RSS

“Para Pencari Tuhan”

24 Oct

Tentu saja semua surat dan ayat-ayat dalam kitab suci Al-Qur’an adalah baik dan sempurna. Tetapi, saya memang “suka” berandai-andai. Seandainya saya diminta untuk memilih dan menyebutkan 1 surat yang menjadi “favorit” saya, maka saya akan memilik surat Ar-Rahman.  Seandainya saya diminta untuk memilih dan menyebutkan 1 ayat paling favorit bagi saya, maka saya akan memilih Surat Al-Imran ayat 190 yang berbunyi sebagai berikut :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. 3:190)

Image courtesy Stock Trek / Getty Images

Tentu saja, semua harus dipahami dari konteksnya. Konteks saya memilih ayat 190 dari surat  Al-Imran adalah belajar. Bagi saya, ayat itu menegaskan bahwa, belajar tidak selalu harus di sekolah. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja. Apa saja dapat dipelajari. Siapa saja dapat menjadi guru (dalam pengertian luas dan tidak formal).

***

Hasil psychotest terhadap diri saya menyimpulkan bahwa kecerdasan saya “hanya” rata-rata. Tetapi ada kesimpulan yang membuat saya bersyukur, yaitu kemampuan analisis saya melebihi kecerdasan rata-rata.

Saya banyak sekali tertolong karena selalu heran dan bertanya-tanya. Dalam hal ini, saya harus berterima kasih kepada kedua almarhum Bapak dan almarhumah  Ibu saya yang  selalu “memberondong” saya dengan pertanyaan what, why dan how to.

Pada awalnya, dalam masa kanak-kanak sampai remaja, pertanyaan what, why dan how to menjadi “momok” bagi saya. Ibaratnya, untuk melakukan sesuatu, saya harus membuat “proposal” dan mempresentasikannya. Nah, pertanyaan orang tua saya selalu fokus pada what, why, dan how to.

Tetapi, karena selama bertahun-tahun dilatih menghadapi pertanyaan what, why, dan how to, saya menjadi terbiasa untuk bersikap dan berpikir kritis terhadap semua hal.  Naluri saya untuk selalu heran terhadap segala sesuatu menjadi “pintu masuk” untuk memahami setiap peristiwa yang terjadi. Setiap keputusan yang saya ambil, semua sikap dan perilaku saya, semua saya buat dan lakukan dalam kesadaran penuh.

Jauh hari sebelum Stephen R. Covey menggagas tentang “7 Habits of Highly Effective People”, kedua orang tua saya sudah mengajarkan bagaimana menjadi manusia proaktif. Hasilnya, saya jarang sekali mengatakan “aku begini karena engkau begitu”. Sebaliknya, tetap dengan rendah hati, saya terbiasa mengatakan “I did my way”.

Dalam konteks belajar, saya tidak mengalami kesulitan dengan hanya bermodalkan “what, why, dan how to”. Kesulitannya justru dalam hubungan antarmanusia. Menurut pendapat subyektif saya, tampaknya sebagian besar anak-anak tidak terbiasa ditanya “what, why, dan how to”.  Jika seseorang menjelaskan tentang suatu hal atau menghendaki sesuatu dari saya, biasanya orang yang bersangkutan tidak siap dengan pertanyaan “what, why, dan how to”. Ujung-ujungnya, bukannya menjawab pertanyaan saya, orang tersebut malah mengatakan saya “resek dan nyinyir”.

***

Beberapa tahun yang lalu saya sempat mengadakan perjalanan dinas ke Mangkajang (di kabupaten Berau, Kalimantan Timur). Seorang sahabat yang ditempatkan di proyek perusahaan di Mangkajang, menanyakan kepada saya apakah saya membawa jaket. Sebab, Mangkajang relatif dingin, terutama di malam hari.

Kebetulan saya tidak membawa jaket. Ketika saya balik bertanya kepada sahabat bagaimana ia mengetahui bahwa Mangkajang adalah daerah yang relatif dingin. Cara dan proses menjawabnya sungguh menarik.

Sahabat saya tidak menggunakan alat pengukur suhu udara. Ia juga tidak menggunakan buku atau berita surat kabar yang memuat biasanya memuat tentang ramalan cuaca dan suhu di daerah tertentu. Ia menunjuk pada tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di daerah Mangkajang, terutama di sekitar kantor proyek perusahaan.

Image courtesy http://www.cactupediainfo.com

Jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di daerah dingin berbeda dengan jenis tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah panas. Singkat kata, berdasarkan tumbuh-tumbuhan dan berbagai kriteria ilmiah dan saling mendukung, sahabat berkesimpulan bahwa Mangkajang adalah daerah bersuhu relatif dingin.

Menurut saya, tidak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk menjelaskan tentang suatu fenomena dengan menggunakan atau membaca tanda-tanda di alam raya. Banyak orang lebih suka menggunakan alat bantu tertentu untuk mengetahuai tentang suatu hal. Padahal, Allah SWT telah menyediakan tanda-tanda di alam raya ini sebagai “pintu masuk” untuk memahami segala sesuatu, terutama kebesaran Allah SWT.

***

Saya lupa judul sebuah film yang pernah saya tonton. Tetapi saya masih ingat aktor utama dan isi cerita. Aktor utama adalah Anthony Quinn dan dalam film itu ia berperan sebagai seorang tahanan atau narapidana. Film itu menceritakan tentang sebuah penjara yang dibangun oleh Nazi. Penjara terletak di Eropa, di sebuah desa kecil, terpencil, dan berada di lereng pegunungan. Waktu dalam film menunjukkan saat itu adalah musim dingin. Seluruh desa dan kawasan negara diselimuti salju tebal.

Penjara mendapat pengamanan superketat (untuk ukuran zamannya, sekitar dekade 40-an) dan dijaga oleh tentara Nazi yang tidak segan-segan bertindak keji, kejam, dan membunuh siapa saja yang menentang mereka. Singkat kata, tentara Nazi menguasai penuh daerah tersebut dan ditempatkan di tempat-tempat strategis. Probabilitas tahanan bisa lolos dan selamat hidup sangat kecil.

Pada suatu saat, Quinn dan beberapa tahanan berhasil meloloskan diri dari penjara. Masing-masing berpencar menyelamatkan diri. Sebagian besar berjalan menuju ke daerah yang lebih rendah untuk menyeberang ke desa atau daerah lain. Hanya Quinn yang berlari ke atas ke arah pegunungan.

Saya hanya bisa berteriak “goblok”. Dalam logika saya, solusi yang benar adalah berjalan ke bawah, mencari desa terdekat dan sambil berlindung dari kejaran tentara Nazi. Lagipula, dengan menemukan desa terdekat, akan bertemu manusia  dan kehidupan. Sumber-sumber makanan juga lebih mudah ditemukan di desa-desa yang dihuni oleh manusia. Tetapi risiko juga siap menghadang, yaitu tentara Nazi yang tersebar di mana-mana. Meskipun berisiko, kemampuan otak saya mengatakan bahwa menyelematkan diri ke desa-desa terdekat masih lebih baik ketimbang lari ke arah gunung.

Tentu saja Quinn harus bersusah payah menyelamatkan diri dari kejaran tentara Nazi yang bersenjata lengkap dan “ditemani” anjing pelacak. Meskipun Quinn hanya sendiri, tentara Nazi tetap bertekad menangkap Quinn dalam keadaan hidup atau mati. Quinn tidak boleh sampai lolos dan “menyanyi” di depan publik dan para “kuli tinta”.

Dalam episode kejar mengejar itulah saya baru sadar bahwa Quinn seorang yang cerdas. Quinn selalu menghindar dari tembakan, bahkan sesekali ia menampakkan diri agar ditembak. Tentu saja tidak kena, sebab ia berada relatif jauh dari jangkauan peluru (dan karena skenario menghendaki ia tidak mati).

Setiap tembakan, bahkan suara anjing-anjing pelacak yang gemuruh, menimbulkan gema dan merontokkan salju di dinding pegunungan. Semakin sering tembakan dilepaskan, semakin banyak salju yang rontok. Efek bola salju pun terjadi. Akhirnya, semua tentara Nazi dan anjing-anjing pelacak yang mengejar Quinn, mati diterjang oleh  longsoran salju (dalam volume besar) dan bola salju yang semakin ke bawah semakin membesar.

***

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah buku berjudul “Para Pencari Tuhan”. Isi buku sangat menarik, tetapi penulisannya sangat tidak menarik dan membosankan. Substansi dari buku itu adalah para pencari Tuhan berusaha untuk memahami kehadiran dan kebesaran Tuhan melalui berbagai ciptaanNya : alam raya, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan terutama manusia.

Para pencari Tuhan pada awalnya meragukan kehadiran Tuhan. Atau,  jika Tuhan memang ada, kok kehadiranNya tidak dapat dirasakan. Setelah mempelajari berbagai ciptaan Tuhan, para pencari Tuhan yakin bahwa Tuhan memang ada, dan dekat.

Sejatinya, tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berpikir tidak hanya di alam raya, melainkan juga pada tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bahkan dalam tubuh manusia sendiri. Dalam Surat Al-Fushilat ayat 53, Allah SWT berfirman sebagai berikut :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. 41 : 53)

Image courtesy http://www.thecountymedicalexaminers.com

Masalahnya, bukan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tidak cukup, melainkan kemampuan dan kemauan manusia untuk berpikir yang sangat terbatas. Kemampuan dan kemauan untuk berpikir yang terbatas, bukan disebabkan oleh kemampuan otak manusia yang terbatas, melainkan oleh hati nurani yang majal (tumpul) dan tidak mau bersyukur.

Tampak Siring, 1 Maret 2012

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2012 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: