RSS

Never Just A Game!!!

08 Mar

Mengapa ukuran telinga rata-rata orang Belanda lebih panjang daripada ukuran telinga rata-rata orang Jerman? Jawaban atas pertanyaan ini tidak akan pernah ditemukan dalam buku-buku maupun jurnal ilmiah kedokteran. Anda akan menemukan jawaban yang “benar” dan mampu membuat anda tertawa hanya di sepakbola.

Tentu saja jawaban tidak ada di buku-buku maupun jurnal ilmiah kedokteran. Sebab, memang belum pernah ada penelitian tentang perbandingan ukuran telinga orang Belanda dan Jerman. Lagi pula, ngapain “usil” meneliti hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak?. Gitu aja kok repot.

Itu hanya “football joke” yang dibuat-buat. Tidak jelas bagaimana copyrightnya, mungkin “dipegang” orang Jerman. Joke itu dibuat sebagai bentuk perang urat syarat (psy war) kepada orang-orang Belanda, terutama timnas sepakbola Belanda. Harapannya tentu, setelah mendengar ejekan tersebut, mental para pemain timnas Belanda “rontok”.

Seperti diketahui bersama, timnas Sepakbola Jerman telah 3 kali menjadi juara dunia (1954, 1974, dan 1990). Sedangkan timnas sepakbola Belanda “hanya” 3 kali menjari runner-up piala dunia (1974, 1978, 2010). Bagi masyarakat dan bangsa Belanda, kekalahan melawan timnas sepakbola Jerman di final piala dunia 1974 akan selalu menjadi kenangan pahit yang tak terlupakan.

Kondisi seperti itulah yang kemudian melahirkan joke tentang ukuran telinga. Joke itu merebak setelah kekalahan yang menyakitkan pada tahun 1974. Konon, ukuran telinga rata-rata orang Belanda lebih panjang daripada ukuran telinga rata-rata orang Jerman. Sebabnya, para orang tua di Belanda seringkali menjewer telinga anak-anak mereka sembari berkata “lihat tuh, tentangga kita sudah 2 kali juara dunia”. Mungkin, karena setiap hari dijewer, ukuran telinga menjadi lebih panjang.

Joke seperti itu menunjukkan bahwa sepakbola bukan urusan tendang menendang bola. Sepakbola juga bukan urusan para pesepakbola dan rivalitas antarklub. Sepakbola sudah merasuk ke hati dan benak semua individu, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara.

Sepakbola memang olahraga paling unik yang pernah diciptakan manusia. Dari segi teknis, sepakbola adalah permainan sangat sederhana. Tetapi sepakbola lebih dari sekedar urusan teknis. Dalam sepakbola, semua  bercampur aduk menjadi satu ideologi, politik, ekonomi, sosial psikologis, budaya dan teknologi.

Individu, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara yang tidak ada hubungan langsung dengan sebuah klub maupun tim nasional sepakbola suatu negara, begitu mudah mengidentifikasikan diri kepada atau timnas sepakbola dari negara lain. Fenomena para pendukung sepakbola yang kumpul bersama untuk “nobar” (baca : nonton bareng) menunjukkan bahwa proses membership group dan reference group terjadi secara mudah.

Derby

Barangkali tidak ada pertandingan sepakbola yang “sepanas” dan menyita banyak perhatian para pemangku kepentingan di bidang sepakbola, kecuali El Clasico antara FC Barcelona (“FCB”) dan FC Real Madrid (“FCRM”). Melalui El Clasico kita dapat memahami dan menyimpulkan bahwa, olahraga sepakbola bukan sekedar permainan antara 22 cucu dan cicit Adam.

Lazimnya, pertandingan sepakbola yang dianggap “panas” adalah derby (pertandingan sepakbola antar dua klub yang bermakas di kota yang sama). Sebut saja misalnya derby antara AC Milan versus Inter Milan (Derby della Madonnina), antara AS Roma dengan Lazio (Derby della Capitalle), antara FCB dengan Espanyol (“El Derbi Barceloni”), FC Real Madrid melawan Athletico Madrid (El Derbi madrileño), dan lain sebagainya.

Tetapi sejarah sepakbola mencatat bahwa, pertandingan sepakbola paling “panas” di dunia adalah El Clasico dua “musuh bebuyutan” di Spanyol (FCB dan FCRM), dan super big match antara FC Liverpool dan FC Manchester United (“Man. United”) di Inggris. Pamor derby masih di bawah pertandingan keempat kesebelasan tersebut.

Baik El Clasico maupun super big match seolah-olah menceritakan sendiri bahwa, sepakbola bukan sekedar urusan permainan menendang, menggiring, memperebutkan dan menjebloskan bola ke gawang lawan. Bahkan, Mark Lawrenson mendeskripsikan pertandingan sepakbola sebagai berikut : “Liverpool v Manchester United will be like gladiators at the Colosseum”.

Seolah-olah tampak berlebih-lebihan. Tetapi memang begitulah sikap dan perilaku pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap sepakbola. Bill Shankly (mantan pelatih legendaris FC Liverpool) yang tidak setuju mengatakan : “Some people believe football is a matter of life and death. I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that.”

Dalam bukunya yang berjudul “How Soccer Explains The World”, Franklin Foer menjelaskan hubungan antara sepakbola dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Foer misalnya menjelaskan antara lian tentang lain “how soccer explains the Gangster’s Paradise”, “how soccer explains the Jewish Question”, dan “how soccer explains the American Culture Wars”.

Pada intinya, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa “soccer is much more than a game, or even a way of life. It is a perfect window into the cross currents of today’s world, with all its joys and its sorrows.”

Bagi pihak-pihak yang berkepentingan, terutama para pesepakbola dan “bobotoh” (baca : para pendukung sebuah klub), sepakbola sudah menjelma menjadi sebuah simbol.  Sepakbola adalah simbol kehormatan, simbol perlawanan, simbol kejayaan, simbol kemenangan, dan seterusnya.

Anak-anak Catalunya (baca : para pemain FCB) paham benar makna sepakbola sebagai sebuah simbol kehormatan dan simbol perlawanan. Melawan FCRM adalah sebuah kehormatan dan perlawanan. Menang melawan FCRM bukan sekedar mengumpulkan 3 poin penuh. Menang melawan FCRM adalah simbol kemenangan paripurna atas pembunuhan Josep Sunyol Garriga (mantan Presiden FCB yang dibunuh oleh “kaki tangan” Jenderal Franco).

“Més que un club”

Dalam konteks revenue, FCB adalah klub terkaya kedua setelah FCRM. Pendapatan pertahun FCB sekitar 398 Euro (sumber : www.en.wikipedia.org, 2012). Tetapi bukan kekayaan dan pendapatan yang menjadikan FCB “lain daripada yang lain”.

Berbeda dengan klub-klub sepakbola profesional dan amatir lainnya, para pendukung terlibat dalam kepemilikan dan pengoperasian FCB. Lebih dari itu, FCB merepresentasikan atau simbol dari budaya masyarakat Catalan dan Catalinism. Itulah sebabnya, semboyan FCB adalah “Més que un club” (dalam bahasa Inggris : More than a club).

P

Photo courtesy Nguyen Do Viet

Hampir semua pesepakbola terbaik dari berbagai belahan dunia pernah “merumput” di FCB. Sebut saja nama Johann Cruyff, Diego Maradona, Bernd Schuster, George Hagi, Ronaldo, Ronaldinho, Luis Figo, Lionel Messi, dan lain sebagainya. Bagi kebanyakan pesepakbola, bergabung dengan FCB adalah kesempatan dan pengalaman yang sensasional dan monumental.

 

El Clasico

Pada awalnya, pertandingan antara FCB melawan FCRM adalah pertandingan sepakbola biasa. Artinya, tidak ada keistimewaan apapun dibandingkan dengan pertandingan-pertandingan sepakbola lainnya. Ceritanya menjadi lain setelah Josep Sunyol Garriga (Presiden FCB, tahun 1936), dibunuh oleh  pasukan ultranasionalis pimpinan  Jenderal Franco.

Sejak itu, dendam masyarakat Catalunya terhadap masyarakat Madrid tidak terelakkan lagi. Republika edisi 18 Januari 2012 menulis sebagai berikut :

“Peristiwa ini kemudian jadi simbol kemenangan ultra-nasionalis Spanyol pimpinan Franco atas separatis Republikan yang berhaluan kiri di Katalan. Lebih dari itu, peristiwa ini juga dianggap oleh ultras klub sepak bola, Real Madrid, sebagai simbol hegemoni mereka atas FC Barcelona, klub sepak bola representasi masyarakat katalonia.”

Bagi para pendukung FCRM, sosok Jenderal Franco adalah pahlawan dan menjadi simbol kemenangan Spanyol, terutama kota Madrid, terhadap gerakan separatis masyarakat Catalunya. Itulah sebabnya, setiap pertandingan El Clasico di stadion Santiago Bernabeu, poster besar mendiang Jenderal Franco selalu terpampang.

Bagi masyarakat dan pendukung FCB, sosok Josep Sunyol Garriga adalah pahlawan dan menjadi simbol perlawanan masyarakat Catalunya terhadap kerajaan Spanyol, khususnya kota Madrid. Pembunuhan Sunyol oleh “kaki tangan” Jenderal Franco semakin menguatkan semangat separatisme dan motivasi “balas dendam”. Itulah sebabnya, dalam setiap El Clasico di stadion Nou Camp, selalu terbentang poster yang bertuliskan “Catalonia is not Spain”.

Image courtesy http://www.panoramio.com

Pada dasarnya, tujuan dua kesebelasan sama-sama ingin memenangkan setiap El Clasico. Tetapi makna kemenangan bagi para pesepakbola, para pendukung klub, masyarakat masing-masing kota sangat berbeda jauh. Bagi para pemain FCB, El Clasico berarti membawa “misi membayar hutang sejarah” dan kemenangan adalah “persembahan” sempurna kepada pahlawan mereka. Sedangkan bagi para punggawa FCRM, kemenangan terhadap anak-anak Catalunya adalah pengormatan kepada “sesepuh” mereka mendiang Jenderal Franco.

Super Big Match

Rivalitas FC Liverpool dan FC Manchester United (“MU”) tidak sekedar rivalitas perburuan gelar juara liga Inggris. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Old Traford 26 tahun yang lalu, prestasi MU tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Liverpool. Sedangkan Liverpool adalah klub sepakbola paling bergengsi di Inggris, “langganan” juara liga Inggris, dan berjaya di tingkat Eropa meraih gelar Piala Champion.

Itulah sebabnya Alex Ferguson merasa  perlu mengeluarkan “gertak sambal” yang sangat terkenal “melucuti Liverpool dengan kejayaan mereka”. Melalui “tangan dingin” Ferguson, MU berhasil membalikkan keadaan. Musim kompetisi 2010/2011, MU berhasil memecahkan rekor  yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi milik Liverpool, yaitu 19 kali menjadi juara Liga Inggris. Hebatnya, 12 kali juara liga Inggris diraih hanya dalam kurun waktu 19 tahun saja. Tetapi, di level Liga Champion, prestasi Liverpool lebih  berkibar ketimbang MU (Liverpool juara 5 kali, dan MU 3 kali).

Menjadi juara liga Inggris jauh lebih membanggakan ketimbang menjadi juara Piala Champions. Itulah sebabnya, dalam setiap super big match antara kedua klub – baik di ajang liga kompetisi reguler, kejuaraan piala FA, maupun kejuaraan Piala Carling – ulah supporter MU mengenakan T-Shirt bertuliskan angka 19 dan 18 sudah mampu membuat emosi para pendukung Liverpool “mendidih”.

Tetapi, sejatinya, cikal bakal rivalitas Liverpool dan MU telah dimulai berpuluh-puluh tahun sebelum Ferguson melatih MU. Pada awalnya, rivalitas yang terjadi bukan antar kedua klub sepakbola, melainkan rivalitas antara dua kota.

Kota Manchester adalah pusat industri manufaktur terbesar di Inggris. Sedangkan Liverpool adalah kota pelabuhan terbesar di Inggris. Sebelum tahun 1894, semua produksi manufaktur dari Manchester yang akan diekspor harus melalui pelabuhan Liverpool. Tetapi sejak tahun 1894 dioperasikan Manchester Ship Kanal.

Dengan keberadaan kanal tersebut, produk manufaktur dari Manchester yang akan dieksport, tidak lagi harus melewati Liverpool. Kapal-kapal besar langsung bisa menuju Manchester untuk mengangkut barang. Pelabuhan Liverpool menjadi relatif sepi sehingga  akibatnya adalah pengangguran masal di Liverpool. Konon, menurut para ahli sejarah, sejak itu terjadi “perseturuan abadi” antara Liverpool dengan Manchester.

“Hubungan panas” antara dua kota itu kemudian merembet ke dunia sepakbola. Pertandingan dan kemenangan atas kesebelasan lawan yang menjadi “musuh bebuyutan” selalu “dibelokkan” ke konteks dan nilai yang sangat tinggi.

Adalah kehormatan yang luar biasa bertanding melawan kesebelasan yang menjadi “musuh bebuyutan”. Kemenangan atas kesebelasan lawan tidak sekedar bertambah 3 poin, melainkan kepuasan yang tiada tara.

Jalannya super big match dan teknis permainan mungkin biasa-biasa saja, dan itu tidak pernah dipersoalkan. Hanya ada satu kata : yang penting menang. Kepuasan atas kemenangan dijelaskan dalam kata-kata “King” Kenny Dalglish (pelatih Liverpool) sebagai berikut : “Mengalahkan Manchester United menjadi prestasi besar untuk semua orang”.

Dalam konteks kompetisi, pertandingan, persaingan dan perseteruan melawan “musuh bebuyutan”, sepakbola hanya mengenal satu aturan, yaitu “semua boleh terjadi, kecuali hal-hal yang dilarang”. Dan dari sekian banyak hal-hal yang dilarang, hanya satu yang perlu dihayati dan diamalkan, yaitu “haram” hukumnya kalah dari “musuh bebuyutan”.

Tampak Siring, 3 Maret 2012

 
Leave a comment

Posted by on March 8, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: