RSS

Strategi Penggajian

29 Feb

“Ada uang abang di sayang. Tak ada uang abang melayang”. Peribahasa itu tampaknya tidak hanya berlaku di tingkat individual. Di era sepakbola yang sudah “kepalang basah” terkontaminasi kapitalisme dan industrialisasi, klub-klub sepakbola merasakan “kesaktian” dari peribahasa tersebut. Klub berprestasi pemain senang, tidak ada prestasi pemain hengkang. Ada prestasi sponsor datang, tidak ada prestasi sponsor meradang ……… dan hengkang.

Salah satu klub sepakbola profesional yang sudah “kena getah” dari peribahasa itu adalah FC Arsenal, klub kebanggaan keluarga kerajaan Inggris. Hampir setiap tahun Arsenal selalu ditinggalkan oleh pemain-pemain terbaiknya. Dimulai dari generasi Thiery Henry dan Patrick Vieira, kemudian disusul generasi Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure. Meskipun – di sisi lain – Arsenal selalu mampu menjual pemainnya dengan harga 3 sampai 5 kali lipat dibandingkan biaya yang dikeluarkan Arsenal untuk membeli pemain yang bersangkutan.

Musim kompetisi 2011/2012, Arsenal kehilangan jenderal lapangan tengah Cecs Fabregas yang “mudik” ke FC Barcelona, dan Samir Nasri yang tidak tahan “godaan” gaji  3 kali lipat lebih besar dari si “tetangga berisik” FC Manchester City.

Jika sepakbola hanya dilihat sebagai sepakbola, dan jika sepakbola adalah olahraga dan permainan yang memberikan kesenangan, maka tidak ada pesepakbola yang tidak ingin bergabung dengan Arsenal. Punggawa Arsenal Robin van Persie pun hanya mau bermain sepakbola di dua klub saja, yaitu Arsenal dan FC Barcelona (“Barca”).

Masalahnya menjadi lain ketika sepakbola dipandang sebagai media untuk berprestasi dan meningkatkan prestise sosial. Pesepakbola manapun tidak ada yang tidak mau bergabung dengan sebuah klub yang memiliki tradisi menjadi juara di liga kompetisi reguler di suatu negara maupun juara di tingkat Liga Champions.

Masalahnya menjadi tidak sederhana lagi ketika sepakbola dikuasai oleh pemilik klub yang tidak lain tidak bukan adalah investor. Bagi investor, tidak ada kata lain yang lebih penting selain return of investment. Potensi ROI akan semakin meningkat sebanding dengan prestasi klub. Formulanya jelas : prestasi klub akan meningkatkan pendapatan klub.

Di ajang Liga Champions 2010/2011 misalnya, masing-masing klub dari 32 klub yang bertanding di Liga Champions menerima “uang pembinaan” sejumlah 3,9 juta Euro (setara 45 milyar Rupiah). Masuk semifinal, masing-masing klub akan menerima “kadeudeuh” sejumlah 4,2 juta Euro. Klub yang menjadi juara mendapatkan tambahan “uang pembinaan” sejumlah 9 juta Euro, sedangkan runner-up “hanya” menerima 5,6 juta Euro.

Jangankan investor, para sponsor pun hanya sudi “memarkir” dana mereka di klub-klub yang memiliki tradisi menjadi juara. Minimal, klub-klub yang memiliki potensi besar untuk menjadi juara liga kompetisi di suatu negara. Jika tidak, para sponsor akan mengalihkan dana mereka kepada klub-klub yang lebih berprestasi.

FC Liverpool yang memiliki tradisi sebagai juara di Liga Premier Inggris dan Liga Champions, serta telah memiliki brandname yang relatif kuat, siap-siap mencari sponsor baru. Sponsor lama yang telah bertahun-tahun “mengawal” Liverpool mulai gerah dengan Liverpool yang sudah 21 tahun tidak lagi menjadi juara liga premier Inggris.

Turnover pesepakbola dalam sebuah klub sepakbola dapat ditinjau dari berbagai segi, antara lain talent management, “employee engagement”, dan  kebijakan compensation and benefit (“comben”) yang berlaku dalam klub sepakbola. Tulisan ini fokus menganalisis turnover pesepakbola dari sudut pandang comben.

Compensation and Benefit

Komponen penggajian dikelompokkan menjadi 3, yaitu basic salary (gaji pokok), benefits, dan incentives. Basic salary adalah biaya tetap (fixed cost), sedangkan benefits dan incentives adalah biaya tidak tetap (variable cost). Tidak ada “pakem” baku bagaimana idealnya atau seharusnya perbandingan antara ketiga komponen gaji tersebut.  Tetapi, “naluri” organisasi apapun adalah “menghindari” fixed cost yang terlalu tinggi dan dalam jangka panjang memberatkan organisasi. Organisasi apapun biasanya “memainkan” tunjangan dan incentives untuk memotivasi berprestasi.

“Komponen Penggajian”

Gaji pokok adalah gaji yang diterima oleh seorang karyawan (dalam hal ini pesepakbola) per bulan. Gaji pokok tetap diterima oleh pesepakbola, tidak tergantung dari seberapa banyak ia bermain dalam pertandingan. Ketika seorang pesepakbola cidera, ia juga akan menerima gaji tetap. Bahkan, jika seorang pesepakbola dipinjamkan kepada klub sepakbola lain, ia tetap akan menerima gaji pokok yang sama (contoh Emmanuel Adebayor yang dipinjamkan kepada Tottenham Hotspur). Hanya saja, klus asal sebagai pemilik pesepakbola dan klub peminjam biasanya sharing untuk membayar gaji tetap tersebut.

Benefits adalah berbagai bentuk tunjangan dan besarannya cenderung sama untuk semua pesepakbola (jika di perusahaan tergantung dari pangkat dan tingkat jabatan). Bentuk-bentuk tunjangan antara lain tunjangan kesehatan, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Tunjangan yang diberikan oleh sebuah klub sepakbola kadang-kadang juga sangat spesifik. FC Manchester City pernah mengiming-imingi Fabregas sebuah jet pribadi yang siap mengantarkan ke manapun Fabregas pergi. Syaratnya tentu Fabregas bergabung dengan FC Manchester City.

Pemberian incentives biasanya dikaitkan dengan pencapaian prestasi tertentu, misalnya menjuarai liga kompetisi reguler di sebuah negara. Formula incentives cenderung individual, tidak “bagito’ (bagi rata). Pemain yang mampu mencetak gol misalnya, biasanya mendapatkan incentives. Meskipun demikian, incentives juga diberikan untuk sebuah team dan semua pemain mendapatkan besaran bonus yang sama. Sebagai contoh, jika timnas sepakbola Jerman menjuarai Piala Eropa 2012, masing-masing pemain akan menerima 300 ribu Euro (www.ligachampion.net). Manajemen FC Barcelona membayarkan bonus sebesar 16 juta Euro untuk team FCB yang berhasil menjuarai Piala Champions 2011 yang lalu. Masing-masing pemain utama FCB mendapat “kadeudeuh” 650 ribu Euro, sedangkan para pemain cadangan “hanya” menerima 100 ribu Euro.

Strategi Penggajian

Dalam berbagai literatur manajemen penggajian, strategi penggajian yang umum diterapkan oleh organisasi adalah lead, match, dan lag. Implementasi dari ketiga strategi penggajian tersebut tidak mudah. Sebab, penggajian tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, melainkan lebih luas dalam konteks persaingan dengan organisasi atau perusahaan kompetitor. Terutama persaingan dalam hal “talent war”, employee engagement, membangun motivasi untuk berprestasi, dan lain sebagainya.

Penerapan strategi penggajian harus memperhatikan siklus bisnis (growth, maturity, decline, termination) dan pertumbuhan industri di mana perusahaan berada. Perusahaan yang sedang dalam siklus tumbuh, dan industri juga sedang dalam tahap tumbuh pesat, perusahaan dapat menerapkan strategi lead. Sebab, pada saat industri sedang tumbuh, kebutuhan talent meningkat dan “talent war” semakin sengit. Untuk mendapatkan talent, perusahaan harus mampu memberikan paket penggajian yang menarik dan mampu mempertahankan talent.

Sebaliknya, tidak realistis menerapkan strategi lead pada saat perusahaan dalam siklus decline dan industri sedang lesu. Permintaan dan penawaran tenaga kerja pada saat industri sedang lesu tidak menuntut perusahaan untuk “jor-joran” dalam menawarkan paket penggajian. Dalam kondisi seperti ini, dengan menerapkan strategi penggajian match, atau bahkan lag, perusahaan tidak perlu khawatir akan kehilangan talent.

Dalam ilustrasi grafik gaji pesepakbola di bawah ini ditunjukkan tentang perbandingan strategi penggajian klub-klub sepakbola. Klub AA menerapkan strategi gaji lag, Klub BB menerapkan strategi penggajian match dengan klub CC. Sedangkan Klub DD menerapkan strategi penggajian lead dibandingkan klub-klub lainnya.

Ilustrasi : Strategi Penggajian Klub Sepakbola

Strategi penggajian yang sesuai untuk sebuah organisasi sangat tergantung pada faktor-faktor internal dan eksternal organisasi. Strategi penggajian yang ideal atau seharusnya juga tidak relevan. Kemampuan (dan kemauan) keuangan organisasi mempengaruhi strategi penggajian yang akan diterapkan. Bahkan, filosofi sepakbola dari sebuah klub juga mempengaruhi

FC Ajax Amsterdam misalnya, cenderung membayar gaji lag (di bawah atau lebih sedikit) jika dibandingkan gaji yang dibayarkan klub-klub yang setara dengannya. Padahal, FC Ajax adalah salah satu dari 3 klub di Belanda yang “rajin” menjuarai Eredivisi (liga utama sepakbola di Belanda). Turnover pemain di FC Ajax memang termasuk tinggi. Tetapi FC Ajax tidak pernah “limbung” dan tetap mencetak pesepakbola hebat.

Di tingkat Eropa prestasi FC Ajax tidak lagi sehebat prestasi di era Johann Cruyff dan kawan-kawan. Tetapi tidak ada pesepakbola yang tidak bangga bergabung dan bermain untuk FC Ajax. Dari dahulu sampai saat ini, FC Ajax adalah “gudang” dari pesepakbola terbaik di dunia. Sebelum bergabung dengan klub-klub besar, sebagian pesepakbola memilih untuk mengasah keterampilan dan menambah “jam terbang” (baca : pengalaman) bertanding di FC Ajax. Pesepakbola yang memperkuat timnas Belanda sebagian besar adalah alumni FC Ajax. Beberapa pesepakbola terbaik di dunia saat ini juga pernah “nyantri” di FC Ajax, sebut saja Zlatan Ibrahimovic.

Memilih dan konsisten menerapkan strategi penggajian lead (lebih banyak, lebih tinggi) dibandingkan dengan organisasi lain juga tidak mudah. FC Real Madrid memang klub kaya raya dan saat ini adalah klub sepakbola terkaya di dunia. Tahun 2011 FC Real Madrid membukukan pendapatan sejumlah 359,1 juta poundsterling. Tetapi jangan dikira bahwa FC Real Madrid tidak “berdarah-darah” membayar gaji pemain. Tahun 2009, kisaran hutang Real Madrid mencapai 296 juta poundsterling. Sebesar 226 juta poundsterling digunakan untuk membeli 5 pemain, yaitu Christiano Ronaldo, Xabi Alonso, Kaka, Karim Benzema, dan Raul Albiol.

Strategi “Lead

Strategi penggajian lead berarti sebuah organisasi (perusahaan, klub sepakbola, dan lain sebagainya) menerapkan paket penggajian yang lebih tinggi dibandingkan dengan organisasi lain. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam talent war, terutama dalam hal menarik (to attract) dan mempertahankan (to maintain / to retain) pesepakbola terbaik.

FC Real Madrid – klub sepakbola kaya raya dan terkaya di dunia saat ini – tidak kesulitan untuk menerapkan strategi penggajian lead. Hampir semua pesepakbola yang “merumput” di FC Real Madrid di bayar mahal (bahkan pelatihnya juga mendapatkan bayaran paling mahal di dunia). Bagi Real Madrid tidak ada kesulitan untuk menarik dan mempertahankan pesepakbola terbaik di dunia. Pesepakbola seperti Christiano Ronaldo misalnya, per minggu mendapat bayaran …… FC Real Madrid juga membuat buy clause 1 Trilyun Euro bagi klub mana pun yang bermaksud memboyong Ronaldo (pada saat masih dalam masa kontrak dengan FC Real Madrid). Dijamin hampir sebagian besar manajemen klub sepakbola akan berpikir untuk memboyong Ronaldo.

“Strategi Match”

Strategi penggajian match berarti sebuah organisasi membayar paket penggajian relatif sama dengan organisasi lain. Dalam konteks talent war, penerapan stategi penggaian match meningkatkan risiko kehilangan talent. Tetapi strategi match adalah strategi yang paling realistis untuk bersaing, bertahan, dan tumbuh menghadapi persaingan dengan kompetitor.

Dalam konteks sepakbola yang sudah terkontaminasi industrialisasi dan kapitalisme, strategi match relatif lebih baik dibandingkan strategi lag. Tidak semua pesepakbola “matre” dan uang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan pesepakbola bergabung dengan sebuah klub. Gaji, tunjangan, dan incentives mungkin dapat memotivasi, tetap pengaruhnya hanya pada tahap-tahap awal dan tidak berkesinambungan. Bagi pesepakbola, menjadi pemain utama dan secara reguler bermain dalam pertandingan jauh lebih penting ketimbang sekedar uang. Rafael van der Vaart memilih hengkang dari FC Real Madrid karena tidak betah “parkir” di bangku cadangan. Beberapa pesepakbola muda yang sedang menanjak prestasinya juga menolak Real Madrid. Selain filosofi dan gaya permainan sepakbola yang tidak cocok, keengganan untuk menjadi pemain cadangan adalah faktor utama penolakan.

Strategi “Lag”

Strategi penggajian lag berarti sebuah organisasi membayar paket gaji di bawah rata-rata paket gaji yang dibayarkan oleh organisasi kompetitor. Meskipun dalam aspek finansial strategi lag jauh lebih mudah diterapkan dibandingkan strategi match dan lead, konsekuensi dan probabilitas risiko yang dihadapi organisasi semakin meningkat. Dalam konteks talent war, kemampuan organisasi dalam hal menarik dan mempertahankan talent relatif lemah.

Itulah sebabnya, klub-klub sepakbola “mediocre” dan papan bawah cenderung kehilangan talent mereka. Kecuali tidak mampu bersaing dengan klub-klub besar, hasil penjualan talent diharapkan sebagai penghasilan klub yang dapat menjaga kesehatan keuangan klub. Konsekuensinya, klub-klub yang menjadi “penghuni tetap” dari the big four klub itu-itu saja. Itulah sebabnya, juara liga kompetisi sepakbola di satu negara, cenderung direbut oleh 1 sampai 3 klub sepakbola saja. Sesekali, tetapi jarang sekali terjadi, klub sepakbola “entah berantah” mampu menjadi juara liga kompetisi.

***

Keberhasilan sebuah klub sepakbola menjadi juara mungkin disebabkan oleh faktor pelatih. Itu pasti, tetapi tidak mutlak. Jose Mourinho memang pelatih hebat dan selalu mempersembahkan gelar juara, di klub dan negara manapun ia melatih. Tetapi Mourinho selalu mengandalkan pemain bintang dan dibayar mahal.  Kecuali pada saat  Mourinho melatih dan mengantarkan FC Porto menjadi juara liga kompetisi Portugal dan juara Liga Champion.

Kebijakan keuangan sebuah klub sepakbola dan strategi penggajian berperanan terhadap keberhasilan sebuah klub menjadi juara. FC Manchester United dan Alex Ferguson mampu bertahun-tahun menjadi klub terbaik di Inggris tidak lepas dari dukungan dana. Untuk mencapai prestasi dibutuhkan modal besar, bukan “modal dengkul”. Paket penggajian klub-klub sepakbola profesional di era sepakbola sudah terkontaminasi kapitalisme dan industrialisasi, tidak lagi dapat dikelola dengan cara-cara lama.

Tampak Siring, 26 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 29, 2012 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: