RSS

Football Stakeholders

28 Feb

Dalam stratejik manajemen, setiap organisasi – apapun bentuk dan tujuannya – disarankan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang berkepentingan (atau disebut juga para pemangku kepentingan / stakeholders) terhadap organisasi.

Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap organisasi terdiri dari internal stakeholders (antara lain : pemilik saham, karyawan, serikat pekerja) dan external stakehoders (antara lain : pelanggan, pemasok, pemerintah, kompetitor).

Saling ketergantungan antara organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap organisasi adalah suatu keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Meskipun demikian, organisasi dapat mengelola hubungan dengan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap organisasi sehingga saling ketergantungan itu memberikan kemanfaatan positif kepada semua pihak.

Hubungan dan pengaruh para pemangku kepentingan terhadap organisasi terjadi melalui kepentingan (interest) dan kekuasaan (power) mereka terhadap organisasi. Setiap organisasi harus mengetahui apa kepentingan dan bagaimana kekuatan kekuasaan setiap pemangku kepentingan terhadap organisasi.

Mengelola para pemangku kepentingan tidak sesederhana yang dibayangkan. Mengapa? Adah tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  • pertama, kepentingan dari setiap pemangku kepentingan berbeda-beda;
  • kedua, kekuatan kekuasaan dari setiap pemangku kepentingan juga berbeda-beda. Artinya, kekuasaan tidak berpusat pada satu stakeholder saja, melainkan terdistribusi kepada masing-masing stakeholder; dan
  • ketiga, dari waktu ke waktu, terjadi perubahan yang signifikan dari interest dan power setiap pemangku kepentingan.

Pemerintah misalnya, memiliki kekuasaan dalam bentuk memberikan perijinan. Dalam masyarakat dan bangsa yang masih ditandai oleh KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), yang masih kuat, power abuse adalah hal yang “biasa”. Akibatnya, kekuasaan pemerintah dalam hal memberikan perijinan dapat menggagalkan semua rencana yang telah disusun.

Demikian pula dengan pemasok yang kekuasaan atau kekuatannya semakin “menakutkan” jika barang dan jasa yang mereka pasok relatif langka dan sulit untuk memperoleh produk barang dan jasa substitusi.

Kekuatan relatif organisasi terhadap pemangku kepentingan tidak selalu lemah. Terhadap pelanggan misalnya, suatu organisasi dapat memiliki kekuatan yang relatif lebih baik, apalagi jika kondisinya pelanggan tidak dapat memperoleh produk barang dan jasa substitusi yang dibutuhkannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, semakin beragam kepentingan dan semakin terdistribusi kekuasaan di tangan masing-masing pemangku kepentingan,  maka semakin tinggi kompleksitas dari stakeholder management. Meskipun demikian, secara umum, pola kekuatan para pemangku kepentingan dapat diidentifikasi melalui stakeholder matrix.

Stakeholder Analysis

Berdasarkan faktor interest dan power, maka diperoleh stakeholder matrix sebagai berikut :

Image courtesy of http://www.mindtools.com

Kuadran Pertama menujukkan pemangku kepentingan yang memiliki interest dan power lemah. Terhadap pemangku kepentingan seperti ini sebuah organisasi dapat sedikit “santai” dan melakukan usaha yang minimal, sekedar bersifat memantau.

Kuadran Kedua menunjukkan pemangku kepentingan yang memiliki interest tinggi, tetapi power relatif lemah. Terhadap pemangku kepentingan seperti ini sebuah organisasi seyogyanya lebih aktif membina hubungan dan memberikan informasi kepada pemangku kepentingan.

Kuadran Ketiga menujukkan pemangku kepentingan yang memiliki interest rendah, tetapi power relatif kuat. Organisasi tidak dapat mengabaikan pemangku yang memiliki interest rendah, sebab power mereka yang relatif kuat dapat menjadi “bumerang” bagi organisasi. Karena itu, organisasi harus melakukan berbagai aktivitas yang dapat membuat para pemangku kepentingan puas.

Kuadran Keempat adalah pemangku kepentingan yang memiliki interest tinggi dan power kuat. Menghadapi para pemangku kepentingan seperti ini, organisasi harus memberikan perhatian dan usaha yang lebih intensif untuk memuaskan kepentingan stakeholders. Di samping itu, organisasi perlu melakukan berbagai pendekatan yang dapat melemahkan power dari para pemangku kepentingan, minimal tidak digunakan semena-mena digunakan.

Setelah mengetahui interest dan power dari setiap pemangku kepentingan, selanjutnya organisasi dapat membuat stakeholder map (peta pemangku kepentingan). Masing-masing stakeholder ditempatkan dalam satu kuadran dalam stakeholder map, sesuai dengan tingkat interest dan power mereka.  Stakeholder map selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman bagi organisasi untuk “menggarap” (baca : menyusun program) masing-masing pemangku kepentingan berdasarkan skala prioritas.

Satu hal yang perlu dipahami adalah stakeholder map tidak bersifat statis. Karena interest dan power masing-masing pemangku kepentingan dari waktu ke waktu dapat berubah, maka organisasi harus memantau perubahan tersebut dan menyesuaikan pendekatan kepada para pemangku kepentingan sesuai kondisi terakhir.

Football Stakeholders

Dalam pengertian yang sederhana, olahraga sepakbola tidak lebih dari permainan menggiring, menendang, dan memasukkan bola ke gawang kesebelasan lawan. Sebagai olahraga yang dipertandingkan, dan terutama sebagai profesi, olahraga sepakbola tidak lagi dapat dipahami sebagaimana pengertiannya yang sederhana.

Banyak pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sepakbola. Sepakbola tidak lagi dipandang sebagai urusan klub sepakbola dan tim nasional sepakbola, melainkan sebagai profesi dan industri yang menghidupi banyak orang. Bahkan, bagaimanapun terkontaminasinya sepakbola sebagai sebuah industri, sepakbola masih dipandang sebagai salah satu simbol harga diri individu, kelompok, klub, masyarakat, bangsa dan negara.

Siapakah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sepakbola? Gambar berikut ini mengidentifikasi football stakeholders  :

Image courtesy of Adhyaksa Wisanggeni

Dapat dibayangkan bagaimana beragam interest dan power dari masing-masing pemangku kepentingan. Dalam konteks stakeholders management, dapat dibayangkan bagaimana kompleksitas mengurus sebuah tim nasional, bahkan sebuah klub

Karena itu, jika ada seorang pelatih seperti Sir Alex Ferguson yang mampu bertahan selama 25 tahun menjadi pelatih FC Manchester United, pasti ia bukan orang biasa. Karena itu, jika ada sebuah klub sepakbola profesional yang selama bertahun-tahun konsisten menjuarai sebuah kompetisi liga sepakbola di sebuah negara, pasti klub itu merupakan klub yang luar biasa dan menjadi dambaan sebagian besar pesepakbola. Mengapa demikian?

Interest dan power dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sepakbola sangat beragam dan kekuatannya tersebar merata. Dari tahun ke tahun, interest dan power pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sepakbola semakin meningkat, sulit dikelola dan sulit dikendalikan.

Salah satu “korban” dari meningkatnya interest dan power sponsor – sebagai pihak yang memberikan sumbangan dana – adalah FC Barcelona. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana FC Barcelona membanggakan diri menolak semua logo di bagian depan kostum mereka, meskipun sponsor adalah perusahaan-perusahaan multinasional  kelas kakap sudah menggelontorkan dana melimpah. FC Barcelona hanya bersedia memasang logo Unesco di bagian depan kostum, meskipun Unesco tidak membayar sepersen pun uang kepada FC Barcelona.

Sejak musim kompetisi 2011/2012, konsistensi FC Barcelona selama 111 tahun menolak logo sponsor, akhirnya “bertekuk lutut” setelah Qatar Foundation menggelontorkan dana sejumlah 150 juta Euro untuk lima tahun ke depan. Kini, logo Qatar Foundation “jumawa” bertengger di bagian depan kostum resmi FC Barcelona.

Image courtesy of Getty Image

Bukan hanya prinsip yang dipertaruhkan di sepakbola, melainkan juga nyawa. Mendiang Andreas Escobar adalah salah satu pesepakbola yang terpaksa kehilangan nyawanya setelah ia “mempersembahkan” gol bunuh diri dan timnas Kolumbia tampil “kedodoran” di ajang Piala Dunia 1994, di Amerika Serikat.

Di Italia, berbagai kelompok dalam masyarakat bertindak sebagai “pressure group” yang menebarkan teror. Dalam waktu enam bulan (Juli – Desember 2011), sudah tiga keluarga pemain FC Napoli (Edison Cavani, Marek Hamsik dan Ezequiel Lavezzi) yang “dikerjain” oleh geng Mafia. Campur tangan dan pengaruh external stakeholders terhadap FC Napoli diberitakan Kompas (14 Januari 2012) sebagai berikut :

  • “Beberapa pemain Napoli dan keluarganya telah menjadi korban kejahatan, yang diyakini dilakukan geng Camorra, yang ”menguasai” kota Naples dan sekitarnya. Penyerang Napoli, Edinson Cavani, menjadi korban paling akhir. Rumahnya dimasuki sekelompok penjahat dan diobrak-abrik, saat dia beraktivitas bersama tim nasional Uruguay.
  • Akademisi dan penulis Biagio de Giovanni kepada Guardian mengatakan, ”Tampaknya mafia menjadikan pemain Napoli sebagai target, untuk meminta bagian dari tim saat mereka bangkit.”
  • Penjualan tiket secara online oleh Napoli, menurut Corriere della Sera, diyakini telah membuat Camorra kesulitan menjual tiket di jalan-jalan sehingga penghasilan mereka terpangkas.”

Meskipun “bobotoh” (baca : fans / pendukung sebuah klub/timnas sepakbola) dan penonton sepakbola semakin dimanja oleh berbagai tayangan langsung pertandingan sepakbola, keadaan itu tidak serta merta menggembirakan klub, pelatih, dan pesepakbola. Kekuasaan sponsor tidak hanya dalam hak siar, tetapi sudah merambah ke pengaturan jadual pertandingan. Arsene Wenger, pelatih klub FC Arsenal, mengeluh dengan organisasi sepakbola yang sudah terang-terangan menjual jiwa sepakbola.

Bagaimana dengan investor sebagai pemilik klub? Tidak semua investor memiliki hobby dan mengerti sepakbola. Satu hal pasti yang dimengerti oleh investor adalah return of investment dan klub yang digadang-gadangnya menjadi juara liga kompetisi sepakbola di negara setempat, dan Liga Champion untuk tingkat Eropa.

Jika target yang ditetapkan tidak tercapai, investor atau pemilik klub sepakbola profesional sangat gampang memecat pelatih. Dalam satu musim kompetisi, jumlah pelatih sepakbola di Liga Inggris, Liga Spanyol, Bundesliga (Jerman), Liga Calcio (Italia). Louis van Gaal dipecat oleh manajemen Bayern Muenchen sebelum kontraknya berakhir. Meskipun mempersembahkan juara English Premier League 2 kali berturut-turut kepada FC Chelsea, Abramovic tetap memecat Jose Mourinho karena gagal mempersembahkan Piala Champion.

***

Kompleksitas dari stakeholder management di sebuah klub semakin menegaskan bahwa stakeholders management memang tidak hanya diperlukan oleh setiap organisasi sepakbola, melainkan semua organisasi berorientasi laba dan nir-laba.

Meminjam perubahan dari dependent, independent dan interdependent Stephen R. Covey, sebuah organisasi seyogyanya bukan dependent dan independent. Fakta bahwa ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sebuah organisasi – dan organisasi tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran para pemangku kepentingan – keadaan yang seharusnya diwujudkan adalah interdependensi yang saling menguntungkan.

Tampak Siring, 26 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 28, 2012 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: