RSS

Photographer or Photosopher?

16 Dec

Kemajuan teknologi kamera, lensa, dan piranti lunak (software) olah digital karya foto relatif sangat pesat. Khusus software pengolah foto, kemajuannya telah mencapai tingkat “tidak terduga-duga dan tidak terbayangkan”. Jika dulu ada foto seorang aktris bugil, dalam sekejap dapat dipastikan memang aktris yang bersangkutan memang tampil bugil. Saat ini, jika ada foto seorang aktris bugil, perlu bantuan seorang yang “ahli membaca foto” untuk memastikan apakah karya foto tersebut asli atau rekayasa.

Melalui berbagai software pengolah foto, apa yang dahulu mustahil dilakukan, saat ini menjadi serba mungkin dilakukan. Dalam sebuah foto produk komersial kosmetik misalnya, wajah bisa saja milik seorang model A, tetapi jari-jari tangan boleh-boleh saja milik model B. Kini juga dimungkinkan seorang model dengan wajah “berantakan” tetapi memiliki tangan halus dengan jari-jari lentik, cukup “menyewakan” tangannya saja untuk dipotret.

Tampaknya, pemanfaatan software pengolah foto tidak dapat dicegah. Sebagian tertentu fotografer “mengharamkan” pemanfaatan software pengolah foto. Bukankah fotografi adalah aktivitas to make a photograph? Dengan dalil tersebut – menurut sebagian fotografer – fotografi bukanlah teknik mengolah foto. Meminjam istilah Riza Marlon – seorang wildlife photographer – mereka yang “anti” terhadap software pengolah foto memiliki prinsip “lo bisa bayar gue, tapi lo nggak bisa beli gue”.

Photo courtesy of Afif Farisi / http://www.af-photoart.net

Di sisi lain, bidang foto fashion dan komersial yang sangat dekat dengan industri kosmetik dan kehidupan yang glamour, mengharamkan pemanfaatan software pengolah foto hampir tidak mungkin. Di dunia fotografi fashion dan komersial, penguasa sejati adalah art director. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebuah foto untuk tujuan beauty shot disebut “keren” mungkin lebih menjadi “hak veto” art director ketimbang fotografer.

Menurut pendapat subyektif saya, boleh tidaknya pemanfaatan software pengolah foto, serahkan saja kepada masing-masing fotografer. Sebab, bidang fotografi relatif sangat luas, demikian pula tujuan pemotretan sangat berbeda. Prinsip dasar yang diakui di dunia fotografi adalah tidak ada yang benar atau salah. Fotografi juga tidak mengenal halal dan haram, karena fotografi memang bukan agama. Juga tidak ada paksaan di dunia fotografi. Segala sesuatu dilihat dari konteksnya.

Meskipun demikian, ada baiknya ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu tetapi “mbok ya” jangan begitu). Jika tidak, maka siap-siaplah menghadapi kasus seperti yang dihadapi oleh perusahaan kosmetika yang memproduksi Lancome, sebagaimana dikutip di bawah ini :

Advertising Standards Authority, the ad industry watchdog in the UK, has banned an advertisement by Lancome featuring Julia Roberts for being misleading, stating that the flawless skin seen in the photo was too good to be true. Parliament member Jo Swinson first brought the ads to the authority’s attention, and later told the BBC:

‘This ruling demonstrates that the advertising regulator is acknowledging the dishonest andmisleading nature of excessive retouching. Pictures of flawless skin and super-slim bodies are all around, but they don’t reflect reality.’

This comes about a month after the American Medical Association called upon ad agencies to stop the ‘altering of photographs in a manner that could promote unrealistic expectations of appropriate body image’.” (www.petapixel.com. Jul 27, 2011)

Photo courtesy of http://www.petapixel.com

Untuk memahami mengapa software pengolah foto dimanfaatkan, perlu dipahami tiga jenis kegiatan yang umum di dunia fotografi, yaitu memotret, menyempurnakan, dan memanipulasi.

Memotret.

Konsep adalah kata kunci dalam kegiatan memotret. Dalam fotografi, konsep sebuah foto sangat penting dibandingkan hal-hal teknis peralatan fotografi dan proses pemotretan.  Sebuah karya foto yang secara teknis “berantakan”, masih bisa “dimaafkan” jika memang konsepnya lebih kuat.

Konsep juga yang membuat sebuah karya foto “sudah jadi” sebelum pemotretan dilakukan. Dengan dasar konsep yang kuat, kegiatan pemotretan seolah-olah menjadi kegiatan formal dan prosedural. Kamera, lensa dan semua alat pendukung fotografi benar-benar hanya menjadi “pelengkap penderita”  dari konsep seorang fotografer.

Secara umum, kegiatan memotret terdiri dari pra, proses memotret, dan pasca. Kegiatan pra atau persiapan merupakan kegiatan yang sangat penting sebelum pemotretan dilakukan, antara lain mencakup studi literatur dan peninjauan lapangan untuk mengetahui situasi dan kondisi aktual dari obyek pemotretan dan lingkungannya.

Seorang fotografer profesional seperti Deniek Sukarya, biasa menghabiskan waktu 1-2 hari “hanya” untuk meninjau lokasi obyek pemotretan. Dalam survey lapangan tersebut ia akan melihat segala sesuatu yang berada di lokasi tersebut, antara lain cahaya, angle, dan waktu yang terbaik untuk sesi pemotretan. Konsep divalidasi dengan situasi dan kondisi obyek pemotretan.

Dengan persiapan yang lengkap seperti itu, maka sesi pemotretan menjadi tahap eksekusi konsep. Sebuah karya foto adalah visualisasi dari konsep dan imajinasi seorang fotografer. Sebuah karya foto yang dibuat berdasarkan konsep, idealnya tidak lagi membutuhkan proses editing pasca proses pemotretan. Sebuah karya foto yang “sudah jadi” sebelum sesi pemotretan, pasca pemotretan hanya tinggal pencetakan (printing). Karena “sudah jadi”, maka sebuah karya foto tidak lagi membutuhkan editing (penyempurnaan dan manipulasi).

Menyempurnakan.

Proses menyempurnakan sebuah karya foto hampir dilakukan oleh sebagian besar fotografer, meskipun ada juga fotografer yang “mengharamkan” kegiatan menyempurnakan sebuah karya foto. Bagi fotografer yang menerima dan melakukan proses penyempurnaan sebuah karya foto, kegiatan menyempurnakan adalah kegiatan mengubah sebuah karya foto, baik “minimalis” maupun “maksimalis”. Hal-hal yang dapat disempurnakan dari sebuah karya foto antara lain warna (terang, kontras), cahaya (lebih, cukup, kurang), bingkai, crop, dan lain sebagainya.

Tentu saja ada pro dan kontra terhadap proses menyempurnakan sebuah karya foto. Menurut pendapat subyektif saya, proses menyempurnakan sebuah karya foto secara umum dapat diterima oleh sebagian besar fotografer, meskipun mungkin ada juga mereka yang mengharamkannya. Tetapi karena hasil dari proses penyempurnaan sebuah karya foto kadang-kadang membuat “terkaget-kaget”, baik klien, fotografer, maupun penikmat foto yang “membaca foto” masih bisa akur.

Memanipulasi.

Proses menanipulasi bukan sekedar mengubah eksposur, warna dan karakteristik lainnya dari sebuah foto. Dalam proses memanipulasi sebuah foto sudah ada kegiatan mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau sebaliknya, dari menghilangkan sesuatu yang ada menjadi tidak ada.

Di era olah digital, sangat terbuka kesempatan dan kemungkinan untuk  mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau sebaliknya, menghilangkan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Sebuah foto yang diambil di luar ruangan pada malam hari tanpa keberadaan bulan di langit, dengan sangat mudah dapat “disulap” menjadi sebuah foto dengan latar belakang bulan purnama. Seolah-olah, software olah digital menawarkan “palugada” : apa yang lo mau gue ada.

Dalam foto beautyshot yang fokus menampilkan wajah dari seorang model, foto yang dihasilkan harus mampu menampilkan “hidung mancung, dagu lancip, dan tulang pipi yang menonjol”. Meskipun hasil yang dituntut relatif sederhana, foto-foto beautyshot seringkali “terpaksa” tidak lagi sekedar disempurnakan, melainkan dimanipulasi. Sebagaimana sudah saya sebutkan di atas, dalam foto-foto beautyshot, pemilik wajah dan tangan tidak selalu orang yang sama.

Bagaimana Menyikapinya?.

Di dunia fotografi, kita akan sering mendengar fotografer mengatakan bahwa “di dunia fotografi tidak ada yang salah atau benar, semua tergantung dari konsepnya”. Benar atau salah, etis atau tidak etis, memang sulit untuk diperdebatkan. Perdebatan benar atau salah, etis atau tidak etis terhadap proses olah digital tidak akan pernah selesai. Selalu ada yang pro dan kontra, tergantung sudut pandang, kepentingan, dan bidang fotografi yang ditekuni setiap fotografer.

Saya pribadi tidak terlalu mau dipusingkan dengan urusan tetek bengek olah digital. Ada dua alasan, pertama bagi saya sebuah karya foto “sudah jadi” sebelum pemotretan dilakukan; kedua, proses olah digital seringkali menyita waktu dan “menyandera” orang yang melakukan olah digital.

Saya juga tidak memiliki kepentingan yang mendesak terhadap olah digital. Minat dan bidang fotografi yang saya tekuni memang tidak “mewajibkan” penggunaan olah digital. Meskipun saya fokus pada people portrait – mulai dari baby portraits, children portraits, senior / teenager portraits, couple portrait, family portraits, dan seterusnya – dan komersial, tetapi tuntutan untuk menggunakan olah digital tidak sekuat jika dibandingkan commercial photography (terutama untuk iklan, fashion, dan lain sebagainya).

Sikap dan pendapat saya tentang karya foto yang telah mengalami olah digital adalah “no comment” atau “abstain”. Saya tidak memiliki keinginan dan kepentingan untuk mengomentari karya foto yang telah mengalami proses olah digital. Adalah kebebasan setiap orang untuk  memilih menjadi photographer atau photosopher. Setiap orang punya selera, setiap orang punya pasar sendiri.

Tampak Siring, 30 November 2011

 
1 Comment

Posted by on December 16, 2011 in Photography

 

One response to “Photographer or Photosopher?

  1. RIU

    January 3, 2013 at 4:43 pm

    photosopher???,…aqu banged nihhhh,hhhh,….nice blog🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: