RSS

Kacang, Pisang dan Monyet

29 Dec

Dunia sepakbola adalah salah satu pelopor equal employee opportunity. Siapa saja boleh menjadi pesepakbola, amatir maupun profesional. Siapapun boleh bermain di negara manapun dan di klub sepakbola manapun. Tidak ada diskriminasi.

Singkat kata, sebelum ideologi, ekonomi, politik, pertahanan, keamanan, dan kebudayaan mengenal istilah borderless country, glassnost (keterbukaan) dan perestroika (perubahan) mengemuka, dunia sepakbola sudah membebaskan diri terhadap faktor apa saja yang mengganggu fairness dan fairplay.

Ironisnya, kemajuan yang sangat pesat di dunia sepakbola, sikap dan perilaku rasialis masih saja sulit dibabat habis. Sepp Blatter – Presiden FIFA – pun  “salah ngomong”, sebagaimana dikutip sebagai berikut :

FIFA president Sepp Blatter has said football does not have a problem with racism on the field and any incidents should be settled by a handshake.”

“There is no racism [on the field], but maybe there is a word or gesture that is not correct,” Blatter told CNN. “The one affected by this should say this is a game and shake hands.” (www.news.bbc.co.uk, 16 November 2011)

Di dunia sepakbola, barangkali tidak ada kasus yang lebih “hot” daripada rasialisme. Luis Suarez, pesepakbola asal Uruguay yang kini “merumput” di klub sepakbola Liverpool, merasakan bahwa dalam urusan rasialisme, siapapun tidak boleh main-main.

Suarez dituduh bersikap rasialis terhadap wing back Manchester United, Patrick Evra. Oleh Football Association, “PSSI”nya sepakbola Inggris, Suarez sudah dinyatakan bersalah. Tidak tanggung-tanggung, Suarez dihukum tidak boleh bertanding selama 8 kali di English Premier League, ditambah denda sejumlah 40 ribu poundsterling, atau sekitar Rp. 559,8 juta. (www.bola.net; 24/12/2011)

Photo courtesy of http://www.sport.yahoo.com

Dalam urusan rasialisme, berlaku “dalil” you will never walk alone. Siapa saja dapat menjadi korban dan pelaku. Di antara korban sebut saja nama Roberto Carlos dan Samuel Eto’o.  Kasus yang masih “hangat” adalah tuduhan sikap rasialis yang dilakukan oleh kapten timnas sepakbola Inggris, John Terry kepada Anton Ferdinand.

Anton Ferdinand adalah adik kandung dari Rio Ferdinand, center back timnas sepakbola Inggris yang menjadi tandem John Terry. Agak aneh juga Terry yang selama ini akur-akur saja dengan Rio yang berkulit “gelap”, tiba-tiba bersikap rasialis. Memang kasus John Terry masih dalam pemeriksaan, belum tentu juga Terry tebukti bersalah.

Sikap rasialis memang bukan hal yang baru di dunia sepakbola. Sudah banyak pesepakbola yang merasakan sikap dan perilaku rasialis yang ditunjukkan oleh penonton dan supporter – terutama pihak lawan – dan bahkan oleh para pesepakbola itu sendiri.

Tidak jelas motivasi sikap rasialis. Boleh jadi karena pertandingan sepakbola yang sangat kompetitif membuat pesepakbola menjadi gampang stress dan emosional. Sikap rasialis boleh jadi karena faktor stress dan emosional, ketimbang sebagai ideologi sebagaimana Nazi.

Kemungkinan lain adalah bermaksud merusak konsentrasi lawan bertanding, atau menjatuhkan mental lawan. Dalam hal efektivitas “teror”, penghinaan dalam bentuk rasialisme termasuk ampuh untuk mengacaukan konsentrasi lawan, bahkan menjatuhkan mental lawan.

Itulah sebabnya, di negara-negara yang kompetisi dan peraturan sepakbolanya sudah sangat maju, masih ada saja sikap dan perilaku rasialis yang ditunjukkan oleh penonton, supporter, dan bahkan pesepakbola sendiri. Spanyol yang sepakbolanya menganut filosofi sepakbola indah dan menyerang, termasuk negara yang penonton dan supporternya  “garang” dalam hal rasialis.

Berbagai “modus operandi” dilakukan untuk melancarkan teror mental yang berujung pada sikap dan perilaku rasialis. Di antaranya melalui mulut, melempar buah pisang dan kacang, dan menirukan suara dan gerakan tubuh monyet.

Mulut

Tampaknya, mulut adalah medium yang paling efektif untuk menunjukkan sikap dan perilaku rasialis. Penonton, supporter, dan pesepakbola pernah menggunakan mulut sebagai medium untuk menteror pemain lawan.

Biasanya, teror penonton dan supporter melalui mulut tidak terlalu mempan untuk menjatuhkan mental pemain lawan. Tetapi jika pesepakbola yang melakukan sendiri, maka pihak lawan yang “diteror” akan kewalahan juga.

Dalam kasus Suarez dan Evra, tensi persaingan dan permusuhan  memang berpotensi tinggi dan “meledak”. Suarez sebagai penyerang dan Evra sebagai back yang menjaga Suarez, akan “menguntit” kemanapun Suarez berlari. Intinya, Suarez tidak mau dibikin repot oleh Evra agar ia dapat mencetak gol, sebaliknya Evra tidak mau dibikin repot oleh Suarez agar probabilitas gawang bobol semakin kecil.

Kedua belah pihak akan berusaha menunjukkan teknis yang tinggi untuk saling mengalahkan. Tetapi dalam keadaan teknis dan stamina yang seimbang, cara-cara yang santun seringkali tidak membuahkan hasil. Karena itu, tinggal ketahanan mental yang berperan.

Siapapun bisa tahan mental, tetapi tidak ketika dihina martabatnya. Mulut adalah medium teror yang sangat ampuh untuk menjatuhkan mental lawan. Ini berlaku di semua segi kehidupan. Mulut, bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan, tetapi juga bisa menjadi bumerang menjatuhkan diri sendiri.

Buah Pisang dan Kacang

Roberto Carlos – salah satu wing back terbaik yang pernah dimiliki timnas sepakbola Brasil – adalah jagoan “tendangan pisang”. Melalui kaki kirinya, Carlos seringkali menciptakan gol. Bola-bola mati yang ditendang oleh Carlos seringkali berjalan melayang seperti lengkungan pisang.

Tetapi Carlos – yang saat ini bermain di klub sepakbola Anzhi Makachkala, Rusia – tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan diberi pisang oleh para supporter Krylia Sovetov.  Buah pisang yang dilemparkan atau sekedar ditunjukkan kepada seorang pesepakbola adalah perlambang penghinaan, terutama menunjukkan sikap rasialis.

Buah pisang dan kacang adalah “buah haram” di dunia sepakbola. Melemparkan buah pisang atau kacang kepada pesepakbola, baik pada saat pertandingan sedang berlangsung atau sudah berakhir, merepresentasikan penghinaan. Menurut statuta FIFA, tindakan itu melukai rasa keadilan.

Mengapa pisang dan kacang dianggap sebagai penghinaan dan menunjukkan sikap dan perilaku rasialis?. Pisang dan kacang adalah makanan “favorit” monyet. Mengejek pesepakbola dengan pisang dan kacang sama saja menghina pesepakbola yang bersangkutan tidak lebih dari monyet.

Photo courtesy of http://www.sport812.ru

Suara dan Gerakan Tubuh Monyet

Salah seorang pesepakbola yang seringkali diejek oleh penonton dan supporter dengan gerakan tubuh monyet adalah pesepakbola asal Kamerun, Samuel Eto’o. Sosok Eto’o sendiri rada-rada kontroversial. Eto’o adalah sedikit di antara pesepakbola yang pindah ke klub sepakbola yang menjadi musuh bebuyutan, dari FC Real Madrid ke FC Barcelona (hal yang juga dilakukan oleh Ronaldo dan Luis Figo, dari FC Barcelona ke FC Real Madrid).

Tetapi Eto’o dihina lebih disebabkan oleh wana kulitnya. Berbagai cara dilakukan oleh penonton dan supporter lawan untuk menghina Eto’o, baik dengan mulut, melempar buah pisang dan kacang, menirukan suara dan gerakan tubuh monyet.

Sadar bahwa dirinya adalah public figure yang menjadi sasaran rasialis, Eto’o justru membalasnya dengan sikap yang sama kepada penonton dan supporter lawan. Salah satunya adalah ia tunjukkan ketika FC Barcelona melawan Real Zaragoza sebagai berikut :

Cameroon striker Samuel Eto’o Fils danced like a monkey to celebrate his goal in response to racist abuse he received in Barcelona’s 4-1 win over Zaragoza on Saturday.

Eto’o, who notched his 17th goal of the season, was greeted by monkey chants when he touched the ball at Zaragoza’s Romareda stadium.

Peanuts were also thrown on to the pitch after he scored. “I danced like a monkey because they treated me like a monkey,” said the Barcelona striker. (www.news.bbc.co.uk, 6 May 2005).

Penerapan EEO di Perusahaan

Secara legal formal, Equal Employment Opportunity sudah selesai. Para pekerja, dan bahkan para pencari kerja, dari negara-negara yang telah meratifikasi konvensi ILO tentang EEO boleh tersenyum. Artinya, tidak ada lagi diskriminasi dalam bentuk apapun di negara-negara yang telah meratifikasi EEO.

Di Indonesia, ketentuan tentang EEO dimuat dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, Pasal 5 dan Pasal 6,  yang berbunyi sebagai berikut :

•   Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (Pasal 5).

•   Setiap pekerja / buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. (Pasal 6).

Bagaimana praktek sesungguhnya? Secara umum baik, artinya sebagian besar perusahaan berusaha memberikan kesempatan yang sama dan perlakuan yang sama kepada para pekerja dan angkatan kerja. Tetapi, sebagaimana umumnya penegakan hukum di Indonesia, kelemahan mendasar adalah pada konsistensi dan law enforcement. Harap maklum.

Negeri Paman Sam yang memposisikan diri sebagai “kiblat” dan “guru besar” di bidang demokrasi, sejatinya bukan teladan yang baik dalam hal penghapusan diskriminasi. Butuh waktu lebih dari 200 tahun agar orang seperti Obama dapat menjadi seorang presiden. Tentu saja, keberhasilan Obama menjadi presiden AS, tidak serta merta berarti tidak ada lagi diskriminasi di negeri Paman Sam.

Dr. Martin Luther King, Jr. sampai harus mengorbankan nyawanya demi demokrasi di negeri yang mengaku cinta demokrasi. Nelson Mandela harus mendekam di penjara selama kurang lebih 27 tahun untuk memperjuangkan penghapusan apartheid di Afrika Selatan. Perjuangan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dan perlakuan yang sama memang tidak semudah membalik tangan.

Tampak Siring, 25 Desember 2011

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: