RSS

Gagap Bahasa

09 Mar

Di sebuah lokasi yang bertuliskan “dilarang mengambil foto”, seorang teman sengaja memotret obyek-obyek vital. Ia kemudian tidak hanya ditegur oleh Satpam, melainkan dimarah-marahi dan “dibodoh-bodohin”. Tentu saja teman saya membela diri dan bersikukuh tidak pernah “mengambil foto”.

Menurut Satpam, teman saya telah melakukan kesalahan “mengambil foto” obyek vital di lokasi yang dilarang. Menurut teman saya, ia haqqul yaqin tidak pernah “mengambil foto”. Menurut teman saya, aktivitas yang dilakukannya adalah memotret, bukan “mengambil foto”. Bahkan, ia tidak pernah melihat 1 lembar foto apapun di lokasi ia melakukan pemotretan. Bagaimana mungkin ia “mengambil foto”?.

***

Setelah mendengarkan cerita teman saya tersebut, saya teringat kembali tentang kapasitas dari kata-kata dalam proses komunikasi. Dalam bukunya yang berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People”, Stephen R. Covey (2001 :  241) menulis sebagai berikut :

Communications experts estimate, in fact, that only 10 percent of our communication is respresented by the words we say. Another 30 percent is represented by our sounds, and 60 percents by our body language. In empathic listening, you listen with your ears, but you also, and more importantly, listen with your eyes and with your hearts. You listen for feeling, for meaning. You listen for behavior. You use your right brain as well as your left. You sense, you intiuit, you feel.”

Ternyata, kata-kata hanya mampu menyampaikan 10 persen dari pesan yang kita sampaikan dalam komunikasi. Selama ini kita meyakini bahwa kata-kata memiliki peran yang sangat signifikan dalam komunikasi verbal dan non-verbal. Hampir semua pesan dalam kehidupan sehari-hari maupun komunikasi bisnis mengandalkan kata dan kalimat.

Body languange ternyata lebih mampu menyampaikan pesan (perannya mencapai 60 persen). Sedangkan peran suara dalam komunikasi verbal mencapai 30 persen. Padahal, dalam komunikasi, masih ada peran medium lain untuk menyampaikan pesan, antara lain simbol, gambar, dan warna.

***

Seorang teman (sebut saja bernama “Wijoyo) pernah bercerita tentang pengecekan referensi dalam proses rekrutmen dan seleksi. Wijoyo mempersilakan perusahaan yang bermaksud mempekerjakannya untuk mengecek profil dan kualifikasi dirinya kepada atasannya. Kepada atasannya pun Wijoyo berpesan bahwa,  ada perusahaan “Bla Bla Bla” (“PT B3) yang akan menghubungi, untuk mengetahui kinerja dan prestasi Wijoyo.

Pada saat pengecekan referensi melalui telepon, atasan Wijoyo sangat kooperatif dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Manajer SDM PT B3. Menurut Wijoyo “tidak ada yang ditambah-tambahin atau dijelek-jelekin deh”. Setelah pengecekan referensi, PT. B3 membatalkan untuk mempekerjakan Wijoyo.

Kepada saya, Wijoyo bertanya mengapa ia bisa gagal. Padahal, atasannya, di depan Wijoyo  langsung, sudah mengatakan semua yang baik tentang diri Wijoyo. Tentu saja banyak kemungkinan penyebab kegagalan. Tetapi jika fokus pada proses pengecekan referensi saja, maka kita bisa fokus pada penjelasan atasan Wijoyo. Bernard Buruch pernah mengatakan ““the ability to express an idea is almost as important as the idea itself.”

Saya membedakan substansi dan cara. Mungkin, dari segi substansi penjelasan atasan Wijoyo, tidak ada hal-hal yang merugikan Wijoyo. Tetapi dari segi cara menjelaskan, bisa timbul penafsiran dan persepsi yang bermacam-macam dari Manajer SDM PT B3.

Saya minta Wijoyo untuk mengingat-ingat kembali cara atasannya menjelaskan tentang profil dan kompetensi Wijoyo kepada Manajer SDM PT B3. Apakah ia tegas atau ragu-ragu. Apakah ia cepat menjawab atau memerlukan waktu untuk menjawab pertanyaan.

Sebagai contoh pertanyaan tentang sikap mental (disiplin, motivasi, kerja sama, dan lain sebagainya). Jika atasannya menjawab singkat dan tegas, misal “baik”, maka jawaban itu akan membuat Manajer SDM PT. B3 lebih yakin dengan kompetensi Wijoyo. Tetapi jika jawabannya ragu-ragu, agak “mengambil napas dalam-dalam”, dan diucapkan panjang, misalnya “ya….. baik deh, dia orang baik”, maka bisa menimbulkan keragu-raguan.

***

Komunikasi ternyata memang bukan aktivitas yang remeh temeh. Komunikasi tatap muka diyakini lebih efektif daripada komunikasi secara tertulis. Suara dan bahasa tubuh dapat membantu komunikasi verbal. Kecuali itu, para pihak memiliki kesempatan yang sangat besar untuk klarifikasi langsung makna sebuah pesan.

Tetapi, menyampaikan pesan dengan kata dan kalimat ternyata bukan proses yang mudah juga. Hal ini juga dibatasi dengan kemampuan kata dan kalimat hanya merepresentasikan 10 % makna dari pesan yang disampaikan. Keterbatasan itu diperparah lagi oleh logika berpikir yang “jungkir balik”.

Perhatikan kalimat “anda memasuki kawasan tertib lalu lintas”. Saya sudah bertanya kepada banyak orang tentang makna dari pernyataan itu. Jawabannya seragam, yaitu ada “kawasan tertib lalu lintas” dan “ada pula kawasan tidak tertib lalu lintas”. Fokus orang bukan pada pernyataan “anda memasuki kawasan tertib lalu lintas”, melainkan “menafsirkan” bahwa ada “kawasan tidak tertib lalu lintas”.

Picture courtesy Sriwijaya Post / Mat Bodok

Tentu saja, Undang-Undang Lalu Lintas tidak membedakan “kawasan tertib dan tidak tertib lalu lintas” di jalan raya. Mungkin si pembuat pernyataan juga tidak bermaksud demikian. Sebab, siapapun yang sedang mengendarai kendaraan bermotor (dan tidak bermotor) di jalan raya, harus patuh terhadap peraturan dan tertib dalam berlalu lintas. Jadi, sesungguhnya tidak perlu ada lagi pernyataan “anda memasuki kawasan tertib lalu lintas”. Tetapi karena sudah terlanjur dinyatakan, tidak terelakkan pemahaman orang awam adalah memang ada kawasan tidak tertib lalu lintas.

Satu lagi, penggunaan kata ganti orang ketiga “nya”. Hampir semua orang pernah mengalami penggunaan kata “nya” yang tidak tepat. Misalnya, saya minta waktu dan  bertanya kepada Sekretaris Direktur Utama “apakah Pak Wibisono ada di ruangannya”. Jawaban yang sering saya dengar adalah “Pak Wibisononya nggak ada”.

Tentu saja Pak Wibisononya nggak ada. Sampai kiamat pun juga tidak akan ada. Nama yang benar adalah Wibisono, bukan Wibisononya. Ketika kemudian saya mengulangi lagi pertanyaan yang sama “beribu-ribu” kali, maka jawaban “Pak Wibisononya nggak ada” akan diucapkan juga “beribu-ribu” kali oleh sekretaris.

Penggunaan kata ganti “nya” sudah salah kaprah dan dianggap benar. Surat kabar, pembaca berita, presenter stasiun televisi, penyiar radio, pembawa acara prosesi pernikahan, dan lain sebagainya, sudah terbiasa menggunakan kata “nya” secara serampangan. Dalam menggunakan bahasa, sikap orang Indonesia memang cenderung tidak mempermasalahkan penggunaan kata dan kalimat yang tepat. Tetapi bagi orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, penggunaan bahasa yang amburadul dan acak adul bisa membuat mereka “pusing tujuh keliling”.

***

Jadi, bagaimana sebaiknya berbahasa Indonesia yang benar?. Saya bukan ahli di bidang bahasa Indonesia. Tetapi saya mungkin bisa mengingatkan bahwa bahasa menunjukkan bangsa dan budaya. Dalam hal menghormati bangsa dan budaya, bangsa-bangsa Eropa Barat seperti Inggris, Perancis, dan Jerman, tahu bagaimana seharusnya berbahasa secara benar.

Tampak Siring, 7 Maret 2012

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: