RSS

Team Performance Curve

30 Jan

Saya setuju dengan “pembelaan diri”  Lionel Messi yang selalu dianggap sebagai “biang keladi”  atas kegagalan timnas sepakbola Argentina di ajang Piala Dunia dan Copa America. Menurut Messi, FC Barcelona tidak dapat dibandingkan dengan timnas Argentina.

Mengapa FC Barcelona menunjukkan prestasi di berbagai ajang kompetisi dan timnas Argentina “melempem”, jangan tanyakan kepada Messi. Mengapa Messi berprestasi luar biasa pada saat membela FC Barcelona dan mengapa Messi tidak mampu mengangkat prestasi timnas Argentina, juga jangan tanyakan kepada Messi.

Bagi Lionel Messi, FC Barcelona dan Timnas sepakbola Argentina adalah dua kesebelasan yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam hal prestasi yang telah diraih (baca : hasil / result), melainkan terutama dalam proses untuk mencapai prestasi. Messi mendeskripsikan perbedaan antara FC Barcelona dan timnas Argentina sebagai berikut :

(i.)   “Mereka yang mendukung Barca, atau mereka yang tak mendukung pun mengakuinya (Barca tim terbaik di dunia). Prestasi itu merupakan hasil dari kerja keras selama bertahun-tahun dengan pemain-pemain yang sama,”

(ii.)  “Di timnas Argentina, pada sisi lain, kami tak mampu meraih hasil yang kami inginkan. Ada banyak (pergantian) pelatih dan kami selalu memulai segala sesuatunya dari awal,” terang Messi.” (Sumber : http://www.bola.net; 27 Desember 2011)

Ada dua hal penting yang ditekankan oleh Messi, yaitu :

(i.)           “ada banyak (pergantian) pelatih dan kami selalu memulai segala sesuatunya dari awal”. Artinya, sebagai sebuah tim, timnas Argentina adalah sebuah tim yang baru dibentuk dan memiliki anggota yang selalu berganti-ganti, termasuk pelatih.

(ii.)          “prestasi itu merupakan hasil kerja keras selama bertahun-tahun dengan pemain-pemain yang sama”. Artinya, FC Barcelona bukan tim yang baru dibentuk. Saling pengertian dan kerja sama di antara anggota tim sudah berjalan baik dalam waktu relatif lama.

Untuk memahami “pembelaan diri” Messi, pembahasan tentang bagaimana sebuah team  terbentuk, tumbuh, berkembang dan berpretasi menjadi relevan. Demikian pula pemahaman tentang bagaimana sebuah tim mampu menunjukkan prestasi.

Group Development

Menurut Bruce Tuckman, setiap kelompok tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap forming, storming, norming, dan performing. Sebuah kelompok hampir mustahil tiba-tiba menunjukkan prestasi yang luar biasa.

Berikut penjelasan tentang group development yang saya kutip dari sumber http://www.practical-management-skills.com/  :

  • FORMING : When team members first come together, they are typically polite and spend a lot of time observing other members on the team. They are focused on their own agenda and there is no common goal at this stage. 

There is no clear process followed and team roles have not been identified. Members tend to feel unsure at this stage, typically looking for a lot of direction from the team

  • STORMING : As the team becomes more established, it’s members become more vocal. They compete with each other, keeping their own agendas to the forefront. There is a lot of conflict, both within the team and with external groups.

Members can get disillusioned at this stage, but it is productive and it is an essential part of teambuilding in the workplace. All issues and concerns are brought out in the open and this is important, as long as the conflict is constructive.

  • NORMING : Eventually a common goal is agreed, and a leader is chosen if this is not already decided. The roles of each team member are chosen, and they take on tasks that suit their skills and experience.

There is more constructive discussion and a direction is taken. Team members have a much better relationship with each other and an understanding of what is teamwork in the real sense.

  • PERFORMING : At the peak of a team’s life cycle, goals are being met through good working practices and good working relationships. Team members are motivated and the leadership is effective. There is still conflict from time to time, but this is of a constructive nature.

If a new member joins the team, or if a new task or project is given, then the team may move back to an earlier stage in its development.

Mengapa di tahun pertama kepelatihannya di  FC Real Madrid (2009/2010), Mourinho gagal mempersembahkan gelar juara La Liga Spanyol dan Liga Champions?. Meskipun bertaburan bintang, Real Madrid “hanya” berhasil merebut “piala hiburan” berupa Copa del Rey. Tentu saja sebuah prestasi yang sangat tidak sebanding dengan “mulut besar” Mourinho dan uang yang sudah dihambur-hamburkan oleh Real Madrid.

Di tahun pertama kepelatihannya (2008/2009), pelatih “ingusan” yang baru pertama kali menangani tim senior FC Barcelona, Guardiola sudah mempersembahkan 6 piala bergengsi, yaitu : La Liga, Copa del Rey, Supercopa des Espana, EUFA Champions League, UEFA Super Cupdan FIFA Club World Club. Sampai dengan Desember 2011, Guardiola sudah mengantarkan FC Barcelona meraih 13 gelar bergengsi. Mengapa demikian? Sebab, sebagai  sebuah tim, FC Barcelona sudah melewati tahap-tahap forming, storming, norming dan tinggal “tancap gas” atau “take-off” untuk performing.

Kendala utama bagi FC Real Madrid untuk segera performing adalah teamwork. Di Real Madrid, turnover pemain relatif sangat tinggi. Konsekuensinya, Real Madrid membutuhkan waktu relatif lebih lama daripada FC Barcelona untuk membangun teamwork yang solid. Terbukti, setelah dua musim kompetisi bersama-sama, tim Real Madrid 2011/2012 jauh lebih kuat dan mampu bersaing melawan tim Barcelona. Melihat teamwork yang semakin membaik, bukan tidak mungkin Real Madrid akan merajai La Liga Spanyol dan Liga Champion 2011/2012.

Team

Jika ada “kambing hitam” yang layak dipersalahkan atas berbagai kegagalan timnas Argentina menjadi juara Piala Dunia dan Copa Amerika, maka kambing hitam itu bernama teamwork.

Dalam buku mereka yang berjudul “The Wisdom of Teams, Creating The High-Performance Organization”, Katzenbach dan Smith (1993) mendefinisikan team sebagai “a small number of people with complementary skills who are committed to a common purpose, performance goals and approach for which they hold themselves mutually accountable.”

Definisi Teamwork dari Webster’s New World Dictionary adalah sebagai berikut  “a joint action by a group of people, in which each person subordinates his or her individual interests and opinions to the unity and efficiency of the group.”

(c) Crimson Studios 2007

Menurut mantan pelatih timnas Argentina, Alfio Basile, kesalahan terbesar mereka adalah tidak memiliki kerjasama tim, sebagaimana saya kutip sebagai berikut :

  • “Bukan kesalahan Messi jika Argentina gagal, Itu sama sekali tidak ada kaitannya. Argentina kalah karena mereka bukan bermain untuk tim, tetapi mereka bermain untuk diri sendiri.”
  • “Di Barcelona, Messi bermain sangat nyaman karena tim tidak bermain untuknya, namun mereka bermain untuk sebuah tim. Mereka bermain melalui Xavi, Sergio Busquets, Selain itu juga ada Dani Alves.”
  • “Jika ingin dibandingkan, Argentina masih belum ada apanya ketimbang klub raksasa Spanyol. Karena permainan Barcelona ialah sebuah kerjasama, sedangkan permainan Argentina ialah permainan diri sendiri.”
  • “Jika ingin menyalahkan, jangan hanya salahkan Messi, tetapi salahkan semua pemain Argentina yang tidak bekerjasama.” Tegasnya. www.channelbola.com 24 July 2011.

Dengan menggunakan definisi dari Katzenbach dan Smith, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya timnas Argentina yang bertanding di ajang Piala Dunia dan Copa America, belum dapat disebut sebagai sebuah team. Mungkin saja timnas Argentina sudah memiliki complementary skills, a common purpose, performance goals, dan approach, tetapi mereka belum memiliki mutually accountable. Tanggung jawab keberhasilan timnas Argentina dibebankan kepada “mukjizat” seorang Lionel Messi.

Team Performance Curve

Katzenbach dan Smith mengklasifikasikan team menjadi working group, pseudo team, potential team, real team, dan extraordinary team. Untuk dapat menunjukkan prestasi, sebuah team harus menjalani “metamorfosa” dari working group menjadi extraordinary team. Tentu saja, diperlukan waktu untuk membangun sebuah extraordinary team.

Copyright (c) 1993 Katzenbach and Smith

Sebagai sebuah team, FC Barcelona telah “khatam” menjalani proses “metamorfosa” sebagai extraordinary team yang telah, sedang, dan akan melanjutkan prestasi. Dalam konteks ini, dapat dimengerti mengapa ada “mantra” never change the winning team.

Sedangkan timnas Argentina, sedang dalam proses “metamorfosa” dari working group menjadi extraordinary team. Timnas Argentina belum menjadi sebuah winning team,  anggota team dan pemimpinnya (baca : pelatih) selalu berganti-ganti.

Dalam konteks group development dan team performance curve, sangat dapat dipahami mengapa performance impact FC Barcelona dan timnas Argentina tersebut bagaikan bumi dan langit.

Tampak Siring,  Januari 8 Januari 2012

 
2 Comments

Posted by on January 30, 2012 in Management

 

2 responses to “Team Performance Curve

  1. afif

    January 30, 2012 at 8:18 am

    great article , so inspiring

     
    • wisanggenia

      March 2, 2012 at 4:04 pm

      nulis dong….. misalnya tentang traveling photography

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: