RSS

Make It Happen

01 Feb

Para penggemar tenis dan penonton – yang menyaksikan secara langsung di Rod Laver Arena, Melbourne maupun  tidak langsung melalui siaran televisi – sangat puas menyaksikan pertandingan final Grand Slam Australia Terbuka 2012 antara Novak Djokovic melawan Rafael Nadal. Penonton bukan hanya disuguhi pertandingan yang indah dan menegangkan, melainkan juga semangat pantang menyerah yang luar biasa dari kedua pemain.

Setelah pertandingan usai, dan sembari menunggu penganugerahan piala dan hadiah, panitia penyeleggara turnamen menyediakan kursi untuk kedua petenis. Suatu  kebiasaan yang kurang lazim, tetapi dapat menggambarkan tentang proses yang alot, menguras stamina, sangat menguji mental, dan memaksa kedua pemain mengeluarkan semua kemampuan teknis mereka.

Apapun hasilnya dan siapapun yang menjadi juara (atau runners-up),  semua stakeholders olahraga tenis sama-sama senang dan puas. Bahkan, Rafael Nadal sebagai pihak yang kalah, masih bisa puas dan bangga terhadap hasil yang telah diraihnya. Menurut Nadal, pertandingan melawan Djokovic di final Australia Open 2012 adalah pertandingan tersulit sepanjang karirnya.

Sebagaimana diberitakan dalam laman http://www.bbc.co.uk (29 Januari 2012), Nadal mengatakan bahwa, “We played a nice tennis match, it was a very good show and I enjoyed being a part of it.” Nadal menambahkan “I wanted to win but I am happy with how I did.”

Photo courtesy of Getty Images / Ryan Pierse-Pool

Demikian juga dengan Djokovic yang keluar sebagai pemenang. Ia tidak serta merta menjadi jumawa dan merasa paling hebat. Menurut Djokovic tetap menyampaikan rasa hormat kepada Nadal. Bahkan – atas proses dan usaha yang telah ditunjukkan oleh Nadal – menurut Djokovic, Nadal juga layak menjadi juara Grand Slam Australia Terbuka 2012.

Andaikan ada “juara kembar” atau “juara bersama”, Djokovic ikhlas berbagi singgasana bersama Nadal. “We made history tonight and unfortunately there couldn’t be two winners,” said Djokovic, the winner of five Grand Slam titles and four of the last five majors.” (www.nypost.com, 29 Januari 2012).

 

Proses dan Hasil

Djokovic mengkandaskan perjuangan Nadal untuk merebut juara Grand Slam Australia Terbuka 2012 setelah menyelesaikan pertandingan selama 5 jam 53 menit. Dari segi waktu, lama pertandingan final tersebut adalah rekor sepanjang sejarah final Grand Slam.

Dari segi waktu, sudah dapat disimpulkan bahwa proses memperebutkan juara adalah sebuah proses yang sangat bernilai. Pernyataan Nadal bahwa “I wanted to win but I am happy with how I did”, menegaskan bahwa proses dan hasil adalah sama pentingnya.

Nilai dari juara yang diraih oleh Djokovic juga ditentukan oleh sebuah proses yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tidak ada pihak yang sengaja menyerah dan memberikan gelar juara kepada pihak lainnya. Semuanya melalui proses yang elegan.

Ironisnya, proses dan hasil seringkali dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Bahkan, pandangan umum cenderung memuliakan hasil daripada proses. Sukses didefinisikan menjadi juara, dan kegagalan adalah menjadi runners-up. Jika tidak menjadi juara, proses sehebat apapun hanya dipandang sebelah mata.

Orang lupa bahwa untuk dapat bertanding di final, para olahragawan yang bertanding dalam partai perseorangan maupun beregu, telah melalui proses yang panjang dan sangat bernilai. Bahkan, proses sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat satu kejuaraan saja. Proses untuk menjadi juara telah dilakukan bertahun-tahun sebelum kejuaraan itu sendiri dimulai.

Kekaisaran Roma juga tidak dibangun dalam waktu satu malam. Hanya Candi Sewu saja yang dibangun oleh Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam. Dalam konteks kerja keras, kerja cerdas, dan kerja mulia, apa yang telah dilakukan oleh Bandung Bondowoso adalah preseden yang buruk bagi anak-anak dan generasi muda.

It’s Not Every Four Years, But  Everyday

Michael Fred Phelps tercatat sebagai perenang tersukses di dunia dengan menghentikan rekor milik Mark Spitz. Spitz membukukan rekor merebut 7 medali emas di Olimpiade Munich, sedangkan Phelps meraih 8 medali emas di Olimpiade Beijing, tahun 2008.

Prestasi yang diraih Phelps menempatkannya sebagai salah satu dari 5 perenang terbaik di dunia sepanjang masa. Mereka adalah perenang Amerika Serikat Mark Andrew Spitz dan Matt Biondi, perenang Australia Ian Thorpe, dan perenang Rusia Alexander Popov.

Phelps bahkan tercatat sebagai perenang peraih medali emas terbanyak dalam satu olimpiade, yaitu 8 (delapan) medali emas (diraihnya di Olimpiade Beijing, 2008). Selama 36 tahun rekor perenang yang meraih medali emas terbanyak di olimpade menjadi milik Mark Spitz (Spitz meraih 7 medali emas di Olimpiade Munich, tahun 1972).

Di ajang olimpiade, Phelps telah meraih 16 medali emas. Mengingat usianya yang masih 27 tahun, Phelps masih mungkin menambah koleksi medali emas melalui partisipasinya di Olimpiade London, tahun 2012.

Tentu saja, proses yang dilalui oleh Phelps untuk meraih medali emas di ajang olimpiade tidak hanya dibangun dalam waktu satu malam. Sebagai bagian dari tim olimpiade Amerika Serikat, Phelps membangun kejayaannya setiap hari!.

The United States Olympic Committee has a motto: “It’s not every four years. It’s every day.” This motto reflects the notion that making the Olympics in 2012 ultimately does not happen in 2012. It depends on what the millions of athletes who want to be there in August 2012 are doing in December 2010. And January 2011. And February 2011. And… well, you get it.


Maybe making the Olympic team isn’t a goal of yours, which is perfectly fine. Or maybe making an Olympic team in 2016 or 2020 is more reasonable. The motto holds true for any goal we have, in any part of our lives. It’s not good enough to just SET a goal. We have to do something every day to reach it. Sometimes that starts with something as simple as taking part of every day to remind ourselves that what we do every day matters
.” (Dr. Lenny Weirsma, “It’s Not For Every Four Years”, 6 June 2011)

Proses yang telah ditunjukkan dan hasil yang telah diraih oleh para olahragawan kelas dunia menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup. Bakat juga bukan faktor utama dan tidak terlalu penting. Albert Einstein yang genius pun pernah mengatakan “I have no special talents, I am only passionately curious.” Dalam proses berlaku paradigma “make it happen”, dan tinggalkan paradigma “let it happen”.

Tampak Siring, 31 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 1, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: