RSS

Yes We Can (Part Two)

02 Mar

Sebagaimana biasanya, masyarakat Indonesia menanggapi suatu peristiwa secara sensasional dan cenderung lebay (berlebih-lebihan). Demikian juga dengan tanggapan masyarakat, terutama pejabat, terhadap keberhasilan siswa-siswa SMK N 1 Trucuk Klaten, Jawa Tengah, membuat mobil Sport Utility Vehicle (SUV) yang diberinama “Kiat Esemka”.

Sensasi dimulai ketika Walikota Solo Joko Widodo dan wakilnya memutuskan untuk membeli 2 mobil Kiat Esemka. Jokowi dan wakilnya kemudian menggunakannya sebagai kendaraan dinas. Puji dan puji pun mengalir dari berbagai kalangan. Singkat cerita, sensasi lebih heboh ketimbang substansi.

Menurut pendapat subyektif saya, sikap yang bijak untuk menyikapi mobil “Kiat Esemka” adalah ojo dumeh, ojo kagetan, ojo gumunan. Tidak perlu lebay menghadapi suatu peristiwa, tetap setia pada KISS : keep it simple and short.

Sejatinya, tidak ada inovasi baru di bidang teknologi mesin, body, dan interior kendaraan. Para siswa SMK “hanya” merakit kendaraan. Bahkan untuk model bodi mobil pun terinspirasi dari Toyota Land Cruiser Prado dan Ford Mount Everest. Seperti itulah penjelasan dari Sukiyat, mitra kerja SMK N 1 Trucuk yang berperan sebagai donatur sekaligus mentor bagi siswa-siswa tersebut (Kompas, 7 Januari 2012).

Pedoman bekerja siswa-siswa SMK juga copy paste sang mentor Sukiyat, yaitu 3N, yakni niteni (memperhatikan), nirokke (meniru), dan nambahi (menambahkan). Metode kerja itu sama sebangun dengan metode kerja ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Menurut Sukiyat, “pedoman itu diamatinya dari pekerja Jepang, Korea, dan China saat dulu mereka memulai industri mobil nasionalnya”. (Kompas, 7 Januari 2012)

Dimensi Kualitas

Terlalu dini mengatakan bahwa mobil Esemka adalah cikal bakal mobil nasional. Terlalu gegabah mengatakan bahwa, dengan keberhasilan membuat mobil Esemka, sudah saatnya pemerintah memulai produksi mobil nasional. Ada sejumlah tahap yang harus dilalui. Berikut diperlihatkan tahap-tahap yang lazim dalam pengembangan sebuah produk :

Memproduksi dan menjual adalah kegiatan berbeda. Faktanya, ada jarak antara produsen dan konsumen. Bagi calon konsumen, kagum terhadap suatu produk tidak serta merta ditindaklanjuti dengan keputusan membeli dan menggunakan produk. Lagipula, di pasar kendaraan bermotor roda empat, calon konsumen memiliki berbagai alternatif pilihan produk yang sudah teruji kualitasnya.

Dalam konteks mobil nasional, patriotisme dan nasionalisme mungkin tidak terlalu dapat digunakan untuk “mbujuki” rakyat Indonesia. Ini bukan sekedar membeli pakaian batik atau produk-produk nasional lain yang harganya relatif terjangkau. Konteks dan proses membeli pakaian batik jelas sangat berbeda dengan membeli mobil nasional.

Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian calon konsumen adalah kualitas produk. Sebelum berbicara terlalu jauh tentang “SSS” (sales, service, spare parts), lebih baik fokus terlebih dahulu untuk memastikan kualitas dari sebuah produk yang memiliki 8 dimensi sebagai berikut :

Semangat “Yes We Can”

Bagi saya pribadi, kekaguman dan pujian saya terhadap siswa-siswa SMK yang telah mampu membuat mobil SUV, adalah dalam hal semangat “Yes We Can”. Substansi moral story (pesan moral) dari keberhasilan siswa-siswa SMK membuat mobil adalah semangat bahwa kalau kita yakin, kita insyaAllah mampu mewujudkan apapun impian kita.

Hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan teknis tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Terbukti hanya dengan menggunakan pendekatan  “3 N” dan “ATM”, tidak sulit untuk menguasai teknologi kendaraan bermotor.

Sikap mental selalu lebih sulit diinternalisasi ketimbang pengetahuan dan keterampilan teknis, dan karena itu sikap mental menjadi sangat penting. Semangat “Yes We Can” dapat menjadi virus yang sangat dahsyat dan masuk ke dalam hati dan pikiran manusia. Sejatinya, “Yes We Can” bukan sekedar jargon atau yel-yel, melainkan sebuah keyakinan. Bagi saya, orang-orang yang telah memiliki semangat “Yes We Can” merupakan SDM yang sangat potensial untuk berkembang.

Mengapa semangat “Yes We Can” sangat penting? Sebagai bangsa yang pernah mengalami penjajahan dan selalu tertinggal di bidang ekonomi dan teknologi dibandingkan negara-negara lain, mengatasi perasaan inferior bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Memiliki semangat “Yes We Can” berarti sudah mengalahkan perasaan inferior. Itulah modal penting yang selalu harus dipelihara dan ditingkatkan. Konon, sebuah keyakinan mampu memindahkan sebuah gunung.

Last but not least, cerita keberhasilan siswa-siswa SMK 1 Trucuk membuat mobil adalah success story. Setiap individu, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara selalu membutuhkan success story. Dalam kehidupan, peranan dan pengaruh success story untuk memberikan inspirasi, motivasi dan resilience mewujudkan mimpi tidak dapat diremehkan.

Tampak Siring,  10  Februari 2012.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: