RSS

Aku Begini Karena Engkau Begitu

03 Feb

“They cannot take away our self respect if we do not give it to them.” – Mahatma Gandhi.

***

Kecuali nabi dan malaikat, mungkin tidak ada orang yang tidak pernah “lempar batu sembunyi tangan”. Mencari “kambing hitam” seringkali menjadi solusi sesaat dan “cespleng” (baca : jitu). “Kambing hitam” tidak selalu orang lain, melainkan juga situasi, kondisi, atau segala sesuatu di “luar sana”.

Dalam bahasa “anak sekolahan”, “kambing hitam” itu bernama stimulus. Secara umum, kecenderungan manusia merasa bahwa akhlak, sikap, dan perilakunya baik-baik saja. Jika kemudian ada hal yang salah atau tidak benar pada dirinya, manusia merasa itu disebabkan oleh stimulus.

Dalam bahasa pergaulan, hubungan antara stimulus dan response direpresentasikan oleh kalimat “aku begini karena engkau begitu”. “Engkau begitu” adalah stimulus, sedangkan “aku begini” adalah response. Tipikal manusia seperti ini adalah tidak memiliki pendirian, tidak mau dan tidak mampu bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya.

Jika kemudian “aku begini karena engkau begitu” diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, maka yang terjadi adalah “pembenaran” terhadap akhak, sikap dan perilaku. Misalnya :
• seorang siswa SLTP berkata : “saya merokok karena teman-teman saya juga merokok”;
• seorang selebriti berkilah : “saya pakai narkoba karena itu biasa di kalangan selebriti”;
• seorang “abdi negara” membela diri : “saya terpaksa terima uang karena kalau tidak saya akan disingkirkan oleh atasan dan rekan-rekan kerja”;
• seorang pimpinan perusahaan yang perusahaannya memiliki corporate value “integrity” berdalih mengatakan : “saya tahu itu bertentangan dengan corporate value. Tetapi kita terpaksa kasih sogokan. Kalau tidak, kita akan selalu kalah dan tidak akan pernah dapat proyek”.

Dalam formula “aku begini karena engkau begitu”, manusia berpendapat bahwa akhlak, sikap dan perilaku dirinya adalah akibat dari berbagai stimulus. Stimulus adalah penyebab, dan karena itu lebih pantas disalahkan daripada response.

Image courtesy of http://www.salingsilang.com

Ironisnya, kecenderungan manusia menyalahkan stimulus tidak hanya dalam konteks hablum minannas, melainkan juga dalam konteks hablum minallah. Prasangka buruk manusia kepada Allah SWT tersirat dalam Al-Quran sebagai berikut : “Sesungguhnya Allah tidak sedikitpun berbuat zalim kepada manusia, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri.” (Q.S. Yunus: 44)

Manusia Reaktif dan Manusia Proaktif

Dalam konteks memberikan tanggapan terhadap stimulus, manusia dapat dibedakan menjadi manusia reaktif dan manusia proaktif. Stimulus yang sama diberikan tanggapan yang berbeda oleh manusia reaktif dan manusia proaktif.

Manusia reaktif akan mengatakan “aku begini karena engkau begitu”. Manusia reaktif dapat dianalogikan seperti “baling-baling di atas bukit” yang selalu berubah-ubah  tergantung arah dan kecepatan angin. Tanggapan manusia reaktif terhadap stimulus selalu berubah-ubah, mengikuti stimulus yang berubah-ubah juga.

Manusia reaktif sangat dipengaruhi oleh “cuaca sosial” (“social weather”). Dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 : 34) mendeskripsikan manusia reaktif sebagai berikut :

Reactive people are also affected by their social environment, by the “social weather.” When people treat them well, they feel well; when people don’t, they become defensive or protective. Reactive people build their emotional lives around the behavior of others, empowering the weaknesses of other people to control them.”

Bagaimana dengan “profil” manusia proaktif? Manusia proaktif adalah manusia yang memiliki kesadaran, mau dan mampu bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya. Manusia proaktif juga dipengaruhi oleh stimulus dari luar, baik berupa stimulus fisik, sosial, maupun psikologis.

Image courtesy of Stephen R. Covey

Covey (2001 : 34) menjelaskan perbedaan manusia reaktif dan manusia aktif sebagai berikut : “the ability to subordinate an impulse to a value is the essence of the proactive person. Reactive people are driven by feelings, by circumstances, by conditions, by their environment. Proactive people are driven by values – carefuly thought about, selected and internalized values.”

Manusia proaktiv tidak dependent (karena ia tidak “berani” berkata “tidak” kepada lingkungan). Manusia proaktif juga tidak independent (karena ia tetap dipengaruhi oleh stimulus). Manusia proatif adalah interdependent, ia memiliki pendirian, sadar bahwa setiap manusia memiliki kebebasan memilih, dan “berani” bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya.

Tampak Siring, 1  Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 3, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: