RSS

Employee Retention and Satisfaction

25 Apr

Salah satu kajian penting dalam employee engagement adalah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi seorang karyawan tetap bertahan di perusahaan  atau mencari pekerjaan dan tantangan perusahaan lain. McKinsey & Company, Inc. (2001) merangkum faktor-faktor tersebut sebagaimana ditunjukkan gambar  sebagai berikut :

Sumber : McKinsey & Company Inc. 2011

Tingkat kepuasan karyawan dan tingkat turnover karyawan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti exiting work, great company, wealth and reward, dan growth and development. Secara teoritis dapat ditetapkan hipotesa bahwa semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan dalam hal pekerjaan, perusahaan, kesejahteraan dan penghargaan, dan terhadap pertumbuhan dan perkembangan, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan dan semakin rendah tingkat turnover karyawan.

Exciting Work

Pada dasarnya setiap orang membutuhkan pekerjaan yang menarik, menantang dan memiliki passion terhadap pekerjaannya. Sebuah pekerjaan yang menuntut kapabilitas karyawan dan menantang karyawan untuk menunjukkan kemampuannya dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang menarik dan bermanfaat.

Setiap karyawan harus diberikan kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang stratejik dan bernilai bagi pencapaian sasaran perusahaan. Pada dasarnya, setiap karyawan harus yakin bahwa pekerjaan yang dilaksanakannya adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi organisasi, bahkan masyarakat.

Di dunia sepakbola, pesepakbola yang hanya menjadi pemain pengganti, seringkali tidak menemukan kepuasan dari pekerjaannya. Bahkan, jika pesepakbola tersebut menjadi pemain starter (pemain utama) tetapi untuk level pertandingan yang lebih rendah, tingkat kepuasannya terhadap pekerjaannya belum terpenuhi.

Sebagai contoh pesepakbola yang “merumput” di  English Premier League. Setiap pesepakbola dari klub yang masuk the big four, memiliki kesempatan bermain di level tertinggi EPL dan Liga Champion, dan level “hiburan” di ajang Piala FA dan Piala Carling. Pesepakbola  yang   menjadi pemain utama di ajang Piala FA dan Piala Carling – tetapi hanya menjadi pemain pengganti di liga kompetisi reguler EPL dan Liga Champion – cenderung tidak puas. Mengapa?

Sebab, nilai kontribusi bermain di level EPL dan Liga Champion jauh lebih tinggi  dan bergengsi dibandingkan level Piala FA dan Piala Carling. Parameter yang digunakan oleh pelatih timnas sepakbola suatu negara untuk menyeleksi pesepakbola yang pantas membela timnas juga berdasarkan kinerja di EPL dan Liga Champion.

Great Company

Perusahaan-perusahaan yang menjadi favorit karyawan sebagai tempat kerja yang ideal adalah perusahaan-perusahaan besar yang telah memiliki brandname kuat dan reputasi internasional. Google, Microsoft, Coca Cola, adalah sebagian dari perusahaan yang menjadi dambaan para pekerja.

Tetapi great company tidak selalu diukur dari brandname, penguasaan pangsa pasar, reputasi internasional dan domestik, dan ukuran-ukuran finansial, dan ukuran-ukuran lain yang bersifat tangible.

Karyawan juga menilai kebesaran suatu perusahaan dari parameter misi, visi, nilai-nilai  perusahaan, dan pemimpin perusahaan. Karyawan juga memberikan penilaian tinggi kepada perusahaan yang berorientasi pada performance, memiliki lingkungan yang saling percaya dan terbuka terhadap gagasan.

Di dunia sepakbola, klub-klub besar seperti FC Real Madrid, FC Barcelona, dan FC Manchester United memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi pesepakbola. Klub-klub tersebut selalu finish menjuarai liga kompetisi sepakbola di negara masing-masing dan selalu bermain di level Liga Champion. Orientasi klub untuk selalu menjadi yang terbaik sangat kuat.

Di FC Barcelona, suasana kekeluargaan dan kebersamaan serta semangat kerja sama tim sangat kuat. Hal tersebut bukan saja membuat betah pesepakbola untuk tetap bertahan, melainkan juga untuk beprestasi lebih baik.

Wealth and Reward

William James – seorang filsuf dan psikolog – berkata bahwa “the deepest principle in human nature it the craving to be appreciated.” Penghargaan bisa berupa penghargaan finansial dan non-finansial.

Nilai penting dari penghargaan finansial dan non-finansial adalah relatif. Penilaian terhadap suatu penghargaan selalu cenderung subyektif, hanya individu yang bersangkutan yang bisa menilai seberapa bernilai penghargaan yang diterimanya.

Secara umum, tidak bisa dipungkiri, uang adalah penting, meskipun bukan faktor yang utama bagi karyawan. Gaji, bonus dan fasilitas dapat membuat seorang pesepakbola “engaged” dan “committed” kepada klubnya saat ini. Tetapi gaji, bonus dan fasilitas yang lebih besar yang ditawarkan oleh klub lain juga dapat melemahkan kesetiaan dan komitmen seorang pesepakbola dan memutuskan “hengkang” kepada klub mana saja yang berani bayar lebih banyak.

Di dunia penerbangan ada penghargaan non-finansial berupa wing penerbang. Penghargaan tersebut diraih setelah seorang pilot berhasil menempuh sejumlah jam terbang tertentu. Nilai dari penghargaan tersebut tergantung dari seberapa besar masyarakat penerbang menghargai wing penerbang. Keberhasilan meraih wing penerbang merupakan prestasi dan prestise sosial di hadapan para penerbang lain.

Di sepakbola, selain gaji dan bonus, pesepakbola menerima penghargaan non-finansial. Para wartawan olahraga, pelatih sepakbola, dan organisasi sepakbola memiliki penghargaan yang diberikan kepada seorang pesepakbola terbaik yang telah berprestasi kurun waktu tertentu.

Growth and Development

Bagi manusia, tumbuh dan berkembang bukan keinginan, melainkan kebutuhan. Perusahaan-perusahaan yang memberikan kesempatan besar kepada karyawannya untuk mengikuti program-program pengembangan karyawan berpotensi besar mampu mempertahankan karyawannya.

Demikian pula perusahaan-perusahaan yang memiliki perencanaan karir, manajemen suksesi, maupun manajemen talenta yang sistematis dan akuntabel, berpotensi menarik para karyawannya, dan angkatan kerja di luar perusahaan, untuk bertahan dan bergabung bekerja di perusahaan.

Di dunia sepakbola, salah satu syarat yang diajukan oleh setiap pesepakbola yang akan ditransfer, adalah kepastian mendapatkan tempat utama untuk bermain di kompetisi reguler. Tanpa bermain reguler di level kompetisi tertinggi, setiap pesepakbola akan merasa tidak ada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Hanya dengan bermain, bermain, dan selalu bermain, setiap pesepakbola akan dapat meningkatkan kompetensi dan kinerjanya.

Bagi pesepakbola, pindah klub besar dan ternama ke klub kecil dan jarang menjadi juara di kompetisi liga, jauh lebih penting dan berharga ketimbang selalu duduk manis di bangku cadangan. Itulah sebabnya, seorang Rafael van der Vaart yang bermain di FC Real Madrid, bersedia pindah ke Tottenham Hotspur dengan gaji dan kesejahteraan yang relatif lebih rendah dibandingan di Real Madrid. Bagi van der Vaart, masuk dalam tim utama dan menjadi pemain utama yang membela Hotspur jauh lebih berharga dibandingkan bertahan di Real Madrid, tetapi tidak tumbuh dan tidak berkembang.

Tampak Siring, 21  Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2012 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: