RSS

Cerdas versus Tangguh

02 Jan

Cerdas dan tangguh berada dalam satu tubuh manusia adalah ideal. Tetapi cerdas dan tangguh tidak berada dalam satu tubuh manusia adalah fakta. Apa boleh buat.

Itulah yang dikatakan (dan disesalkan?) oleh Presiden Ferarri Luca di Montezemolo. Menurut Montezemolo, Fernando Alonso adalah pembalap tangguh. Tetapi sayang sekali, prediket pembalap cerdas – masih menurut Montezomolo – lebih layak disandang oleh “jagoan” Red Bull, Sebastian Vettel.

Picture courtesy of http://www.automiddleeast.com

Entah bermaksud “cari muka” atau tidak mau Alonso “ngambek”, Montezemolo buru-buru mengatakan bahwa, jika harus memilih pembalap yang cerdas atau pembalap yang tangguh, maka  ia lebih suka bekerja sama dengan pembalap yang tangguh.

“Ia (Vettel) adalah pemuda cerdas. Saya suka sikapnya dan jika saya harus memilih di antara pembalap dengan kemampuan setara, saya selalu akan memilih yang lebih berotak,” kata Di Montezemolo kepada Gazzetta dello Sport yang dikutip Planet F1.

“Akan tetapi, saya takkan menukar Alonso dengan siapapun, karena dalam sebuah balapan ia adalah pembalap yang paling tangguh saat ini,” simpulnya. (www.detiksport.com, 27 Desember 2011).

Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap Mental.

Cerdas merujuk pada knowledge (pengetahuan) dan skills (keterampilan). Sedangkan tangguh adalah salah satu “spesies” dari sikap mental. Di dunia kerja, persyaratan pekerjaan yang harus dimiliki oleh setiap karyawan mencakup faktor-faktor pengetahuan, keterampilan kerja, dan sikap mental kerja.

Di dunia olah raga, persyaratannya adalah teknis, stamina, dan sikap mental. Tidak sama persis dengan persyaratan pekerjaan  kantoran dan pabrik, tetapi substansinya sama saja. Cerdas merujuk pada teknis, sedangkan tangguh merujuk pada sikap mental.

Mana yang lebih penting : pengetahuan, keterampilan, atau sikap mental? Mana yang lebih penting : teknis, stamina, atau sikap mental? Tentu saja semuanya penting. Masalahnya, das Sollen (apa yang seharusnya) tidak selalu sama dengan das Sein (apa yang sesungguhnya). Baik karyawan maupun olahragawan, tidak selalu memiliki ketiga persyaratan tersebut dalam kualitas yang sama baiknya.

Mendian Steve Jobs adalah contoh “sempurna” dari orang yang memiliki kualitas pengetahuan, keterampilan dan sikap mental sama baiknya. Dengan tubuh yang sakit-sakitan, Jobs tetap inovatif, kreatif dan produktif.

Demikian juga dengan Lionel Andres “Leo” Messi. Meskipun ukuran tubuh tidak ideal untuk pesepakbola yang bertanding di level Eropa dan dunia – bahkan Messi menderita kelainan pertumbuhan – Messi memiliki kapabilitas teknis, stamina dan sikap mental sama baiknya. Bahkan, stamina Messi termasuk luar biasa. Meskipun selalu diturunkan dalam setiap pertandingan, dan selalu menjadi starter – Messi jarang cedera dan tidak tampak kelelahan fisik.

Jika Harus Memilih

Tidak ada pedoman baku, persyaratan apa yang harus diprioritaskan. Boss Ferrari lebih mengutamakan sikap mental tangguh. Mungkin, untuk saat ini, dalam kondisi kendaraan Ferarri kalah tangguh dibandingkan kendaraan Red Bull, lebih dibutuhkan ketangguhan seorang pembalap dibandingkan kecerdasannya. Jika situasi dan kondisi berbeda, bisa saja kriteria tertentu yang lebih diprioritaskan.

Pendapat subyektif saya, faktor sikap mental relatif lebih penting. Pada saat dua kandidat karyawan memiliki kapabilitas pengetahuan dan keterampilan teknis relatif sama, maka faktor sikap mental akan menjadi faktor pembeda yang sangat menentukan. Demikian juga dalam olahraga, jika dua orang olahragawan bertanding, atau jika dua tim bertanding, keduanya memiliki kualitas teknis dan ketahanan stamina relatif sama, maka faktor sikap mental akan “bicara”.

Meskipun talent (baca : pengetahuan kerja, keterampilan kerja, dan teknis kerja) sangat penting, saya cenderung menempatkannya diurutan terakhir setelah passion, enthusiasm, patience. Sehebat apapun pengetahuan kerja, keterampilan kerja, dan teknis kerja, tetapi tidak ada artinya jika seorang karyawan tidak memiliki passion, enthusiasm, dan patience terhadap pekerjaannya.

Itulah yang dikatakan oleh David Beckham ketika mengomentari kemajuan pesat yang dicapai oleh FC Manchester City. Untuk sebuah kompetisi sepakbola level tinggi, sangat kompetitif, dan berdurasi relatif panjang, faktor sikap mental menjadi sangat penting. Beckham bahkan meragukan the Citizens – julukan Manchester City – menjadi juara, sebab pemain-pemain City tidak memiliki ketangguhan mental yang dibutuhkan untuk menjadi juara.

Beckham lebih menjagokan Red Devils – julukan Manchester United – yang memiliki ketangguhan mental juara EPL musim kompetisi 2011/2012. Prediksi yang mungkin tidak salah. Meskipun sempat “dihajar” telak 6-1 oleh the Citizens dan beberapa pemain inti mereka dibekap cidera, pasca Boxing Day, Red Devils dan The Citizens sama-sama mengumpulkan poin 45.

Bukti bahwa sikap mental merupakan differentiator yang sangat penting mungkin lebih tepat ditunjukkan pada timnas sepakbola Jerman. Memang Jerman “hanya” 3 kali menjadi juara dunia sepakbola, kalah dengan Brasil (5 kali) dan Italia (4 kali).

Photo courtesy of http://www.football-wallpaper.com

Tetapi, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan berapa kali Jerman menjadi runners up, juara ketiga, juara keempat. Atau jika pertanyaannya adalah berapa kali Jerman masuk semifinal piala dunia, orang harus membuka buku catatan terlebih dahulu untuk bisa menjawab secara tepat. Sampai saat ini, Jerman adalah negara yang paling banyak dalam hal : berpartisipasi di piala dunia (17 kali), menjadi runners up (4 kali), menjadi juara ketiga (4 kali), menjadi juara keempat (1 kali), dan 12 kali masuk semifinal.

Jerman juga menjadi negara paling banyak menjadi juara Piala Eropa (3 kali). Bahkan Jerman juga menjadi negara pertama di Eropa yang berhasil “mengawinkan” Piala Dunia dan Piala Eropa (artinya, menjadi juara piala Eropa pada saat menjuarai Piala Dunia, yaitu 1974 dan 1976). Kecuali itu, timnas Jerman adalah tim yang paling banyak masuk final (6 kali), 3 kali menjadi juara pertama dan 3 kali menjadi runners-up.

Hanya satu jawaban yang tepat dan diterima oleh sebagian besar orang, yaitu faktor sikap mental. Tidak ada satupun pesepakbola Jerman yang memegang rekor transfer. Juga tidak ada satupun pesepakbola Jerman yang memegang rekor bergaji tinggi. Semua rekor nilai transfer dan besaran gaji dipegang oleh pesepakbola dari negara-negara lain.

Secara individual, teknis pesepakbola kalah dibandingkan dengan pesepakbola dari negara-negara lain, bahkan dari negara-negara Afrika sekalipun. Tidak banyak pesepakbola asal Jerman yang bermain di klub-klub besar di negara lain, kecuali Mezut Oezil dan Sami Khedira yang bermain di Real Madrid, dan Per Mertesacker yang “merumput” di Arsenal.

Secara mental, baik individu maupun team, tidak ada yang meragukan kehebatan pesepakbola asal Jerman. Jika mereka sudah bersatu menjadi team, mereka menjadi kekuatan yang “menakutkan”. Sejarah telah membuktikan, kebersamaan mereka merupakan sinergi. Tanpa sinergi, berbagai rekor itu tidak akan pernah tercapai.

Tampak Siring, 1 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2012 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: