RSS

Berguru Kepada “Musuh”

04 May

Dalam bahasa Jawa, guru adalah singkatan dari digugu dan ditiru.  Guru selayaknya adalah seorang yang patut dipercaya dan diteladani. Sejatinya, guru bukan sekedar sebuah jenis pekerjaan bayaran.  Menjadi seorang guru adalah panggilan jiwa dan lebih mulia daripada sekedar pekerjaan. Derajat seorang guru – meminjam istilah bahasa Perancis – adalah la creme de la creme (“people of the highest social level”).

Itulah sebabnya, persyaratan untuk menjadi guru tidak sekedar knowledge, skills, dan attitude (KSA). Lebih dari sekedar KSA, guru sepatutnya memiliki akhlak dan karakter melebihi  akhlak dan karakter “orang-orang biasa”.  Jika tidak, maka kelayakan untuk digugu dan ditiru gugur. Jika tidak memiliki akhlak dan karakter yang mulia, maka guru tidak lebih dari sekedar profesi bayaran.

Sejatinya, seorang guru juga seorang pimpinan. Karena itu, seorang guru lebih diharapkan mampu menjadi tuntunan daripada sekedar tontonan. Jika tidak demikian, maka kelayakan untuk digugu dan ditiru gugur.

Mengingat kemuliaan profesi guru, saya tidak heran kalau kemudian ada yang terpanggil untuk mengabdi sebagai “Oemar Bakri” (baca : guru). Tetapi karena status sosial guru yang terhormat dalam masyarakat, kemudian orang “salah kaprah” mengejar status untuk menjadi seorang guru. Itulah sebabnya, kini kita gampang sekali membedakan antara guru dan “guru”. Guru adalah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana telah saya deskripsikan. Sedangkan “guru” adalah mereka yang masuk dalam kategori “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Itulah “profil” dan definisi konvensional dari istilah guru. Guru dalam pengertian umum lebih luas dan lentur : siapa saja dan apa saja dapat menjadi guru. Bukankah pengalaman hidup merupakan guru? Bukankah dari berbagai kesalahan yang telah diperbuat oleh orang lain kita mendapatkan lessons learned?

Paolo Freire, seorang pendidik berkebangsaan Brasil, dalam bukunya yang berjudul Pedagogy for the Oppress (Pendidikan bagi Kaum Tertindas), adalah seorang yang menggagas bahwa siapa saja adalah guru. Kata Freire, “Setiap orang pada dasarnya adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.”

Setali tiga uang, Mark  I. Rosen dalam bukunya yang berjudul “Thank You For Being Such A Pain” mengatakan sebagai berikut : “the pain, frustration and suffering we experience with certain people are just as important for our personal and spiritual growth as love and joy“ .

Untuk menghadapi orang-orang yang bikin kesal dan sakit hati, jadikanlah mereka sebagai guru kehidupan. Rosen menyarankan “see these people as our teachers, ‘cosmic couriers’ sent by God to refine our characters, to open up our hearts, to help us be more empathetic and compassionate” .

Belajar Dari Siapa dan Apa Saja.

Setahun yang lalu – tepatnya 14 Februari 2012 – saya resmi mengelola personal blog. Tulisan pertama yang saya upload adalah “In Memoriam Ahmad Sodani”. Dalam tulisan tersebut saya bercerita tentang almarhum Sodani, seorang yang semasa hidupnya berprofesi sebagai pengemudi. Sejatinya, dalam kehidupan yang lebih luas dan hablum minannas, saya menempatkan Sodani sebagai salah seorang guru kehidupan yang mempengaruhi perjalanan hidup saya.

Nun jauh di sana, di sebuah kota di Papua, saya juga pernah berjumpa sahabat yang menjadi guru saya. Saya masih ingat salah satu perkataannya, yaitu “seyogyanya, semakin dalam ilmu seseorang, semakin mampu dan mau untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

Beberapa dokter dan peneliti di Jepang, antara lain Hiromi Shinya, MD (penulis buku The Miracle of Enzyme dan The Microbes Factor), DR. Shigeo Haruyama (penulis buku “The Miracle of Endorphin), dan  Kazuo Murakami, Ph.D  (penulis buku “The Miracle of DNA”) membuktikan bahwa, ilmu pengetahuan memang dapat membantu manusia untuk  semakin mudah meyakini kebesaran Tuhan Yang Mahaagung.

“Musuh” Adalah Guru.

Belajar dari guru adalah biasa. Belajar dari siapa saja juga hal yang biasa saja. Tetapi belajar dari “musuh” (orang yang menyakiti, membenci, memusuhi dlsb diri kita)?. Mampu dan mau belajar dari musuh adalah luar biasa. Tetapi, belajar dari musuh seringkali tidak terpikirkan dan tidak terbayangkan. Mengapa?

Secara umum, manusia memandang musuh adalah sosok yang menyakiti, menyengsarakan, membenci – dan lain sebagainya – diri kita. Karena itu, manusia merasa lebih pantas juga untuk membalas dendam kepada musuh.  Manusia cenderung beranggapan tidak ada hikmah dari  akhlak, karakter, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan oleh musuh.

Mungkin saja “stigma” musuh adalah orang yang “jahat” merupakan fakta. Tetapi menganggap bahwa tidak ada satupun dari musuh yang dapat dipelajari dan diambil hikmahnya, mungkin ini kekeliruan besar. Dalam olahraga apapun, seorang olahragawan maupun team menjadi lebih kuat karena mendapatkan pengalaman dari “musuh” (baca : lawan tanding) yang lebih kuat.

Rosen lebih lanjut menyarankan bahwa “most difficult people are doing the best they can, given their limitations, and that difficult people provide an unmatched opportunity to improve ourselves. The pain, frustration, and suffering we experience with certain people are just as important for our personal growth as love and joy. The most difficult people have the potential to become our best teachers, because the adversity we experience in a difficult relationship can push us past our resistance and teach us what we would otherwise fail to learn.”

Sufi Comics by Arif & Ali / http://www.vakil.org

Kehadiran seseorang yang membenci, menyakiti, menganggap sepele diri kita, dan lain sebagainya, justru layak dianggap sebagai blessing in disguise untuk menjadi – meminjam istilah Stephen R. Covey – highly effective people. Belajar tidak hanya di sekolah dan pelatihan tidak hanya di ruang pelatihan. Belajar dan pelatihan dalam arti sesungguhnya adalah dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya teori, melainkan praktek.

Caranya? Mudah sekali. Ubahlah cara pandang.  Semua bermula dari cara pandang. “The way we see things is the source of the way we think and the way we act“, kata Covey. Seseorang adalah “musuh” atau guru, tergantung dari cara pandang. Pada akhirnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih menjadi manusia sekedar reaktif atau proaktif.

Risiko Negative Thinking

Negative thinking dan bereaksi reaktif sikap dan perilaku “musuh” justru merugikan diri sendiri.  Negative thinking berdampak negatif terhadap kesehatan dan energi. Justru dampak negatif itulah yang dikehendaki oleh “musuh”.

Hazrat Inayat Khan – sebagaimana dikutip oleh Anand Khrisna dalam bukunya Hidup Sehat dan Seimbang Cara Sufi, 1999 – mengatakan bahwa  “Sometimes the presence of someone fills you with life, and sometimes the presence of another so to speak takes away your life from you. One feels tired and depressed and eaten up by the presence of one person, and another person’s because gives added strength, life, and vigour. This is all accounted for by the breath. The one who has more life gives life, while the one who has less life takes it from the one who has more.” 46-47

Sementara itu, DR. Shigeo Haruyama, penulis buku “The Miracle of Endorphin” (2011 : 22), mengatakan bahwa “pikiran kitalah yang menentukan apakah kita sehat atau sakit”. Mengapa? Dalam buku tersebut, DR. Haruyama menjelaskan sebagai berikut :

“Jika seseorang marah dan merasa sangat tertekan, otaknya mengeluarkan noradrenalin, hormon yang sangat beracun. Di antara racun alami, hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa ular.” (Shigeo Haruyama, 2011 : 21).

Di bagian lain, DR Haruyama menambahkan sebagai berikut :

“Di sisi lain, ada pula hormon yang disebut beta-endorfin, yaitu hormon paling berkhasiat di antara hormon kebahagiaan. Saya amati, ada korelasi antara kedua jenis hormon ini. Jika seseorang mendapat penolakan, “Tidak, saya tidak mau”, di dalam otaknya dilepaskanlah hormon noradrenalin yang bersifat racun. Sebaliknya, jika untuk situasi yang sama dia mendapat jawaban “itu bagus”, hormon beta-endorfin yang akan mengalir.” (Shigeo Haruyama, 2011 : 22)

Dampak negatif dari sikap dan perilaku “musuh” terhadap kesehatan dan energi dapat dicegah. Caranya adalah mengubah cara pandang. Tentu saja tidak mudah. Menghadapi ujian, cobaan, atau bahkan adzab, tidak ada jalan yang lebih baik kecuali ikhlas dan bersabar.

Tampak Siring, 1 April 2012

 
Leave a comment

Posted by on May 4, 2012 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: