RSS

Monthly Archives: May 2013

Seenak Malam Pertama

Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang rasa enak dari makanan yang sedang saya kunyah, maka saya biasa menjawab dengan “kata-kata bersayap” begini : “seenak malam pertama”. Wow!

Rasa adalah wilayah pribadi setiap orang. Apa yang menurut pendapat dan rasa saya enak, belum tentu enak menurut pendapat dan rasa orang lain. Demikian juga dengan makanan yang menurut pendapat dan rasa orang lain tidak enak, belum tentu tidak enak menurut pendapat dan rasa lidah saya.

Rasa itu absurd. Beda dengan halal dan haram yang memiliki dasar hukum yang sangat jelas. Jangan pernah sekali-kali menjatuhkan “vonis” dan “stigma” tentang rasa dari sebuah makanan. Tidak ada gunanya memperdebatkan rasa. Serahkan saja kepada lidah masing-masing orang.

Karena itu, saya kurang setuju dengan indikator yang seringkali digunakan untuk menilai sebuah makanan enak dan tidak enak. Konon, jika ada warung makan atau restoran yang pengunjungnya sampai membludak dan antri, maka kemungkinan besar makanan (dan minuman) yang disajikan enak.

Saya lebih setuju dengan deskripsi rasa yang digunakan oleh istri saya. Meskipun pintar memasak, istri saya selalu mengingatkan kepada saya bahwa makanan hasil masakannya memiliki “rasa nggak janji”. Apapun makanan yang dimasak oleh istri saya, ia selalu bilang “rasa nggak janji”. Oops!

Sungguh bahagia saya, sebab di dunia ini, mungkin hanya saya yang pernah merasakan bagaimana makan makanan “rasa nggak janji”. Apakah anda pernah makan rendang “rasa nggak janji”?  Apakah anda pernah makan sayur lodeh “rasa nggak janji”? Apakah anda pernah makan lagsana “rasa nggak janji”.? Dalam hal pengalaman makan makanan “rasa nggak janji”, saya boleh menyombongkan diri sebagai “The Special One”.

 ***

Soal rasa orang tidak bisa berdebat. Kalau Bondan Winarno mencoba untuk mendeskripsikan enak dengan kata-kata “maknyus”, itu memang cara khas Bondan untuk menggugah anda agar “rajin” mengadakan wisata kuliner. Ada yang mendeskripsikan rasa enak dengan “eunakkk tenan” sembari mbujuki “coba-en rek”! Semua boleh-boleh saja dan sah-sah saja.

Mengapa saya menggunakan “seenak malam pertama” untuk mendeskripsikan makanan yang enak? Ya, itu kreatifitas saya dan kebiasaan saya menghindari bertele-tele dengan definisi. Tidak usah diperdebatkan. Asumsi saya, setiap orang yang punya pengalaman dengan malam pertama, pasti bisa membayangkan. Saya jamin, imajinasi liar anda akan kreatif.

Rasa enak malam pertama yang saya alami belum tentu sama dengan rasa enak malam pertama yang anda alami. Nah, persis seperti itulah rasa enak sebuah makanan. Tidak bisa di-“gebyah uyah” (digeneralisir) untuk semua orang.

 ***

Sejatinya, saya mengindari untuk memberikan komentar terhadap rasa sebuah makanan, baik enak maupun (terutama) tidak enak. Sekali lagi, selera dan rasa tidak dapat diperdebatkan. Bagaimanapun, enak dan tidak enak bukan hal yang prinsip.

Setiap hari selalu ada penjaja makanan yang lewat di depan rumah saya. Mulai dari penjaja yang menjual kue donat, bubur kacang hijau, bakso, sampai dengan penjual yang menjajakan kue putu. Beberapa kali saya pernah membeli salah satu makanan tersebut. Setelah itu, saya tidak pernah membeli lagi.

Apakah karena tidak enak maka saya tidak membeli makanan itu lagi? Hanya kepada istri saya “buka-bukaan” (baca : berterus terang). Saya tidak pernah mengatakan apapun tentang rasa makanan yang pernah saya makan kepada orang lain. Mengapa?

Selera dan rasa adalah sangat pribadi.  Beda dengan masalah halal dan haram, ada kewajiban saya untuk mengingatkan (terutama mereka yang muslim). Tetapi kalau rasa, saya tidak memiliki kewajiban untuk menceritakan kepada orang lain. Bahkan, andaikan saya merasa “tertipu” telah makan makanan yang dari segi rasa tidak enak (menurut pendapat subyektif saya), saya berpendapat bahwa saya tidak memiliki hak untuk mengatakan rasa makanan itu. Saya lebih memilih opsi untuk “berbohong” dan mengatakan belum pernah makan makanan itu.

Mengapa? Saya tidak ingin menjadi orang yang menghalang-halangi rezeki orang. Apa yang saya katakan tentang rasa makanan mungkin akan menjadi “dalil” bagi orang lain. Menurut pendapat saya, jika saya mengatakan sesuatu, maka yang sampai tidak hanya kata-kata saja, melainkan terutama energi yang menyertai perasaan dan pikiran saya.

Andaikan saya mengatakan makanan yang saya makan tidak enak, mungkin perkataan saya akan mempengerahui sikap dan perilaku orang lain. Mungkin saya tidak bermaksud “mencerca” dan “menghujat” mutu dan rasa sebuah makanan, tetapi kata “tidak enak” sudah cukup mengaduk-aduk emosi dan perasaan orang lain. Jika kemudian orang membatalkan membeli makanan yang sudah saya “vonis” tidak enak, maka saya telah menjadi penghalang bagi rezeki orang lain. Naudzubillahi mindzalik.

Ada dua alasan saya tidak mau berkomentar tentang rasa sebuah makanan. Pertama, saya menghormati para penjual makanan adalah seorang job creator, baik menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri maupun lapangan pekerjaan untuk orang lain. Dalam konteks lapangan kerja yang terbatas dan tingkat pengangguran yang relatif tinggi, derajat job creator relatif lebih terhormat ketimbang job seeker yang hanya bisa mencari pekerjaan.

Kedua, saya selalu teringat oleh “wejangan” Prof. Bagir Manan, mantan Ketua Mahkamah Republik Indonesia, tentang fungsi dari pengadilan.  Fungsi utama dari pengadilan adalah memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara. Padahal, menurut Prof. Bagir Manan, “memutuskan perkara atau sengketa tidak sama persis dengan ‘menyelesaikan’ sengketa.”

Dengan mengatakan bahwa makanan yang telah saya makan “tidak enak”, maka saya telah menjatuhkan “vonis”, atau minimal “stigma”. Dengan memutuskan (dan menyebarluaskan) bahwa sebuah makanan tidak enak, maka  saya tidak menawarkan solusi, justru menciptakan masalah bagi si penjual makanan. Sedangkan stigma, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum, sangat sulit untuk dihilangkan dari benak manusia.

 Kebayoran Baru, 30 Mei 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2013 in Selasar

 

Tempat Pembuangan Akhir

“There are no bad soldiers, only bad officers” – Napoleon Bonaparte

***

Para akademisi boleh-boleh saja meyakini bahwa mutasi adalah salah satu solusi untuk “penyegaran” organisasi.” Dalam praktek, suka-suka tidak suka, mutasi seringkali diperlakukan dan dianggap sebagai solusi untuk “membuang” orang-orang yang tidak memenuhi kriteria “job fit”, “organizational fit” dan “cultural fit”.

Idealnya, mutasi didasarkan atas perencanaan tenaga kerja dan perencanaan karir yang matang. Ada proses yang evolusioner. Dalam praktek, tidak jarang mutasi kerja diputuskan secara mendadak. Terutama setelah ada kegagalan pejabat yang bersangkutan dan kejadian yang dinilai dapat merusak kehormatan dan reputasi lembaga.

Penggunaan istilah “dicopot” atau “digeser”  dari jabatan untuk mendeskripsikan tentang proses mutasi juga menunjukkan bahwa ada ketidaknyaman dan keterpaksaan untuk melalukan mutasi secara mendadak. Ironisnya, jabatan baru yang disediakan pun terkesan “diada-adakan” secara mendadak.

Belum setahun memimpin Jakarta, duet Jokowi dengan Basuki telah menelan “korban”. Seorang walikota “dicopot” dari jabatannya dan kemudian “disemayamkan” di jabatan baru yang konon dianggap kurang strategis (istilah strategis sarat dengan kepentingan, baik kepentingan kekuasaan dan terutama kepentingan uang).

Anas Effendi adalah Walikota Jakarta Selatan yang “digeser” menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Jika menggunakan paradigma jabatan “basah” dan jabatan “kering”, jabatan strategis dan jabatan tidak strategis, maka persepsi publik adalah Anas Effendi telah “dibuang”. Di zaman Orde Baru memang seorang pejabat dapat “dicopot” atau “digeser” tanpa alasan jelas. Tetapi Jokowi memastikan bahwa Anas Effendi dimutasikan bukan karena kinerja yang buruk.

***

Fakta dan impresi adalah dua hal yang berbeda. Fakta juga berbeda dengan persepsi.  Apa boleh buat, manusia berpikir dan bertindak tidak selalu mengandalkan fakta. Andaikan disediakan “segambreng” fakta, manusia masih mengandalkan kesan dan persepsinya  terhadap fakta.

Juga tidak jelas bagaimana asal muasalnya sehingga orang-orang selalu memiliki impresi dan persepsi yang berbeda dengan pengambil keputusan mutasi. Ada 2 “penyimpangan” pemahaman terhadap mutasi. Pertama, mutasi dinilai sebagai tindakan “pembuangan”. Kedua, selalu dibutuhkan “tempat pembuangan akhir” untuk menampung orang-orang yang dimutasikan.

Ke manakah orang-orang yang “dibuang” dan “digeser”? Di antara tempat pembuangan akhir untuk orang-orang yang tidak mampu memenuhi kriteria job fit, organizational fit dan cultural fit antara lain adalah jabatan duta besar, staf ahli, dan departemen HRD.

Duta Besar

Bagi para diplomat karir, jabatan duta besar adalah puncak prestasi dan puncak karir. “Habitat” seorang diplomat memang seyoganya kedutaan besar di berbagai negara. Menjadi duta besar menunjukkan pengalaman, keahlian, dan prestasi sebagai diplomat dihargai sepatutnya.

Tetapi bagi orang-orang yang tidak memilih pekerjaan sebagai diplomat, jabatan duta besar bukan segala-galanya. Di era orde baru, jabatan duta besar seringkali dianggap sebagai tempat pembuangan akhir. Tentu saja selalu ada bantahan bahwa penugasan menjadi Duta Besar bukan berarti “dibuang” atau tidak dibutuhkan lagi di dalam negeri. Tetapi semakin dibantah, semakin kuat kesan dan persepsi tentang citra “pendubesan” seseorang sebagai solusi untuk paling halus dan manusiawi untuk menyingkirkan orang-orang yang “berbahaya” dari pusat kekuasaan.

Padahal, jabatan dutabesar adalah jabatan strategis. Duta Besar mewakili negara dan rakyat Indonesia di luar negeri. Baik buruknya reputasi negara dan rakyat Indonesia di luar negeri diserahkan kepada Duta Besar dan para diplomat yang membantunya.

Tetapi entah mendapat gagasan dari mana, penguasa Orde Baru saat itu seringkali menugaskan orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh dan kekuasaan yang dapat membahayakan dirinya ke luar negeri. Dengan penugasan ke luar negeri maka “kompetitor” tidak dapat berhubungan langsung dengan para pendukungnya dan tidak memiliki kesempatan untuk menggalang kekuatan tandingan.

Staf Ahli

Staf ahli adalah  jabatan yang tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk memerintah dan mengatur orang lain. Tanggung jawab staf ahli “hanya” mengadakan studi tentang suatu hal dan kemudian memberikan nasehat, saran, dan rekomendasi. Tampaknya mentereng, tetapi seringkali nasehat, saran dan rekomendasi tidak didengarkan, apalagi dilaksanakan. Jadi, jabatan staf ahli memang tidak memiliki pengaruh apapun.

Orang-orang yang “dibuang” dan diangkat sebagai staf ahli seolah-olah sangat dihormati. Jabatan ini memang “penak” dan “sehat”. Tetapi dengan menjadi staf ahli maka jalur karir di masa mendatang sudah mulai ditutup.

Di Indonesia pernah ada lembaga tinggi negara yang bernama Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Di zaman orde baru, DPA seringkali menjadi pos peristirahatan terakhir mantan pejabat tinggi negara. Anggota DPA memang orang-orang terpilih, karena tugas utamanya adalah memberikan pertimbangan kepada Presiden. Tetapi dengan menjadi anggota DPA, karir politik dan kekuasaan para pejabat tinggi negara tersebut mulai meredup.

Departemen HRD

Jika ada orang yang seringkali harus menelan ludahnya sendiri, maka orang itu adalah direktur perusahaan. Betapa sering kita mendengar kata-kata puji dan puja dari direktur perusahaan terhadap para pekerja. “Sumber Daya Manusia adalat aset terpenting perusahaan”, “SDM adalah modal perusahaan yang sangat penting dan sama pentingnya dengan modal keuangan”, dan lain sebagainya.

Statement memang bukan commitment. Itulah sebabnya, dalam praktek, komitmen untuk memperlakukan manusia sebagai aset maupun modal terpenting perusahaan seringkali tidak pernah dilakukan. Kalapun dilakukan, tidak ada konsistensi.

Salah satu tindakan yang bertentangan dengan penghargaan terhadap SDM perusahaan adalah “menominasikan” Departemen HRD sebagai salah satu tempat pembuangan akhir dari orang-orang yang dianggap gagal berprestasi dan memberikan kontribusi kepada perusahaan.

Saya pernah bekerja di perusahaan yang menilai Dept. HRD tidak lebih sebagai tempat pembuangan akhir karyawan yang tidak berprestasi. Ironisnya, karyawan yang “dibuang” ke Dept. HRD adalah mereka yang sudah dicoba di jabatan lain di berbagai departemen dan berulang kali gagal. Karena proses memutuskan hubungan kerja tidak mudah, maka “jalan terakhir” adalah mereka “dibuang” ke Dept. HRD.

Tampak Siring, 26 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2013 in Selasar

 

Nothing Is Impossible

Hanya Sir Alex Ferguson yang mengetahui alasan yang sesungguhnya mengapa FC Manchester United (dan dia) memilih David Moyes sebagai pelatih yang menggantikannya. Kata Fergie (sebutan akrab Ferguson), alasan Moyes ditunjuk sebagai pelatih baru MU adalah “”Apa yang saya tahu tentang David adalah bahwa ia pekerja keras, berintegritas, memiliki etos kerja, dan seorang pelaku sepak bola yang serius.”

Di bagian lain Fergie menambahkan sebagai berikut : “Satu hal yang Anda harus lakukan di sini (di Manchester United – Red) adalah berkorban dan tekun. Ini bukan melulu kesuksesan. Ada masa-masa berat, ada periode sulit, ada kekalahan-kekalahan yang menyakitkan.”

Sebegitu pentingkah “kerja keras”, “integritas”, “etos kerja”, “serius”, “berkorban”, dan “tekun”? Bukankah kerja keras, integritas, etos kerja, dan keseriusan Moyes melatih klub Everton tidak menghasilkan satupun gelar, baik di tingkat lokal Inggris maupun kancah Eropa?

Bukankah ada Jose Mourinho yang digadang-gadang sebagai pelatih yang paling tepat menggantikan Fergie?. Jika MU hanya mengejar kemenangan, maka Mourinho adalah orang yang paling tepat menggantikan Fergie. Tetapi berkali-kali Ferguson bilang bahwa MU dibangun berdasarkan kebersamaan dan teamwork di atas segala-galanya. Tidak ada pemain (dan “haram”) yang lebih besar daripada klub.

Meskipun Jose Mourinho adalah pelatih yang mampu mempersembahkan juara liga di 4 negara yang berbeda (Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol), ia terlalu sibuk dengan pencitraan dirinya. Ia juga tidak punya sikap “ke-bapak-an” dan tidak peduli kebersamaan para punggawa FC Real Madrid bercerai berai. Karakter, sikap dan perilaku Mourinho seringkali lebih layak menjadi “tontonan” ketimbang “tuntunan”. Jika kita sepakat bahwa sepakbola bukan sekedar urusan menendang bola dan kemenangan, maka Mourinho bukanlah pelatih yang tepat untuk membesut MU yang memiliki tradisi kemenangan dan kekalahan yang menyakitkan. Mourinho hanya tahu kemenangan.

Pengunduran diri Fergie dari kursi kepelatihan MU adalah mendadak, tetapi penunjukkan David Moyes tidak mendadak. Fergie sudah menawarkan jabatan asisten pelatih kepada Moyes dua dekade yang lalu. Itu berarti Fergie telah “mengendus-endus” potensi, kompetensi, dan talenta Moyes sebagai pelatih yang mumpuni. Padahal, saat itu Moyes masih “bau kencur”. Baru tahun 1998 memulai karir kepelatihannya di sebuah klub kecil, Preston (tidak pernah terdengar oleh telinga sebagian besar “orang bola”).

5 tahun terakhir di Everton Moyes hanya dibekali 800 ribu poundsterling (sekitar Rp. 12 milyar). Apa yang bisa dilakukan seorang pelatih dengan anggaran minim untuk bertahan dan bersaing di Liga Primer Inggris? Bandingkan dengan dukungan anggaran sejumlah 50 juta poundsterling (sekitar Rp. 754 milyar) yang diterima Brendan Rogers untuk membesut FC Liverpool. Selama sepuluh tahun terakhir, Moyes selalu menempatkan Everton di 10 besar Liga Primer Inggris. Akhir musim kompetisi 2012/2013, Moyes membawa Everton mencapai urutan ke 6, satu tingkat lebih baik dibandingkan Liverpool.

Satu-satunya kelemahan Moyes adalah belum memenangkan apapun. Sebegitu pentingkah pengalaman melatih dan menjadi juara? Mari kita renungkan. Tahukah anda, mengapa di bumi pertiwi ini, di era orde baru selalu  hanya ada 1 orang calon presiden? Konon, menurut sumber yang dapat dipercaya, pada saat diadakan penjaringan, pada tahap seleksi akhir calon-calon yang diajukan selalu gagal memenuhi persyaratan. Sebab, untuk menjadi presiden dibutuhkan pengalaman menjadi presiden sekurang-kurangnya 5 tahun. Oops.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa karir kepelatihan Jupp Heynckes di klub Moenchengladbag selama sewindu (1979 – 1988) gagal total dan tidak menghasilkan gelar apapun. Bayern Muenchen kemudian menunjuk Heynckes sebagai pelatih dan ia sukses mempersembahkan gelar juara bundesliga 1988/1989 dan 1989/1990.

MOYES (www.halifaxcourier.com)Image courtesy of http://www.halifaxcourier.co.uk

Alasan penunjukkan Moyes sebagai pengganti Fergie mengingatkan saya kepada Nabi Nuh A.S. Konon, dalam sebuah kisah, Nabi Nuh A.S. mengeluh kepada Allah SWT. Inti keluhannya adalah Nabi Nuh A.S. merasa gagal menjalankan tugas kenabian. Selama 800 tahun “karir kenabian”, Nabi Nuh A.S. hanya mampu menyadarkan 80 orang saja untuk kembali ke jalan yang benar.

Keluhan Nabi Nuh A.S. pun didengar oleh Yang Maha Mendengar, dan langsung ditanggapi. Inti sari tanggapan adalah Allah SWT tidak hanya melihat hasil, melainkan juga proses. Proses selama “karir kenabian” juga memiliki bobot yang sepadan dengan hasil. Bukankah dalam proses dituntut kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur terhadap apa yang telah dilakukan dan hasil yang dicapai?. Pada akhirnya Nabih Nuh “sukses” setelah menghabiskan waktu 950 tahun.

Beberapa kriteria yang disebut Fergie juga mengingatkan kriteria yang biasa saya gunakan untuk merekrut dan menyeleksi calon-calon karyawan di berbagai perusahaan. Ada 4 kriteria utama yang saya gunakan, dan saya memiliki komitmen dan konsistensi untuk selalu menempatkan talent setelah kriteria enthusiasm, passion, dan patience. Saya sangat setuju dengan pernyataan Fergie bahwa “satu hal yang harus anda lakukan di sini adalah berkorban dan tekun”

Enthusiasm (Gairah)

Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life”, demikian wanti-wanti Confusius. Meskipun bekerja,  banyak orang yang kurang, atau bahkan tidak menyenangi pekerjaannya. Tujuan bekerja hanya untuk mendapatkan “sesuap nasi” dan menghindari status menganggur. Tidak ada “ikatan batin” terhadap pekerjaan. Itulah sebabnya, para pekerja “modern”, seringkali merasa galau dan lelah yang luar biasa.

Tanpa dilandasi rasa senang terhadap pekerjaan, jangan pernah anda berharap memiliki antusiasme terhadap pekerjaan. Dengan antusiasme, maka orang akan mengerahkan energi untuk bekerja tanpa merasa kehabisan energi. Antusiasme akan memungkinkan seseorang bekerja dengan perasaan “plong” (lega), tanpa merasa bahwa pekerjaan adalah sebuah beban yang harus diselesaikan (karena kalau tidak dikerjakan akan dimarahi atau tidak dibayar). Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki antusiasme terhadap pekerjaan, cenderung akan mengeluarkan energi negatif.

Passion (Hasyrat)

Daripada sekedar mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan passion, lebih baik menunjukkan dalam praktek seperti apakah passion itu. Juergen Klopp, pelatih klub sepakbola Borussia Dortmund, secara tepat menggambarkan tentang passion.

Klopp merujuk pada para “tradisi” perayaan setelah para punggawa FC Barcelona mencetak gol. Mereka merayakan setiap gol yang disarangkan ke gawang lawan dengan kegembiraan yang membuncah. Seolah-olah mereka tidak pernah mencetak gol. Sebagaimana ditulis oleh Lariza Oky Adisty dalam www.kompas.com, Klopp mengatakan :

“Mereka merayakan gol seolah-olah itu gol pertama yang mereka buat. Itu contoh yang sempurna untuk tim saya. Saya tak menggunakan video karena saya tak ingin meniru gaya bermain Barcelona. Tapi lihatlah cara mereka merayakan gol kesekian mereka, seolah-olah mereka tak pernah mencetak gol sebelumnya. Perasaan seperti itulah yang harus dimiliki sampai mati,” kata Klopp.

Proses dan hasil dari pekerjaan layak untuk dirayakan dengan kegembiraan yang membuncah. Tidak ada kegembiraan selama menjalani proses dan memetik hasil, menunjukkan orang bekerja tanpa passion (hasyrat) yang menggelora. Tanpa hasyrat terhadap pekerjaan, tidak akan pernah ada “ikatan batin” dengan pekerjaan.

Patience (Sabar)

Pekerjaan rutin dan suatu proyek selalu merupakan proses (kumpulan dari aktivitas-aktivitas) dan ada tahap-tahap yang harus dilalui. Setiap pekerjaan tidak selalu berarti tinggal panen atau memetik hasil. Jika kita menggunakan analogi di bidang pertanian, proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan panen adalah proses yang lazim dan harus dilalui. Ada jarak dan waktu antara proses pembibitan sampai dengan proses memetik hasil. Bahkan, usaha di bidang pertanian tidak hanya berisiko kualitas panen yang buruk, melainkan juga gagal panen. Sungguh dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi seorang petani.

Pekerjaan di kantor maupun pabrik juga memiliki proses dan tahap-tahap yang harus dilalui. Apapun aktivitas, proses, tahap-tahap yang harus dilalui, semua membutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk mengerjakannya.

Sebagai contoh adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Ada tiga opsi, yaitu pertama buy atau membeli tenaga kerja yang sudah berpengalaman dan ahli dari luar perusahaan; kedua, make atau mempekerjakan tenaga kerja yang belum berpengalaman dan belum ahli, kemudian dilatih dan dikembangkan di dalam perusahaan; dan ketiga, kombinasi dari buy dan make.

Setiap keputusan selalu mengandung konsekuensi. Pilihan untuk make misalnya, pasti membutuhkan biaya, waktu dan tenaga untuk melatih dan mengembangkan SDM. Kadang-kadang hasil yang diharapkan tidak secepat yang ditargetkan. Dalam kondisi ini dibutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk melatih dan mengembangkan SDM. Ketekunan dan kesabaran selalu dibutuhkan untuk menghadapi – meminjam istilah yang digunakan Fergie – “masa-masa berat, ada periode sulit, ada kekalahan-kekalahan yang menyakitkan”.

Talent (talenta)

Tentu saja untuk mengerjakan pekerjaan dibutuhkan talenta yang memenuhi persyaratan.  Tetapi talenta saja tanpa didukung oleh enthusiasm, passion, dan patience tidak cukup. Apa yang kurang dari FC Real Madrid dan FC Manchester City? Kedua klub tersebut diperkuat oleh para pemain bintang dengan rekor transfer dan gaji mahal. Jose Mourinho dan Roberto Mancini adalah segelintir pelatih yang dibayar mahal. Tahun 2013, prestasi kedua klub itu sama sekali tidak sepadan dengan talenta pesepakbola dan pelatih mereka.

Talenta memang penting. Tetapi Albert Einstein juga pernah mengingatkan bahwa kontribusi talenta terhadap keberhasilan hanya 10 %. Selebihnya, 90 % merupakan kontribusi dari kerja keras. Moyes sudah membuktikan, bahwa dengan dukungan dana dan talenta pesepakbola yang relatif terbatas, ia mampu membawa FC Everton ke tingkat yang kompetitif.

Atas keberhasilannya membesut FC Everton yang diibaratkan sebagai “sedan tua”, Moyes diganjar dengan kepercayaan mengemudikan “Roll Royce” (FC Manchester United). Terima kasih Fergie, selamat berkarya David. Nothing is impossible.

Tampak Siring, 25 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2013 in Selasar

 
Image

“Pelestari Budaya”

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2013 in Photography

 

Quote Of The Week

  • “If we can really understand the problem, the answer will come out of it because the answer is not separate from the problem.” – Krisnamurti
 

Not Every Four Years

“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”

– Aristotle

“Prestasi” Bandung Bondowoso yang pernah membangun Candi Sewu hanya dalam waktu satu malam selalu membuat saya geleng-geleng kepala. Cerita itu sangat “menyesatkan”, apalagi jika diteruskan kepada generasi penerus. Untung usaha Bandung Bondowoso gagal, meskipun hanya tinggal 1 candi yang belum selesai.

Michael Schumacer dan Sebastian Vettel di Formula 1, Michael Phelps dan Paul Biddermann di cabang olahraga renang, Michael Jordan dan Kareem Abdul Jabar di cabang basket, Roger Federer dan Rafael Nadal di cabang tenis, Lionel Messi, Christiano Ronaldo dan seterusnya adalah manusia biasa.  Dalam istilah Aristotle, mereka tidak melakukan sesuatu untuk menjadi juara, tetapi memiliki kebiasaan menjadi juara.

Demikian juga halnya dengan pelatih Josep “Pep” Guardiola yang hanya dalam waktu 4 tahun sudah mempersembahkan 14 gelar juara kepada FC Barcelona. Prestasi Pep bahkan melebihi the founding father  dari “Tiki-Taka” yang juga pernah melatihnya, yaitu Johann Cruyff. Semua tidak dibangun hanya dalam waktu satu malam saja. Ada serangkaian aktivitas-aktivitas dan proses-proses yang dilakukan setiap hari.

Panen tidak mungkin diperoleh hanya dalam waktu 1 malam. Panen (baca : memetik hasil yang terbaik dan berkualitas) juga tidak mungkin diperoleh tanpa ada proses pembibitan (baca : pencarian pesepakbola berbakat / talent scoutting), penanaman (baca : latihan-latihan, uji coba, dan pertandingan di berbagai tingkat kompetisi).

 

“Let It Happen” vs “Let Make Happen”

Atlit-atlit berprestasi memiliki mimpi besar dan target. Pelatih-pelatih yang berhasil memimpin timnya menjadi juara juga memiliki mimpi besar dan target. Tetapi orientasi mereka adalah “let make happen”, bukan “let it happen”.

Proses menentukan hasil. Proses adalah eksekusi dari mimpi, cita-cita, niat, target, dan do’a.  Proses adalah “let make happen”. Melalui proses yang akuntabel kita dapat berharap “let it happen”.

Memahami dan menghayati hadis Rasulullah Muhammad SAW tentang continous improvement memang baik, tetapi tanpa mengamalkan atau mempraktekkan percuma saja. Sebagaimana kita ketahui bersama, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan kepada kita bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini.

“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari).

Untuk menjadi lebih baik harus diwujudkan (let make happen) dan bukan berpangkutangan (let it happen). Sebagaimana saya kutip dari laman era muslim, dalam hadits tersebut terkandung beberapa aktivitas penting yang harus dilakukan setiap manusia, yaitu  memiliki visi (ghayah) yang akan diwujudkan, perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).

 

It’s Not Every Four Years, But  Everyday

The United States Olympic Committee has a motto: “It’s not every four years. It’s every day.” This motto reflects the notion that making the Olympics in 2012 ultimately does not happen in 2012. It depends on what the millions of athletes who want to be there in August 2012 are doing in December 2010. And January 2011. And February 2011. And… well, you get it.


Maybe making the Olympic team isn’t a goal of yours, which is perfectly fine. Or maybe making an Olympic team in 2016 or 2020 is more reasonable. The motto holds true for any goal we have, in any part of our lives. It’s not good enough to just SET a goal. We have to do something every day to reach it. Sometimes that starts with something as simple as taking part of every day to remind ourselves that what we do every day matters
.” (Dr. Lenny Weirsma, “It’s Not For Every Four Years”, 6 June 2011)

Übung macht den Meister

Mengapa orang-orang Jerman, terutama para olahragawan mereka, memiliki disiplin dan mental juara yang kuat? Tidak ada metode instan untuk membentuk olahragawan yang memiliki disiplin yang kuat dan mental juara yang tangguh.

Orang-orang Jerman meyakini bahwa Übung macht den Meister (dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan practice / exercise make Master). Orang-orang Jerman juga percaya bahwa practice make perfect.

Tampak Siring, 21 Mei  2013

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2013 in Selasar

 

Goyang Lidah

Bagi kebanyakan orang Indonesia, kepuasan makan dinyatakan dalam tiga kata, yaitu : “maknyus”, “euunaaak tenan”, dan “nendang”. “Maknyus” dan “euunaaak tenan” berhubungan dengan lidah. Sedangkan “nendang” berada dalam “teritorial” perut. Bagi orang Indonesia, belum dikatakan makan kalau lidah belum bergoyang.

Konon, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit selain daripada  menjadi ahli gizi olahragawan Indonesia. Dalam hal makan, atlit Indonesia terkenal paling “bawel” dan “sulit diatur”. Lebih  mudah adalah menjadi ahli gizi rumah sakit. Sebab, maknyus atau tidak, enak atau tidak enak, nendang atau tidak nendang, pasien tetap wajib makan. Bagi pasien, memilih makan melalui mulut lebih realistis ketimbang menerima asupan melalui infus.

Berbeda dengan selera atlit Indonesia (“atlit domestik”). Atlit kan juga manusia.  Kriteria maknyus, enak tenan, dan nendang lebih atraktif ketimbang penjelasan tentang kandungan gizi atau kalori dalam makanan khusus olahragawan.

Perbandingan tingkat kedisiplinan atlit domestik dan atlit mancanegara  dalam hal makan “makanan khusus olahragawan/wati” memang bagaikan bumi dan langit. Singkat kata, bagi atlit  mancanegara, substansi makan adalah kecukupan kalori. Sedangkan bagi atlit domestik, makan adalah urusan sensasi.

Adalah sifat dasar dari manusia cenderung sulit untuk mengendalikan makanan. Mungkin tidak sulit bagi orang untuk menghindari makanan yang tidak halal. Tetapi untuk menjadi sehat, makan makanan halal saja tidak cukup. Halal dan thayiban (baca : baik dan bermanfaat bagi kesehatan)  adalah “satu paket”.

Makanan yang dihalalkan oleh agama dan diperoleh melalui proses yang halal, tidak serta merta makanan tersebut thayiban bagi seseroang. Ironisnya, kebanyakan manusia tidak mengetahui makanan yang thayiban, terutama utnuk dirinya sendiri. Manusia baru mengetahui bahwa makanan tertentu tidak thayiban setelah menderita penyakit tertentu.

Sebagai contoh, kacang-kacangan adalah makanan yang halal. Karena harganya yang relatif tidak mahal, tidak sulit bagi orang untuk membeli kacang-kacangan dari penghasilan yang halal. Meskipun demikian, makanan tersebut tidak lagi thayiban bagi orang yang menderita asam urat.

Kecuali tidak mengetahui makanan yang thayiban bagi dirinya, biasanya manusia juga sulit dilarang untuk tidak makan atau minum yang tidak thayiban bagi kesehatannya. Justru kelemahan manusia adalah tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk makan dan minum yang tidak sesuai dengan kesehatannya. Sejatinya, Tuhan tidak mencoba dan menguji kekuatan manusia, tetapi justru mencoba dan menguji manusia di kelemahannya.

Mungkin tidak mudah untuk mengetahui makanan apa saja yang thayiban untuk diri kita. Rekomendasi diet sesuai dengan golongan darah mungkin juga sulit untuk dilaksanakan. Meskipun demikian, kita tidak perlu khawatir. Selalu ada solusi dan cara mudah untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Salah satu solusi dan cara mudah untuk hidup sehat sembari memanjakan diri dengan wisata kuliner adalah memahami dan melaksanakan beberapa tips sebagai berikut :

Pangeran, Raja dan Pengemis

Anda doyan makan dan tetap ingin sehat? Jangan cemas, ikuti saja nasehat dalam peribahasa “breakfast like a prince, lunch like a king, dine like a pauper.” Lakukan saja “makan pagi seperti pangeran, makan siang seperti raja, dan makan malam seperti pengemis.”

Peribahasa tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan kalori manusia untuk pagi hari, siang hari dan malam hari sangat berbeda. Kebutuhan kalori di pagi hari sedang-sedang saja (karena itu makanlah seperti pangeran). Kebutuhan kalori di siang hari relatif lebih banyak dibandingkan siang dan malam hari (karena itu makanlah seperti “raja”). Sedangkan kebutuhan kalori di malam hari relatif sedikit dibandingkan (karena itu makanlah seperti “pengemis”).

Peribahasa tersebut juga dapat dipahami dari siklus pencernaan. Pagi hari, kegiatan utama sistem pencernaan adalah pembuangan. Karena itu, disarankan untuk tidak makan dalam porsi yang besar sehingga energi dapat fokus pada pembuangan. Kegiatan utama sistem pencernaan pada siang hari adalah pembakaran. Karena itu, makan dalam porsi relatif banyak tidak masalah. Sistem pencernaan akan segera bekerja membakar lemak dan memanfaatkan kalori yang masuk untuk menunjang aktivitas manusia. Sedangkan pada malam hari, kegiatan utama sistem penceranaan adalah pengendapan. Pada malam hari kebutuhan kalori juga tidak relatif banyak. Karena itu, makan dalam porsi dan kalori yang tepat akan sangat membantu sistem pencernaan fokus pada kegiatan pengendapan.

Hewan Berkaki dan Tidak Berkaki

Ketika bekerja di perusahaan offshore catering, sahabat-sahabat saya seringkali mengingatkan agar selalu mengingat formula “hewan berkaki dan tidak berkaki”. Menurut sahabat-sahabat saya, mengendalikan kebiasaan makan bukan hal yang sulit. Rumus dasarnya adalah sebagai berikut : seiring dengan bertambah usia, kurangi porsi makan makanan dari hewan berkaki menjadi hewan tidak berkaki”.

Saat balita sampai dengan mahasiswa, memakan makanan dari hewan berkaki empat tidak akan menjadi masalah besar. Tubuh masih dalam proses pertumbuhan dan banyak aktivitas,  Tetapi saat sudah bekerja, tubuh sudah melewati masa pertumbuhan dan mobilitas fisik semakin kurang. Pada saat sudah bekerja, makan makanan dari hewan berkaki dua lebih baik. Semakin tua, sebaiknya makan makanan hewan yang tidak berkaki.

Mengapa demikian? Sebab, kandungan protein dan lemak hewan berkaki empat lebih besar dibandingkan dengan hewan berkaki dua dan hewan tidak berkaki. Demikian juga kandungan protein dan lemak hewan berkaki dua relatif lebih banyak dibandingkan dnegan hewan tidak berkaki.

Pada saat pertumbuhan dan aktivitas manusia masih tinggi, kebutuhan protein dan lemak juga masih banyak. Seyogyanya manusia menyesuaikan diri mengurangi makanan yang memiliki kandungan protein dan lemak tinggi seiring bertambah umur dan berkurangnya mobilitas fisik.

Kendalikan “GAM”

Sumber masalah besar bagi kesehatan manusia adalah gurih, asin dan manis. Gurih berasal dari minyak, asin dari garam, dan manis dari gula. Berbagai penyakit yang diderita manusia asal-usulnya berasal dari minyak, garam, dan gula. Nasehat untuk hidup sehat “tidak akan lari” dari ajakan untuk mengendalikan GAM.

Sebagai contoh penyakit diabetes melitus (DM). Cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit DM adalah mengurangi makanan dan minuman yang mengandung kadar gula relatif tinggi.  Tentu saja ada metode pengobatan lainnya. Tetapi lebih mudah untuk mengatasi segala sesuatu dengan cara menghilangkan sumber penyakit. Singkat kata, di mana masalahnya, di situ solusinya.

Tampak Siring, 22 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in Body | Mind | Soul