RSS

Ban Berjalan

15 Feb

Apakah anda sudah pernah menonton film Charlie Chaplin yang berjudul “Modern Times”? Dalam film tersebut ditunjukkan proses kerja dan kondisi kerja di pabrik. Faktor-faktor produksi di zaman industrialisasi adalah modal, manusia, dan tanah (termasuk bangunan dan mesin-mesin produksi). Tetapi, sejatinya,  yang menjadi panglima dalam proses produksi adalah mesin-mesin produksi.

Manusia harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan proses kerja, cara kerja, dan kecepatan kerja dari mesin-mesin produksi. Selama proses produksi, mesin-mesin produksi memiliki proses kerja, cara kerja, dan kecepatan kerja yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga manusia tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat, walaupun dalam waktu “sepersekian detik”.

Saat ini kita sudah masuk ke zaman Informasi. Bahkan, menurut Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind, kita sudah berada di era Conceptual. Meskipun demikian, jenis-jenis pekerjaan yang ada di zaman pertanian dan industrialisasi, saat ini masih tetap ada.

Lessons Learned dari film “Modern Times” adalah bahwa, proses dan hasil kerja individu, regu, seksi, bagian, departemen, divisi, perusahaan masing-masing saling mempengaruhi. Hubungan saling ketergantungan dan saling mempengaruhi antar individu dan antar unit kerja pasti ada, tidak hanya eksklusif untuk jenis-jenis pekerjaan pabrik.

Proses kerja dan hasil kerja farmers, factory workers, knowledge workers, dan conceptual workers saling mempengaruhi dan terjadi saling ketergantungan.  Dalam tulisan ini akan dibahas 3 variabel yang menghubungkan pengaruh dan ketergantungan, yaitu : kecepatan kerja, kuantitas kerja, dan kualitas kerja.

Kecepatan Kerja

Kecepatan kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses dan hasil kerja. Dalam beberapa cabang olahraga, kecepatan merupakan kunci dari keberhasilan. Lomba lari estafet, lomba renang estafet, dan terutama lomba balapan “jet darat” F1 sangat dipengaruhi oleh kecepatan.

Bahkan, dalam lomba balapan F1, proses perlombaan dan keberhasilan menjuarai seri lomba balap, dapat dipengaruhi oleh strategi pitstop. Itulah sebabnya, pada saat proses pitstop, team pitstop bekerja “kesetanan” agar proses pitstop selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Ukuran kecepatan kerja dalam proses pitstop adalah detik. Keterlambatan dalam proses pitstop memiliki konsekuensi sangat besar dan signifikan terhadap kecepatan dan waktu tempuh seorang pembalap di arena balap.  Team Pitstop dari beberapa tim “langganan” juara mampu menyelesaikan pitstop antara 5 sampai dengan 10 detik saja. Sedangkan beberapa tim “penggembira” hanya mampu menyelesaikan pitstop di atas 10 detik.

Situasi dan kondisi kerja yang “ekstrem” dan sangat mengandalkan kecepatan kerja seperti dalam proses pitstop mungkin jarang sekali ditemukan di pekerjaan-pekerjaan kantoran, bahkan pekerjaan di pabrik. Tetapi, sudah pasti bahwa kecepatan kerja individual, regu kerja, seksi, bagian, departemen yang satu memiliki pengaruh terhadap kecepatan kerja pihak-pihak yang berkepentingan terhadap proses dan hasil kerja.

Kecepatan kerja sangat penting karena berhubungan dengan tenggat (deadline). Speed adalah salah satu value preposition yang menjadi unggulan perusahaan. Tidak ada gunanya kemampuan memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan dalam jumlah yang banyak, tetapi mengabaikan tenggat.

 

Kuantitas Kerja

Kuantias kerja atasan dan bawahan yang tidak sinkron dapat menimbulkan masalah. Sebagai contoh, jika seorang manajer dalam sehari mampu membuat 4 konsep surat penawaran, tetapi sekretaris hanya mampu mengetik 2 konsep surat saja, maka keadaan seperti itu menjadi masalah.

Masalah kuantitas kerja yang tidak sinkron juga dapat berakibat fatal terhadap regu kerja. Sebagai contoh, dalam tim pitstop terdapat beberapa anggota mekanik dan masing-masing telah memiliki job dan job description yang sangat jelas. Ada mekanik yang bertanggung jawab mengisi bahan bakar minyak, memasang ban, membersihkan atau memperbaiki mesin. Semua pekerjaan yang berbeda-beda tersebut harus selesai dalam waktu sekian detik (sesuai standar yang ditetapkan).

Jika dalam waktu 8 detik, mekanik yang bertanggung jawab memasang ban hanya mampu memasang 2 ban saja (dan untuk memasang 2 ban lagi membutuhkan waktu tambahan 8 detik lagi), maka kecepatan kerja dan kuantitas kerja mekanik ban tersebut menjadi masalah besar bagi tim mekanik lain, dan terutama pembalap.

Kuantitas kerja tidak selalu disebabkan oleh kecepatan kerja yang rendah, melainkan oleh berbagai faktor lain, antara lain kompetensi karyawan yang bersangkutan, metode kerja yang tidak tepat, peralatan kerja yang kurang mendukung, dan lain sebagainya.

Kualitas Kerja

Di cabang olahraga beregu – misalnya bulutangkis – hasil yang dicapai oleh anggota tim yang satu berpengaruh terhadap proses dan kualitas anggota tim yang lain. Sebagai contoh adalah pertandingan kejuaraan Piala  Thomas dan atau Piala Uber.

Pemain pertama yang diturunkan memiliki beban tanggung jawab yang sangat berat.  Wujud dari kualitas kerja adalah  dengan kemenangan atau kekalahan. Apapun hasil yang dicapai (menang atau kalah), memiliki pengaruh yang sangat besar kepada – terutama – pemain kedua dan anggota tim lainnya. Karena itu,  kewajiban untuk menang adalah mutlak.

Jika pemain pertama kalah, maka beban pemain kedua menjadi lebih berat. Pemain kedua yang diturunkan memiliki tugas untuk menyamakan skor, dan karena itu tidak boleh kalah. Sementara, tim lawan serasa “di atas angin” dan mendapat tambahan dan energi yang luar biasa dari kemenangan yang diraih oleh pemain pertama mereka.

Sebaliknya, jika pemain pertama menang, maka beban pemain kedua relatif lebih “ringan”. Meskipun pemain kedua juga harus menang, tetapi seandainya kalah, skor akan imbang. Situasi dan tantangan yang dihadapi oleh pemain kedua adalah (“seolah-olah”) masih boleh kalah. Dengan demikian, jika pemain kedua kalah, potensi dampak terhadap tim juga tidak seburuk jika pemain pertama sudah lebih dahulu kalah.

Dari Independent dan Dependent Menuju Interdependent

Dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia pekerjaan, saling mempengaruhi dan saling ketergantungan antarmanusia adalah kenyataan yang lazim. Mungkin hampir tidak ada orang yang tidak mengetahui dan tidak memahami bahwa kecepatan kerja, kuantitas kerja, dan kualitas kerja seseorang akan mempengaruhi kecepatan kerja, kuantitas kerja, dan kualitas kerja orang lain.

Tetapi mengetahui dan memahami saja saling pengaruh dan saling ketergantungan tidak cukup untuk membangun kerja sama yang efisien, efektif, dan produktif. Tidak ada gunanya hanya mengetahui dan memahami saling ketergantungan dan saling pengaruh, tetapi tanpa disertai dengan kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia keja.

Keberadaan job standard (berhubungan dengan proses kerja)  dan job performance standard (berhubungan dengan hasil kerja) menjadi mutlak. Acuan karyawan dalam hal kecepatan kerja, kuantitas kerja, dan kualitas kerja idealnya memang bukan benchmark terhadap si A, si B, si C, dan lain sebagainya,  melainkan mengacu pada job standard dan job performance standard.

Ironisnya, job standard dan job performance standard seringkali sulit ditemukan dalam perusahaan. Akibatnya, para karyawan yang mampu dan mau menunjukkan kecepatan kerja, kuantitas kerja dan kualitas kerja yang baik menjadi seolah-olah “sok rajin” dan “tidak toleran” terhadap karyawan lain. Sebaliknya, para karyawan yang tidak mampu dan tidak mampu menunjukkan kecepatan kerja, kuantitas kerja dan kualitas kerja yang buruk seolah-olah bukan orang yang bermasalah yang harus dibina.

Proses berpikir hulu dan hilir dapat membantu seseorang agar tidak menjadi “biang keladi” masalah dalam kerja sama di kehidupan sehari-hari dan dunia kerja. Mengetahui di mana posisi seseorang (hulu-tengah-hilir) dan menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing – dan menyadari akibat yang ditimbulkan jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya – diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan dan kemauan seseorang untuk mempraktekkan kesadaran tentang kecepatan kerja, kuantitas kerja dan kualitas kerja yang terbaik.

Setiap manusia, seyogyanya eksis, tumbuh, dan berkembang dari keadaan independent, dependent, dan kemudian interdependent.

Tampak Siring,  28 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 15, 2012 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: