RSS

“Gadang Salero”

10 Feb

Dalam konteks kesehatan manusia, tidak ada kata yang lebih merana, kecuali sebuah kata yang selalu menjadi “kambing hitam”, yaitu keturunan. Alangkah mudahnya manusia menimpakan segala kekecewaan, kekesalan, dan kemarahan kepada faktor “keturunan”.

“Tuduhan” itu mengisyaratkan dua hal. Pertama, manusia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang telah dilakukannya, dan karena itu tidak perlu ada perasaan bersalah. Kedua, manusia beranggapan bahwa ada “aktor intelektual” di balik berbagai masalah kesehatan yang di hadapinya. To the point saja, Tuhan Yang Mahakuasa dianggap sebagai pihak yang patut dituntut tanggung jawab atas faktor keturunan yang menyebabkan manusia menjadi hidup tidak sehat.

Gambar 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Manusia

Survey membuktikan bahwa faktor keturunan bukan satu-satunya penyebab sakit yang diderita manusia. Pola hidup yang acak adul dan pola makan yang amburadul ikut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap berbagai penyakit yang diderita manusia.

Sejatinya, sikap dan perilaku manusia adalah produk dari keputusan yang dibuatnya sendiri. Seperti dikatakan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People (1991 : 71) : “our behavior is a function of our decisions, not our conditions. We can subordinate feelings to values. We have the initiative and the responsibility to make things happen.”

Ironisnya, manusia lebih suka menciptakan “kambing hitam” sebagai penyebab segala malapetaka yang menimpanya. Apa saja (keturunan, kondisi alam, dlsb) dan siapa saja (orang tua yang “salah” mendidik kebiasaan makan, penjual makanan yang mencampur dengan pewarna, pengawet, dlsb) dijadikan “kambing hitam”.

Bahkan,  “korban” yang menjadi “kambing hitam” tidak tanggung-tanggung, Tuhan Yang Mahakuasa pun dijadikan “kambing hitam”, meskipun manusia menggunakan sebutan yang “sopan”, yaitu ujian dan cobaanNya. Sejatinya, manusia sendirilah yang paling bertanggung jawab terhadap kesehatan tubuhnya. Dalam kata responsibility – “response-ability” – terkandung makna the ability to choose your response (Covey, 1990 : 71).

Penyakit Bagaikan Tananam.

Seorang sahabat menganalogikan penyakit seperti layaknya tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Secara umum, tanaman akan tumbuh jika ditanam di tanah yang subur dan mendapat tanaman tersebut dirawat sebagaimana mestinya. Demikian juga dengan penyakit, ia akan tumbuh subur jika tubuh memberikan kesempatan untuk tumbuh dan mendapatkan “perawatan” dari si pemilik tubuh sendiri.

Pola hidup yang acak adul dan pola makan yang amburadul adalah bentuk tindakan perawatan proaktif terhadap penyakit. Pada dasarnya, semua orang memiliki potensi untuk menderita sakit. Tetapi potensi tersebut menjadi nyata setelah “difasilitasi” oleh pola hidup dan pola makan yang kacau balau.

Kebiasaan tidak atau kurang berolahraga, merokok, begadang, gaya kerja “kejar setoran” (baca : banyak kerja tanpa diimbangi dengan istirahat yang cukup), ingin cepat kaya dan populer dengan cara “kejar tayang”, kurang tidur, dan lain sebagainya merupakan faktor-faktor yang dapat berpengaruh signifikan terhadap kesehatan tubuh manusia.

Demikian juga dengan pola makan yang tidak memperhatikan kebutuhan asupan yang seimbang, “besar pasak daripada tiang” (baca : banyak makan dan kurang aktivitas), memakan jenis-jenis makanan yang rawan menimbulkan penyakit, dan lain sebagainya, adalah di antara faktor-faktor yang menyebabkan seseorang rawan terhadap penyakit.

Kebutuhan makan dan gizi setiap orang pada dasarnya tidak berbeda jauh. Status sosial ekonomi dan latar belakang sosial dan budaya tidak berpengaruh terhadap kebutuhan nutrisi seseorang. Siklus kehidupan (bayi, anak-anak, remaja, dewasa, manula) dan aktivitas yang berbeda akan menentukan kebutuhan nutrisi seseorang.

Fakta tersebut sering diabaikan. Orang lebih suka makan makanan dan minum minuman apa saja, yang penting halal. Semboyan makan “eunaaak tenaaan”, “maknyuuuussss”, dan “nendang” menjerumuskan orang untuk wisata kuliner tanpa terkendali. Terhadap makanan, sikap dan perilaku manusia adalah gadang salero! (bahasa Minang yang berarti “besar selera”)

Tetapi bagaimana sesungguhnya hubungan antara pola makan dan pola hidup dengan tingkat kesehatan seseorang?  Sudah banyak buku-buku yang menjelaskannya, di antaranya dua buku dari Hiromi Shinya MD  (“The Miracle of Enzyme dan The Microbes Factor”), dan buku dari Dr. Shigeo Haruyama (“The Miracle of Endomorphin”).

Kedua ahli tersebut sama-sama sepakat bahwa penyakit yang diderita manusia sebagian besar disebabkan oleh pola makan dan pola hidup yang tidak baik. Berikut beberapa kutipan dari buku The Miracle of Enzyme :

  • Selama beberapa dekade berpraktik secara klinis dan memeriksa beratus-ratus ribu orang sebagai seorang ahli endoskopi gastrointestinal, saya (Hiromi Shinya, MD) mempelajari bahwa jika sistem pencernaan seseorang bersih, tubuh orang tersebut dapat melawan penyakit jenis apa pun dengan mudah. Di pihak lain, jika sistem pencernaan seseorang tidak bersih, orang tersebut akan rentan menderita suatu penyakit. (p. 24)
  • Ketika seseorang jatuh sakit, kita sering melihat mereka berkeluh kesah tentang mengapa mereka menjadi sakit. Jatuh sakit bukanlah hukuman yang dijatuhkan oleh Tuhan. Dalam sebagian besar kejadian, penyakit tidak ditentukan oleh genetika. Malahan, hampir semua penyakit adalah akibat dari kebiasaan-kebiasaan setiap orang yang telah terakumulasi selama beberapa waktu. (p. 37).
  • Semua orang memiliki karakteristik lambung dan usus yang bersih saat masih kanak-kanak, tetapi karakter itu berubah bergantung pada makanan dan gaya hidup sehari-hari orang tersebut. (p. 54)

Image courtesy of Microsoft Clip Organizer

Sementara itu, DR Shigeo Haruyama (1995 : 13) berpendapat sebagai berikut :

“Seiring dengan kemajuan di dunia medis, dikembangkan pula obat dan terapi baru, tetapi efek sampingnya berdampak buruk sehingga menimbulkan masalah besar. Sebenarnya, tubuh manusia memiliki fungsi pertahanan yang dapat melindungi dari segala jenis penyakit. Jika mekanisme ini berjalan dengan semestinya, keluhan semisal kanker, penyakit kardiovaskular, atau kerusakan pada jaringan pembuluh darah di otak, akan jauh berkurang. Namun kenyataannya tidak demikian, dan yang menjadi penyebab utama adalah pola hidup dan pola makan kita yang tidak teratur. Dengan kata lain, kita bisa tetap sehat tanpa harus mengonsumsi obat-batan atau produk buatan lainnya jika kita menjaga pola makan sekaligus mengatur sekresi hormon dan sistem kekebalan tubuh.”

Kembali Ke Alam.

Sebuah saran arif disampaikan oleh Hiromi Shinya, MD. Dalam bukunya yang berjudul “The Enzyme Factor” dan “The Microbes Factor”, dokter Shinya menunjukkan bahwa pola hidup dan pola makan manusia berperan besar terhadap tingkat kesehatan manusia.

Sayangnya, kemajuan teknologi telah menjerumuskan manusia bermusuhan dengan alam. Padahal, terdapat hubungan yang erat antara kesehatan manusia dengan alam. “Yang kurang dipahami adalah kenyataan bahwa tubuh kita juga satu sistem ekologis dan termasuk bagian Bumi tempat kita tinggal.” (Hiromi Shinya, 2007:  3). Alam, seperti pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi, menyediakan cukup untuk kebutuhan manusia. Tetapi alam tidak akan pernah cukup menyediakan segala sesuatu untuk keserakahan manusia.

Dalam kesempatan begadang dan “ngrumpi” bersama tentangga di malam minggu, seorang sahabat menceritakan tentang khasiat makhluk ciptaan Tuhan Yang Makuasa yang seringkali kita anggap “bikin susah” manusia. Konon, untuk membuat tubuh hangat dan tidak masuk angin, manusia yang dekat dengan alam memakan ratu rayap. Caranya : bagian kepala dibuang dan bagian tubuh rayap ditelan dalam keadaan hidup-hidup. Hasilnya ….. seperti yang dikatakan oleh pelawak Basuki almarhum  : wes ewes ewes, bablas angine!

Tampak Siring, 4 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 10, 2012 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: