RSS

Seek first to understand, then ……

06 Mar

Misscommunication dan missunderstanding yang sering terjadi dalam hubungan antarmanusia (individu, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara) sudah cukup untuk membuktikan bahwa berkomunikasi adalah tidak mudah. Tetapi, membangun dialog jauh lebih sulit daripada membangun komunikasi. Terutama, membangun dialog dalam suasana konflik, emosi para pihak telah “mendidih”, dan para pihak telah menjadi “musuh bebuyutan”.

Saya sama sekali tidak pernah merasa heran melihat dua keturunan Adam yang telah terikat perkawinan berpuluh-puluh tahun (konon atas nama “cinta”), ujung-ujungnya bercerai. Itu bukti betapa sulit membangun dialog antara pihak-pihak yang sedang berkonflik. Sebab, lazimnya dalam suatu konflik, pendekatan masing-masing pihak cenderung “the winner takes it all”. Masing-masing pihak hanya tahu menjadi pemenang.

Bagi pihak-pihak yang terlibat konflik dan bermaksud menyelesaikan perselisihan di antara mereka melalui dialog, butuh persyaratan ikhlas, passion, enthusiasm, dan patience untuk memulai dan memelihara dialog sampai selesai dan menghasilkan win-win solution.

Dalam pengalaman saya konflik dengan berbagai pihak dari latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda, dialog adalah medium terbaik untuk menyelesaikan konflik. Dialog memang tidak serta merta menjanjikan win-win solution.

Tetapi, melalui dialog pihak-pihak yang bersengketa menjadi tahu duduk persoalan dan posisi (maupun kepentingan) pihak-pihak yang bersengketa. Melalui dialog, pihak-pihak yang bersengketa mengetahui apa yang menjadi keinginan dan harapan dari pihak lainnya.

Image courtesy http://www.maulanusantara.com

Proses dan Hasil

Dialog adalah bagian dari proses penyelesaian sengketa antara dua pihak, atau lebih. Perlu ditekankan bahwa dialog tidak sama dengan hasil. Bahwa dialog tidak membuahkan hasil win-win solution, tidak berarti dialog tidak diperlukan.

Dialog atau perundingan antara Palestina dan Israel sampai saat ini masih terus berlangsung dan tidak ada tanda-tanda sengketa antara kedua belah pihak akan segera berakhir. Dialog “hanya” merupakan medium, sedangkan hasil tergantung dari kesepakatan para pihak.

Dialog berpotensi memberikan hasil win-win solution jika para pihak yang bersengketa memiliki keikhlasan dalam 4 hal, yaitu : keikhlasan saling mendengarkan, keikhlasan saling memahami, keikhlasan bersikap netral, dan keikhlasan untuk mengakui keterbatasan masing-masing.

Keikhlasan Saling Mendengarkan

Ketika ada pasangan suami istri yang berasal dari Jawa Tengah bertengkar, kata-kata “rungok no sik mas”(dengarkan dulu mas) atau “rungok no sik jeng” (dengarkan dulu dik) biasa diucapkan oleh pihak-pihak yang sedang berdialog.

Dialog memang tidak mungkin terjadi tanpa ada keikhlasan dari kedua pihak untuk saling mendengarkan. Tidak hanya telinga yang mendengarkan. Kalau yang menjerit adalah hati, maka hati pun harus ikhlas mendengarkan jeritan hati pihak lain.

Masalah pertama mengapa penyelesaian konflik “layu sebelum berkembang” adalah karena tidak ada keikhlasan dari kedua belah pihak untuk saling mendengarkan. Tanpa ada keikhlasan dari kedua belah pihak untuk saling mendengarkan, maka dialog sulit dilanjutkan.

Yang sering terjadi adalah pihak yang satu merasa ikhlas mendengarkan pihak yang lain. Sementara, pihak lain punya persepsi bahwa pihak lawannya tidak ikhlas mendengarkan pendapatnya. Perasaan kalah menang juga mempengaruhi keikhlasan untuk saling mendengarkan. Ada kesan seolah-olah kalau mendengarkan pendapat pihak lain, maka dirinya kalah.

Jika kedua belah pihak sama-sama menghendaki win-win solution, tidak ada pilihan lain bagi para pihak  kecuali mengedepankan keikhlasan saling mendengarkan. Keikhlasan membutuhkan kesiapan mental. Karena itu, kemampuan dan kemauan untuk ikhlas saling mendengarkan merupakan fondasi penting bagi proses dialog selanjutnya.

Menurut Covey, “mendengarkan dengan empati membawa kita masuk ke dalam kerangka penilaian seseorang. Anda melihat melalui sudut pandangnya, memandang dunia dengan caranya, memahami paradigmanya, dan memahami perasaannya”. (Robert Heller, 2008 : 60)

Keikhlasan Saling Memahami

Sikap dan perilaku manusia dipengaruhi oleh agama, budaya, latar belakang sosial ekonomis, kepentingan, dan lain sebagainya. Sudut pandang manusia tidak dapat bebas dari pengaruh faktor-faktor tersebut. Karena itu, penting untuk memahami sudut pandang pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa.

Perlu ada keikhlasan untuk saling memahami. Tentu saja tidak mudah untuk ikhlas saling memahami. Bukan tidak mampu, tetapi terutama tidak mau. Masalahnya, selalu ada kecurigaan dari pihak-pihak yang bersengketa, pihak lain tidak ikhlas untuk memahami sudut pandang dan pendapat yang berbeda.

Lebih parah lagi, manusia selalu terjebak dalam pola pikir dan pola tindak kalah dan memang. Keikhlasan memahami pihak lain seringkali dipahami sebagai bentuk kelemahan dan kekalahan (dan karena itu berusaha untuk dihindarkan).

Padahal, tidak ada gunanya ikhlas saling mendengarkan tanpa disertai dengan keikhlasan saling memahami. Ikhlas memahami pihak lain bukan berarti lemah, kalah, atau setuju dengan sudut pandang dan pendapat pihak lain. Keikhlasan saling memahami berarti berusaha memahami duduk persoalan yang sesungguhnya dan bagaimana posisi (dan kepentingan) masing-masing pihak terhadap persoalan yang sedang diperselisihkan.

Tidak ada “resep” khusus untuk saling memahami. Tetapi saran Stephen R. Covey  “seek first to understand, then to be understood” mungkin bermanfaat untuk membangun keikhlasan saling memahami.

Keikhlasan Bersikap Netral.

Netral dan obyektif berarti tidak memiliki prasangka buruk dan prasangka baik terhadap sudut pandang dan pendapat yang disampaikan oleh pihak lain. Prasangka baik pun tidak bermanfaat, apalagi prasangka buruk.

Netral juga berarti tidak memihak. Tidak ada prasangka baik dan juga tidak perlu ada prasangka buruk. Terlalu berprasangka baik akan mengurangi kemampuan dan kemauan untuk mengkritisi segala sesuatu. Sedangkan terlalu berprasangka buruk akan menghalangi kemampuan dan kemauan untuk melihat bahwa segala sesuatu selalu ada sisi positifnya.

Bersikap netral berarti mampu dan mau melihat segala sesuatu secara seimbang. Segala sesuatu dilihat dari sisi positif dan sekaligus sisi negatif. Sungguh mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Sebab, manusia sulit untuk membuang prasangka, baik maupun buruk.

Daripada mengedepankan prasangka (baik maupun buruk), lebih baik dalam memahami segala sesuatu dilihat dari segi proses, konteks, dan substansinya. Menurut Stephen R. Covey, orang-orang  cenderung untuk menanggapi dengan satu dari empat macam cara :

  • Pertama, mereka menilai – baik menyetujui atau membantah.
  • Kedua, mereka menyelidiki – memberikan pertanyaan yang berasal dari tolok ukur mereka sendiri.
  • Ketiga, mereka menasehati – memberikan saran berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
  • Keempat, mereka menafsirkan – mencoba untuk “memahami” orang-orang, untuk menjelaskan motif dan perilaku mereka, berdasarkan motif dan perilaku mereka sendiri. (Robert Heller, 2009 : 59-60)

Keikhlasan Mengakui Keterbatasan

Tidak ada manusia yang sempurna, dalam arti mengetahui semua hal dan selalu benar. Bagaimana pun sudut pandang dan pendapat manusia selalu mengandung keterbatasan. Posisi dan kepentingan manusia saat ini mempengaruhi kemampuannya untuk melihat dan memahami suatu kejadian.

Jika pada saat ini seseorang sedang berada di kutub selatan, maka sudah pasti ia tidak mengetahui persis apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi di kutub utara. Demikian pula sebaliknya, pihak yang saat ini  sedang berada di kutub utara, maka  pada saat yang bersamaan ia tidak dapat melihat apa yang terjadi di kutub selatan.

Jika 10 tahun yang lalu anda tinggal di Yogyakarta selama 5 tahun (dan karena itu mengetahui seperti apa sih Yogyakarta – budaya, manusia, nama-nama jalan, dan lain sebagainya), tidak berarti anda saat ini tinggal di Jakarta, anda mengetahui persis Yogyakarta di tahun 2012. Perbedaan ruang dan waktu membatasi kemampuan anda melihat secara langsung dan obyektif kondisi saat ini yang sedang terjadi di Yogyakarta.

Image courtesy http://www.google.com

Dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, guru saya mencoba menerangkan hubungan antara matahari dan bumi. Bahan yang digunakan sangat sederhana, yaitu sebuah senter dan sebuah bola pingpong. Praktek dilakukan di sebuah ruang kecil dan lampu dimatikan. Senter diarahkan  menyinari bola pingpong. Hasilnya, ada bagian bola pingpong yang terang benderang, dan sebagian lainnya gelap total.

Manusia tidak dapat melihat bagian yang gelap, dan karena itu tidak mengetahui apa yang telah terjadi, mengapa hal itu terjadi, faktor-faktor yang menyebabkan suatu kejadian, dan lain sebagainya. Bagian yang gelap menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui segala sesuatu. Kalaupun mengetahui, konteks, proses dan substansinya mungkin tidak dipahami sepenuhnya.

Meskipun memiliki keterbatasan, watak  manusia tidak mudah mengakui keterbatasan. Apalagi, jika pengakuan keterbatasan dalam konteks perselisihan dengan orang lain. Jika bisa, keterbatasan diri sendiri disembunyikan sedemikian rupa dan tidak akan diungkapkan kepada orang lain.

Padahal, keikhlasan para pihak sama-sama mengakui keterbatasan berkontribusi terhadap penyelesaian perselisihan. Mengakui dan menerima keterbatasan berarti memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengakui dan menerima  sudut pandang  dan pendapat pihak lain.

Idealnya, mengakui dan menerima sudut pandang  dan pendapat orang lain tidak dilihat dalam konteks menang dan kalah. Pengakuan dan penerimaan terhadap sudut pandang dan pendapat orang lain pada dasarnya adalah untuk saling melengkapi sudut pandang dan pendapat di antara pihak-pihak yang bersengketa.

***

Keempat keikhlasan : saling mendengarkan, saling memahami, bersikap netral, dan mengakui keterbatasan merupakan fondasi dialog yang ditujukan untuk menyelesaikan konflik. Keempat keikhlasan tersebut tidak serta merta menjamin penyelesaian sengketa yang berbuah win-win solution.

Untuk menyelesaikan konflik dengan yang menghasilkan win-win solution, masih menurut Stephen R. Covey, diperlukan kepedulian, keberanian, kepercayaan, dan kerjasama dalam level yang tinggi. Saya akan menulis artikel tentang win-win solution pada lain kesempatan.

Tampak Siring, 4 Maret 2012

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: