RSS

Goyang Lidah

21 May

Bagi kebanyakan orang Indonesia, kepuasan makan dinyatakan dalam tiga kata, yaitu : “maknyus”, “euunaaak tenan”, dan “nendang”. “Maknyus” dan “euunaaak tenan” berhubungan dengan lidah. Sedangkan “nendang” berada dalam “teritorial” perut. Bagi orang Indonesia, belum dikatakan makan kalau lidah belum bergoyang.

Konon, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit selain daripada  menjadi ahli gizi olahragawan Indonesia. Dalam hal makan, atlit Indonesia terkenal paling “bawel” dan “sulit diatur”. Lebih  mudah adalah menjadi ahli gizi rumah sakit. Sebab, maknyus atau tidak, enak atau tidak enak, nendang atau tidak nendang, pasien tetap wajib makan. Bagi pasien, memilih makan melalui mulut lebih realistis ketimbang menerima asupan melalui infus.

Berbeda dengan selera atlit Indonesia (“atlit domestik”). Atlit kan juga manusia.  Kriteria maknyus, enak tenan, dan nendang lebih atraktif ketimbang penjelasan tentang kandungan gizi atau kalori dalam makanan khusus olahragawan.

Perbandingan tingkat kedisiplinan atlit domestik dan atlit mancanegara  dalam hal makan “makanan khusus olahragawan/wati” memang bagaikan bumi dan langit. Singkat kata, bagi atlit  mancanegara, substansi makan adalah kecukupan kalori. Sedangkan bagi atlit domestik, makan adalah urusan sensasi.

Adalah sifat dasar dari manusia cenderung sulit untuk mengendalikan makanan. Mungkin tidak sulit bagi orang untuk menghindari makanan yang tidak halal. Tetapi untuk menjadi sehat, makan makanan halal saja tidak cukup. Halal dan thayiban (baca : baik dan bermanfaat bagi kesehatan)  adalah “satu paket”.

Makanan yang dihalalkan oleh agama dan diperoleh melalui proses yang halal, tidak serta merta makanan tersebut thayiban bagi seseroang. Ironisnya, kebanyakan manusia tidak mengetahui makanan yang thayiban, terutama utnuk dirinya sendiri. Manusia baru mengetahui bahwa makanan tertentu tidak thayiban setelah menderita penyakit tertentu.

Sebagai contoh, kacang-kacangan adalah makanan yang halal. Karena harganya yang relatif tidak mahal, tidak sulit bagi orang untuk membeli kacang-kacangan dari penghasilan yang halal. Meskipun demikian, makanan tersebut tidak lagi thayiban bagi orang yang menderita asam urat.

Kecuali tidak mengetahui makanan yang thayiban bagi dirinya, biasanya manusia juga sulit dilarang untuk tidak makan atau minum yang tidak thayiban bagi kesehatannya. Justru kelemahan manusia adalah tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk makan dan minum yang tidak sesuai dengan kesehatannya. Sejatinya, Tuhan tidak mencoba dan menguji kekuatan manusia, tetapi justru mencoba dan menguji manusia di kelemahannya.

Mungkin tidak mudah untuk mengetahui makanan apa saja yang thayiban untuk diri kita. Rekomendasi diet sesuai dengan golongan darah mungkin juga sulit untuk dilaksanakan. Meskipun demikian, kita tidak perlu khawatir. Selalu ada solusi dan cara mudah untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Salah satu solusi dan cara mudah untuk hidup sehat sembari memanjakan diri dengan wisata kuliner adalah memahami dan melaksanakan beberapa tips sebagai berikut :

Pangeran, Raja dan Pengemis

Anda doyan makan dan tetap ingin sehat? Jangan cemas, ikuti saja nasehat dalam peribahasa “breakfast like a prince, lunch like a king, dine like a pauper.” Lakukan saja “makan pagi seperti pangeran, makan siang seperti raja, dan makan malam seperti pengemis.”

Peribahasa tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan kalori manusia untuk pagi hari, siang hari dan malam hari sangat berbeda. Kebutuhan kalori di pagi hari sedang-sedang saja (karena itu makanlah seperti pangeran). Kebutuhan kalori di siang hari relatif lebih banyak dibandingkan siang dan malam hari (karena itu makanlah seperti “raja”). Sedangkan kebutuhan kalori di malam hari relatif sedikit dibandingkan (karena itu makanlah seperti “pengemis”).

Peribahasa tersebut juga dapat dipahami dari siklus pencernaan. Pagi hari, kegiatan utama sistem pencernaan adalah pembuangan. Karena itu, disarankan untuk tidak makan dalam porsi yang besar sehingga energi dapat fokus pada pembuangan. Kegiatan utama sistem pencernaan pada siang hari adalah pembakaran. Karena itu, makan dalam porsi relatif banyak tidak masalah. Sistem pencernaan akan segera bekerja membakar lemak dan memanfaatkan kalori yang masuk untuk menunjang aktivitas manusia. Sedangkan pada malam hari, kegiatan utama sistem penceranaan adalah pengendapan. Pada malam hari kebutuhan kalori juga tidak relatif banyak. Karena itu, makan dalam porsi dan kalori yang tepat akan sangat membantu sistem pencernaan fokus pada kegiatan pengendapan.

Hewan Berkaki dan Tidak Berkaki

Ketika bekerja di perusahaan offshore catering, sahabat-sahabat saya seringkali mengingatkan agar selalu mengingat formula “hewan berkaki dan tidak berkaki”. Menurut sahabat-sahabat saya, mengendalikan kebiasaan makan bukan hal yang sulit. Rumus dasarnya adalah sebagai berikut : seiring dengan bertambah usia, kurangi porsi makan makanan dari hewan berkaki menjadi hewan tidak berkaki”.

Saat balita sampai dengan mahasiswa, memakan makanan dari hewan berkaki empat tidak akan menjadi masalah besar. Tubuh masih dalam proses pertumbuhan dan banyak aktivitas,  Tetapi saat sudah bekerja, tubuh sudah melewati masa pertumbuhan dan mobilitas fisik semakin kurang. Pada saat sudah bekerja, makan makanan dari hewan berkaki dua lebih baik. Semakin tua, sebaiknya makan makanan hewan yang tidak berkaki.

Mengapa demikian? Sebab, kandungan protein dan lemak hewan berkaki empat lebih besar dibandingkan dengan hewan berkaki dua dan hewan tidak berkaki. Demikian juga kandungan protein dan lemak hewan berkaki dua relatif lebih banyak dibandingkan dnegan hewan tidak berkaki.

Pada saat pertumbuhan dan aktivitas manusia masih tinggi, kebutuhan protein dan lemak juga masih banyak. Seyogyanya manusia menyesuaikan diri mengurangi makanan yang memiliki kandungan protein dan lemak tinggi seiring bertambah umur dan berkurangnya mobilitas fisik.

Kendalikan “GAM”

Sumber masalah besar bagi kesehatan manusia adalah gurih, asin dan manis. Gurih berasal dari minyak, asin dari garam, dan manis dari gula. Berbagai penyakit yang diderita manusia asal-usulnya berasal dari minyak, garam, dan gula. Nasehat untuk hidup sehat “tidak akan lari” dari ajakan untuk mengendalikan GAM.

Sebagai contoh penyakit diabetes melitus (DM). Cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit DM adalah mengurangi makanan dan minuman yang mengandung kadar gula relatif tinggi.  Tentu saja ada metode pengobatan lainnya. Tetapi lebih mudah untuk mengatasi segala sesuatu dengan cara menghilangkan sumber penyakit. Singkat kata, di mana masalahnya, di situ solusinya.

Tampak Siring, 22 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: