RSS

Diversity and Group Performance

18 Apr

Salah satu pokok bahasan yang menarik banyak perhatian para ahli di bidang manajemen dan perilaku organisasi adalah studi tentang hubungan dan pengaruh diversity (keragaman) sebuah kelompok sosial terhadap kinerja kelompok (group performance). Secara teoritis dan praktek, keragaman sebuah kelompok dapat memberikan pengaruh positif sekaligus negatif terhadap  kinerja kelompok.

Saat ini, di era glasnost (keterbukaan) dan perestroika (perubahan) sudah menjadi keharusan, hampir tidak ada organisasi yang homogen (kecuali, organisasi berorientasi laba dan nirlaba di Jepang). Bahkan, di bidang sepakbola, hampir tidak ada lagi sebuah klub profesional yang pemainnya hanya pemain lokal.

Jangankan klub-klub sepakbola profesional di Eropa seperti Manchester United, AC Milan, FC Real Madrid,  dan FC Barcelona. Di Indonesia, klub-klub sepakbola “profesional” yang masih “menyusu” dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), tidak segan-segan dan tidak malu-malu mendatangkan dan membayar mahal pemain asing dan pelatih asing.

Dalam salah satu kesempatan pertandingan di Liga Primer Inggris, secara tidak sengaja Arsene Wenger – pelatih FC Arsenal – menurunkan squad yang seluruhnya terdiri pemain asing. Ketika ditanya oleh para “kuli tinta”, Wenger menjawab bahwa ketika menyusun squad untuk satu pertandingan, ia tidak pernah memeriksa paspor para pemainnya.

Pernyataan Wenger menegaskan bahwa heterogenitas dan homogenitas dalam sebuah kelompok sosial bukan masalah besar. Tidak jadi soal  asal usul seseorang (pesepakbola, karyawan, anggota, dan lain sebagainya). Dalam konteks perusahaan, yang lebih penting adalah kesesuaian karyawan dalam tiga hal : job fit, organizational fit, dan cultural / corporate value fit. Tentu saja, karyawan mampu dan mau menunjukkan kontribusi bagi perusahaan.

Tidak hanya di tingkat klub, keragaman juga merambah ke tim nasional sepakbola. Sebagai contoh adalah timnas sepakbola Jerman yang terdiri dari beberapa pemain keturunan, antara lain Turki, Polandia, dan Spanyol. Padahal, sebelum dibesut oleh Joachim Loew, Jerman terkenal “anti” terhadap pemain keturunan.

Timnas Sepakbola Jerman courtesy Kompas

Bagaimana prestasi timnas Jerman di kualifikasi Piala Eropa 2012? Mereka meraih hasil 100 persen, artinya tidak pernah kalah. Dari segi produktivitas gol juga luar biasa. Mereka mampu mencetak 34 gol dan hanya kemasukan 7 gol dalam 10 pertandingan. Artinya, rata-rata per pertandingan Jerman membukukan 3,4 gol. Bukti bahwa keragaman tidak (dan seharusnya memang tidak) menjadi masalah besar bagi sebuah tim maupun kelompok sosial, apapun nama dan bentuknya.

Studi Tentang Hubungan / Pengaruh Keragaman Terhadap Prestasi

Studi tentang pengaruh diversity terhadap group performance tidak pernah berhenti. Fokus dari studi tentang pengaruh diversity terhadap group performance dirangkum sebagai berikut :

The relationship between the diversity of work-groups and their performance continues to be a key concern in the study of organizational behavior. Several models have been proposed to explain this relationship, generally concentrating on the interplay between two main factors: diversity as a source of varied knowledge and viewpoints that a group can draw upon to increase its performance, and diversity as a source of dissention in groups, causing group fracturing and bias, leading to decreases in performance.” Journal of Artificial Societies and Social Simulation Vol. 9, no.  3 (http:// jasss. soc. surrey.ac.uk/9/3/3.html)

Selanjutnya, dalam jurnal yang sama, ditunjukkan hubungan dan pengaruh keragaman dan kinerja kelompok sebagai berikut :

The CEM predicts a curvilinear relationship between diversity and group performance like the one sketched above. Starting from the minimal-diversity point, increasing diversity should increase group performance … but eventually these performance increases will taper off, and performance may even decrease as diversity is increased to higher and higher levels

Pada prinsipnya, keragaman kelompok dapat memberikan pengaruh positif terhadap kinerja kinerja kelompok. Meskipun demikian, pada tingkat tertentu (jika suatu tim atau kelompok sangat heterogen atau keragaman sangat majemuk), keragaman  dapat memberikan dampak negatif terhadap kinerja dan prestasi kelompok.

“Tingkat tertentu” bersifat relatif terhadap suatu tim dan kelompok. Dalam sebuah kelompok sosial besar bernama bangsa misalnya, kebhinnekaan tidak menjadi penghalang besar bagi bangsa Indonesia. Ikrar “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” yang dicanangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia merupakan perekat sosial yang sangat kuat dan mengatasi semua perbedaan.

Sebaliknya, bagi bangsa India, keragaman di antara mereka menjadi “momok” tersendiri. Sampai saat ini, India yang terdiri dari beragam suku dan agama, masih berjuang keras untuk mengatasi konflik sosial yang bersumber dari kebhinnekaan. Ketiadaan satu bahasa terbukti mempersulit bangsa India untuk hidup damai dalam keragaman.

Jadi, apakah keragaman akan menjadi rahmat atau laknat bagi suatu tim atau kelompok, tergantung dari faktor-faktor lain. Kemampuan suatu tim atau kelompok untuk mengelola keragaman dan mengedepankan segi-segi positif dari keragaman akan menentukan apakah keragaman bermanfaat atau lebih banyak mudharatnya.

 

Group Cohesiveness

Mungkin masalah sesungguhnya bukan pada heterogenitas dan homogenitas sebuah kelompok, melainkan group cohesiveness. Stephen P. Robbins dan Mary Coulter mendefinisikan cohesiveness “degree to which group members are attracted to each other and are motivated to stay in the group”.

Faktor-faktor yang mempengaruhi group cohesiveness antara lain ukuran kelompok, jenis kelamin anggota kelompok, ancaman dari eksternal, dan sukses terdahulu. Asumsi yang mendasari adalah bahwa, semakin kohesif sebuah kelompok, maka semakin meningkat kinerja kelompok. Secara teoritis, group cohesiveness lebih mudah diwujudkan dalam kelompok sosial yang relatif homogen.

Productivity Matrix courtesy of Stephen P. Robbins and Mary  Coulter

Matriks di atas menunjukkan bahwa tingkat produktivitas sebuah kelompok dipengaruhi oleh tingkat kohesivitas kelompok. Semakin tinggi tingkat kohesivitas kelompok, maka semakin tinggi tingkat produktitas kelompok. Meskipun demikian, peningkatan produkvitas akan terjadi jika tingkat keselarasan tujuan kelompok dan tujuan organisasi relatif tinggi.

Pada dasarnya, tidak hanya keragaman kelompok yang berpengaruh terhadap kinerja dan prestasi sebuah kelompok. Faktor-faktor seperti budaya organisasi dan kebersamaan dalam waktu relatif lama dalam satu kelompok juga berpengaruh terhadap kinerja dan prestasi kelompok.

Seperti dikatakan oleh pelatih FC Barcelona (“FCB”), Josep Pep Guardiola, filosofi atau budaya organisasi dan kebersamaan dalam waktu relatif lama turut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan FCB, terutama dalam 3 tahun terakhir :

“Kami bangga tampil di final Liga Champions dengan delapan pemain didikan kami. Mereka telah belajar dalam filosofi klub ini, yang kami sebut sebagai meterai La Masia. Tak masalah dari mana Anda berasal. Lionel Messi adalah orang Argentina, tetapi jika Anda melihat gaya bermainnya, itu semua adalah gaya Barcelona. Untuk suporter, merupakan hal luar biasa memiliki pemain-pemain yang bisa mereka kenali secara otomatis,” tambahnya (www.bola.kompas.com, 30 Desember 2011).

Itulah sebabnya, dalam sebuah tim sepakbola yang bertanding di tingkat kejuaraan dunia maupun kejuaraan di tingkat Eropa, selalu mengandalkan poros kekuatan dari sebuah klub dan dilengkapi dengan  pemain dari klub-klub lain. Praktek seperti ini telah lama diterapkan. Misalnya, dalam Piala Dunia 1974 timnas sepakbola Belanda diperkuat oleh “Poros Ajax”, sedangkan timnas Jerman diperkuat oleh “Poros Bayern”. Dalam kejuaraan Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, timnas Spanyol diperkuat oleh “Poros Barcelona” dan timnas Jerman diperkuat lagi oleh “Poros Bayern”.

Meskipun diyakini bahwa keragaman kelompok dapat berdampak positif terhadap kinerja dan prestasi kelompok, kehati-hatian dalam “meracik” keragaman kelompok masih menjadi perhatian utama. Bukan hanya “racikan” yang menetukan keberhasilan kelompok yang terdiri dari anggota yang sangat beragam, melainkan juga “koki” (baca : pemimpin).

Tampak Siring,  8 April 2012

 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2012 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: