RSS

“Keseleo Lidah”

27 Jan

Ada apa lagi dengan George Junus Aditjondro? Di era Orde Baru, George adalah salah seorang yang berada di barisan depan yang mengkritisi Jenderal Besar  Soeharto. Setelah Orba tumbang, seolah-olah George kehilangan “musuh bebuyutan” yang sepadan, sehingga George gampang “keseleo lidah”.

Semua berawal dari pernyataan George dalam diskusi tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 30 Nopember 2011 yang lalu. Seperti diberitakan dalam Kompas, 14 Januari 2012, dalam forum tersebut George mengatakan “Keraton Yogya itu hanyalah  kera yang ditonton”.

Photo of Sri Sultan Hamengku Buwono X courtesy of http://www.kotajogja.com

Niat baik dari George untuk memintaa maaf langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X memang sudah ada, meskipun belum ada kesempatan bertemu langsung dengan Sri Sultan. Sementara itu, proses hukum sedang berjalan. Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengirimkan surat pencekalan George ke Direktorat Jenderal Imigrasi. “Bonus” juga sudah menanti George, yaitu sebagai tersangka kasus pelecehan lembaga adat Keraton Yogyakarta sejak awal Januari lalu (Kompas, 14 Januari 2012). Kita tunggu saja “episode” berikutnya.

Lidah dan Mulut

Masyarakat Indonesia menggunakan lidah dan mulut sebagai penanda bahwa manusia seyogyanya berhati-hati dengan apa yang dikeluarkan dari mulut. Kalau ingin mengetahui kualitas seseorang, dengarkan saja apa yang diucapkannya. Lidah dan mulut adalah “tools” yang objective, valid, dan reliable untuk mengetahui kualitas seseorang.

Beberapa peribahasa dari leluhur yang sudah sering kita dengar menegaskan kecanggihan lidah dan mulut sebagai parameter kualitas seseorang, antara lain : “tong kosong bunyinya nyaring”, “air beriak tanda tak dalam”, “mulutmu harimaumu”, dan lain sebagainya.

Sebuah peribahasa bangsa Irlandia mengatakan bahwa “everyone is wise, until he speaks”. Pada dasarnya, semua manusia adalah bijak, tetapi hanya sampai sebelum berbicara. Setelah berbicara, tidak semua orang bijaksana lagi.

Di Indonesia, saya lebih suka “mengedit” peribahasa bangsa Irlandia tersebut menjadi “everyone speaks, until he is wise”. Sejatinya, orang Indonesia tidak terlalu suka bicara di depan publik, apalagi memberikan kata sambutan. Tetapi sejak era reformasi, karakter asli bangsa Indonesia lebih muncul : setiap orang berbicara dan hanya berhenti ketika ia sudah menjadi orang bijak.

Di masyarakat lain, karakter manusia diukur dari letak hati dalam mulut. Ada perbedaan signifikan antara manusia yang memiliki hati yang terletak di belakang mulut dibandingkan manusia yang memiliki hati di depan mulut. Hati yang terletak di belakang mulut akan menjadi “filter” sehingga kata-kata dan kalimat yang keluar mengandung energi positif.

 

Siapa Saja Dapat “Keseleo Lidah”

“Keseleo lidah” seringkali diawali oleh ketidaksengajaan dan ketidaktahuan. George sendiri mengakui bahwa ada yang salah dengan ungkapan plesetan (guyonan) yang disampaikannya dalam diskusi itu. George juga mengakui bahwa plesetan yang digunakannya tidak pada tempatnya. Dalam konteks ketidaksengajaan dan ketidaktahuan, siapa saja dapat “keseleo lidah”.

Tentu saja tidak semua orang yang “terjerembab”  dalam situasi “keseleo lidah” selalu disebabkan oleh ketidaksengajaan dan ketidaktahuan. “Keseleo lidah” juga seringkali disebabkan oleh hati yang majal (baca : tumpul / tidak tajam) dan tidak peka terhadap heterogenitas masyarakat dan sistem nilai budaya.

Komunikasi Bukan Hal Yang Sepele

George Junus Aditjondro adalah seorang dosen dan penulis buku. Sepp Battler adalah seorang Presiden FIFA. Luis Suarez adalah seorang pesepakbola profesional. Mereka bukan orang sembarangan. Tidak sekali atau hanya dua kali mereka bicara di depan publik. Tetapi fakta bahwa mereka “keseleo lidah” membuktikan bahwa komunikasi bukan urusan yang sepele dan tidak dapat dianggap enteng.

Percaya diri berbicara di depan publik bukan modal yang cukup. Teknik komunikasi yang canggih juga tidak selalu membantu dalam proses komunikasi. Dalam bukunya “7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 :  239) mengingatkan sebagai berikut :

So if you want to be really effective in the habit of interpersonal communication, you cannot do it with technique alone. You have to build the skills of empathic listening on a base of character that inspires openness and trust. And you have to build the Emotional Bank Accounts that create a commerce between hearts.”

Cultural Relativism

Meskipun sudah meminta maaf atas ucapannya kepada Patrice Evra, Luis Suarez masih juga ngedumel sebagai berikut :

“Di negara saya, kata ‘negro’ biasa digunakan dan kata itu tidak menunjukkan tidak adanya penghormatan. Berdasarkan ini, semuanya yang telah diberitakan sejauh ini, salah.” (www.bbc.co.uk, 4 Januari 2012).

Suarez mungkin lupa bahwa ia sedang berada di Inggris dan mencari makan di English Premier League. Apa yang benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, sudah pasti berbeda  dalam setiap masyarakat dan kebudayaan yang berbeda pula.

Setali tiga uang, Battler masih juga “ngeles”. Meskipun stakeholders di dunia sepakbola sudah mengingatkan Battler untuk meminta maaf, bahkan menuntut mundur dari jabatan presiden FIFA.  Battler merasa tidak pernah menganggap enteng dengan rasialisme di sepakbola dengan “enteng” ia berkata, “there is no racism [on the field], but maybe there is a word or gesture that is not correct,” Blatter told CNN. “The one affected by this should say this is a game and shake hands.” (www.news.bbc.co.uk, 16 November 2011)

Battler dan Suarez mungkin lupa, atau mungkin juga tidak mengetahui, bahwa hidup dalam masyarakat yang sangat heterogen, diperlukan pemahaman terhadap cultural relativism.  Salah satu definisi dari cultural relativism adalah sebagai berikut : http://www.gotquestions.org/ cultural-relativism.html

Cultural relativism is the view that all beliefs, customs, and ethics are relative to the individual within his own social context. In other words, “right” and “wrong” are culture-specific; what is considered moral in one society may be considered immoral in another, and, since no universal standard of morality exists, no one has the right to judge another society’s customs.

Cultural relativism is widely accepted in modern anthropology. Cultural relativists believe that all cultures are worthy in their own right and are of equal value. Diversity of cultures, even those with conflicting moral beliefs, is not to be considered in terms of right and wrong or good and bad. Today’s anthropologist considers all cultures to be equally legitimate expressions of human existence, to be studied from a purely neutral perspective. (http://www.gotquestions.org/ cultural-relativism.html)

Singkat kata, di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung. Janga lupa bahwa, it’s nice to be important, but it’s more important to be nice.

Tampak Siring, 15 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: