RSS

Sergio Busquets Burgos

17 Jan

Selalu ada pahlawan tanda jasa :  di mana saja, kapan saja, dan siapa saja. Tidak seperti di Indonesia bahwa “pahlawan tanda jasa” adalah “kadedeuh” istimewa dan selamanya hanya untuk para guru. Sejatinya, di bidang apapun, selalu ada pahlawan tanda jasa. Tidak hanya guru, tetapi juga profesi lain, terutama para petani.

Di dunia sepakbola juga ada “pahlawan tanda jasa”. Pahlawan dengan tanda jasa selalu menjadi hak istimewa dari para penyerang, atau minimal playmaker (gelandang pengatur serangan). Nyaris tidak pernah, pahlawan dengan tanda jasa diberikan kepada pesepakbola di posisi gelandang bertahan, back, dan penjaga gawang. Tentu saja pernah, tetapi anggap saja itu sebagai pengecualian.

Lionel Andres “Leo” Messi adalah salah satu pesepakbola, tepatnya striker, yang beruntung bergelimang dengan “segambreng” penghargaan, di antaranya : FIFA World Player of The Year (2009), FIFA Club World Cup Golden Ball (2009 dan 2010), UEFA Best Player in Europe (2011), European Golden Shoe (2010), FIFA Ballon d’or (2009, 2010, 2011)  dan L’Equipe Champion of Champion (2011). Sebagai “pemulung”, Messi telah mengumpulkan 68 penghargaan selama kariernya.

Messi mampu menyabet trofi Champion des Champions (juara dari para juara). Tidak tanggung-tanggung, tahun ini Messi meraih trofi CdC setelah “menumbangkan” petenis Novac Djokovic dan juara Formula 1 Sebastian Vettel, masing-masing di urutan kedua dan ketiga (www.detiksport.com, 27 Desember 2011). Artinya, prestasi Vettel yang fenomenal itu dianggap masih “belum apa-apa” dibandingkan prestasi Messi. Pesepakbola yang pernah meraih CdC juga bisa dihitung dari jari-jari sebelah tangan. Mereka adalah Paolo Rossi (1982), Diego Maradona (1986), Romario (1994) dan Zinedine Zidane (1998).

Bagaimana dengan teman-teman senasib dan seperjuangan Messi di La Masia, sebut saja misalnya Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Pedro? Atau, bandingkan penghargaan yang diterima Messi dengan seniornya di FC Barcelona, yaitu Xavi Hernandez dan Andres Iniesta?

Penghargaan yang diterima Messi sangat tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima oleh “Trio Sekawan”, terutama  Sergio Busquets, teman satu angkatan dengan Messi di La Masia,  akademi sepakbola milik FC Barcelona. Tidak ada satupun penghargaan di bidang sepakbola yang pernah diterima Busquets, kecuali medali penghargaan yang diterima dari negara Spanyol sebagai anggota Tim Spanyol di Piala Dunia 2010.

Tidak ada protes, tidak ada keluh kesah, meskipun kontribusi dan prestasi Busquets untuk FC Barcelona dan timnas sepakbola Spanyol juga “hebring”. Di samudera kehidupan yang riuh dan hiruk pikuk ini, memang selalu dibutuhkan manusia-manusia yang mau dan mampu – meminjam istilah Gede Prama – “istirahat dalam keheningan”. Busquets, Makelele, dan Gilberto adalah sedikit dari mereka yang mau dan mampu “istirahat dalam keheningan”.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Meskipun belum pernah menerima satu penghargaan bergengsi di sepakbola, sejatinya Busquets, Pique, dan Pedro lebih bahagia dibandingkan dengan Messi. Tiga sekawan tersebut sudah mempersembahkan Juara Dunia kepada Spanyol. Jangankan Piala Dunia, Copa America (kejuaraan sepakbola negara-negara Amerika Selatan) pun Messi belum pernah mempersembahkannya kepada Argentina.

Penghargaan pesepakbola terbaik memang penghargaan yang diberikan oleh para pelatih sepakbola, para “kuli tinta” di bidang sepakbola khususnya dan wartawan olahraga pada umumnya, serta lembaga-lembaga yang mengurusi sepakbola, antara lain FIFA, UEFA, dan “PSSI”nya masing-masing negara.

Image courtesy of http://www.google.com

Tetapi pujian yang tulus dan ikhlas tidak diperlombakan dan tidak diperebutkan. Pujian yang tulus dan ikhlas adalah “hak istimewa” yang dimiliki oleh seorang pesepakbola untuk memberikan penghargaan kepada rekan-rekan mereka yang berjasa. Itulah yang dilakukan oleh Xavi Hernandez kepada Busquets.

Faktor Sergio Busquets.

Saya tidak heran ketika Xavi menyebut sebuah nama sebagai sosok penting dalam skema permainan FC Barcelona, yaitu Sergio Busquets. Posisinya adalah gelandang bertahan. Dalam tim utama FC Barcelona, Busquets selalu bermain sebagai starter. Posisinya hampir pasti tidak tergantikan, bahkan oleh pemain sekaliber Javier Mascherano. Untuk masuk dalam tim utama, Mascherano harus “rela” menjadi center back, itupun sebagai pemain pengganti jika  Carlos Puyol atau Gerard Pique cedera.

Tentu bukan kompetensi Busquets yang dibicarakan Xavi, melainkan kontribusinya bagi FC Barcelona. Berikut adalah deskripsi tentang kompetensi dan kontribusi Busquets terhadap tim Catalan tersebut  :

  • “Melihat skema permainan Barca yang aktraktif dan menyerang, Busquets dituntut untuk selalu bisa tampil prima menjaga keseimbangan tim. Maka tak heran jika pesepakbola 23 tahun itu jarang sekali dicadangkan oleh Pep.
  • Sudah 160 kali ia tampil bersama Barca sejak debut di tim seniornya dan lima gol disumbangkannya. Perannya pun juga vital untuk kesuksesan timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia lalu.
  • “Tanpa Busquets kami mungkin tidak akan pernah mendapat seperti apa yang telah kami raih saat ini,” ujar Xavi seperti dilansir ESPN Star. Xavi menambahkan “Dia adalah pemain yang luar biasa dan tak pernah melakukan kesalahan,” simpulnya. (Kompas, 19 Desember 2011).

Pujian pun akhirnya datang juga dari sang pelatih, Josep “Pep” Guardiola : “Beberapa pemain bertahan kami, seperti Dani Alves, sering ikut mendukung serangan. Ini hanya bisa berhasil ketika pemain seperti Busquets dan Xavi mengenali lini tengah. Hampir semua serangan kami dimulai oleh Xavi dan ia melakukannya dengan luar biasa baik. Terlebih lagi, kami punya bek tengah yang bisa diandalkan dalam diri Puyol dan itu sangat membantu.”

Untuk mengetahui seberapa penting eksistensi dari seorang pesepakbola bagi sebuah klub sepakbola profesional, antara lain dapat menggunakan indikator “pagar” (baca : kontrak dan buy out clause) terhadap pesepakbola yang bersangkutan.

Sampai saat ini, Barcelona telah mengikat kontrak Busquets sampai dengan tahun 2015.  Klub sepakbola mana saja boleh memboyong Busquets, asalkan mau dan mampu menebus buy-out clause sejumlah 150 juta Euro. Angka yang tidak terlalu buruk, jika dibandingkan dengan buy-out clause Messi 250 juta Euro.

Peran Gelandang Bertahan dalam Sepakbola

Mourinho boleh “sombong” setelah berhasil mengantarkan FC Chelsea menjuarai English Premier League musim kompetisi 2005/2005   dan 2005/2006. Tetapi, jika harus berterima kasih kepada seorang pemain saja, maka Mourinho akan menyebut nama Claude Makelele.

Ketika “dibuang” oleh FC Real Madrid, FC Chelsea bagaikan mendapat “durian runtuh”. Betapa tidak, Makelele adalah gelandang bertahan yang memberikan kontribusi sangat besar bagi Real Madrid untuk meraih berbagai juara dalam kurun waktu 2000 sampai 2003, antara lain Piala Champion 2001/2002, juara La Liga musim kompetisi 2000/2001 dan 2002/2003.

Mourinho dan Chelsea sungguh beruntung memiliki seorang gelandang bertahan seperti Claude Makelele. Selama memperkuat Chelsea, Makelele memberikan kontribusi bagi Chelsea untuk menjadi juara EPL musim kompetisi 2004/2005 dan 2005/2006. Duet center back Chelsea saat itu – Ricardo Carvalho dan John Terry – boleh merasa tangguh, tetapi tanpa jasa Makelele mereka akan kewalahan menahan gelombang serang dari kesebelasan lawan.

Sampai saat ini, FC Arsenal adalah satu-satunya klub sepakbola di Inggris yang menjadi juara dalam satu musim kompetisi dan diraih tanpa pernah kalah (2003/2004). Prestasi ini diraih antara lain karena pada saat itu Arsenal memiliki Gilberto Silva, gelandang bertahan yang bertanggung jawab sebagai orang pertama memutus serangan lawan dan orang pertama yang menyalurkan bola kepada gelandang pengatur serangan.

Relevansi Dengan Perusahaan.

Di organisasi atau perusahaan apapun, juga ada posisi “gelandang bertahan”, terutama masuk dalam kelompok aktivitas pendukung (support activities), sebagaimana ditunjukkan model value chain dari Michael E. Porter sebagai  berikut :

courtesy of Michael E. Porter

Secara teoritis, unit kerja-unit kerja yang masuk dalam kelompok aktivitas utama dan unit kerja-unit kerja yang masuk dalam kelompok aktivitas aktivitas pendukung, sama-sama memberikan kontribusi pada pencapaian laba perusahaan. Dalam praktek, akan selalu ada unit kerja yang merasa ge-er (baca : gede rasa, atau sombong) memberikan nilai tambah yang lebih stratejik terhadap pencapaian laba perusahaan. Silakan saja!.

Faktanya, untuk menjadikan General Electric menjadi perusahaan nomor 1 – atau minimal nomor 2 – di industri yang ditekuninya, di negara manapun GE berada, Jack Welch – mantan CEO GE – meluangkan 50 persen dari waktunya untuk mengurusi SDM. Seperti yang dimuat dalam sebuah whitepaper Development Dimensions International (2006), disebutkan bahwa “They/CEO  got involved in recruiting top talent, grooming high-potentials, and reviewing talent pools”.

Tampak Siring, 24 Desember 2011.

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: