RSS

Suicide

20 Jan

Tindakan bunuh diri atau suicide selalu “ngagetin” dan pelakunya tidak terduga. Bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang putus asa karena teralineasi, tereliminasi, stress, depresi, ikatan yang lemah kepada kelompok sosial, nilai-nilai sosial maupun nilai-nilai agama. Justru pelaku bunuh diri bisa seseorang yang sedang “on fire” memiliki ikatan kuat terhadap kelompok sosial, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agam.

Dari segi teknik, tidak ada teknik bunuh diri yang baru. Dari dahulu sampai sekarang, teknik bunuh diri ya begitu-begitu saja. Mulai dari minum racun, gantung diri, terjun bebas dari gedung tinggi, meledakkan bom, sampai dengan harakiri (menusuk perut dengan pedang samurai). Teknik bunuh diri yang relatif “moderen” adalah dengan cara menabrakkan pesawat ke menara kembar (World Trade Center) di New York. Sesungguhnya, teknik bunuh diri dengan menggunakan pesawat juga tidak terlalu baru. Teknik yang sama juga sudah diimplementasikan oleh pilot pesawat tempur Jepang melalui aksi kamikaze, tepatnya saat membumihanguskan Pearl Harbour.

Setali tiga uang, motivasi bunuh diri dari dahulu sampai sekarang juga begitu-begitu saja. Mulai dari putus cinta, hamil sebelum nikah, kalah judi, investasi yang ditanamkan rugi, “atas nama agama”, sampai dengan pertanggungjawaban atas kegagalan melaksanakan amanah (terutama dilakukan oleh orang Jepang).  Motivasi yang relatif “baru” adalah bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar. Motivasi pelaku adalah malu karena tidak mampu bayar uang sekolah. (Kenapa anak-anak SD itu mesti malu ya? Lha wong negara yang berjanji dalam UUD 1945 bertanggung jawab kepada anak-anak terlantar saja “tidak malu”? – red.)

Pandangan umum individu dan masyarakat tentang tindakan bunuh diri cederung negatif. Tetapi juga ada masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang “mengagungkan” tindakan bunuh diri sebagai bentuk pertanggungjawaban dan kesetiaan kepada kelompok sosial. Di Jepang, hara-kiri bukan dianggap sebagai perbuatan konyol, melainkan the traditional Japanese of honorable suicide.

Faktanya, semua orang, apapun latar belakang status sosial ekonomi, agama, suku, bangsa dan ideologi, berpotensi melakukan bunuh diri. Potensi bunuh diri tentu saja berbeda, dan terutama tingkat “keberanian” masing-masing orang untuk melakukan bunuh diri.

Perbedaannya, jika yang melakukan bunuh diri adalah orang-orang miskin, publikasi relatif minim, banyak orang tidak “ngeh” dan cepat melupakannya. Sebaliknya, jika yang bunuh diri orang terkenal, publikasi melimpah dan orang masih teringat, meskipun peristiwanya sudah lama berlalu.

Public figure yang bunuh diri memang lebih menarik atensi dan simpati. Paling tidak, hal ini terjadi di dunia sepakbola. Tahun 2009 Robert Enke – mantan kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman – bunuh diri. November 2011, Gary Speed, pelatih timnas sepakbola Wales juga bunuh diri. Bahkan, Babak Rafiati – seorang wasit sepakbola di Jerman – juga “berminat” bunuh diri, meskipun gagal.

Photo courtesy of AFP / Getty Image

Tulisan ini membatasi diri untuk tidak memberikan penilaian apapun terhadap tindakan bunuh diri, apapun metode dan medium yang digunakan. Bagi saya, minum obat tidur overdosis, menusuk perut dengan samurai, dan bakar diri hanya metode, substansinya adalah sama : bunuh diri. Tulisan ini menjelaskan tindakan bunuh diri dari sudut pandang sosiologi.

Jenis-Jenis Bunuh Diri

Emile Durkheim, seorang sosiolog berkebangsaan Perancis, adalah orang pertama yang secara ilmiah meneliti tentang bunuh diri. Temuan utama dari Durkheim adalah tindakan bunuh diri tidak selalu disebabkan oleh motivasi individual, melainkan juga faktor-faktor sosial masyarakat seperti norma-norma sosial, perubahan sosial, dan lain sebagainya. Artinya bunuh diri dapat saja dilakukan untuk memenuhi kepentingan individu yang bersangkutan maupun kepentingan sosial yang lebih luas.

Durkheim juga menemukan bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang relatif erat, kecenderungan untuk melakukan bunuh diri lebih kecil atau bahkan besar. Sebaliknya, meskipun secara seseorang dalam status sosial ekonomi relatif baik, namun jika orang tersebut teralienasi, “tereliminasi”, dan merasa terasing – sekalipun ia hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial relatif kuat – bisa saja melakukan bunuh diri.

Secara sosiologis tidak ada hal-hal baru dalam tindakan bunuh diri. Dari dahulu sampai sekarang, motivasi dan bentuk-bentuk bunuh diri tidak mengalami perubahan yang signifikan. Mungkin saja cara dan medium yang dipilih untuk melakukan bunuh diri baru, tetapi substansinya tetap sama saja.

Sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri salah atau benar dan baik atau tidak. Setiap sistem nilai budaya dan agama memiliki kriteria yang berbeda-beda untuk menilai bunuh diri. Sosiologi membedakan tindakan bunuh diri menjadi tiga jenis, yaitu anomic suicide, egoistic suicide dan altruistic suicide.

Klasifikasi bunuh diri didasarkan atas sebab-sebab atau motivasi dari bunuh diri. Perbedaan sebab-sebab atau motivasi tersebut lebih bersifat teoritis daripada praktek. Faktanya, yang sering terjadi adalah pencampuradukan antara ketiga jenis bunuh diri.

Setiap orang bisa saja mengaku bahwa tindakan bunuh diri yang dilakukannya didasarkan atas “perintah agama”, “menegakkan kebenaran” dan lain sebagainya sehingga seolah-olah tindakan bunuh diri yang dilakukan lebih pantas disebut altruistic suicide daripada egoistic suicide. Apakah pernyataannya benar atau tidak, hanya Tuhan Yang Mahamengetahui yang bisa menjawab.

Anomic Suicide

Dalam karya mereka berjudul “A Modern Dictionary of Sociology”, Theodorson dan Theodorson (1979 : 427)  mendefinisikan anomice suicide sebagai “a type of suicide that results from normlessness or social and personal disorganization. The value system of the group no longer has meaning for the individual, and he feels isolated, lonely, and confused. Any disruption of a way of life may leade to this type of suicide.”

Anomic suicide terjadi dalam masyarakat yang dalam kondisi tidak normal, antara lain akibat perubahan sosial yang relatif cepat, krisis ekonomi, resesi ekonomi, konflik sosial antar warga dalam satu masyarakat, maupun konflik sosial antarmasyarakat. Contoh dari anomic suicide yang disebabkan oleh krisis atau resesi ekonomi seperti diberitakan harian replubika (9 September 2011) sebagai berikut :

“Jumlah kasus bunuh diri meningkat drastis di Uni Eropa. Demikian kesimpulan tim peneliti seperti diterbitkan dalam majalah ilmiah Inggris The Lancet.

Peneliti membandingkan angka bunuh diri di sepuluh negara anggota Uni Eropa dari tahun 2007 hingga 2009. Hasilnya: di sembilan negara terjadi peningkatan kasus bunuh diri, bervariasi antara lima sampai 17 persen.

Di Inggris misalnya, angka bunuh diri meningkat dari 6,14 per 100.000 orang di bawah usia 65 tahun, pada tahun 2007, menjadi 6,75 tahun 2009. Ini peningkatan sepuluh persen.

Penyebab terbesar kasus bunuh diri di negara Yunani dan Irlandia, adalah krisis ekonomi. Peneliti tidak terkejut dengan hasil tersebut. Sudah sejak awal krisis, mereka meramalkan akan terjadi peningkatan jumlah bunuh diri. Juga di masa lampau terlihat adanya kaitan antara jumlah bunuh diri dengan situasi ekonomi.”

Egoistic Suicide

Egoistic suicide adalah “suicide that is due to the existence of strong social norms for which the individual is made to feel personally responsible, resulting in an overwhelming burden  on the individual. The group itself is not strong enough to provide the individual with a sufficient source of support and strength  outside himself. Nor is it sufficiently integrated to be able collectively to mitigate the individual’s feeling of responsibility and guilt for moral weaknesses and failure. Egoistic suicide is due to a strong value system, weak group integration, and an overpowering sense of personal responsibility.” (Theodorson and Theodorson, 1979 : 428)

Egoistic suicide bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli status sosial ekonomi orang yang bersangkutan. Orang-orang miskin yang terjerat kemiskinan struktural turun temurun dan bertahun-tahun, atau bahkan “hanya” karena tidak mampu membayar uang sekolah, “menemukan” jalan keluar dengan cara bunuh diri.

Orang kaya yang serba berkecukupan, memiliki harta benda yang dapat diwariskan sampai tujuh turunan, juga bisa bunuh diri. Perasaan terasing, kosong, dan tidak memiliki pedoman hidup yang jelas dapat mendorong orang kaya untuk bunuh diri. Demikian juga orang kaya yang mendadak miskin, antara lain investor dan spekulan yang tiba-tiba mendadak miskin, kadang-kadang lebih cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri.

Altruistic Suicide

Altruistic suicide adalah “a type of suicide in which an individual who is very closely integrated into a gropu  or society kills himself for the welfare of the group. Altruistic suicide is motivated by a desire to serve the needs of the group. It is suicide based on self-sacrifice and tends to occur in social systems that deemphasize the importance of the individual.

Photo courtesy of http://www.historylink101.com

Contoh “klasik” tindakan bunuh diri jenis altrustic suicide adalah tindakan yang dilakukan oleh para penerbang pesawat tempur Jepang selama Perang Dunia II, terutama dalam penyerangan Pearl Harbour. Tindakan mereka dikenal dengan sebutan Kamikaze (secara harfiah berarti “angin topan”). Tindakan mereka dipuji dan dipuja. Para pelaku kamikaze dianggap sebagai pahlawan yang berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Sejarah mencatat bahwa pengorbanan dan hasil dari misi Kamikaze sangat sangat spektakuler pada zamannya. Di pihak Jepang sendiri berkorban  2.525 pesawat terbang dan 1.387 pilot. Sementara di pihak tentara sekutu, terutama Amerika Serikat, tercatat 81 kapal tenggelam, 195 kapal perusak (destroyer) rusak berat, 4.900 awak kapal terbunuh, dan melukai  lebih dari 4.800 pasukan sekutu (www.id.wikipedia.org).

Sosiologi tidak berpihak dan netral terhadap ketiga jenis bunuh diri yang ada dalam masyarakat. Artinya, sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri benar atau salah, baik atau tidak baik. Individu dan masyarakat sendiri yang memberikan penilaian terhadap tindakan bunuh diri sebagai tindakan yang benar atau salah, baik atau tidak baik.

Meskipun ada perbedaan penilaian terhadap tindakan bunuh diri, altruistic suicide cenderung lebih bisa diterima oleh individu, kelompok dan masyarakat dari agama dan sistem nilai budaya yang beragam. Dalam kondisi tertentu, sesuai “syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan” yang berlaku, altruistic suicide tidak dipandang sebagai perbuatan salah dan dosa, melainkan sebagai honorable suicide.

Tampak Siring,  7 Januari 2012

 
2 Comments

Posted by on January 20, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

2 responses to “Suicide

  1. bayu susanto

    January 20, 2012 at 5:02 pm

    egoistic suicide.. dengan adanya hope yang tercapai namun melepaskan lingkungan sebelum hope tercapai …. dan terlihat lebih tidak mampu merenungi atau hope untuk menginjak lingkungan hope yang sebelum di capai……( tidak mau kembali ) …..”dirt tu dirt”….keputusan cepat……jadi ada yang hilang tali nya…. dan tidak bisa menyambungkan lagi karena lupa caranya … hope tidak hilang dari lingkungan … “peka”= “kasih” .atau “bingung” no guide”

     
    • wisanggenia

      March 2, 2012 at 4:05 pm

      coba’en rek semuanya…..he…he..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: