RSS

Not Every Four Years

22 May

“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”

– Aristotle

“Prestasi” Bandung Bondowoso yang pernah membangun Candi Sewu hanya dalam waktu satu malam selalu membuat saya geleng-geleng kepala. Cerita itu sangat “menyesatkan”, apalagi jika diteruskan kepada generasi penerus. Untung usaha Bandung Bondowoso gagal, meskipun hanya tinggal 1 candi yang belum selesai.

Michael Schumacer dan Sebastian Vettel di Formula 1, Michael Phelps dan Paul Biddermann di cabang olahraga renang, Michael Jordan dan Kareem Abdul Jabar di cabang basket, Roger Federer dan Rafael Nadal di cabang tenis, Lionel Messi, Christiano Ronaldo dan seterusnya adalah manusia biasa.  Dalam istilah Aristotle, mereka tidak melakukan sesuatu untuk menjadi juara, tetapi memiliki kebiasaan menjadi juara.

Demikian juga halnya dengan pelatih Josep “Pep” Guardiola yang hanya dalam waktu 4 tahun sudah mempersembahkan 14 gelar juara kepada FC Barcelona. Prestasi Pep bahkan melebihi the founding father  dari “Tiki-Taka” yang juga pernah melatihnya, yaitu Johann Cruyff. Semua tidak dibangun hanya dalam waktu satu malam saja. Ada serangkaian aktivitas-aktivitas dan proses-proses yang dilakukan setiap hari.

Panen tidak mungkin diperoleh hanya dalam waktu 1 malam. Panen (baca : memetik hasil yang terbaik dan berkualitas) juga tidak mungkin diperoleh tanpa ada proses pembibitan (baca : pencarian pesepakbola berbakat / talent scoutting), penanaman (baca : latihan-latihan, uji coba, dan pertandingan di berbagai tingkat kompetisi).

 

“Let It Happen” vs “Let Make Happen”

Atlit-atlit berprestasi memiliki mimpi besar dan target. Pelatih-pelatih yang berhasil memimpin timnya menjadi juara juga memiliki mimpi besar dan target. Tetapi orientasi mereka adalah “let make happen”, bukan “let it happen”.

Proses menentukan hasil. Proses adalah eksekusi dari mimpi, cita-cita, niat, target, dan do’a.  Proses adalah “let make happen”. Melalui proses yang akuntabel kita dapat berharap “let it happen”.

Memahami dan menghayati hadis Rasulullah Muhammad SAW tentang continous improvement memang baik, tetapi tanpa mengamalkan atau mempraktekkan percuma saja. Sebagaimana kita ketahui bersama, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan kepada kita bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini.

“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari).

Untuk menjadi lebih baik harus diwujudkan (let make happen) dan bukan berpangkutangan (let it happen). Sebagaimana saya kutip dari laman era muslim, dalam hadits tersebut terkandung beberapa aktivitas penting yang harus dilakukan setiap manusia, yaitu  memiliki visi (ghayah) yang akan diwujudkan, perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).

 

It’s Not Every Four Years, But  Everyday

The United States Olympic Committee has a motto: “It’s not every four years. It’s every day.” This motto reflects the notion that making the Olympics in 2012 ultimately does not happen in 2012. It depends on what the millions of athletes who want to be there in August 2012 are doing in December 2010. And January 2011. And February 2011. And… well, you get it.


Maybe making the Olympic team isn’t a goal of yours, which is perfectly fine. Or maybe making an Olympic team in 2016 or 2020 is more reasonable. The motto holds true for any goal we have, in any part of our lives. It’s not good enough to just SET a goal. We have to do something every day to reach it. Sometimes that starts with something as simple as taking part of every day to remind ourselves that what we do every day matters
.” (Dr. Lenny Weirsma, “It’s Not For Every Four Years”, 6 June 2011)

Übung macht den Meister

Mengapa orang-orang Jerman, terutama para olahragawan mereka, memiliki disiplin dan mental juara yang kuat? Tidak ada metode instan untuk membentuk olahragawan yang memiliki disiplin yang kuat dan mental juara yang tangguh.

Orang-orang Jerman meyakini bahwa Übung macht den Meister (dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan practice / exercise make Master). Orang-orang Jerman juga percaya bahwa practice make perfect.

Tampak Siring, 21 Mei  2013

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: