RSS

Situational Leadership and Group Development

28 May

Apakah ada hubungan antara gaya kepemimpinan dan tahap-tahap perkembangan kelompok (group development)? Apakah untuk setiap tahap perkembangan kelompok membutuhkan pemimpin yang mampu mengimplementasikan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda?

Sebagaimana telah diketahui bersama, komponen dari kepemimpinan adalah pemimpin, pengikut, situasi, dan komunikasi. Para pengikut pemimpin dapat merupakan individu-individu maupun kelompok sosial.

Situational Leadership yang digagas oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard fokus pada followers readiness (kesiapan para pengikut) dalam konteks individu. Artinya, gaya kepemimpinan akan berubah sesuai dengan tingkat kesiapan dari individu yang dipimpin.

Perkembangan dalam ilmu manajamen, terutama teori-teori kepemimpinan, menunjukkan bahwa, gaya kepemimpinan dipengaruhi oleh perkembangan kelompok. Setiap perkembangan kelompok menunjukkan tingkat kesiapan kelompok (group readiness) yang berbeda-beda. Karena itu, untuk setiap kelompok yang berbeda, diperlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula.

Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok

DR. Bruce Tuckman pertama kali memperkenalkan teorinya tentang group development stage model pada tahun 1965. Menurut Tuckman, setiap kelompok akan mengalami tahap-tahap perkembangan mulai dari forming, storming, norming dan performing. Pada tahun 1970, Tuckman menambahkan satu tahap lagi, yaitu adjourning. Tahap adjourning semacam tahap “pembubaran panitia”. Artinya, tahap adjourning ditemukan dalam kelompok sosial dibentuk untuk waktu tertentu.

Dalam buku mereka yang berjudul “Group Development and Situational Leadership”, D. Carrew, E. Carrew dan K. Blanchard (1986) menggunakan istilah lain yang digunakan untuk mendeskripsikan tahap-tahap perkembangan kelompok, yaitu:  orientation (forming), dissatisfaction (storming), resolution (norming), dan production (performing). Secara substansi tidak ada perbedaan antara istilah-istilah tersebut.

Definisi, Karakteristik Tim, Keterampilan dan Akvititas-aktivitas yang Penting, dan peran dari fasilitator / pemimpin dalam setiap tahap perkembangan kelompok dirangkum dalam tabel 1 sebagai berkut :

Secara hipotetis dapat dikatakan bahwa, seiring dengan pertambahan waktu dan perkembangan kelompok, prestasi dari kelompok akan semakin bertambah baik. Penurunan kinerja terjadi pada tahap storming, di mana konflik di antara anggota kelompok mendominasi hubungan antarmanusia dan kerja sama tim. Prestasi kembali bertambah baik dalam tahap norming dan mencapai puncaknya pada tahap performing.

Mengingat karakteristik, isu-isu penting, dan tantangan yang dihadapi oleh kelompok pada masing-masing tahap berbeda, gaya kepemimpinan yang sesuai dari seorang pemimpin akan mempengaruhi proses dan hasil yang berbeda yang dicapai kelompok.

4 Gaya Kepemimpinan

Menurut Hersey dan Blanchard, ada 4 gaya kepemimpinan yang berbeda-beda untuk setiap jenis situasi yang berbeda. Gaya kepemimpinan tersebut adalah Directing, Coaching, Supporting, dan Delegating. Keempat gaya kepemimpinan diperoleh melalui kriteria atau variabel tugas dan hubungan.

Gaya kepemimpinan directing ditandai peran pemimpin yang sangat sentral dalam memberikan pengarahan, tetapi kurang dalam hal memberikan dukungan kepada bawahan.  Pemimpin bertindak dengan prinsip “the King can do no wrong” dan menginstruksikan bawahannya apa, bagaimana, kapan dan di mana tugas-tugas harus dilakukan. Para pengikut tidak memiliki inisiatif, semua bersifat “top down” dari pimpinan.

Gaya kepemimpinan coaching (kadang-kadang disebut “selling”) masih ditandai oleh peran pemimpin yang sentral dalam pemberian instruksi. Meskipun demikian, pemimpin juga memberikan dukungan yang tinggi terhadap bawahannya untuk melaksanakan tugas-tugas mereka.

Situational Leadership Model by Paul Hersey and Ken Blanchard

Dalam gaya kepemimpinan participating, pemimpin mulai mengurangi “porsi” memberikan instruksi. Sebaliknya, pemimpin mulai memberikan dukungan lebih besar kepada bawahan mereka. Hubungan tidak lagi ditandai oleh top-down, melainkan juga bottom-up.  Pemimpin mulai melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Peran utama pemimpin adalan memfasilitasi dan membangun komunikasi dengan bawahan.

Gaya kepemimpinan delegating ditandai oleh kondisi di mana peran pemimpin dalam pemberian instruksi dan dukungan kepada bawahan mulai berkurang. Artinya, pemimpin tidak lagi bertindak “menggurui” dan menjadi “watch dog” terhadap bawahan mereka. Sesekali pemimpin memberikan pengarahan dan dukungan, tetapi bawahan lebih proaktiv dalam membuat perencanaan dan mengimplementasikannya.

Gaya Kepemimpinan dan Perkembangan Kelompok

4 gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai untuk tahap perkembangan kelompok tertentu. Gaya kepemimpinan directing sesuai dengan tahap forming, coaching sesuai dengan kelompok dalam tahap storming, participating sesuai dengan norming, dan delegating sesuai dengan kelompok performing.

Dalam bukunya yang berjudul “Management Fundamentals, Concept Application Skill Development”, SRobert N. Lussier (2006) menjelaskan hubungan antara gaya kepemimpinan dan perkembangan kelompok sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut :

Situational Leadership Model by Robert N. Lussier

Gaya kepemimpinan directing diperlukan pada tahap forming. Dalam keadaan semua hal belum diatur dan belum teratur (struktur organisasi, jabatan masing-masing anggota kelompok, pembagian kerja, dan peraturan), peran pemimpin masih dominan dalam memberikan pengarahan dan penugasan-penugasan kepada para pengikut.

Tahap storming ditandai oleh konflik di antara anggota kelompok. Meskipun kompetensi anggota kelompok meningkat, komitmen anggota untuk mendahulukan kepentingan kelompok relatif lemah. Hal ini disebabkan semua hal belum diatur dan belum teratur. Pemimpin masih banyak diharapkan untuk memberikan pengarahan dan penugasan kepada anggota kelompok.

Gaya kepemimpinan participating dibutuhkan pada tahap norming. Dalam tahap ini, hal-hal penting dalam organisasi sudah mulai dirumuskan dan diatur. Di sisi lain, kompetensi anggota kelompok yang semakin meningkat disertai dengan komitmen yang meningkat pula. Pemimpin mulai memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, terutama keputusan operasional.

Pada tahap performing, struktur kelompok dan proses dalam kelompok sudah teratur. Kompetensi dan komitmen anggota kelompok dalam kondisi terbaik. Pengarahan dan penugasan dari pimpinan masih dibutuhkan, tetapi pemimpin lebih banyak memberikan pendelegasian kepada anggota kelompok. Kehadiran seorang pemimpin adalah memberikan dukungan dan mendorong agar kelompok mampu dan mau secara mandiri untuk berprestasi dan selalu mengadakan perbaikan secara berkesinambungan.

Tampak Siring, 24 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2012 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: