RSS

Penyakit Dorman

22 Feb

Kematian mendadak seseorang – terutama seorang selebriti – selalu mengejutkan dan mengundang reaksi kaget. Apalagi jika orang yang bersangkutan relatif aktif berolahraga dan bertubuh atletis. Kesan umum, orang yang aktif berolahraga dan bertubuh atletis adalah orang yang sehat. Tetapi “sehat” secara kasat mata memang tidak sama dengan sehat menurut kriteria kedokteran.

Itulah sebabnya, mengapa reaksi orang adalah kaget. Seolah tak percaya, orang bertanya-tanya : mana mungkin orang yang “sehat” meninggal secara mendadak? Semua menjadi terasa aneh. Seolah-olah, semua bisa terjadi secara tiba-tiba. Seolah-olah, semua terjadi secara kebetulan. Seolah-olah, tidak ada proses yang tertib dalam tubuh manusia.

Sudah Lolos Quality Control

Manusia diciptakan dalam keadaan sempurna. Ibarat sebuah produk dalam manufaktur, manusia yang lahir di muka bumi untuk menjadi khalifah sudah lulus quality control. Tidak tanggung-tanggung, yang bertindak melakukan QC adalah langsung Allah SWT.

Allah SWT juga lah yang berperan besar dalam proses penciptaan manusia. Dalam konteks kesehatan tubuh manusia, kesempurnaan manusia dijelaskan oleh Hiromi Shinya, MD dalam bukunya yang berjudul The Miracles of Enzyme (2007 : 19)sebagai berikut :

“Kita dilahirkan dengan hak untuk mendapatkan kesehatan; berada dalam keadaan sehat adalah hal yang alami. Begitu mulai mengerti tentang kesehatan, saya mulai dapat mempelajari tentang hubungan dan membantu menyingkirkan penyakit darinya. Hanya tubuh yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Sebagai seorang dokter, saya menciptakan ruang bagi terjadinya penyembuhan tersebut.”

Sementara itu, DR. Shigeo Haruyama dalam bukunya yang berjudul The Miracle of Endorphin (1995 : 13) menunjukkan kesempurnaan manusia sebagai berikut:

“Seiring dengan kemajuan di dunia medis, dikembangkan pula obat dan terapi baru, tetapi efek sampingnya berdampak buruk sehingga menimbulkan masalah besar. Sebenarnya, tubuh manusia memiliki fungsi pertahanan yang dapat melindungi dari segala jenis penyakit. Jika mekanisme ini berjalan dengan semestinya, keluhan semisal kanker, penyakit kardiovaskular, atau kerusakan pada jaringan pembuluh darah di otak, akan jauh berkurang. Namun kenyataannya tidak demikian, dan yang menjadi penyebab utama adalah pola hidup dan pola makan kita yang tidak teratur. Dengan kata lain, kita bisa tetap sehat tanpa harus mengonsumsi obat-batan atau produk buatan lainnya jika kita menjaga pola makan sekaligus mengatur sekresi hormon dan sistem kekebalan tubuh.

Seyogyanya, manusia bertanya mengapa hewan pada umumnya tidak membutuhkan dokter hewan. Mereka mampu hidup dan memelihara kesehatan tanpa harus mengadakan pemeriksaan kesehatan dan menjalani pengobatan sebagaimana yang dialami oleh manusia. Hal itu bisa terjadi karena Tuhan Yang Mahakuasa telah memberikan kemampuan kepada tubuh hewan untuk memelihara kesehatan dan mengobati diri mereka sendiri.

Kemampuan yang sama juga telah diberikan Tuhan Yang Mahakuasa kepada manusia untuk memelihara dan mengobati penyakit mereka sendiri. Mengingat bahwa manusia diberikan akal, maka kemampuan manusia untuk memelihara kesehatan dan melakukan penyembuhan dengan menggunakan tubuh mereka sendiri, seharusnya lebih baik daripada hewan. Masalahnya manusia dalam segala hal sama saja, tidak ada kemauan.

Tidak ada Kebetulan dan Tiba-Tiba

Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Juga tidak ada yang terjadi secara tiba-tiba. Sehat dan sakit yang dialami oleh manusia terjadi melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Masalahnya, manusia tidak mampu melihat proses yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Lebih parah lagi, manusia tidak mampu dan tidak mau membaca sinyal (tanda-tanda) bahwa ada hal-hal tidak beres dalam tubuhnya.

Image courtesy http://www.englishexercise.org

Menurut Hiromi Shinya, MD, kondisi sehat dan sakit yang dialami oleh manusia adalah sebuah proses yang panjang dan pasti.

“Ketika seseorang jatuh sakit, kita sering melihat mereka berkeluh kesah tentang mengapa mereka menjadi sakit. Jatuh sakit bukanlah hukuman yang dijatuhkan oleh Tuhan. Dalam sebagian besar kejadian, penyakit tidak ditentukan oleh genetika. Malahan, hampir semua penyakit adalah akibat dari kebiasaan-kebiasaan setiap orang yang telah terakumulasi selama beberapa waktu. (p. 37).

Hiromi Shinya, MD menambahkan sebagai berikut : “Apakah seseorang sehat atau tidak, bergantung pada apa yang dimakan oleh orang tersebut dan bagaimana orang itu hidup sehari-hari. Yang menentukan keadaan kesehatan seseorang adalah akumulasi harian hal-hal seperti makanan, air, olahraga, tidur, kerja, dan stres.” (p. 40-41)

Tidak Sakit Tidak Sama Dengan Sehat

Pemahaman manusia tentang sehat seringkali keliru besar. Tidak sakit tidak berarti sehat. Orang-orang yang aktif berolahraga dan berbadan atletis mungkin tidak sakit, tetapi belum tentu juga sehat. Karena belum tentu sehat, maka kematian dapat menjemput mereka kapanpun dan di manapun.

“Tidak sakit tidaklah sama dengan sehat. Dalam ilmu kedokteran Timur, terdapat sebuah istilah “penyakit dorman”. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang belum jatuh sakit, tetapi juga tidak sepenuhnya sehat. Dengan kata lain, kondisi tersebut adalah kondisi seseorang berada satu langkah lagi sebelum jatuh sakit.” (Hiromi Shinya, MD, 2007 :  38).

Pelajaran dari orang-orang terdahulu, terutama mereka yang memiliki pola hidup tidak teratur dan selalu “dihantui” oleh serba kejar (kejar tayang, kejar cetak, kejar setor, dlsb), serta dibarengi oleh pola makan yang acak adul dan amburadul, cenderung berusia relatif pendek.

Kita seringkali mendengar bahwa sebelumnya almarhum atau almarhumah “tidak menderita sakit” atau tidak mengalami kelainan apapun. “Tiba-tiba” maut menjemput. Kejadian seperti ini selalu berulang dan sangat mudah dipahami jika kita meyakini bahwa tidak sakit adalah tidak sama dengan sehat.

Keadaan orang yang menderita penyakit dorman dapat dianalogikan seperti menyimpan api dalam sekam. Keadaannya tidak lebih baik daripada menyimpan bom waktu yang setiap saat dapat meledak. Pola hidup yang amburadul dan pola makan yang acak adul tak ubahnya seperti menyimpan bom waktu dan api dalam sekam.

Tampak Siring,   19 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2012 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: