RSS

“Samudera Imajiner”

05 Apr

Nun jauh di sana, di sebuah desa nelayan yang terletak di sebelah tenggara Indonesia, tepatnya di pantai Kuta, Lombok, seorang istri nelayan bertanya kepada saya sebagai berikut : “Pak, apakah bapak kenal sama fotografer yang berkumis tebal dan berkaca mata?”.

Sejenak saya terkejut dengan materi pertanyaan ibu tersebut. Sebab, maaf saya tidak bermaksud underestimate, yang bertanya adalah “wong ndeso” dan bukan “orang gedongan”. Tentu saja saya tahu (dan mengenal) fotografer yang dimaksud oleh si ibu tersebut. Tidak salah lagi, dia adalah Andreas Darwis Triadi, salah satu ikon fotografi di Indonesia, terutama untuk fotografi fesyen  dan model. Si ibu ternyata memang membenarkan jawaban saya.

Saya justru balik bertanya kepada si ibu : “bagaimana ibu tahu Darwis Triadi?”. Jawaban si ibu tambah membuat gusar saya : “Tahu dong Pak, lha wong dia kan pernah motret Sophia Latjuba”. Saya menduga-duga,  ibu tersebut telah membaca sebuah majalah khusus untuk laki-laki dewasa, yang memuat foto-foto “seronok” Sophia Latjuba.

“Dari mana ibu tahu”, saya terus “mencecar” si ibu dengan pertanyaan lanjutan. “Ya tahu dong Pak, kami kan pakai indovision, bukan yang lain”. Weleh-weleh!

Rumah Nelayan di Desa Kuta, Lombok

Pantai dan Keterbukaan

Secara tradisional, dibandingkan pedalaman, kawasan pantai sangat akrab dengan keterbukaan dan perubahan. Sebelum teknologi pesawat udara mencapai tingkat kemajuan seperti saat ini, pamor dan kontribusi pelabuhan laut sangat strategis dibandingkan dengan bandar udara.

Dalam sejarah kehidupan manusia, pantai adalah tempat manusia dari berbagai daerah dan manca negara saling bertemu. Peran dan kontribusi pantai tidak hanya di bidang perdagangan, melainkan juga dalam perjumpaan kebudayaan yang saling berbeda. Bahkan, di masa lalu, penyebaran agama masuk ke satu wilayah selalu dimulai dari pantai.

Mengingat bahwa orang-orang yang tinggal di pantai berjumpa dengan banyak manusia dengan latar belakang status sosial, ekonomi, budaya, ideologi yang berbeda, maka orang-orang yang tinggal di pesisir pantai cenderung lebih mudah bersikap terbuka dan menyambut hangat terhadap perubahan.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, manusia memiliki metode yang berbeda untuk mengakses keterbukaan dan perubahan. Peran dan kontribusi pantai dalam konteks keterbukaan dan perubahan, mungkin tidak lagi strategis seperti periode sebelumnya. Tetapi, karakter orang-orang pesisir pantai yang cenderung lebih terbuka dan menerima perubahan, mungkin tetap menjadi trademark mereka.

The World Is Flat

Dialog saya dengan istri nelayan tersebut di atas mengingatkan saya pada sebuah “jargon” dari Thomas Friedman, yaitu “the world is flat”. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah memungkinkan dunia menjadi “rata” dan seolah-olah tidak ada lagi jarak ruang dan waktu yang memisahkan manusia dari belahan dunia manapun.

Teknologi informasi dan komunikasi telah membuat ruang dan waktu tidak berbatas.  Jarak tidak lagi menjadi masalah besar, sementara perbedaan waktu tidak lagi menjadi kendala. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, dapat mengakses informasi yang sama dan pada saat yang sama.

Pantai, dalam pengertian fisik, adalah tepi dari sebuah samudera. Tetapi pantai dalam pengertian imajiner, sangat berbeda dengan pemahaman pantai secara fisik. Dalam pengertian imajiner, semua tempat di muka bumi ini telah berubah menjadi sebuah pantai. Mengapa?

Begitu manusia connect dengan internet, maka pada saat itulah manusia berhadapan dengan “samudera”. Secara fisik, manusia masih berada di tempat yang sama. Tetapi tidak demikian halnya dengan imajinasi dan pikiran manusia. Di dunia maya, imajinasi dan pikiran manusia dapat melakukan surfing tak terbatas di samudera imajiner.

Di tempat yang bernama samudera imajiner, manusia dapat beraktivitas dan bergerak ke mana saja dan kapan saja hampir tanpa hambatan. Tak ada lagi kendala musim dan cuaca. Yang menentukan adalah mood orang yang bersangkutan. Manusia dapat mengunjungi siapa saja di manapun mereka berada. Sebaliknya, orang lain juga dapat mengunjungi dirinya tanpa hadir secara fisik dan tatap muka.

Intensitas dan Dampak Informasi

Di sebuah pantai dalam pengertian fisik, intensitas komunikasi manusia dengan dunia luar relatif terbatas. Secara fisik, manusia harus mengalokasikan waktu khusus untuk hadir di pantai. Karena itu, informasi yang diperoleh melalui komunikasi tatap muka juga terbatas, hanya dalam waktu-waktu tertentu saja.

Dampak informasi yang masuk di sebuah pantai dalam pengertian fisik juga cenderung terbatas. Tidak semua orang dapat mengakses informasi. Kadang-kadang, informasi baru harus terlebih dahulu “disensor” oleh aparat yang berwenang sebelum sampai ke tangan publik. Karena itu, manfaat informasi yang positif maupun dampak dari informasi yang negatif, relatif terbatas dan terkendali.

Tidak demikian halnya dengan keadaan di “samudera imajiner”. Intensitas komunikasi manusia dengan dunia luar hampir tidak terbatas. Tidak diperlukan kehadiran secara fisik untuk hadir di mana-mana dalam waktu sekejap. Karena itu, informasi yang diperoleh melalui dunia maya, dari segi intensitas, bobot, dan kriteria lainnya, relatif lebih tinggi.

Karena hampir tidak ada entry barrier dan sensor oleh aparat yang berwenang, dampak positif dan negatif dari informasi yang diperoleh melalui dunia maya jauh lebih dahsyat. Semua informasi yang baik maupun yang berkualitas sampah ada. Individu memiliki kebebasan dan kekuasaan tanpa batas untuk memilih informasi yang sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, dan tentu saja, nafsunya.

So What Gitu Loh?

Yusuf Bachtiar Iskandar, saat itu Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, memiliki cara yang unik untuk melindungi keluarganya dari pengaruh informasi negatif. Pada saat banyak orang berlomba-lomba memasang koneksi internet di rumah, Yusuf memilih untuk tidak memasang koneksi internet di rumahnya.

Alasannya sangat logis. Jalan keluar yang paling jitu adalah menutup akses untuk menuju ke samudera imajiner. Mungkin, cara seperti itu mampu melindungi keluarga Yusuf Bachtiar dari pengaruh negatif samudera imajiner. Tetapi sampai kapan? Selalu saja ada banyak jalan menuju ke Roma. Akses menuju samudera imajiner bisa ditemukan dengan berbagai cara, di mana saja, dan dengan biaya relatif sangat murah.

Pengalaman menunjukkan bahwa kekuatan militer dan kekuasaan luar biasa diktator seperti Husni Mubarak tidak mampu membendung pengaruh jejaring media sosial. Kedudukan terhormat juga tidak serta merta  mampu membuat seseorang menjauhkan diri situs-situs porno. Di bumi pertiwi ini, seorang anggota dewan terhormat pernah tidak malu-malu, di tempat terhormat pula, membuka situs porno.

Bagaimana dengan pendidikan agama dan akhlak?. Mungkin saja pendidikan agama dan akhlak dapat membekali anak-anak dari pengaruh negatif samudera imajiner. Tetapi harapan dan kenyataan seringkali berbeda. Pada akhirnya, pendidikan agama dan akhlak saja tidak akan menjamin seseorang tidak akan berkunjung ke situs-situs “bernapas dalam lumpur”.

So what gitu loh? Selain membekali anak-anak dengan pendidikan dan akhlak yang kuat, pendampingan dari para orang tua dan guru masih sangat dibutuhkan. Jika berkunjung ke “situs-situs bernapas dalam lumpur” di dunia maya dikategorikan sebagai kejahatan, maka – seperti kata Bang Napi – kejahatan itu ada karena ada niat dan kesempatan. Pendampingan dari orang tua dan guru, mungkin bermanfaat untuk mempersempit kesempatan.

Tampak Siring, 31 Maret 2012.

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: