RSS

Nothing Is Impossible

25 May

Hanya Sir Alex Ferguson yang mengetahui alasan yang sesungguhnya mengapa FC Manchester United (dan dia) memilih David Moyes sebagai pelatih yang menggantikannya. Kata Fergie (sebutan akrab Ferguson), alasan Moyes ditunjuk sebagai pelatih baru MU adalah “”Apa yang saya tahu tentang David adalah bahwa ia pekerja keras, berintegritas, memiliki etos kerja, dan seorang pelaku sepak bola yang serius.”

Di bagian lain Fergie menambahkan sebagai berikut : “Satu hal yang Anda harus lakukan di sini (di Manchester United – Red) adalah berkorban dan tekun. Ini bukan melulu kesuksesan. Ada masa-masa berat, ada periode sulit, ada kekalahan-kekalahan yang menyakitkan.”

Sebegitu pentingkah “kerja keras”, “integritas”, “etos kerja”, “serius”, “berkorban”, dan “tekun”? Bukankah kerja keras, integritas, etos kerja, dan keseriusan Moyes melatih klub Everton tidak menghasilkan satupun gelar, baik di tingkat lokal Inggris maupun kancah Eropa?

Bukankah ada Jose Mourinho yang digadang-gadang sebagai pelatih yang paling tepat menggantikan Fergie?. Jika MU hanya mengejar kemenangan, maka Mourinho adalah orang yang paling tepat menggantikan Fergie. Tetapi berkali-kali Ferguson bilang bahwa MU dibangun berdasarkan kebersamaan dan teamwork di atas segala-galanya. Tidak ada pemain (dan “haram”) yang lebih besar daripada klub.

Meskipun Jose Mourinho adalah pelatih yang mampu mempersembahkan juara liga di 4 negara yang berbeda (Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol), ia terlalu sibuk dengan pencitraan dirinya. Ia juga tidak punya sikap “ke-bapak-an” dan tidak peduli kebersamaan para punggawa FC Real Madrid bercerai berai. Karakter, sikap dan perilaku Mourinho seringkali lebih layak menjadi “tontonan” ketimbang “tuntunan”. Jika kita sepakat bahwa sepakbola bukan sekedar urusan menendang bola dan kemenangan, maka Mourinho bukanlah pelatih yang tepat untuk membesut MU yang memiliki tradisi kemenangan dan kekalahan yang menyakitkan. Mourinho hanya tahu kemenangan.

Pengunduran diri Fergie dari kursi kepelatihan MU adalah mendadak, tetapi penunjukkan David Moyes tidak mendadak. Fergie sudah menawarkan jabatan asisten pelatih kepada Moyes dua dekade yang lalu. Itu berarti Fergie telah “mengendus-endus” potensi, kompetensi, dan talenta Moyes sebagai pelatih yang mumpuni. Padahal, saat itu Moyes masih “bau kencur”. Baru tahun 1998 memulai karir kepelatihannya di sebuah klub kecil, Preston (tidak pernah terdengar oleh telinga sebagian besar “orang bola”).

5 tahun terakhir di Everton Moyes hanya dibekali 800 ribu poundsterling (sekitar Rp. 12 milyar). Apa yang bisa dilakukan seorang pelatih dengan anggaran minim untuk bertahan dan bersaing di Liga Primer Inggris? Bandingkan dengan dukungan anggaran sejumlah 50 juta poundsterling (sekitar Rp. 754 milyar) yang diterima Brendan Rogers untuk membesut FC Liverpool. Selama sepuluh tahun terakhir, Moyes selalu menempatkan Everton di 10 besar Liga Primer Inggris. Akhir musim kompetisi 2012/2013, Moyes membawa Everton mencapai urutan ke 6, satu tingkat lebih baik dibandingkan Liverpool.

Satu-satunya kelemahan Moyes adalah belum memenangkan apapun. Sebegitu pentingkah pengalaman melatih dan menjadi juara? Mari kita renungkan. Tahukah anda, mengapa di bumi pertiwi ini, di era orde baru selalu  hanya ada 1 orang calon presiden? Konon, menurut sumber yang dapat dipercaya, pada saat diadakan penjaringan, pada tahap seleksi akhir calon-calon yang diajukan selalu gagal memenuhi persyaratan. Sebab, untuk menjadi presiden dibutuhkan pengalaman menjadi presiden sekurang-kurangnya 5 tahun. Oops.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa karir kepelatihan Jupp Heynckes di klub Moenchengladbag selama sewindu (1979 – 1988) gagal total dan tidak menghasilkan gelar apapun. Bayern Muenchen kemudian menunjuk Heynckes sebagai pelatih dan ia sukses mempersembahkan gelar juara bundesliga 1988/1989 dan 1989/1990.

MOYES (www.halifaxcourier.com)Image courtesy of http://www.halifaxcourier.co.uk

Alasan penunjukkan Moyes sebagai pengganti Fergie mengingatkan saya kepada Nabi Nuh A.S. Konon, dalam sebuah kisah, Nabi Nuh A.S. mengeluh kepada Allah SWT. Inti keluhannya adalah Nabi Nuh A.S. merasa gagal menjalankan tugas kenabian. Selama 800 tahun “karir kenabian”, Nabi Nuh A.S. hanya mampu menyadarkan 80 orang saja untuk kembali ke jalan yang benar.

Keluhan Nabi Nuh A.S. pun didengar oleh Yang Maha Mendengar, dan langsung ditanggapi. Inti sari tanggapan adalah Allah SWT tidak hanya melihat hasil, melainkan juga proses. Proses selama “karir kenabian” juga memiliki bobot yang sepadan dengan hasil. Bukankah dalam proses dituntut kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur terhadap apa yang telah dilakukan dan hasil yang dicapai?. Pada akhirnya Nabih Nuh “sukses” setelah menghabiskan waktu 950 tahun.

Beberapa kriteria yang disebut Fergie juga mengingatkan kriteria yang biasa saya gunakan untuk merekrut dan menyeleksi calon-calon karyawan di berbagai perusahaan. Ada 4 kriteria utama yang saya gunakan, dan saya memiliki komitmen dan konsistensi untuk selalu menempatkan talent setelah kriteria enthusiasm, passion, dan patience. Saya sangat setuju dengan pernyataan Fergie bahwa “satu hal yang harus anda lakukan di sini adalah berkorban dan tekun”

Enthusiasm (Gairah)

Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life”, demikian wanti-wanti Confusius. Meskipun bekerja,  banyak orang yang kurang, atau bahkan tidak menyenangi pekerjaannya. Tujuan bekerja hanya untuk mendapatkan “sesuap nasi” dan menghindari status menganggur. Tidak ada “ikatan batin” terhadap pekerjaan. Itulah sebabnya, para pekerja “modern”, seringkali merasa galau dan lelah yang luar biasa.

Tanpa dilandasi rasa senang terhadap pekerjaan, jangan pernah anda berharap memiliki antusiasme terhadap pekerjaan. Dengan antusiasme, maka orang akan mengerahkan energi untuk bekerja tanpa merasa kehabisan energi. Antusiasme akan memungkinkan seseorang bekerja dengan perasaan “plong” (lega), tanpa merasa bahwa pekerjaan adalah sebuah beban yang harus diselesaikan (karena kalau tidak dikerjakan akan dimarahi atau tidak dibayar). Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki antusiasme terhadap pekerjaan, cenderung akan mengeluarkan energi negatif.

Passion (Hasyrat)

Daripada sekedar mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan passion, lebih baik menunjukkan dalam praktek seperti apakah passion itu. Juergen Klopp, pelatih klub sepakbola Borussia Dortmund, secara tepat menggambarkan tentang passion.

Klopp merujuk pada para “tradisi” perayaan setelah para punggawa FC Barcelona mencetak gol. Mereka merayakan setiap gol yang disarangkan ke gawang lawan dengan kegembiraan yang membuncah. Seolah-olah mereka tidak pernah mencetak gol. Sebagaimana ditulis oleh Lariza Oky Adisty dalam www.kompas.com, Klopp mengatakan :

“Mereka merayakan gol seolah-olah itu gol pertama yang mereka buat. Itu contoh yang sempurna untuk tim saya. Saya tak menggunakan video karena saya tak ingin meniru gaya bermain Barcelona. Tapi lihatlah cara mereka merayakan gol kesekian mereka, seolah-olah mereka tak pernah mencetak gol sebelumnya. Perasaan seperti itulah yang harus dimiliki sampai mati,” kata Klopp.

Proses dan hasil dari pekerjaan layak untuk dirayakan dengan kegembiraan yang membuncah. Tidak ada kegembiraan selama menjalani proses dan memetik hasil, menunjukkan orang bekerja tanpa passion (hasyrat) yang menggelora. Tanpa hasyrat terhadap pekerjaan, tidak akan pernah ada “ikatan batin” dengan pekerjaan.

Patience (Sabar)

Pekerjaan rutin dan suatu proyek selalu merupakan proses (kumpulan dari aktivitas-aktivitas) dan ada tahap-tahap yang harus dilalui. Setiap pekerjaan tidak selalu berarti tinggal panen atau memetik hasil. Jika kita menggunakan analogi di bidang pertanian, proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan panen adalah proses yang lazim dan harus dilalui. Ada jarak dan waktu antara proses pembibitan sampai dengan proses memetik hasil. Bahkan, usaha di bidang pertanian tidak hanya berisiko kualitas panen yang buruk, melainkan juga gagal panen. Sungguh dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi seorang petani.

Pekerjaan di kantor maupun pabrik juga memiliki proses dan tahap-tahap yang harus dilalui. Apapun aktivitas, proses, tahap-tahap yang harus dilalui, semua membutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk mengerjakannya.

Sebagai contoh adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Ada tiga opsi, yaitu pertama buy atau membeli tenaga kerja yang sudah berpengalaman dan ahli dari luar perusahaan; kedua, make atau mempekerjakan tenaga kerja yang belum berpengalaman dan belum ahli, kemudian dilatih dan dikembangkan di dalam perusahaan; dan ketiga, kombinasi dari buy dan make.

Setiap keputusan selalu mengandung konsekuensi. Pilihan untuk make misalnya, pasti membutuhkan biaya, waktu dan tenaga untuk melatih dan mengembangkan SDM. Kadang-kadang hasil yang diharapkan tidak secepat yang ditargetkan. Dalam kondisi ini dibutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk melatih dan mengembangkan SDM. Ketekunan dan kesabaran selalu dibutuhkan untuk menghadapi – meminjam istilah yang digunakan Fergie – “masa-masa berat, ada periode sulit, ada kekalahan-kekalahan yang menyakitkan”.

Talent (talenta)

Tentu saja untuk mengerjakan pekerjaan dibutuhkan talenta yang memenuhi persyaratan.  Tetapi talenta saja tanpa didukung oleh enthusiasm, passion, dan patience tidak cukup. Apa yang kurang dari FC Real Madrid dan FC Manchester City? Kedua klub tersebut diperkuat oleh para pemain bintang dengan rekor transfer dan gaji mahal. Jose Mourinho dan Roberto Mancini adalah segelintir pelatih yang dibayar mahal. Tahun 2013, prestasi kedua klub itu sama sekali tidak sepadan dengan talenta pesepakbola dan pelatih mereka.

Talenta memang penting. Tetapi Albert Einstein juga pernah mengingatkan bahwa kontribusi talenta terhadap keberhasilan hanya 10 %. Selebihnya, 90 % merupakan kontribusi dari kerja keras. Moyes sudah membuktikan, bahwa dengan dukungan dana dan talenta pesepakbola yang relatif terbatas, ia mampu membawa FC Everton ke tingkat yang kompetitif.

Atas keberhasilannya membesut FC Everton yang diibaratkan sebagai “sedan tua”, Moyes diganjar dengan kepercayaan mengemudikan “Roll Royce” (FC Manchester United). Terima kasih Fergie, selamat berkarya David. Nothing is impossible.

Tampak Siring, 25 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: