messi dan Christiano “CR7” Ronaldo, masing-masing adalah dua kali lipat dari pendapatan 25 pemain Levante.

Kompetesi belum berakhir, bahkan belum mencapai setengah babak kompetisi, sehingga belum dapat diketahui daya tahan Levante sampai babak akhir kompetisi. Mungkin juga tidak terlalu gegabah untuk menyimpulkan sementara bahwa pencapaian Levante adalah sebuah pengecualian atau “kelainan” di era sepakbola profesional yang membutuhkan dana operasional yang relatif sangat besar.

Secara individual, seorang pesepakbola menjadi mahal dalam hal harga transfer dan gaji, justru setelah menunjukkan kinerja luar biasa secara berkesinambungan. Sebut saja misalnya CR7 yang diboyong dari Manchester United oleh Real Madrid dengan rekor harga transfer termahal (80 juta poundsterling atau 93 juta euro atau Rp. 1,3 triliun) dan menerima gaji pada musim kompetisi 2010/2011 sejumlah 12 juta Euro per tahun, atau sekitar Rp. 230 milyar per pekan.

Meskipun menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan, seorang pesepakbola tetap dibayar mahal. Fernando Torres yang bermain untuk FC Chelsea tetap menerima gaji sebesar 10 juta Euro per tahun atau sekitar 192 milyar per pekan. Padahal, sebagai penyerang, produktivitas gol Torres boleh dibilang “mandul”, bahkan jika dibanding dengan Frank Lampard yang bermain di posisi gelandang. Jadi, dalam konteks pesepakbola secara individual, harga transfer dan gaji tidak selalu berkorelasi positif terhadap kinerja. Gaji pesepakbola asal Jerman yang bermain di klub-klub sepakbola profesional Jerman juga tergolong di bawah rata-rata gaji pesepakbola yang bermain di Liga Inggris dan Liga Spanyol. Meskipun demikian, prestasi mereka saat membela negara, bisa jadi melebihi prestasi pesepakbola yang dibayar jauh lebih mahal.

Uang, Recruitment dan Engagement.

Uang sudah pasti berkorelasi dengan kemampuan sebuah klub sepakbola untuk merekrut pemain bintang. Demikian juga uang adalah faktor yang sangat penting bagi sebuah klub untuk mempertahankan para pemain bintang mereka agar tidak dibajak oleh klub-klub lain yang berminat.

Tidak ada yang menyangkal bahwa keberhasilan FC Manchester City (“The Citizens”) merekrut pemain bintang (antara lain David Silva, Edin Dzeko, Sergio “Kun” Aguero, Samir Nasri, dlsb) 100 % karena faktor uang. Dengan dana yang melimpah yang digelontorkan oleh Seikh Mansour, The Citizens mampu membeli pemain dengan harga transfer jauh melebih klub manapun. The Citizens juga tidak pernah kekurangan dana untuk membayar pemain dengan bayaran gaji relatif tinggi dibandingkan klub lainnya. Bahkan, The Citizens juga mampu membayar gaji pesepakbola yang “duduk manis” di bangku cadangan (Carlos Teves yang bergaji Rp.  250 ribu poundsterling per minggu), atau bahkan pesepakbola yang dipinjamkan ke klub lain (Adebayor yang dipinjamkan ke Tottenham Hotspur, bergaji Rp. 160 ribu poundsterling  per minggu).

Singkat kata, dengan menfaatkan dana yang melimpah, The Citizens mampu “merusak” tatanan harga transfer dan gaji pesepakbola. Sebagian pesepakbola tertentu,  lebih silau dan tertarik kepada uang daripada brandname klub. Kini, tidak ada lagi yang melirik “sebelah mata” The Citizens. Kini, tidak ada lagi pesepakbola yang “malu” bermain untuk The Citizens. Itulah sebabnya, “kiblat” sepakbola di Inggris tidak lagi Manchester United, melainkan perlahan tetapi pasti beralih ke Manchester City, sungguhpun prestasi kedua klub tersebut seperti langit dan bumi.

Bagaimana dengan kemampuan keuangan sebuah klub dengan kemampuannya mempertahankan pemain bintang?. Pengalaman klub Arsenal Inggris yang musim panas lalu terpaksa melego sang kapten Cecs Fabregas dan gelandang serang Samir Nasri semakin menegaskan kekuasaan uang terhadap engagement. Fabregas pindah klub memang bukan faktor uang, tetapi  “kembali ke rumah” Barcelona yang telah mendidiknya di akademi sepakbola milik Barcelona La Masia. Tetapi Nasri yang “hanya” digaji 60 ribu poundsterling per minggu di Arsenal dan pindah ke The Citizens menerima 180 ribu poundsterling, sulit untuk tidak disebut karena faktor uang.

Pernyataan Arsene Wenger  berikut ini menjelaskan secara gamblang bagaimana hubungan dan pengaruh uang terhadap “engagement” :

“Jika Anda membandingkan apa yang telah dimenangi oleh City dan Arsenal, mereka tidak pergi ke City untuk gelar juara. Mereka pindah karena City membayar lebih besar daripada Arsenal,” ujar Wenger pada stasiun radio Prancis RTL yang dikutip Guardian.

“Mereka memiliki dukungan finansial yang kuat. Apa yang telah mereka lakukan di bursa transfer tidaklah mengherankan,” sambung sang “Profesor”.

“Selalu ada logika finansial di balik kesuksesan sebuah klub di liga manapun. Paris Saint-Germain contohnya. Mereka punya uang lebih banyak dibanding klub-klub lain di Prancis dan mereka berada di puncak klasemen.”

“Kalau Barcelona atau Real Madrid membayar tiga kali lebih rendah daripada Malaga, pemain-pemain akan pergi ke Malaga. Selalu begitu. Sesederhana itulah logikanya. Ketika pemain dihadapkan pada pilihan di antara dua klub yang punya ambisi sama, jika dia bisa mendapat bayaran tiga kali lebih besar, dia akan pindah ke klub itu. Ini hal yang wajar,” simpul Wenger.

Tentu saja, tidak semua pesepakbola berterus terang alasan pindah klub. Kalaupun uang bukan faktor utama, di era sepakbola profesional dan klub-klub sepakbola profesional sudah menjadi rebutan para investor, sulit menemukan pesepakbola yang setia kepada satu klub untuk jangka waktu relatif lama (lebih dari 15 tahun), antara lain Zavier Zanetti yang bermain di Inter Milan, Paolo Maldini yang bermain AC Milan, dan Alexandro Del Piero yang mengabdi untuk Juventus.

Gaji dan Employee Engagement.

Bagaimana dengan hubungan dan pengaruh uang (baca : gaji dan fasilitas) dengan kemampuan perusahaan untuk menarik, mempekerjakan dan mempertahankan pekerja bertalenta super? Tentu saja ada hubungan dan pengaruh antara gaji dan fasilitas terhadap kemampuan sebuah perusahaan untuk menarik, mempekerjakan,  mempertahankan karyawan bertalenta super.

Meskipun demikian, hubungan dan pengaruh uang terhadap talent management tidak sesederhana dan se “vulgar” di klub-klub sepakbola profesional. Ada banyak faktor-faktor non-finansial yang mampu membuat betah karyawan bertalenta super memiliki engagement yang kuat terhadap perusahaan.

Tampak Siring, 30 Oktober 2011.

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: