RSS

Ternak Teri Yuuukkk!!! (Bagian Pertama)

16 May

Wajah saya tidak seganteng almarhum Dzhokhar Tsarnaev. Otak saya juga tidak sepintar Tsarnaev bersaudara yang pintar merakit bom dan punya “nyali” meledakkan bom di pusat keramaian orang yang sedang berolahraga. Saya pun juga tidak memperlihatkan karakter “berdarah dingin”. Tetapi semua kelemahan dan kekurangan saya tersebut tidak mampu menghentikan kecurigaan seorang Satpam di sebuah  masjid jami’.

Setelah sedikit berbasa basi, Satpam itu memperlihatkan keterampilannya menginterogasi saya. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya, inti sarinya adalah Satpam itu ingin mengetahui saya “ngapain” seharian “nongkrong” di masjid. Setelah saya jelaskan bahwa saya tidak hanya seharian “nongkrong”di masjid, tetapi justri berhari-hari, rasa ingin tahu Satpam itu kesampaian juga. “Jadi bapak tidak bekerja”, demikian Satpam itu menarik kesimpulan dari hasil wawancara dengan saya.

Oops……..”tidak bekerja”. Lha kalau saya tidak bekerja makan apa saya? Ini bukan zaman “mangan ora mangan pokoke kumpul” (makan tidak makan yang penting kumpul). Kalau saya hanya nganggur dan luntang lantung ke sana kemari, bagaimana dengan tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga?

Kata “bekerja” yang dilontarkan Satpam itu justru membuat saya berpikir “flash back”. Saya teringat buku-buku yang pernah saya baca dan menjelaskan tentang pengertian kerja dari masa ke masa adalah berbeda. Aktivitas yang “dulu kala” tidak dipandang sebagai pekerjaan, sekarang justru menjadi pekerjaan yang “basah” dan bergelimang uang. Ada juga pekerjaan yang “punah” karena kehadiran teknologi yang mampu menggantikan otot dan otak manusia.

Sebut saja misalnya buku The Third Wave yang ditulis oleh seorang futurolog bernama Alvin Toffler. Menurut Toffler, kerja di era pertanian berbeda dengan kerja di era industrialisasi. Pengertian dan pemahaman tentang kerja kemudian juga berubah di era informasi.

Di era pertanian, tempat kerja dan tempat tinggal berada di satu tempat. Ruang dan waktu tidak menjadi variabel yang menentukan seseorang disebut sebagai pekerja dan bekerja. Di era pertanian setiap orang adalah prosumen, ia bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen. Karena itu, di era pertanian, setiap orang bisa bekerja di sembarang waktu atau tidak terikat waktu.

Di era industrialisasi, tempat kerja dan tempat tinggal “diceraikan” dan berada di tempat yang terpisah. Seseorang dianggap bekerja jika ia melakukan aktivitas di tempat kerja yang disebut kantor dan pabrik. Mobilitas manusia menjadi keharusan. Demi “sesuap nasi” manusia rela berangkat ke tempat kerja setelah subuh dan kembali ke rumah ba’da Isya’.

Di era industrialisasi, orang-orang yang bekerja di sektor informal, meskipun melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat disebut sebagai penciptaan nilai tambah, tidak dianggap sebagai pekerja dan bekerja. Sejatinya, orang-orang yang bekerja di sektor informal lebih terhormat daripada orang-orang yang bekerja di perusahaan. Orang-orang yang bekerja di sektor informal adalah job creator sejati. Pekerja informal selalu membantu pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja secara mandiri.

Sedangkan orang-orang yang menjadi karyawan sejatinya adalah job seeker. Pekerja perusahaan adalah jenis warga negara yang hanya menjadi beban negara dan pemerintah dalam konteks ketidakmampuan mereka menciptakan lapangan kerja. Saya seringkali menyebut para karyawan perusahaan yang sering mengalami halusinasi dengan menyebut diri mereka sebagai profesional tidak lebih sebagai warga negara kelas kambing (catatan : saya akan menulis artikel “Warga Negara Kelas Kambing” secara terpisah).

Di era industrialisasi pekerjaan cenderung bersifat formal. Ruang dan waktu adalah variabel yang sangat menentukan untuk menetapkan seseorang dapat disebut pekerja dan melakukan aktivitas pekerjaan. Di Indonesia, secara umum pekerja bekerja selama 173 jam per bulan. Sejatinya, waktu yang “dipersembahkan” kepada para kapitalis demi sesuap nasi lebih dari 173 jam per bulan. Kalau waktu untuk melakukan mobilitas dari tempat tinggal ke tempat kerja (pergi pulang) ditambahkan, maka pengorbanan waktu menjadi lebih lama.

Di era informasi, tempat kerja dan tempat tinggal kembali “rujuk” di satu tempat yang sama. Tempat kerja itu dapat bernama rumah, rukan (rumah kantor) dan sembarang tempat di muka bumi ini. Ruang bukan lagi menjadi variabel yang dominan untuk menetapkan seseorang disebut sebagai pekerja dan bekerja. Tetapi waktu masih menjadi variabel yang dominan. Artinya, di era informasi, untuk disebut sebagai pekerja dan bekerja, seseorang masih dituntut untuk melakukan aktivitas dalam jumlah jam tertentu.

Perbedaannya dengan di era pertanian dan industrialisasi, waktu kerja di era informasi lebih fleksibel. Itulah sebabnya kemudian timbul flexi time dan telecommuting yang menjadi karakteristik yang membedakan dengan pengertian dan pemahaman kerja di gelombang pertanian dan industrialisasi.

***

Saya menduga Satpam itu juga belum pernah membaca buku Cash Flow Quadrant yang ditulis oleh Robert Kiyosaki. Dengan menggunakan variabel manusia bekerja untuk uang dan variabel uang bekerja untuk manusia, Kiyosaki menunjukkan bahwa ada 4 jenis pekerjaan yang dapat ditekuni oleh manusia.

Bild

http://www.authorstream.com

Kuadran sebelah kiri menunjukkan jenis-jenis pekerjaan di mana “manusia bekerja untuk uang”.  Artinya, untuk memperoleh penghasilan, manusia harus melakukan berbagai pekerjaan oleh dirinya sendiri. Dalam hal ini tingkat jabatan dan pangkat tidak menjadi faktor pembeda. Seorang office boy yang mengendarai sepeda onthel  dan seorang direktur utama yang mengendarai Ferrari untuk hadir bekerja di kantor, pada prinsipnya adalah orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan cara dirinya sendiri yang melakukan aktivitas pekerjaan.

Dalam konteks cash flow quadrant, jika diibaratkan dengan “kasta”, maka employee berada di kasta paling rendah. Kasta self-employee relatif lebih terhormat ketimbang kasta employee. Paling tidak, self-employee adalah job creator, setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri. Sedangkan employee adalah job seeker yang hanya mampu mencari lapangan pekerjaan.

Kuadran sebelah kanan menunjukkan jenis-jenis pekerjaan di mana “uang bekerja untuk manusia”. Manusia tidak harus “membanting tulang” dari dini hari sampai tengah malam untuk memperoleh uang. Seorang bernama Dede dapat menunjuk orang lain bernama Dodo untuk melakukan pekerjaan. Dede akan membayar keringat Dodo  dengan gaji, tunjangan, fasilitas, insentif, bonus dan lain sebagainya. Sedangkan Dodo berkewajiban menyerahkan “uang setoran” kepada Dede.  Dalam Cash Flow Quadrant Kiyosaki, AAA disebut sebagai businessman.

Lebih canggih adalah Investor. Bagi seorang investor, uang harus bekerja untuk dirinya. Investor adalah jenis manusia menikmati “borderless country”. Bagi seorang investor, tidak penting ia investasi di negara manapun. Satu-satunya tujuan investor (dan tentu saja spekulan) adalah keuntungan. Investor tidak akan pernah peduli bahwa gara-gara profit taking yang dilakukannya akan mengakibatkan indeks harga saham menjadi bullish.

Investor tidak tertarik dengan sektor riil. Ia hidup di pasar keuangan yang tidak mengenal keluh kesah karyawan. Investor juga tidak mau “direcokin” oleh demo buruh yang menuntut upah yang layak, status hubungan kerja tetap, penghapusan sistem alih daya (outsourcing) dan lain sebagainya. Meskipun pasar keuangan tidak nihil risiko, pasar keuangan menjadi salah satu tempat yang ideal bagi investor untuk memastikan uang bekerja untuk manusia.

Dalam konteks cash flow quadrant, investor berada di kasta paling terhormat dan kemudian disusul oleh businessman di kasta berikutnya. Bagi kebanyakan orang, kuadran “self-employee” adalah ranah yang penuh risiko dan ketidakpastian penghasilan. Karena risiko dan ketidakpastian adalah “menakutkan”, maka lebih banyak orang yang menghindarinya. Tetapi saya tidak menghindarinya, dan saya bisa mengatakan “I did my way”.

Bukan hanya menakutkan, orang-orang yang memilih “bersemayam” di kuadran “self-employee” seringkali dianggap tidak bekerja. Justru saya banyak bertemu dengan orang-orang yang berprofesi “ternak teri” (baca : nganter anak dan nganter isteri) dan kerja di rumah atau di mana saja (tetapi bukan di kantor dan pabrik), tetapi penghasilan mereka tidak kalah dibandingkan karyawan kantoran, apalagi buruh pabrik. Sehari-hari mereka seperti “pengacara” (pengangguran banyak acara). 

Tampak Siring, 8 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: