RSS

Paku dan Sebilah Papan

05 Jan

Bagi masyarakat, pemain timnas sepakbola Ghana, atau bahkan bagi fans timnas sepakbola Ghana, barangkali tidak ada pesepakbola yang paling menyebalkan selain Luis Suarez. Jika ada orang yang harus bertanggung jawab terhadap kegagalan timnas Ghana maju ke babak semifinal Piala Dunia 2010, maka “kambing hitam” itu bernama Luis Suarez.

Kedudukan imbang 1-1 sampai menit ke 119 (babak perpanjangan waktu).  Ghana mendapatkan tendangan penalti pada menit ke 120 (setelah Suarez dengan sengaja  menyentuh/menahan bola dengan tangannya bola yang sudah 100 % mengarah masuk ke gawang Uruguay). Asamoah Gyan yang bertugas menjadi algojo gagal menyarangkan bola ke gawang timnas Uruguay. Pemenang ditentukan melalui adu penalti, dan hasilnya Uruguay mengungguli Ghana 4-2.

Manusia memang suka berandai-andai. Kemudian, bermacam-macam “andaikan-andaikan” itulah yang memenuhi otak dan hati manusia. Sikap dan perilaku manusia kemudian dituntun oleh “andaikan begini dan andaikan begitu”. Saat nasi telah menjadi bubur, semua “andaikan-andaikan” tersebut tidak ada manfaatnya. Bahkan, andaikan sekedar untuk killing time.

Picture courtesy of Clive Mason / Getty Images

Andaikan Gyan berhasil mengeksekusi tendangan penalti, maka timnas Ghana akan menang 2-1 atas timnas Uruguay, dan berhak maju ke semifinal. Andaikan Suarez tidak menyentuh atau menahan bola dengan tangannya bola yang sudah 100 % pasti masuk ke gawang, maka timnas Uruguay akan kalah 1-2 melawan timnas Ghana, dan Ghana berhak maju ke semifinal. Andaikan bola yang ditendang oleh Gyan tidak membentur tiang gawang bagian atas, maka timnas Ghana akan unggul 2-1 atas Uruguay, dan berhak masuk ke semifinal. Andaikan begini ….. andaikan begitu…….. dan seterusnya.

Suarez mendapat kartu merah, diusir dari lapangan, dan tidak berhak memperkuat timnas Uruguay di babak semifinal. Timnas Uruguay sudah dihukum dengan tendangan penalti. Ghana sudah mendapat “kadeudeuh” tendangan penalti. Hukuman sudah dijatuhkan dan dijalankan. Hasilnya tidak memuaskan, dan manusia pun meradang.

Menyakiti orang lain dan kemudian meminta maaf memang tidak sulit-sulit amat. Toh ada “ritual” dan “formalitas” saling memaafkan di hari lebaran. Tetapi, bagi yang disakiti, jauh lebih sulit untuk melupakan pengalaman dan  trauma rasa sakit.

Berbuat salah dan meminta maaf dapat dianalogikan dengan menancapkan paku di atas sebilah papan, dan kemudian mencabutnya kembali. Setiap melakukan kesalahan, maka kita menancapkan paku di papan. Setiap meminta maaf, maka kita mencabut kembali paku dari papan. Yang tertinggal hanyalah lubang-lubang.

Semakin banyak paku yang ditancapkan di atas sebilah papan, dan semakin banyak paku yang dicabut dari papan, maka akan semakin banyak lubang-lubang yang menganga di atas papan. Andaikan papan itu adalah hati manusia, “lubang-lubang” di hati manusia tidak akan hilang sampai dengan manusia yang disakiti ikhlas memberikan maaf. Tetapi, bukankah “forgive but not forget” adalah “sesuatu banget” yang sulit dilakukan manusia?

Tampak Siring, 1 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: