RSS

Monthly Archives: January 2012

Team Performance Curve

Saya setuju dengan “pembelaan diri”  Lionel Messi yang selalu dianggap sebagai “biang keladi”  atas kegagalan timnas sepakbola Argentina di ajang Piala Dunia dan Copa America. Menurut Messi, FC Barcelona tidak dapat dibandingkan dengan timnas Argentina.

Mengapa FC Barcelona menunjukkan prestasi di berbagai ajang kompetisi dan timnas Argentina “melempem”, jangan tanyakan kepada Messi. Mengapa Messi berprestasi luar biasa pada saat membela FC Barcelona dan mengapa Messi tidak mampu mengangkat prestasi timnas Argentina, juga jangan tanyakan kepada Messi.

Bagi Lionel Messi, FC Barcelona dan Timnas sepakbola Argentina adalah dua kesebelasan yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam hal prestasi yang telah diraih (baca : hasil / result), melainkan terutama dalam proses untuk mencapai prestasi. Messi mendeskripsikan perbedaan antara FC Barcelona dan timnas Argentina sebagai berikut :

(i.)   “Mereka yang mendukung Barca, atau mereka yang tak mendukung pun mengakuinya (Barca tim terbaik di dunia). Prestasi itu merupakan hasil dari kerja keras selama bertahun-tahun dengan pemain-pemain yang sama,”

(ii.)  “Di timnas Argentina, pada sisi lain, kami tak mampu meraih hasil yang kami inginkan. Ada banyak (pergantian) pelatih dan kami selalu memulai segala sesuatunya dari awal,” terang Messi.” (Sumber : http://www.bola.net; 27 Desember 2011)

Ada dua hal penting yang ditekankan oleh Messi, yaitu :

(i.)           “ada banyak (pergantian) pelatih dan kami selalu memulai segala sesuatunya dari awal”. Artinya, sebagai sebuah tim, timnas Argentina adalah sebuah tim yang baru dibentuk dan memiliki anggota yang selalu berganti-ganti, termasuk pelatih.

(ii.)          “prestasi itu merupakan hasil kerja keras selama bertahun-tahun dengan pemain-pemain yang sama”. Artinya, FC Barcelona bukan tim yang baru dibentuk. Saling pengertian dan kerja sama di antara anggota tim sudah berjalan baik dalam waktu relatif lama.

Untuk memahami “pembelaan diri” Messi, pembahasan tentang bagaimana sebuah team  terbentuk, tumbuh, berkembang dan berpretasi menjadi relevan. Demikian pula pemahaman tentang bagaimana sebuah tim mampu menunjukkan prestasi.

Group Development

Menurut Bruce Tuckman, setiap kelompok tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap forming, storming, norming, dan performing. Sebuah kelompok hampir mustahil tiba-tiba menunjukkan prestasi yang luar biasa.

Berikut penjelasan tentang group development yang saya kutip dari sumber http://www.practical-management-skills.com/  :

  • FORMING : When team members first come together, they are typically polite and spend a lot of time observing other members on the team. They are focused on their own agenda and there is no common goal at this stage. 

There is no clear process followed and team roles have not been identified. Members tend to feel unsure at this stage, typically looking for a lot of direction from the team

  • STORMING : As the team becomes more established, it’s members become more vocal. They compete with each other, keeping their own agendas to the forefront. There is a lot of conflict, both within the team and with external groups.

Members can get disillusioned at this stage, but it is productive and it is an essential part of teambuilding in the workplace. All issues and concerns are brought out in the open and this is important, as long as the conflict is constructive.

  • NORMING : Eventually a common goal is agreed, and a leader is chosen if this is not already decided. The roles of each team member are chosen, and they take on tasks that suit their skills and experience.

There is more constructive discussion and a direction is taken. Team members have a much better relationship with each other and an understanding of what is teamwork in the real sense.

  • PERFORMING : At the peak of a team’s life cycle, goals are being met through good working practices and good working relationships. Team members are motivated and the leadership is effective. There is still conflict from time to time, but this is of a constructive nature.

If a new member joins the team, or if a new task or project is given, then the team may move back to an earlier stage in its development.

Mengapa di tahun pertama kepelatihannya di  FC Real Madrid (2009/2010), Mourinho gagal mempersembahkan gelar juara La Liga Spanyol dan Liga Champions?. Meskipun bertaburan bintang, Real Madrid “hanya” berhasil merebut “piala hiburan” berupa Copa del Rey. Tentu saja sebuah prestasi yang sangat tidak sebanding dengan “mulut besar” Mourinho dan uang yang sudah dihambur-hamburkan oleh Real Madrid.

Di tahun pertama kepelatihannya (2008/2009), pelatih “ingusan” yang baru pertama kali menangani tim senior FC Barcelona, Guardiola sudah mempersembahkan 6 piala bergengsi, yaitu : La Liga, Copa del Rey, Supercopa des Espana, EUFA Champions League, UEFA Super Cupdan FIFA Club World Club. Sampai dengan Desember 2011, Guardiola sudah mengantarkan FC Barcelona meraih 13 gelar bergengsi. Mengapa demikian? Sebab, sebagai  sebuah tim, FC Barcelona sudah melewati tahap-tahap forming, storming, norming dan tinggal “tancap gas” atau “take-off” untuk performing.

Kendala utama bagi FC Real Madrid untuk segera performing adalah teamwork. Di Real Madrid, turnover pemain relatif sangat tinggi. Konsekuensinya, Real Madrid membutuhkan waktu relatif lebih lama daripada FC Barcelona untuk membangun teamwork yang solid. Terbukti, setelah dua musim kompetisi bersama-sama, tim Real Madrid 2011/2012 jauh lebih kuat dan mampu bersaing melawan tim Barcelona. Melihat teamwork yang semakin membaik, bukan tidak mungkin Real Madrid akan merajai La Liga Spanyol dan Liga Champion 2011/2012.

Team

Jika ada “kambing hitam” yang layak dipersalahkan atas berbagai kegagalan timnas Argentina menjadi juara Piala Dunia dan Copa Amerika, maka kambing hitam itu bernama teamwork.

Dalam buku mereka yang berjudul “The Wisdom of Teams, Creating The High-Performance Organization”, Katzenbach dan Smith (1993) mendefinisikan team sebagai “a small number of people with complementary skills who are committed to a common purpose, performance goals and approach for which they hold themselves mutually accountable.”

Definisi Teamwork dari Webster’s New World Dictionary adalah sebagai berikut  “a joint action by a group of people, in which each person subordinates his or her individual interests and opinions to the unity and efficiency of the group.”

(c) Crimson Studios 2007

Menurut mantan pelatih timnas Argentina, Alfio Basile, kesalahan terbesar mereka adalah tidak memiliki kerjasama tim, sebagaimana saya kutip sebagai berikut :

  • “Bukan kesalahan Messi jika Argentina gagal, Itu sama sekali tidak ada kaitannya. Argentina kalah karena mereka bukan bermain untuk tim, tetapi mereka bermain untuk diri sendiri.”
  • “Di Barcelona, Messi bermain sangat nyaman karena tim tidak bermain untuknya, namun mereka bermain untuk sebuah tim. Mereka bermain melalui Xavi, Sergio Busquets, Selain itu juga ada Dani Alves.”
  • “Jika ingin dibandingkan, Argentina masih belum ada apanya ketimbang klub raksasa Spanyol. Karena permainan Barcelona ialah sebuah kerjasama, sedangkan permainan Argentina ialah permainan diri sendiri.”
  • “Jika ingin menyalahkan, jangan hanya salahkan Messi, tetapi salahkan semua pemain Argentina yang tidak bekerjasama.” Tegasnya. www.channelbola.com 24 July 2011.

Dengan menggunakan definisi dari Katzenbach dan Smith, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya timnas Argentina yang bertanding di ajang Piala Dunia dan Copa America, belum dapat disebut sebagai sebuah team. Mungkin saja timnas Argentina sudah memiliki complementary skills, a common purpose, performance goals, dan approach, tetapi mereka belum memiliki mutually accountable. Tanggung jawab keberhasilan timnas Argentina dibebankan kepada “mukjizat” seorang Lionel Messi.

Team Performance Curve

Katzenbach dan Smith mengklasifikasikan team menjadi working group, pseudo team, potential team, real team, dan extraordinary team. Untuk dapat menunjukkan prestasi, sebuah team harus menjalani “metamorfosa” dari working group menjadi extraordinary team. Tentu saja, diperlukan waktu untuk membangun sebuah extraordinary team.

Copyright (c) 1993 Katzenbach and Smith

Sebagai sebuah team, FC Barcelona telah “khatam” menjalani proses “metamorfosa” sebagai extraordinary team yang telah, sedang, dan akan melanjutkan prestasi. Dalam konteks ini, dapat dimengerti mengapa ada “mantra” never change the winning team.

Sedangkan timnas Argentina, sedang dalam proses “metamorfosa” dari working group menjadi extraordinary team. Timnas Argentina belum menjadi sebuah winning team,  anggota team dan pemimpinnya (baca : pelatih) selalu berganti-ganti.

Dalam konteks group development dan team performance curve, sangat dapat dipahami mengapa performance impact FC Barcelona dan timnas Argentina tersebut bagaikan bumi dan langit.

Tampak Siring,  Januari 8 Januari 2012

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on January 30, 2012 in Management

 

“Keseleo Lidah”

Ada apa lagi dengan George Junus Aditjondro? Di era Orde Baru, George adalah salah seorang yang berada di barisan depan yang mengkritisi Jenderal Besar  Soeharto. Setelah Orba tumbang, seolah-olah George kehilangan “musuh bebuyutan” yang sepadan, sehingga George gampang “keseleo lidah”.

Semua berawal dari pernyataan George dalam diskusi tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 30 Nopember 2011 yang lalu. Seperti diberitakan dalam Kompas, 14 Januari 2012, dalam forum tersebut George mengatakan “Keraton Yogya itu hanyalah  kera yang ditonton”.

Photo of Sri Sultan Hamengku Buwono X courtesy of http://www.kotajogja.com

Niat baik dari George untuk memintaa maaf langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X memang sudah ada, meskipun belum ada kesempatan bertemu langsung dengan Sri Sultan. Sementara itu, proses hukum sedang berjalan. Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengirimkan surat pencekalan George ke Direktorat Jenderal Imigrasi. “Bonus” juga sudah menanti George, yaitu sebagai tersangka kasus pelecehan lembaga adat Keraton Yogyakarta sejak awal Januari lalu (Kompas, 14 Januari 2012). Kita tunggu saja “episode” berikutnya.

Lidah dan Mulut

Masyarakat Indonesia menggunakan lidah dan mulut sebagai penanda bahwa manusia seyogyanya berhati-hati dengan apa yang dikeluarkan dari mulut. Kalau ingin mengetahui kualitas seseorang, dengarkan saja apa yang diucapkannya. Lidah dan mulut adalah “tools” yang objective, valid, dan reliable untuk mengetahui kualitas seseorang.

Beberapa peribahasa dari leluhur yang sudah sering kita dengar menegaskan kecanggihan lidah dan mulut sebagai parameter kualitas seseorang, antara lain : “tong kosong bunyinya nyaring”, “air beriak tanda tak dalam”, “mulutmu harimaumu”, dan lain sebagainya.

Sebuah peribahasa bangsa Irlandia mengatakan bahwa “everyone is wise, until he speaks”. Pada dasarnya, semua manusia adalah bijak, tetapi hanya sampai sebelum berbicara. Setelah berbicara, tidak semua orang bijaksana lagi.

Di Indonesia, saya lebih suka “mengedit” peribahasa bangsa Irlandia tersebut menjadi “everyone speaks, until he is wise”. Sejatinya, orang Indonesia tidak terlalu suka bicara di depan publik, apalagi memberikan kata sambutan. Tetapi sejak era reformasi, karakter asli bangsa Indonesia lebih muncul : setiap orang berbicara dan hanya berhenti ketika ia sudah menjadi orang bijak.

Di masyarakat lain, karakter manusia diukur dari letak hati dalam mulut. Ada perbedaan signifikan antara manusia yang memiliki hati yang terletak di belakang mulut dibandingkan manusia yang memiliki hati di depan mulut. Hati yang terletak di belakang mulut akan menjadi “filter” sehingga kata-kata dan kalimat yang keluar mengandung energi positif.

 

Siapa Saja Dapat “Keseleo Lidah”

“Keseleo lidah” seringkali diawali oleh ketidaksengajaan dan ketidaktahuan. George sendiri mengakui bahwa ada yang salah dengan ungkapan plesetan (guyonan) yang disampaikannya dalam diskusi itu. George juga mengakui bahwa plesetan yang digunakannya tidak pada tempatnya. Dalam konteks ketidaksengajaan dan ketidaktahuan, siapa saja dapat “keseleo lidah”.

Tentu saja tidak semua orang yang “terjerembab”  dalam situasi “keseleo lidah” selalu disebabkan oleh ketidaksengajaan dan ketidaktahuan. “Keseleo lidah” juga seringkali disebabkan oleh hati yang majal (baca : tumpul / tidak tajam) dan tidak peka terhadap heterogenitas masyarakat dan sistem nilai budaya.

Komunikasi Bukan Hal Yang Sepele

George Junus Aditjondro adalah seorang dosen dan penulis buku. Sepp Battler adalah seorang Presiden FIFA. Luis Suarez adalah seorang pesepakbola profesional. Mereka bukan orang sembarangan. Tidak sekali atau hanya dua kali mereka bicara di depan publik. Tetapi fakta bahwa mereka “keseleo lidah” membuktikan bahwa komunikasi bukan urusan yang sepele dan tidak dapat dianggap enteng.

Percaya diri berbicara di depan publik bukan modal yang cukup. Teknik komunikasi yang canggih juga tidak selalu membantu dalam proses komunikasi. Dalam bukunya “7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 :  239) mengingatkan sebagai berikut :

So if you want to be really effective in the habit of interpersonal communication, you cannot do it with technique alone. You have to build the skills of empathic listening on a base of character that inspires openness and trust. And you have to build the Emotional Bank Accounts that create a commerce between hearts.”

Cultural Relativism

Meskipun sudah meminta maaf atas ucapannya kepada Patrice Evra, Luis Suarez masih juga ngedumel sebagai berikut :

“Di negara saya, kata ‘negro’ biasa digunakan dan kata itu tidak menunjukkan tidak adanya penghormatan. Berdasarkan ini, semuanya yang telah diberitakan sejauh ini, salah.” (www.bbc.co.uk, 4 Januari 2012).

Suarez mungkin lupa bahwa ia sedang berada di Inggris dan mencari makan di English Premier League. Apa yang benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, sudah pasti berbeda  dalam setiap masyarakat dan kebudayaan yang berbeda pula.

Setali tiga uang, Battler masih juga “ngeles”. Meskipun stakeholders di dunia sepakbola sudah mengingatkan Battler untuk meminta maaf, bahkan menuntut mundur dari jabatan presiden FIFA.  Battler merasa tidak pernah menganggap enteng dengan rasialisme di sepakbola dengan “enteng” ia berkata, “there is no racism [on the field], but maybe there is a word or gesture that is not correct,” Blatter told CNN. “The one affected by this should say this is a game and shake hands.” (www.news.bbc.co.uk, 16 November 2011)

Battler dan Suarez mungkin lupa, atau mungkin juga tidak mengetahui, bahwa hidup dalam masyarakat yang sangat heterogen, diperlukan pemahaman terhadap cultural relativism.  Salah satu definisi dari cultural relativism adalah sebagai berikut : http://www.gotquestions.org/ cultural-relativism.html

Cultural relativism is the view that all beliefs, customs, and ethics are relative to the individual within his own social context. In other words, “right” and “wrong” are culture-specific; what is considered moral in one society may be considered immoral in another, and, since no universal standard of morality exists, no one has the right to judge another society’s customs.

Cultural relativism is widely accepted in modern anthropology. Cultural relativists believe that all cultures are worthy in their own right and are of equal value. Diversity of cultures, even those with conflicting moral beliefs, is not to be considered in terms of right and wrong or good and bad. Today’s anthropologist considers all cultures to be equally legitimate expressions of human existence, to be studied from a purely neutral perspective. (http://www.gotquestions.org/ cultural-relativism.html)

Singkat kata, di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung. Janga lupa bahwa, it’s nice to be important, but it’s more important to be nice.

Tampak Siring, 15 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2012 in Selasar

 

Winning the Mom Market in Indonesia

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2012 in e-Learning

 

Promotion-from-within

Sejak ditangani oleh Josep “Pep” Guardiola tahun 2008 yang lalu, FC Barcelona (“FCB”)  sukses meraih 13 gelar juara. Prestasi terbaik yang pernah diraih oleh pelatih FCB, bahkan mengalahkan hasil yang diraih oleh Johann Cruyff,  pelatih legendaris FCB. Di antara berbagai faktor sukses FC Barcelona, Pep menggarisbawahi faktor promotion-from-within.

“Kami bangga tampil di final Liga Champions dengan delapan pemain didikan kami. Mereka telah belajar dalam filosofi klub ini, yang kami sebut sebagai meterai La Masia. Tak masalah dari mana Anda berasal. Lionel Messi adalah orang Argentina, tetapi jika Anda melihat gaya bermainnya, itu semua adalah gaya Barcelona. Untuk suporter, merupakan hal luar biasa memiliki pemain-pemain yang bisa mereka kenali secara otomatis,” tambahnya (www.bola.kompas.com, 30 Desember 2011).

Dalam literatur Manajemen SDM disebutkan bahwa sumber rekruitmen dapat berasal dari sumber internal dan sumber eksternal. Promotion-from-within adalah metode dari rekruitmen dari sumber internal. Artinya, untuk mengisi posisi-posisi yang lowong dalam perusahaan, karyawan yang saat ini bekerja di perusahaan, mendapatkan prioritas untuk mengisinya.

William Hubbartt mendefinisikan promotion-from-within sebagai berikut “Generally, a promotion from within policy means that the employer has stated a commitment to consider current employees for promotion opportunities before hiring candidates from outside of the organization.” (Sumber : http://www.askjim.biz/answers/promotion-from-within-definition_2090.php)

Hal ini bukan berarti bahwa sumber rekruitmen eksternal tidak lebih baik dibandingkan dengan sumber rekruitmen internal. Efektivitas sumber rekruitmen pada dasarnya ditetukan oleh berbagai faktor  yang selalu berubah-ubah.

Tetapi dalam konteks teamwork dan group development, secara teoritis sumber rekruitmen internal relatif lebih berpotensi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan rekruitmen dari sumber eksternal.

Photo courtesy of Action Images

(Keterangan Foto : Gerard Pique (berdiri, di samping kiper), Fabregas

(jongkok,paling kanan, di bawah kiper)

Tahun 2010, FCB  membutuhkan tambahan striker untuk menggantikan Zlatan Ibrahimovic yang tidak menunjukkan kinerja terbaiknya dan diputuskan untuk dilepas ke AC Milan. Salah satu kandidat favorit Guardiola adalah Robinho. Tidak ada yang meragukan kualitas Robinho. Masalahnya, karakter Robinho adalah “bad boy”, baik di FC Real Madrid maupun FC Manchester City.

Melihat kondisi dan kebersamaan sesama pemain FCB sudah baik, para pemain FCB pun resah jika Robinho bergabung dengan FCB terealisasi. Para pemain pun mengutus Xavi Hernandez untuk menyampaikan “isi hati” para pemain. Intinya, mereka “menolak” kehadiran Robinho dan berpendapat bahwa striker yang dimiliki oleh FCB sudah lebih dari cukup.

Pelatih Guardiola pun “mengalah”, meskipun kemudian tetap merekrut David Villa untuk memperkuat barisan penyerang FCB. Dalam konteks teamwork dan group development, “penolakan” Robinho memang masuk akal. Para pemain FCB tidak keberatan dengan kehadiran David Villa yang sudah sama-sama memperkuat timnas Spanyol.

Plus minus Kebijakan Promotion-From-Within

Dalam buku mereka Managing Human Resources, menurut Bohlander dan Schnell (2004), kebijakan promosi dari dalam memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan sekaligus mengandung beberapa kelemahan sebagai berikut :

Manfaat Kebijakan Promosi Dari Dalam :

  • Capitalizes on past investments (recruiting, selecting, training, and developing) in current employees.
  • Rewards past performance and encourages continued commitment to the organization.
  • Signals to employees that similar efforts by them will lead to promotion.
  • Fosters advancement of members of protected classes within an organization.

Kelemahan Kebijakan Promosi Dari Dalam :

  • Current employees may lack the knowledge, experience or skills needed for placement in the vacant/new position.
  • The hazards of inbreeding of ideas and attitudes (“employee cloning”) increase when no outsiders are considered for hiring.
  • The organization has exhausted its supply of viable internal candidates and must seek additional employees in the external job market.

Kebijakan Rekruitmen dan Kinerja Perusahaan

Memperdebatkan kebijakan rekruitmen apakah sebaiknya berasal dari sumber internal  atau dari  sumber eksternal, tetapi tanpa menunjukkan bagaimana hubungan kebijakan rekruitmen dan kinerja perusahaan adalah perdebatan yang sia-sia.

Dalam artikelnya yang berjudul “The Search for Executive Talent”, Stephen J. Zacarro (2010 : 8) menunjukkan beberapa temuan tentang hubungan antara kebijakan rekruitmen dan kinerja perusahaan sebagai berikut :

More often than not, the result of hiring externally is lower performance, even though executives usually prefer recruiting outside their firm. Surprisingly, in studies of companies dealing with new directions, startup situations and cultural or strategic change, internal candidates were  still more successful than external candidates – even though these sorts of circumstances seem to favor external hires.

Outsider succession has been shown to result in lower post-succession performance, while internal succession is associated with higher subsequent. The statistics are stunning : in 2003, 55 percent of North American outsider CEOs were forced to resign because of performance. In Europe, it was 70 percent. Researchers also found that in companies that moved from below-average growth, only two out of 42 CEOs were outsiders. Finally, in a study of more than 200 CEO successions, external candidates were much more likely than internal candiates to be dismissed quickly.”

Ketika Harus Memilih

Meskipun hasil studi menunjukkan bahwa promotion-from-within relatif lebih efisien, efektif dan produktif, bukan berarti bahwa rekruitmen dari sumber eksternal “haram”. Kata kuncinya adalah : kapan sebaiknya perusahaan melalukan rekruitmen dari sumber eksternal?

Zacarro (2010 : 9) menunjukkan situasi dan kondisi di mana perusahaan perlu mempertimbangkan rekruitmen dari sumber eksternal, yaitu :

  • In environments conducive to organizational growth.
  • When previous performance of the firm was particularly low.
  • When strategic changes were made too slowly.
  • When the new CEO came with big changes in the executive team.

Meskipun rekruitmen dari sumber eksternal pada prinsipnya bermanfaat, kecenderungan umum adalah perusahaan mengandalkan rekruitmen dari sumber eksternal. Jumlah talent di pasar tenaga kerja relatif terbatas dan mahal, perusahaan-perusahaan menghadapi situasi “war for talent”. Dalam kondisi demikian, talent management dan employee engagement merupakan kunci bagi perusahaan untuk mampu bertahan, bersaing dan tumbuh.

Last but not least, wanti-wanti dari Williams Hubbartt tentang promotion-from-within berikut ini perlu diperhatikan secara seksama : “promoting from within the organization is typically a management goal, however, not a rule”. (Sumber : http://www.askjim.biz/answers/promotion-from-within-definition_2090.php).

Tampak Siring, 8 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2012 in Human Capital

 

Suicide

Tindakan bunuh diri atau suicide selalu “ngagetin” dan pelakunya tidak terduga. Bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang putus asa karena teralineasi, tereliminasi, stress, depresi, ikatan yang lemah kepada kelompok sosial, nilai-nilai sosial maupun nilai-nilai agama. Justru pelaku bunuh diri bisa seseorang yang sedang “on fire” memiliki ikatan kuat terhadap kelompok sosial, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agam.

Dari segi teknik, tidak ada teknik bunuh diri yang baru. Dari dahulu sampai sekarang, teknik bunuh diri ya begitu-begitu saja. Mulai dari minum racun, gantung diri, terjun bebas dari gedung tinggi, meledakkan bom, sampai dengan harakiri (menusuk perut dengan pedang samurai). Teknik bunuh diri yang relatif “moderen” adalah dengan cara menabrakkan pesawat ke menara kembar (World Trade Center) di New York. Sesungguhnya, teknik bunuh diri dengan menggunakan pesawat juga tidak terlalu baru. Teknik yang sama juga sudah diimplementasikan oleh pilot pesawat tempur Jepang melalui aksi kamikaze, tepatnya saat membumihanguskan Pearl Harbour.

Setali tiga uang, motivasi bunuh diri dari dahulu sampai sekarang juga begitu-begitu saja. Mulai dari putus cinta, hamil sebelum nikah, kalah judi, investasi yang ditanamkan rugi, “atas nama agama”, sampai dengan pertanggungjawaban atas kegagalan melaksanakan amanah (terutama dilakukan oleh orang Jepang).  Motivasi yang relatif “baru” adalah bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar. Motivasi pelaku adalah malu karena tidak mampu bayar uang sekolah. (Kenapa anak-anak SD itu mesti malu ya? Lha wong negara yang berjanji dalam UUD 1945 bertanggung jawab kepada anak-anak terlantar saja “tidak malu”? – red.)

Pandangan umum individu dan masyarakat tentang tindakan bunuh diri cederung negatif. Tetapi juga ada masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang “mengagungkan” tindakan bunuh diri sebagai bentuk pertanggungjawaban dan kesetiaan kepada kelompok sosial. Di Jepang, hara-kiri bukan dianggap sebagai perbuatan konyol, melainkan the traditional Japanese of honorable suicide.

Faktanya, semua orang, apapun latar belakang status sosial ekonomi, agama, suku, bangsa dan ideologi, berpotensi melakukan bunuh diri. Potensi bunuh diri tentu saja berbeda, dan terutama tingkat “keberanian” masing-masing orang untuk melakukan bunuh diri.

Perbedaannya, jika yang melakukan bunuh diri adalah orang-orang miskin, publikasi relatif minim, banyak orang tidak “ngeh” dan cepat melupakannya. Sebaliknya, jika yang bunuh diri orang terkenal, publikasi melimpah dan orang masih teringat, meskipun peristiwanya sudah lama berlalu.

Public figure yang bunuh diri memang lebih menarik atensi dan simpati. Paling tidak, hal ini terjadi di dunia sepakbola. Tahun 2009 Robert Enke – mantan kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman – bunuh diri. November 2011, Gary Speed, pelatih timnas sepakbola Wales juga bunuh diri. Bahkan, Babak Rafiati – seorang wasit sepakbola di Jerman – juga “berminat” bunuh diri, meskipun gagal.

Photo courtesy of AFP / Getty Image

Tulisan ini membatasi diri untuk tidak memberikan penilaian apapun terhadap tindakan bunuh diri, apapun metode dan medium yang digunakan. Bagi saya, minum obat tidur overdosis, menusuk perut dengan samurai, dan bakar diri hanya metode, substansinya adalah sama : bunuh diri. Tulisan ini menjelaskan tindakan bunuh diri dari sudut pandang sosiologi.

Jenis-Jenis Bunuh Diri

Emile Durkheim, seorang sosiolog berkebangsaan Perancis, adalah orang pertama yang secara ilmiah meneliti tentang bunuh diri. Temuan utama dari Durkheim adalah tindakan bunuh diri tidak selalu disebabkan oleh motivasi individual, melainkan juga faktor-faktor sosial masyarakat seperti norma-norma sosial, perubahan sosial, dan lain sebagainya. Artinya bunuh diri dapat saja dilakukan untuk memenuhi kepentingan individu yang bersangkutan maupun kepentingan sosial yang lebih luas.

Durkheim juga menemukan bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang relatif erat, kecenderungan untuk melakukan bunuh diri lebih kecil atau bahkan besar. Sebaliknya, meskipun secara seseorang dalam status sosial ekonomi relatif baik, namun jika orang tersebut teralienasi, “tereliminasi”, dan merasa terasing – sekalipun ia hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial relatif kuat – bisa saja melakukan bunuh diri.

Secara sosiologis tidak ada hal-hal baru dalam tindakan bunuh diri. Dari dahulu sampai sekarang, motivasi dan bentuk-bentuk bunuh diri tidak mengalami perubahan yang signifikan. Mungkin saja cara dan medium yang dipilih untuk melakukan bunuh diri baru, tetapi substansinya tetap sama saja.

Sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri salah atau benar dan baik atau tidak. Setiap sistem nilai budaya dan agama memiliki kriteria yang berbeda-beda untuk menilai bunuh diri. Sosiologi membedakan tindakan bunuh diri menjadi tiga jenis, yaitu anomic suicide, egoistic suicide dan altruistic suicide.

Klasifikasi bunuh diri didasarkan atas sebab-sebab atau motivasi dari bunuh diri. Perbedaan sebab-sebab atau motivasi tersebut lebih bersifat teoritis daripada praktek. Faktanya, yang sering terjadi adalah pencampuradukan antara ketiga jenis bunuh diri.

Setiap orang bisa saja mengaku bahwa tindakan bunuh diri yang dilakukannya didasarkan atas “perintah agama”, “menegakkan kebenaran” dan lain sebagainya sehingga seolah-olah tindakan bunuh diri yang dilakukan lebih pantas disebut altruistic suicide daripada egoistic suicide. Apakah pernyataannya benar atau tidak, hanya Tuhan Yang Mahamengetahui yang bisa menjawab.

Anomic Suicide

Dalam karya mereka berjudul “A Modern Dictionary of Sociology”, Theodorson dan Theodorson (1979 : 427)  mendefinisikan anomice suicide sebagai “a type of suicide that results from normlessness or social and personal disorganization. The value system of the group no longer has meaning for the individual, and he feels isolated, lonely, and confused. Any disruption of a way of life may leade to this type of suicide.”

Anomic suicide terjadi dalam masyarakat yang dalam kondisi tidak normal, antara lain akibat perubahan sosial yang relatif cepat, krisis ekonomi, resesi ekonomi, konflik sosial antar warga dalam satu masyarakat, maupun konflik sosial antarmasyarakat. Contoh dari anomic suicide yang disebabkan oleh krisis atau resesi ekonomi seperti diberitakan harian replubika (9 September 2011) sebagai berikut :

“Jumlah kasus bunuh diri meningkat drastis di Uni Eropa. Demikian kesimpulan tim peneliti seperti diterbitkan dalam majalah ilmiah Inggris The Lancet.

Peneliti membandingkan angka bunuh diri di sepuluh negara anggota Uni Eropa dari tahun 2007 hingga 2009. Hasilnya: di sembilan negara terjadi peningkatan kasus bunuh diri, bervariasi antara lima sampai 17 persen.

Di Inggris misalnya, angka bunuh diri meningkat dari 6,14 per 100.000 orang di bawah usia 65 tahun, pada tahun 2007, menjadi 6,75 tahun 2009. Ini peningkatan sepuluh persen.

Penyebab terbesar kasus bunuh diri di negara Yunani dan Irlandia, adalah krisis ekonomi. Peneliti tidak terkejut dengan hasil tersebut. Sudah sejak awal krisis, mereka meramalkan akan terjadi peningkatan jumlah bunuh diri. Juga di masa lampau terlihat adanya kaitan antara jumlah bunuh diri dengan situasi ekonomi.”

Egoistic Suicide

Egoistic suicide adalah “suicide that is due to the existence of strong social norms for which the individual is made to feel personally responsible, resulting in an overwhelming burden  on the individual. The group itself is not strong enough to provide the individual with a sufficient source of support and strength  outside himself. Nor is it sufficiently integrated to be able collectively to mitigate the individual’s feeling of responsibility and guilt for moral weaknesses and failure. Egoistic suicide is due to a strong value system, weak group integration, and an overpowering sense of personal responsibility.” (Theodorson and Theodorson, 1979 : 428)

Egoistic suicide bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli status sosial ekonomi orang yang bersangkutan. Orang-orang miskin yang terjerat kemiskinan struktural turun temurun dan bertahun-tahun, atau bahkan “hanya” karena tidak mampu membayar uang sekolah, “menemukan” jalan keluar dengan cara bunuh diri.

Orang kaya yang serba berkecukupan, memiliki harta benda yang dapat diwariskan sampai tujuh turunan, juga bisa bunuh diri. Perasaan terasing, kosong, dan tidak memiliki pedoman hidup yang jelas dapat mendorong orang kaya untuk bunuh diri. Demikian juga orang kaya yang mendadak miskin, antara lain investor dan spekulan yang tiba-tiba mendadak miskin, kadang-kadang lebih cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri.

Altruistic Suicide

Altruistic suicide adalah “a type of suicide in which an individual who is very closely integrated into a gropu  or society kills himself for the welfare of the group. Altruistic suicide is motivated by a desire to serve the needs of the group. It is suicide based on self-sacrifice and tends to occur in social systems that deemphasize the importance of the individual.

Photo courtesy of http://www.historylink101.com

Contoh “klasik” tindakan bunuh diri jenis altrustic suicide adalah tindakan yang dilakukan oleh para penerbang pesawat tempur Jepang selama Perang Dunia II, terutama dalam penyerangan Pearl Harbour. Tindakan mereka dikenal dengan sebutan Kamikaze (secara harfiah berarti “angin topan”). Tindakan mereka dipuji dan dipuja. Para pelaku kamikaze dianggap sebagai pahlawan yang berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Sejarah mencatat bahwa pengorbanan dan hasil dari misi Kamikaze sangat sangat spektakuler pada zamannya. Di pihak Jepang sendiri berkorban  2.525 pesawat terbang dan 1.387 pilot. Sementara di pihak tentara sekutu, terutama Amerika Serikat, tercatat 81 kapal tenggelam, 195 kapal perusak (destroyer) rusak berat, 4.900 awak kapal terbunuh, dan melukai  lebih dari 4.800 pasukan sekutu (www.id.wikipedia.org).

Sosiologi tidak berpihak dan netral terhadap ketiga jenis bunuh diri yang ada dalam masyarakat. Artinya, sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri benar atau salah, baik atau tidak baik. Individu dan masyarakat sendiri yang memberikan penilaian terhadap tindakan bunuh diri sebagai tindakan yang benar atau salah, baik atau tidak baik.

Meskipun ada perbedaan penilaian terhadap tindakan bunuh diri, altruistic suicide cenderung lebih bisa diterima oleh individu, kelompok dan masyarakat dari agama dan sistem nilai budaya yang beragam. Dalam kondisi tertentu, sesuai “syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan” yang berlaku, altruistic suicide tidak dipandang sebagai perbuatan salah dan dosa, melainkan sebagai honorable suicide.

Tampak Siring,  7 Januari 2012

 
2 Comments

Posted by on January 20, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Komunitas Saber

“Try not to become a man of success but a man of value.” – Albert Einstein

***

Ada sebuah komunitas baru yang rajin bekerja dalam keheningan. Komunitas itu bernama Komunitas Saber (singkatan dari Sapu Bersih). Sepintas, istilah saber mengingatkan pada salah satu tim di balapan “jet darat”, yaitu “Sauber F1 Team”. Dalam bahasa Jerman, sauber berarti bersih. Nah, Komunitas Saber ini juga suka yang bersih-bersih.

Dengan hati yang bersih komunitas saber tidak lelah memunguti paku. Seperti ditulis di Kompas 10 Januari 2012 : “mereka bisa saja menutup mata atas paku yang bertebaran di jalan. Namun, ketika hukum tidak mampu melindungi warganya, 11 anggota komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku turun memunguti paku yang membahayakan pengendara jalan.”

Image courtesy of KOMPAS / Lasti Kurnia

Komunitas Saber adalah kelompok sosial atau organisasi mandiri. Mulai dari gagasan sampai dengan pendanaan operasional adalah murni mandiri dari para anggota. Tidak ada “Godfather” yang menyuruh dan melindungi mereka. Tidak ada fit and proper test sebagaimana untuk menjadi anggota dan ketua lembaga-lembaga yang dibentuk oleh negara.

Siapa saja boleh menjadi anggota komunitas ini. Modal yang paling penting adalah hati yang ikhlas. Jangan anggap remeh hati yang ikhlas. Bagaimanapun, setiap manusia, tidak akan mampu bersandiwara dan berpura-pura memiliki hati yang ikhlas.

Pada akhirnya, bukan apa yang kita kerjakan yang menentukan nilai dari suatu perbuatan, melainkan keikhlasan. Al-Ghazali mengingatkan kepada kita bahwa “Semua orang akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.” Senada dengan itu, Bunda Theresa mengatakan bahwa “It is not how much we do, but how much love we put in the doing. It is not how much we give, but how much love we put in the giving.”

Bagaimana profil dari anggota komunitas Saber? Anggotanya sangat heterogen (meskipun tidak ada dari kalangan kelas menengah, apalagi orang-orang “gedongan”). Ada pengendara motor yang berkali-kali menjadi korban paku di jalan. Ada tukang parkir, tukang bangunan, dan beragam pekerjaan lainnya yang dipandang sebelah mata.

No risk no gain. Tidak ada penghasilan berupa uang yang diterima oleh para relawan komunitas saber. Tetapi pasti, dengan menebar energi positif (epos), mereka memiliki tabungan energi positif. Tetapi risiko yang mereka hadapi tidak dapat dianggap sepele. Seperti ditulis Kompas, “Susurudin (tukang parkir di Jalan Hasyim Ashari, Jakarta Pusat – red) pernah dilempar botol oleh orang lewat. Tiga hari berselang, dua pengendara sepeda motor matik warna hijau merampas mangnetnya sembari mengancamnya. Wajah mereka ditutupi helm rapat-rapat. Motor itu juga tidak ada pelat nomornya.”

Mengigat risiko yang dihadapi oleh komunitas saber, mungkin peran mereka dapat dibandingkan dengan Elliot Ness dan kawan-kawan melawan gembong mafia “The Untouchable” Al Capone. Di mana saja, termasuk di sekitar kita, selalu hadir “the untouchable”. Semoga Tuhan Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang melindungi anggota komunitas saber dan keluarga mereka dari orang-orang jahat yang berlagak sebagai “the untouchable”.

Tampak Siring, 11 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2012 in Body | Mind | Soul

 

Sergio Busquets Burgos

Selalu ada pahlawan tanda jasa :  di mana saja, kapan saja, dan siapa saja. Tidak seperti di Indonesia bahwa “pahlawan tanda jasa” adalah “kadedeuh” istimewa dan selamanya hanya untuk para guru. Sejatinya, di bidang apapun, selalu ada pahlawan tanda jasa. Tidak hanya guru, tetapi juga profesi lain, terutama para petani.

Di dunia sepakbola juga ada “pahlawan tanda jasa”. Pahlawan dengan tanda jasa selalu menjadi hak istimewa dari para penyerang, atau minimal playmaker (gelandang pengatur serangan). Nyaris tidak pernah, pahlawan dengan tanda jasa diberikan kepada pesepakbola di posisi gelandang bertahan, back, dan penjaga gawang. Tentu saja pernah, tetapi anggap saja itu sebagai pengecualian.

Lionel Andres “Leo” Messi adalah salah satu pesepakbola, tepatnya striker, yang beruntung bergelimang dengan “segambreng” penghargaan, di antaranya : FIFA World Player of The Year (2009), FIFA Club World Cup Golden Ball (2009 dan 2010), UEFA Best Player in Europe (2011), European Golden Shoe (2010), FIFA Ballon d’or (2009, 2010, 2011)  dan L’Equipe Champion of Champion (2011). Sebagai “pemulung”, Messi telah mengumpulkan 68 penghargaan selama kariernya.

Messi mampu menyabet trofi Champion des Champions (juara dari para juara). Tidak tanggung-tanggung, tahun ini Messi meraih trofi CdC setelah “menumbangkan” petenis Novac Djokovic dan juara Formula 1 Sebastian Vettel, masing-masing di urutan kedua dan ketiga (www.detiksport.com, 27 Desember 2011). Artinya, prestasi Vettel yang fenomenal itu dianggap masih “belum apa-apa” dibandingkan prestasi Messi. Pesepakbola yang pernah meraih CdC juga bisa dihitung dari jari-jari sebelah tangan. Mereka adalah Paolo Rossi (1982), Diego Maradona (1986), Romario (1994) dan Zinedine Zidane (1998).

Bagaimana dengan teman-teman senasib dan seperjuangan Messi di La Masia, sebut saja misalnya Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Pedro? Atau, bandingkan penghargaan yang diterima Messi dengan seniornya di FC Barcelona, yaitu Xavi Hernandez dan Andres Iniesta?

Penghargaan yang diterima Messi sangat tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima oleh “Trio Sekawan”, terutama  Sergio Busquets, teman satu angkatan dengan Messi di La Masia,  akademi sepakbola milik FC Barcelona. Tidak ada satupun penghargaan di bidang sepakbola yang pernah diterima Busquets, kecuali medali penghargaan yang diterima dari negara Spanyol sebagai anggota Tim Spanyol di Piala Dunia 2010.

Tidak ada protes, tidak ada keluh kesah, meskipun kontribusi dan prestasi Busquets untuk FC Barcelona dan timnas sepakbola Spanyol juga “hebring”. Di samudera kehidupan yang riuh dan hiruk pikuk ini, memang selalu dibutuhkan manusia-manusia yang mau dan mampu – meminjam istilah Gede Prama – “istirahat dalam keheningan”. Busquets, Makelele, dan Gilberto adalah sedikit dari mereka yang mau dan mampu “istirahat dalam keheningan”.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Meskipun belum pernah menerima satu penghargaan bergengsi di sepakbola, sejatinya Busquets, Pique, dan Pedro lebih bahagia dibandingkan dengan Messi. Tiga sekawan tersebut sudah mempersembahkan Juara Dunia kepada Spanyol. Jangankan Piala Dunia, Copa America (kejuaraan sepakbola negara-negara Amerika Selatan) pun Messi belum pernah mempersembahkannya kepada Argentina.

Penghargaan pesepakbola terbaik memang penghargaan yang diberikan oleh para pelatih sepakbola, para “kuli tinta” di bidang sepakbola khususnya dan wartawan olahraga pada umumnya, serta lembaga-lembaga yang mengurusi sepakbola, antara lain FIFA, UEFA, dan “PSSI”nya masing-masing negara.

Image courtesy of http://www.google.com

Tetapi pujian yang tulus dan ikhlas tidak diperlombakan dan tidak diperebutkan. Pujian yang tulus dan ikhlas adalah “hak istimewa” yang dimiliki oleh seorang pesepakbola untuk memberikan penghargaan kepada rekan-rekan mereka yang berjasa. Itulah yang dilakukan oleh Xavi Hernandez kepada Busquets.

Faktor Sergio Busquets.

Saya tidak heran ketika Xavi menyebut sebuah nama sebagai sosok penting dalam skema permainan FC Barcelona, yaitu Sergio Busquets. Posisinya adalah gelandang bertahan. Dalam tim utama FC Barcelona, Busquets selalu bermain sebagai starter. Posisinya hampir pasti tidak tergantikan, bahkan oleh pemain sekaliber Javier Mascherano. Untuk masuk dalam tim utama, Mascherano harus “rela” menjadi center back, itupun sebagai pemain pengganti jika  Carlos Puyol atau Gerard Pique cedera.

Tentu bukan kompetensi Busquets yang dibicarakan Xavi, melainkan kontribusinya bagi FC Barcelona. Berikut adalah deskripsi tentang kompetensi dan kontribusi Busquets terhadap tim Catalan tersebut  :

  • “Melihat skema permainan Barca yang aktraktif dan menyerang, Busquets dituntut untuk selalu bisa tampil prima menjaga keseimbangan tim. Maka tak heran jika pesepakbola 23 tahun itu jarang sekali dicadangkan oleh Pep.
  • Sudah 160 kali ia tampil bersama Barca sejak debut di tim seniornya dan lima gol disumbangkannya. Perannya pun juga vital untuk kesuksesan timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia lalu.
  • “Tanpa Busquets kami mungkin tidak akan pernah mendapat seperti apa yang telah kami raih saat ini,” ujar Xavi seperti dilansir ESPN Star. Xavi menambahkan “Dia adalah pemain yang luar biasa dan tak pernah melakukan kesalahan,” simpulnya. (Kompas, 19 Desember 2011).

Pujian pun akhirnya datang juga dari sang pelatih, Josep “Pep” Guardiola : “Beberapa pemain bertahan kami, seperti Dani Alves, sering ikut mendukung serangan. Ini hanya bisa berhasil ketika pemain seperti Busquets dan Xavi mengenali lini tengah. Hampir semua serangan kami dimulai oleh Xavi dan ia melakukannya dengan luar biasa baik. Terlebih lagi, kami punya bek tengah yang bisa diandalkan dalam diri Puyol dan itu sangat membantu.”

Untuk mengetahui seberapa penting eksistensi dari seorang pesepakbola bagi sebuah klub sepakbola profesional, antara lain dapat menggunakan indikator “pagar” (baca : kontrak dan buy out clause) terhadap pesepakbola yang bersangkutan.

Sampai saat ini, Barcelona telah mengikat kontrak Busquets sampai dengan tahun 2015.  Klub sepakbola mana saja boleh memboyong Busquets, asalkan mau dan mampu menebus buy-out clause sejumlah 150 juta Euro. Angka yang tidak terlalu buruk, jika dibandingkan dengan buy-out clause Messi 250 juta Euro.

Peran Gelandang Bertahan dalam Sepakbola

Mourinho boleh “sombong” setelah berhasil mengantarkan FC Chelsea menjuarai English Premier League musim kompetisi 2005/2005   dan 2005/2006. Tetapi, jika harus berterima kasih kepada seorang pemain saja, maka Mourinho akan menyebut nama Claude Makelele.

Ketika “dibuang” oleh FC Real Madrid, FC Chelsea bagaikan mendapat “durian runtuh”. Betapa tidak, Makelele adalah gelandang bertahan yang memberikan kontribusi sangat besar bagi Real Madrid untuk meraih berbagai juara dalam kurun waktu 2000 sampai 2003, antara lain Piala Champion 2001/2002, juara La Liga musim kompetisi 2000/2001 dan 2002/2003.

Mourinho dan Chelsea sungguh beruntung memiliki seorang gelandang bertahan seperti Claude Makelele. Selama memperkuat Chelsea, Makelele memberikan kontribusi bagi Chelsea untuk menjadi juara EPL musim kompetisi 2004/2005 dan 2005/2006. Duet center back Chelsea saat itu – Ricardo Carvalho dan John Terry – boleh merasa tangguh, tetapi tanpa jasa Makelele mereka akan kewalahan menahan gelombang serang dari kesebelasan lawan.

Sampai saat ini, FC Arsenal adalah satu-satunya klub sepakbola di Inggris yang menjadi juara dalam satu musim kompetisi dan diraih tanpa pernah kalah (2003/2004). Prestasi ini diraih antara lain karena pada saat itu Arsenal memiliki Gilberto Silva, gelandang bertahan yang bertanggung jawab sebagai orang pertama memutus serangan lawan dan orang pertama yang menyalurkan bola kepada gelandang pengatur serangan.

Relevansi Dengan Perusahaan.

Di organisasi atau perusahaan apapun, juga ada posisi “gelandang bertahan”, terutama masuk dalam kelompok aktivitas pendukung (support activities), sebagaimana ditunjukkan model value chain dari Michael E. Porter sebagai  berikut :

courtesy of Michael E. Porter

Secara teoritis, unit kerja-unit kerja yang masuk dalam kelompok aktivitas utama dan unit kerja-unit kerja yang masuk dalam kelompok aktivitas aktivitas pendukung, sama-sama memberikan kontribusi pada pencapaian laba perusahaan. Dalam praktek, akan selalu ada unit kerja yang merasa ge-er (baca : gede rasa, atau sombong) memberikan nilai tambah yang lebih stratejik terhadap pencapaian laba perusahaan. Silakan saja!.

Faktanya, untuk menjadikan General Electric menjadi perusahaan nomor 1 – atau minimal nomor 2 – di industri yang ditekuninya, di negara manapun GE berada, Jack Welch – mantan CEO GE – meluangkan 50 persen dari waktunya untuk mengurusi SDM. Seperti yang dimuat dalam sebuah whitepaper Development Dimensions International (2006), disebutkan bahwa “They/CEO  got involved in recruiting top talent, grooming high-potentials, and reviewing talent pools”.

Tampak Siring, 24 Desember 2011.

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2012 in Selasar