RSS

Kadaek, Kahayang, Kabegug

09 Jan

Agung Bakhtiyar, anak pasangan Suyatno yang berprofesi sebagai tukang becak dan Saniyem  yang berprofesi sebagai pedagang barang bekas. Agung lulus dari Fakultas Kedokteran UGM dengan indeks prestasi 3,51.

Pencapaian yang luar biasa, tidak hanya dari segi proses, tetapi juga konteks (baca :  mengingat latar belakang status sosial ekonomi orang tuanya). Tidak banyak orang yang mampu mencapai prestasi luar biasa melampaui rintangan status sosial ekonomi orang tua yang “tidak terlalu bersahabat”. Agung Bakhtiyar dan Dahlan Iskan adalah segelintir di antara mereka yang berprestasi luar biasa.

Jika Agung lulus 30 tahun yang lalu, pada saat biaya hidup dan terutama biaya kuliah belum semahal seperti saat ini, akan dianggap biasa-biasa saja. Anak dari keluarga miskin (secara finansial) tentu saja harus berjuang lebih keras dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan status sosial ekonomi mapan. Apalagi, Agung kuliah di fakultas kedokteran yang relatif mahal dibandingkan dengan biaya kuliah di fakultas ilmu-ilmu sosial, atau jauh lebih mahal dari sekolah taruna militer.

Picture of Suyatno courtesy of http://www.google.com

Karl Marx mengingatkan  bahwa “bangunan bawah akan menentukan bangunan atas”. Hanya Cinderella yang bernasib baik bisa memakai sepatu emas dan mungkin di dunia nyata ada juga segelintir orang yang beruntung bisa memakai sepatu emas. Secara umum, anak-anak yang lahir, tumbuh dan hidup di lingkngan kemiskinan struktural dan kemiskinan absolut, hanya bisa bermimpi untuk mencapai status sosial ekonomi atas.

Setiap anak tidak bisa memilih.

Mantan atasan saya yang juga seorang sosiolog mencoba merumuskan dalam kalimat yang lebih “ramah”, “setiap anak tidak dapat memilih siapa orang tuanya, tempat dan tanggal lahirnya.” Tidak salah menjadi orang tua miskin sebagaimana juga tidak salah menjadi anak orang miskin.

Status sosial ekonomi orang tua, tempat dan tanggal lahir tampaknya memiliki korelasi dan pengaruh terhadap masa depan seorang anak. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam status sosial ekonomi relatif mapan memiliki kesempatan dan probabilitas keberhasilan hidup dibandingkan dengan anak-anak dari status sosial ekonomi bawah. Meskipun tidak selalu demikian.

Tempat kelahiran juga berpengaruh terhadap kesempatan dan probabilitas seorang anak untuk “menjadi orang”. Kita memang sudah hidup di jaman yang oleh Bill Gates sebaga era “web lifestyle” (gaya hidup internet) dan “web workstyle” (gaya kerja internet), tetapi teknologi hanya alat bantu yang tidak serta merta bisa membuat orang lolos dan kemiskinan struktural.

Seorang anak yang lahir dan dibesarkan di daerah Digul (Papua Barat) dengan fasilitas pendidikan relatif terbatas, tentu memiliki kesempatan dan probabilitas yang tidak sama dengan anak-anak yang lahir dan dibesarkan di Jakarta dengan fasilitas pendidikan relatif lebih baik. Tentu saja ada perbedaan “bandwith” (baca : kapasitas intelektual) anak-anak yang dilahirkan di daerah berbeda dengan perbedaan fasilitas pendidikan yang sangat mencolok.

Bahkan tahun kelahiran pun memiliki korelasi dan pengaruh terhadap masa depan seorang anak. Sekali lagi, contoh anak-anak yang lahir di Digul 40 tahun dengan fasilitas pendidikan yang terbatas, tentu saja memiliki kesempatan yang berbeda dengan anak-anak yang lahir dan hidup di Digul saat ini. Anak-anak yang lahir dan tumbuh di zaman kereta kuda tentu saja memiliki kesempatan yang berbeda dengan anak-anak yang lahir dan tumbuh di era yang disebut oleh sosiolog Spanyol sebagai era “Galaxy Internet”.

Karena seorang anak tidak dapat memilih siapa orang tuanya, tempat dan tanggal lahirnya, mestinya setiap anak mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik dan mewujudkan masa depan yang dicita-citakannya. Setidak-tidaknya, negara harus mampu menjamin setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan masa depan yang indah.

Meskipun dalam UUD 1945 negara memberikan jaminan perlindungan dan tanggung jawab kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar, faktanya belum banyak yang dapat diperbuat oleh negara. Mungkin negara  tidak dapat berbuat banyak untuk melaksanakan amanah tanggung jawab kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar.

 

Kadaek, Kahayang, Kabegug.

Mantan gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, berpesan bahwa untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, setiap manusia mesti memiliki kadaek (kemauan), kahayang (keinginan) dan kabegug (kompetensi). Bagaimana agar bisa memiliki kabegug? Ini dia resep Aa’ Danny : banyak melihat, banyak mendengar, dan banyak membaca.

Faktanya, niat baik, do’a dan usaha tidak cukup untuk menjadikan seseorang “menjadi orang”. Adalah benar Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tetapi terus menerus mengharapkan mukjizat kok juga tidak pantas. Bagaimanapun, perbedaan status sosial ekonomi orang tua, memiliki korelasi dan pengaruh yang sangat besar terhadap masa depan seorang anak.

Photo of dr. Agung Bakhtiyar courtesy http://www.google.com

Tidak perlu penjelasan yang njelimet pun semua orang sudah paham bahwa anak-anak dari status sosial ekonomi yang lebih mapan memiliki kesempatan yang serba berlebih dibandingkan dari anak-anak dari status sosial ekonomi yang berada di garis kemiskinan. Terlalu naif untuk menyederhanakan sebab-sebab kegagalan anak-anak dari status sosial ekonomi bawah untuk berprestasi semata-mata karena “budaya kemiskinan” maupun “budaya malas”.

Jenis-Jenis Kemiskiman.

Studi tentang kemiskinan memunculkan berbagai istilah yang “simpang siur”, antara lain “blaming the victim”, “poverty as pathology”, “poverty as structure”, dan lain sebagainya. Salah satu kecenderungan umum adalah menyimpulkan bahwa kemiskinan sebagai akibat dari budaya malas. Rank dengan tegas membantah bahwa “the focus on individual attributes as the cause of poverty is misplaced and misdirected. Structural failings of the economic, political and social systems are causes instead.” (Rank 2004 : 50)

Secara garis besar, sebagaimana ditemukan di berbagai literatur kontemporer, para ilmuwan sosial membedakan teori-teori kemiskinan menjadi 5 kategori sebagai berikut :

  1. Poverty caused by individual deficiencies;
  2. Poverty caused by cultural belief systems that support sub-cultures of poverty.
  3. Poverty caused by economic, political, social distortions or discrimination;
  4. Poverty caused by geographical disparities;
  5. Poverty caused by cumulative and cyclical interdepencies. (Bradshaw, 2005 : 6-16)

Kadaek, kahayang, dan kabegug mungkin relevan dengan kemiskinan yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan individual dan cultural belief systems, tetapi tidak “kena” untuk kemiskinan yang disebabkan oleh kesenjangan geografis, faktor-faktor sosial-ekonomi-politik dan diskriminasi.

Perbandingan Indonesia dan Negara lain.

Sistem sosial Indonesia memang terbuka, artinya semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengadakan mobilitas sosial dari status sosial yang rendah ke status sosial yang lebih tinggi. Kesempatan memang sama, tetapi probabilitas keberhasilan tidak sama. Bagaimana anak-anak yang sejak dari kecil tidak mendapatkan gizi cukup, fasilitas belajar yang terbatas, tidak mampu membayar kursus-kursus tambahan untuk meningkatkan kompetensi?

Terus terang saya sangat iri ketika melihat dan mengetahui bahwa setiap anak di Jerman memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan “menjadi orang”. Beberapa nama populer di Formula 1 seperti dua bersaudara Michael dan Ralf Schumacher bukan berasal dari keluarga kaya, demikian Sebastian Vettel yang menjadi juara dunia F1 tahun 2010 juga bukan dari keluarga kaya. Setiap negara memang menjanjikan akan memberikan yang terbaik untuk kesejahteraan warganya, tetapi negara Jerman lebih tahu bagaimana caranya setiap anak

Negara Jerman memberikan sekolah gratis kepada semua orang. Nasib seseorang ditentukan oleh prestasi di sekolah. Seberapapun kekayaan seseorang tidak akan mungkin membeli prestasi dan ijazah sekolah. Sistem pendidikan mengatur penjurusan pendidikan yang sangat jelas dan berdasarkan prestasi di sekolah seseorang hanya bisa memilih jalur pendidikan yang tersedia. Dari penjurusan pendidikan sudah dapat diketahui “nasib” (baca pekerjaan-pekerjaan yang tersedia bagi seseorang) di kemudian hari. Dengan demikian, nasib seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh status sosial ekonomi orang tuanya.

Saat ini, mungkin kita baru bisa berharap semua anak-anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan “menjadi orang”. Selama negara tidak mampu merealisasikan amanah dalam Pancasila “kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, syair lagu dangdut Rhoma Irama “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” masih mewarnai realias sosial masyarakat Indonesia.

Tampak Siring 31 Desember 2011

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: