RSS

La Sagrada Familia

24 Feb

Sepengetahuan dan seingat saya, jarang sekali khotib kutbah Jum’at yang membawakan tema perceraian. Minggu pertama Februari 2012, tumben-tumbennya seorang khotib di sebuah mesjid, memberikan ceramah tentang perceraian. Khatib mengingatkan, meskipun perkara halal, Allah SWT membenci perceraian.

Minggu ketiga Februari 2012, harian Republika “mengangkat” tema perceraian, terutama di Arab Saudi, sebagaimana saya kutip sebagai berikut :

“Masalah perceraian kini menjadi persoalan pelik bagi Arab Saudi. Bukan tanpa alasan, berdasarkan penelitian Kementerian Urusan Sosial, angka perceraian di negara itu meningkat drastis hingga 35 persen pada 2011.

Jumlah ini berada di atas ratarata perceraian di dunia, yakni antara 18 sampai 22 persen. Ironisnya, sebanyak 60 persen di anta ranya terjadi pada tahun pernikahan pertama.” (Sumber : http://republika.pressmart.com, 17 Februari 2012).

***

Perceraian sudah seperti komoditas. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, dapat melakukan perceraian. Perbedaan status sosial ekonomis, usia, lokasi geografis tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perceraian. Keputusan bercerai begitu mudah dibuat. Seolah-olah perkawinan tidak lebih dari sekedar “disposable marriage”.

Perceraian tidak lagi eksklusif perilaku selebriti, tetapi “orang biasa” pun tidak segan untuk melakukan perceraian. Usia perkawinan juga tidak menjadi jaminan apapun. Mulai dari perkawinan yang masih “seumur jagung” sampai dengan perkawinan yang berlangsung 4 windu, sama-sama berakhir tragis. Di desa maupun di kota sama saja, perceraian sama-sama marak.

Sangking sudah biasa mendengar berita perceraian, kebanyakan orang sudah tidak kaget lagi mendengar perceraian. Tetapi tingkat perceraian di atas 30 persen tentu bukan sembarang angka yang dapat dianggap urusan sepele. Terlebih tingkat perceraian yang relatif tinggi itu terjadi di Arab Saudi.

Keluarga adalah bentuk kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.  Keluarga memiliki peranan vital bagi masyarakat, bangsa dan negara. Richard R. Clayton (2003 : 58) dalam bukunya yang berjudul “The Family, Mariage and Social Change”, menyebutkan fungsi keluarga sebagai berikut :

  1. Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
  2. Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  3. Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  4. Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  5. Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
  6. Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  7. Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
  8. Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga. (sumber : www.id.wikipedia.org,  21 Februari 2012)

Senada dengan Clayton, Friedman (1992) berpendapat fungsi keluarga adalah : fungsi afektif dan koping, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi fisik. Fungsi keluarga menurut Allender (1998) adalah  “affection, security and acceptance, identity and satisfaction, affiliation and companionship, socialization, and controls”.

Image courtesy http://www.nfsctour.com

Memperhatikan fungsi-fungsi yang diemban oleh sebuah keluarga, dapat disimpulkan bahwa keberadaan keluarga sangat penting bagi masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga adalah fondasi dari kelompok sosial yang lebih besar yang bernama masyarakat, bangsa dan negara.

Bukan hanya fungsi-fungsi keluarga yang sangat penting. Kesucian anak dan cucu manusia dimulai dari keluarga. Dapat dikatakan bahwa keluarga adalah satu-satunya kelompok sosial yang suci. Dalam sebuah keluarga kesucian dimulai, tumbuh, dan dipertahankan. Dalam bahasa Spanyol, sebuah keluarga adalah La Sagrada Familia (arti harfiahnya adalah keluarga yang suci atau sakral. La Sagrada Familia adalah nama sebuah gereja di Barcelona yang dirancang oleh Antoni Gaudi – penulis).

Perceraian sebuah keluarga  berarti ada fungsi-fungsi keluarga yang tidak lagi berlangsung sebagaimana mestinya. Dampak perceraian keluarga, antara lain dampak psikologis dan sosial, terutama pada perkembangan mental anak-anak, tentu sangat merugikan. Saya beberapa kali menghadiri akad nikah dan mendokumentasikan prosesi akad nikah, saya dapat merasakan suasana duka keluarga yang tidak utuh.

Saya menganalogikan sebuah keluarga sebagai “jembatan sosial” yang menghubungkan hubungan antarindividu, antarkeluarga, antarmasyarakat, antarbangsa, dan antarbudaya. Ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai pasangan suami isteri, merupakan fondasi dari ikatan lahir dan batin antarkeluarga, antarmasyarakat, antarbangsa, dan antarbudaya.

Dalam konteks hablum minallah manfaat sebuah keluarga juga sangat strategis. Menikah adalah “menyempurnakan” agama. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Banni didalam Shahihut Targhib wat Tarhib) (sumber : www.eramuslim.com).

***

Perubahan-perubahan sosial, terutama yang terjadi dalam keluarga, tidak menunggu waktu yang lama. Pada saat saya belajar sosiologi, pembahasan tentang keluarga masih tentang perubahan dari extended family (keluarga luas) menjadi (nuclear family) keluarga inti.

Industrialisasi yang memisahkan tempat kerja (kantor dan pabrik) dan tempat tinggal diduga sebagai salah satu penyebab perubahan keluarga luas menjadi keluarga inti. Urbanisasi dan kehidupan yang keras di kota-kota besar juga menuntut perempuan bekerja untuk mendapatkan tambahan income. Perubahan-perubahan tersebut diduga berpengaruh terhadap pola asuh terhadap anak-anak.

Kini, pembahasan tentang keluarga sudah lebih “canggih”. Tema perceraian lebih mendominasi pembahasan tentang keluarga. Hampir semua media cetak dan media elektronik bernafsu memberitakan perceraian. Tidak heran jika keponakan saya yang masih kelas 2 sekolah dasar sudah mengerti tentang perceraian. Bahkan, ia sudah bisa bercerita tentang perceraian orang tua dari sahabatnya. Oh my God!

Tampak Siring,  18 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: